Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

#SDGs 5, 12, 17: Perempuan Sebagai Agensi Perubahan Penanganan Persampahan Rumah Tangga di Desa Jatibogor, Kabupaten Tegal Susiatiningsih, Rr. Hermini
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 4 No 2 (2024): JPMI - April 2024
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.2040

Abstract

Desa Jatibogor, Kecamatan Suradadi, menghadapi permasalahan terkait penumpukan sampah akibat tingginya angka penduduk dan kurangnya sistem pengelolaan sampah yang tidak efisien sehingga itu berpotensi mengancam lingkungan dan kualitas kesehatan masyarakat. Namun, kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah masih rendah. Oleh karena itu, dibutuhkan peran perempuan di Desa Jatibogor sebagai agen perubahan dalam mengatasi permasalahan tersebut. Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan Ibu-Ibu PKK untuk menggerakkan masyarakat dalam mengelola sampah. Diharapkan, sampah yang dikelola dapat menjadi sumber pendapatan tambahan. Partisipasi perempuan dalam penanganan sampah mencerminkan prinsip-prinsip SDGs termasuk kesetaraan gender, konsumsi berkelanjutan, dan kemitraan global. Kegiatan ini mencakup sosialisasi, pelatihan keterampilan, dan pengembangan usaha berbasis sampah untuk perempuan serta pembentukan komunitas daur ulang dan bank sampah. Hasilnya adalah pemberdayaan perempuan, perubahan budaya, peningkatan kesadaran akan keberlanjutan lingkungan, pengurangan pencemaran, peningkatan kualitas hidup, pertumbuhan ekonomi, dan kolaborasi komunitas. Kesimpulannya, peran perempuan sangat penting dalam upaya menjaga lingkungan dan kesejahteraan masyarakat di Desa Jatibogor.
Lokalitas dalam Globalisasi: Upaya Pencerahan Akan Konsep Localizing SDGs Desa di Kecamatan Adiwerna Kabupaten Tegal Susiatiningsih, Rr. Hermini; Wardhani, Cindy Anggun
Dedikasi : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Dedikasi : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III DKI Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53276/dedikasi.v3i1.171

Abstract

Kasus stunting di Kabupaten Tegal mencapai 28% dan merupakan kabupaten dengan stunting tertinggi kedua di Jawa Tengah. Kecamatan Adiwerna sendiri merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Tegal dengan angka stunting yang paling tinggi. Kondisi ini tidak selaras dengan tujuan SDGs nomor 2 “Tanpa Kelaparan” dan tujuan turunan nomor 2.2 yang berusaha mengeliminasi segala bentuk kekurangan gizi, termasuk anak pendek dan kurus di bawah 5 tahun. Dalam menangani hal ini, Indonesia telah mengusung konsep Localizing SDGs Desa yang menekankan pelokalan SDGs sampai ke tingkat desa dan keterlibatan aktif masyarakat desa. Hal ini direalisasikan melalui pengabdian masyarakat yang bertujuan untuk melakukan pencerdasan masyarakat desa dalam penanganan masalah gizi stunting setempat dengan memanfaatkan organisasi Karang Taruna di Kecamatan Adiwerna. Metode yang digunakan yaitu sosialisasi dan penyampaian materi terkait upaya, gizi prakonsepsi, indikator stunting, serta pentingnya partisipasi pemuda dalam mengatasi stunting. Melalui kegiatan ini, peserta kegiatan mengetahui dan memahami tujuan pembangunan berkelanjutan dalam memenuhi kebutuhan gizi, serta pentingnya penanganan stunting. Para pemuda diharapkan dapat memberikan aksi nyata di masing-masing desa dalam upaya penanganan stunting di Kecamatan Adiwerna.
Innovation and Burden Sharing Strategy to Internationalize Batik: Case Study of Laweyan Batik Susiatiningsih, Rr. Hermini; Alfian, Muhammad Faizal; Setiyaningsih, Dewi
Dinamika Kerajinan dan Batik: Majalah Ilmiah Vol. 41 No. 1 (2024): DINAMIKA KERAJINAN DAN BATIK : MAJALAH ILMIAH
Publisher : Balai Besar Standardisasi dan Pelayanan Jasa Industri Kerajinan dan Batik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22322/dkb.v41i1.7979

