Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Juvenile ossifying fibroma accompanied with low-grade central osteosarcoma in sinonasal: a rare case report Solichin, Muchamad Ridotu; Hakim, Fikar Arsyad; Dwianingsih, Ery Kus
Indonesian Journal of Biomedicine and Clinical Sciences Vol 56 No 3 (2024)
Publisher : Published by Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/inajbcs.v56i3.15911

Abstract

Sinonasal osteosarcoma is comparatively rare and accounts for 6.5% of all osteosarcomas. The five-year survival rate is less than 25% and may be improved to 60% when chemotherapy is initiated earlier. The diagnosis of low-grade central osteosarcoma requires a meticulous histopathological examination because histopathologically the tumor may mimic fibro-osseus neoplasm. We report a 12 y.o. male patient who complained of a lump on the face for 4 yr with symptoms of nasal discharge, congestion, epistaxis, and a feeling of fullness in the ears. Sinonasal biopsy was later performed and revealed an inverted papilloma. Two months after the biopsy procedure, mass extirpation and medial maxillectomy were performed. Histopathology examination confirms the diagnosis of ossifying fibroma accompanied by low-grade central osteosarcoma. Low-grade central osteosarcoma is an exceptionally rare variant, and the diagnosis is occasionally difficult. It can be misdiagnosed as a benign lesion, especially fibrous dysplasia or ossifying fibroma. Histomorphological, the discovery of atypical tumor cells producing osteoid matrix can be used to confirm that the lesion is a malignant lesion of low-grade central osteosarcoma. As demonstrated in our case, the tumor can consist of a trabecular and curvilinear arrangement of immature bone, at the edges of which there is an osteoblastic rimming appearance with a background of connective tissue stroma which is a histopathological feature of ossifying fibroma.
Bovine nucleus pulposus decellularization using freeze drying technique to form a biological scaffold Romaniyanto; Prijosedjati, Raden Andhi; Ermawan, Rieva; Hakim, Fikar Arsyad; Saddalqous
Journal of International Surgery and Clinical Medicine Vol. 4 No. 1 (2024): (Available online: 1 June 2024)
Publisher : Surgical Residency Program Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51559/jiscm.v4i1.54

Abstract

Introduction: As much as 40% of low back pain patients are caused by degenerative disc disease. The current treatments are fusion stabilization and total disc replacement, which have a risk for adjacent segment disease. These suboptimal results have become the beginning of the development of regenerative therapy. The success of this therapy will increase if the scaffold meets the ideal conditions. Biological scaffolds provide a cell growth environment that resembles the original tissue. Bovine intervertebral nucleus pulposus can become promising scaffolds. Objective: This research describes the proper freeze-drying approach for decellularizing bovine nucleus pulposus to create a biological scaffold. Methods: We conducted an experimental post-test control design study using bovine coccygeal nucleus pulposus material. All treatment groups underwent freeze-drying with Buchi Lyovapor™ L-200/L-200 Pro. All groups were evaluated for the level of decellularization using the Quick-DNA™ Miniprep Plus Kit (Zymo Research®) and remaining glycosaminoglycan levels by Alcian Blue staining. Results: Comparison of DNA concentrations obtained p-values respectively <0.0001 (p <0.05), which means that all the treatments showed a decrease in DNA concentration compared to the control group. The comparison of the glycosaminoglycan percentage between the P1 vs. Control group obtained a value of p=0.381 (p>0.05), which means that the glycosaminoglycan percentage results for the P1 group were not significantly different from the control group. Conclusion: This study of group P1 showed that decellularization of the bovine nucleus pulposus by freeze-drying technique can form an excellent biological scaffold.
Ekstrak Etanolik Daun kelor (Moringa oleifera, L) Menurunkan Kadar SGOT dan SGPT pada Tikus Wistar Model Sindroma Metabolik Budiani, Dyah Ratna; Subandono, Jarot; Hermawan, Danus; Hakim, Fikar Arsyad
Syntax Literate Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Syntax Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36418/syntax-literate.v9i10.50099

Abstract

Sindrom metabolik ditandai oleh hipertensi, obesitas sentral, resistensi insulin, dan dislipidemia, dan dapat meningkatkan risiko stroke serta penyakit jantung koroner. Kehadiran dan tingginya kadar enzim SGPT dan SGOT dalam darah menunjukkan adanya gangguan fungsi hati. Pemberian ekstrak daun Moringa berdampak pada penurunan nilai serum SGPT dan SGOT pada tikus Wistar dalam model sindrom metabolik. Penelitian eksperimental laboratorium dengan desain pretest-posttest dan kontrol posttest hanya. Sebanyak 30 tikus Wistar dibagi menjadi 5 kelompok sampel, yaitu: P1 sebagai kontrol normal, P2 sebagai kontrol sindrom metabolik tanpa pemberian ekstrak etanol daun Moringa, P3, P4, dan P5 sebagai kelompok sindrom metabolik yang diberikan ekstrak etanol daun Moringa selama 28 hari (mulai dari hari ke-28 hingga ke-56) dengan dosis bertingkat 150 mg/KgBB, 250 mg/KgBB, dan 350 mg/KgBB per hari. Induksi sindrom metabolik dilakukan dengan pakan tinggi lemak selama 28 hari pertama dan injeksi STZ-NA dilakukan pada hari ke-25. Analisis statistik yang akan digunakan adalah ANOVA satu arah dan post-hoc Tukey HSD untuk data yang terdistribusi normal, serta menggunakan uji Kruskal-Wallis untuk data yang tidak terdistribusi normal diikuti oleh uji Mann-Whitney. Data penelitian adalah data kuantitatif deskriptif. Pemberian ekstrak etanol daun Moringa 150 mg/kg BB/hari (kelompok P3); 250 mg/kg BB/hari (kelompok P4) dan 350 mg/kg BB/hari (kelompok P5) menghasilkan penurunan kadar SGPT dan SGOT, dan dosis 350 mg/kg BB/hari memberikan hasil terbaik. Pemberian ekstrak etanol daun Moringa dapat menurunkan kadar SGPT dan SGOT dalam plasma darah.
Peningkatan Kapasitas Dokter Layanan Primer dalam Deteksi Dini Kanker Sunggoro, Agus Jati; Nurwati, Ida; Subandono, Jarot; Hermawan, Danus; Budiani, Dyah Ratna; Hakim, Fikar Arsyad; Handayani, Selfi; Pakha, Dyonisa Nasirochmi; Muthmainah, Muthmainah
Ahmar Metakarya: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2026): Ahmar Metakarya: Jurnal Pengabdian Masyarakat
Publisher : Yayasan Ahmad Mansyur Nasirah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53770/amjpm.v5i2.672

