Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

PELEBURAN CINA BENTENG: POTENSI MENINGKATKAN SENSE OF PLACE KAWASAN KOTA LAMA TANGERANG SEBAGAI PUSAT BUDAYA KOTA TANGERANG Vierry, Jon; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30956

Abstract

The Old Town of Tangerang area is known for its Chinese Ethnic Settlement, commonly referred to as Chinatown, which has integrated with the local community. This is evidenced by the strong Benteng Community, cultural heritage, and the Kali Pasir mosque with distinctive Chinese characteristics. Unfortunately, the Tangerang City Government has yet to establish a Cultural Heritage Regulation, leading to the gradual fading of historical and cultural sites in the Old Town of Tangerang over time. The Tangerang City Government is currently making efforts to revitalize and focus on developing the old town area into a culinary center and traditional market to attract foreign tourists. The development of the area stimulates Chinatown to become more modern, especially with the emergence of modern eateries using shophouses with Chinese characteristics adapted to modern shophouse designs. Buildings that do not follow this trend are either repurposed or abandoned by their owners. The aim of this research is to explore the potential to enhance the sense of place in the Old Town of Tangerang. The method used is qualitative, gathering supporting data and conducting observations of the Old Town of Tangerang area, which are then identified using the sense of place elements theory by John Montgomery and John Punter. The research results indicate that the integration of the Cina Benteng culture not only enriches the cultural diversity of Old Town Tangerang but also strengthens the identity and solidarity among the local community. Keywords:  chinatown; Chinese; culture; identity Abstrak Kawasan  Kota  Lama  Tangerang  dikenal  dengan  kawasan  Perkampungan  Etnis  Tionghoa atau lebih dikenal dengan pecinan yang sudah melebur dengan masyarakat lokal. Hal ini dibuktikan   dengan   keberadaan   Komunitas   Benteng   yang   kuat,   warisan   budaya,   dan bangunan  Masjid  Kali  Pasir  berciri  khas  Tionghoa.  Sangat  disayangkan  Pemerintah  Kota Tangerang hingga saat ini tidak memiliki Perda Cagar Budaya sehingga seiring berjalannya waktu   situs-situs   bersejarah   dan   kebudayaan   kawasan   Kota   Lama   Tangerang   mulai memudar.  Pemerintah  Kota  Tangerang  kini  tengah  berupaya  untuk  menata  ulang  dan memfokuskan  perkembangan  kawasan  kota  lama  menjadi  kawasan  pusat  kuliner  dan pasar    tradisional    dengan  meningkatkan    minat    para    wisatawan    asing. Pengembangan kawasan menstimulus kawasan pecinan menjadi lebih modern, terutama dengan munculnya tempat makan modern yang menggunakan bangunan ruko berciri Tionghoa diadaptasi mengikuti desain bangunan ruko modern dan bangunan yang    tidak    mengikuti    perkembangan    menjadi    dialihfungsikan    atau    terbengkalai ditinggalkan  pemiliknya.  Tujuan  dari  penelitian  untuk    melihat potensi yang ada dalam upaya untuk meningkatkan sense of place dikawasan Kota Lama Tangerang   Metode   yang   digunakan   adalah metode kualitatif dengan mengumpulkan data-data pendukung serta melakukan observasi terhadap kawasan Kota Lama Tangerang yang kemudian diidentifikasi menggunakan teori John Montgomery dan John Punter mengenai  elemen sense of place. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggabungan budaya Cina Benteng tidak hanya menambah kekayaan keragaman budaya di Kota Lama Tangerang, tetapi juga menjadi potensi dalam memperkuat identitas dan solidaritas di antara masyarakat setempat.
PENERAPAN ARSITEKTUR BERTEMA BUNGA PADA REDESAIN PASAR BUNGA CIKINI Sheren, Sheren; Liauw, Franky
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30957

Abstract

Jalan Cikini Kramat, which was once famous as a flower paradise in Jakarta, now has a different face. Currently, this market operates on the side of the road, neatly lined up in an alley with partitions separating the stalls. The market atmosphere used to be increasingly lively with the presence of parcel traders selling their wares on the sidewalk, although this often made the market area look less neatly organized. Rather than the famous flowers, nowadays, street food in this area is better known even though it is a flower market. Unfortunately, the presence of these traders can make the area around Cikini Station look slummer than it should. The physical changes to this area are able to eliminate the initial character that formed on Jalan Cikini Kramat. The aim of this research is to revive the face of Cikini as an area with floral characteristics in Jakarta. This research was carried out through surveys, analysis and interviews with the perpetrators involved on Jalan Cikini Kramat. The results of the research are the redevelopment of the flower market and the development around the market with flower characters that can attract visitors. The main finding of this research is the change in Cikini public space into an area with a floral character with relationships between local residents and visitors. The new aspect that is expected is to reshape the face of Jalan Cikini Kramat into an area with character. Keywords:  character; flower; market Abstrak Pasar Bunga Cikini yang dahulu terkenal sebagai surga bunga di Jakarta, kini hadir dengan wajah berbeda. Saat ini, pasar ini beroperasi di pinggir jalan, berjajar rapi di satu gang dengan sekat-sekat yang memisahkan antar kiosnya. Suasana pasar yang dulu semakin semarak dengan kehadiran para pedagang parsel yang menjajakan dagangannya di pinggir trotoar, meskipun tak jarang membuat kawasan pasar terlihat kurang tertata rapi. Daripada kembangnya yang terkenal, justru di masa kini, kuliner kaki lima di daerah ini lebih dikenal padahal merupakan pasar kembang. Sayangnya, keberadaan para pedagang ini mampu membuat sekitar Stasiun Cikini terlihat lebih kumuh dari yang seharusnya. Perubahan fisik dari kawasan ini mampu menghilangkan karakter awal yang terbentuk dari Pasar Bunga Cikini yang dulunya adalah penguasa di Jalan Cikini Kramat. Tujuan dari penelitian ini untuk membangkitkan kembali wajah Pasar Bunga Cikini menjadi pasar dengan edukasi tentang bunga yang ada di Jakarta. Penelitian ini dilakukan melalui kegiatan survey, analisis, serta wawancara terhadap pelaku-pelaku terlibat di Pasar Bunga Cikini. Hasil dari penelitian adalah pembangunan kembali pasar kembang dan pengembangan sekitar pasar dengan karakter dari bunga yang dapat menarik para pengunjung. Temuan utama dari penelitian ini adalah perubahan ruang publik Cikini menjadi kawasan berkarakter bunga dengan hubungan antara warga lokal dan pengunjung. Aspek baru yang diharapkan adalah membentuk kembali wajah Jalan Cikini Kramat menjadi kawasan berkarakter.