Abstract

Batik has added economic value as a cultural heritage, making it marketable at domestic and international levels. The most significant benefits of promoting batik products to the global market are bringing local values to global society, as well as the benefits of economic development for the domestic garment industry. Laweyan is one of the Solo districts specializing in batik cloth production. The sector in Laweyan produces painted and printed batik cloth, distributed not only in the local market but also in the global market. By using qualitative methods, this research analyses the innovation of batik products and marketing innovations of Batik Laweyan in penetrating the global market. The findings from this research conclude that producers in Laweyan Regency develop product innovations by adapting batik motifs with local nuances to international market tastes, and to encourage internationalization, producers use marketing innovations through a burden-sharing strategy. So, in terms of internationalization, local cultural values become an essential aspect of product innovation. In contrast, in terms of marketing, the burden-sharing strategy becomes an innovation to penetrate international markets. Through the burden-sharing approach, local producers build networks with foreign producers to obtain demand from foreign markets so that local producers can reach the world market by bridging the local industry and international markets.
Assessments of the Sister City Partnership between Baubau, Indonesia and Seoul, South Korea Susiatiningsih, Rr. Hermini; Alfian, Muhammad Faizal; Setiyaningsih, Dewi
Global Strategis Vol. 20 No. 1 (2026): Global Strategis
Publisher : Department of International Relations, Faculty of Social and Political Science, Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jgs.20.1.2026.125-148

Abstract

This study examines the sister city partnership between Baubau, Indonesia, and Seoul, South Korea, with a focus on evaluating its alignment across cultural, educational, economic, and governance dimensions. The partnership was founded in 2009 with the goal of adopting Hangeul, Korea's phonetic writing system, to preserve the endangered Ciacia language. Although there are no historical or genealogical connections between the two cities, the partnership is the result of a calculated effort that has produced significant cultural and educational results. Through interviews with key stakeholders, document analysis, and field observations, the study employs six evaluative indicators ranging from cultural influence to community engagement to assess the partnership's impact. The resulting compatibility score of 17 indicates a moderate alignment, highlighting strengths in cultural revitalization and grassroots participation. However, the study identifies imbalances in cultural exchange and limited economic cooperation, suggesting a risk of cultural asymmetry and underutilized development potential. This paper provides the contention that though the partnership is a prime example of soft power diplomacy, it also requires evaluated approaches for ensuring equal representation and its continued viability. The results highlight how crucial reciprocal participation and contextual awareness are to subnational international cooperation, especially when working with groups that have different linguistic and cultural identities. Keywords: Sister City, Baubau-Seoul Cooperation, Cultural Diplomacy, Subnational in International Relations Penelitian ini mengkaji kemitraan sister city antara Baubau, Indonesia, dan Seoul, Korea Selatan, dengan fokus pada evaluasi kesesuaiannya dalam dimensi budaya, pendidikan, ekonomi, dan tata kelola. Kemitraan ini didirikan pada tahun 2009 dengan tujuan mengadopsi Hangeul, sistem penulisan fonetik Korea, untuk melestarikan bahasa Ciacia yang terancam punah. Meskipun tidak terdapat hubungan historis atau genealogi antara kedua kota, kemitraan ini merupakan hasil dari upaya strategis yang menghasilkan dampak signifikan dalam bidang budaya dan pendidikan. Melalui wawancara dengan para pemangku kepentingan utama, analisis dokumen, dan observasi lapangan, studi ini menggunakan enam indikator evaluatif, mulai dari pengaruh budaya hingga partisipasi komunitas, untuk menilai dampak dari kemitraan ini. Skor kompatibilitas sebesar 17 menunjukkan keselarasan yang moderat, dengan kekuatan pada revitalisasi budaya dan keterlibatan akar rumput. Namun, studi ini juga menemukan ketidakseimbangan dalam pertukaran budaya serta keterbatasan kerja sama ekonomi, yang mengindikasikan potensi risiko asimetri budaya dan peluang pembangunan yang belum dimaksimalkan. Artikel ini berargumen bahwa meskipun kemitraan ini mencerminkan praktik diplomasi soft power, dibutuhkan strategi yang dikalibrasi ulang untuk menjamin representasi yang adil dan keberlanjutan jangka panjang. Temuan ini menekankan pentingnya sensitivitas kontekstual dan keterlibatan timbal balik dalam kerja sama internasional subnasional, terutama ketika melibatkan komunitas dengan identitas linguistik dan budaya yang khas. Kata-kata Kunci: Sister City, Kerjasama Baubau-Seoul, Diplomasi Budaya, Kerja sama Hubungan Internasional Subnasional