Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

POTENSI FORMULASI SEDIAAN BODY SCRUB KOMBINASI EKSTRAK BIJI ALPUKAT (Persea americana Mill.) DAN KULIT PISANG KEPOK (Musa paradisiaca L.) TERHADAP Staphylococcus aureus Ainun Jariah; Ermawati Ermawati; Muhammad Taufiq Duppa; Yuyun Sri Wahyuni; Harningsih Karim; Rahmadani Ismail; Rahmah Mustarin; Fityatun Usman; Wira Yustika Rukman
Jurnal Ilmiah Pharmacy Vol 13, No 2 (2026)
Publisher : Sekolah Tinggi Kesehatan Al-Fatah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52161/jiphar.v13i2.1068

Abstract

Infeksi kulit akibat kontaminasi bakteri patogen seperti Staphylococcus aureus masih sering terjadi di masyarakat. Pemanfaatan limbah bahan alam, seperti biji alpukat (Persea americana Mill.) dan kulit pisang kepok (Musa paradisiaca L.), berpotensi sebagai antibakteri karena mengandung senyawa flavonoid, tanin, dan saponin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas daya hambat sediaan body scrub kombinasi ekstrak etanol biji alpukat dan kulit pisang kepok terhadap pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus. Penelitian ini merupakan eksperimen laboratorium. Ekstraksi dilakukan secara maserasi menggunakan pelarut etanol 96%. Sediaan body scrub diformulasikan ke dalam tiga variasi rasio ekstrak, yaitu FII (1:1), FIII (1:2), dan FIV (2:1), serta kontrol negatif (basis tanpa ekstrak) dan kontrol positif (mupirosin). Pengujian daya hambat dilakukan dengan metode difusi sumuran pada media Nutrient Agar yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 37°C. Hasil penelitian menunjukkan seluruh formula kombinasi memiliki aktivitas antibakteri dengan kategori kuat. Formula IV dengan perbandingan ekstrak (2:1) menghasilkan diameter zona hambat terbesar, yaitu rata-rata 11,93 mm, disusul FII sebesar 11,77 mm, dan FIII sebesar 11,51 mm. Kesimpulannya, sediaan body scrub kombinasi ekstrak biji alpukat dan kulit pisang kepok terbukti efektif menghambat pertumbuhan Staphylococcus aureus, dengan rasio (2:1) memberikan efektivitas daya hambat paling optimal.