Abstract

Kanker merupakan salah satu beban penyakit tidak menular terbesar di Indonesia dengan tingkat mortalitas yang tinggi akibat keterlambatan diagnosis. Sebagai kontak pertama dalam sistem kesehatan, dokter di fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP) memiliki peran krusial dalam deteksi dini untuk menurunkan risiko stadium lanjut, namun kapasitas klinis mereka saat ini masih perlu ditingkatkan. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan klinis dokter layanan primer di Kabupaten Sukoharjo dalam deteksi dini kanker payudara, serviks, paru, dan kolorektal, serta mendorong kesiapan implementasi dan perubahan praktik skrining di FKTP. Kegiatan dilakukan melalui seminar interaktif secara hibrid yang diikuti oleh 243 dokter layanan primer. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test, di mana 117 peserta menyelesaikan kedua tes tersebut secara lengkap dan datanya dianalisis lebih lanjut. Hasil analisis statistik menggunakan uji Wilcoxon menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan yang signifikan (p < 0,001), dengan nilai rata-rata pre-test sebesar 67,95 ± 15,22 dan post-test sebesar 90,43 ± 18,53. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan seminar efektif dalam meningkatkan pemahaman dokter layanan primer mengenai deteksi dini kanker. Diharapkan kegiatan serupa dapat dilakukan secara rutin untuk memperluas jangkauan dan memperbarui pengetahuan dokter mengenai skrining kanker.
Effect of Moringa Leaves Ethanolic Extract (Moringa oleifera, Lam.) on Testicles Histopathological Structure in Metabolic Syndrome Rat Model Aji, Febriagi Bayu; Setyawan, Novan Adi; Hakim, Fikar Arsyad; Pesik, Riza Novierta
Smart Medical Journal Vol 6, No 1 (2023): April
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/smj.v6i1.69243

Abstract

Introduction: Metabolic syndrome was a collection of various disorders that can significantly increase the risk of experiencing insulin resistance, atherosclerotic cardiovascular disease, vascular complications, and diabetes mellitus. The detrimental effect of this condition has led to the development of various treatments options, such as Moringa leaves extract (Moringa oleifera), which was suspected to have ameliorative effects. Therefore, this study aimed to determine the effect of Moringa leaves extract on the histopathological appearance of the testes of Wistar rats induced with metabolic syndrome.Methods: This was an experimental design study, with a post-test-only control group, involving 30 Wistar rats (Rattus norvegicus). Metabolic syndrome was induced in the samples through the administration of high-fat and fructose feeds along with streptozotocin and nicotinamide. Furthermore, the moringa leaves extract was administered to the treatment groups in different doses of 150, 250, and 350 mg/kg BW. Testicular histopathological damage scores were then assessed on each group. The Kruskal-Wallis test which followed by Mann-Whitney test was used to determine the significant differences between the groups, while the correlation was analyzed using Spearman test.Results: There were significant differences in the histopathological scores between the treatment and control groups. Furthermore, the Wistar rats treated with Moringa extract showed better histopathological scores (2.1±0.64) compared to those without the treatment (2.7±0.54), p<0.05. The results also showed that higher doses of the extract significantly correlated with better outcome in testicular histopathological structure of metabolic syndrome rat model (p=0.000, r=-0.396).Conclusion: Moringa leaves ethanolic extract treatment improved testicular histopathological appearance in Wistar rats induced with metabolic syndrome.
Edukasi dan Aplikasi Loci pada Guru SD di Wilayah Kecamatan Kerjo Karanganyar Muthmainah, Muthmainah; Nurwati, Ida; Subandono, Jarot; Hermawan, Danus; Budiani, Dyah Ratna; Hakim, Fikar Arsyad; Handayani, Selfi; Pakha, Dyonisa Nasirochmi; Sunggoro, Agus Jati
Smart Society Empowerment Journal Vol 3, No 3 (2023): November
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ssej.v3i3.79482

Abstract

Pendahuluan: Fakta di lapangan menunjukkan sebagian besar guru SD di Kecamatan Kerjo, Karanganyar belum pernah mendengar atau mengetahui metode Loci. Metode Loci merupakan salah satu cara untuk meningkatkan daya ingat dengan mengoptimalkan keseimbangan fungsi otak kiri dan kanan. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah melakukan edukasi dan aplikasi metode Loci melalui penyuluhan kepada para guru SD tersebut untuk meningkatkan daya ingat.Metode: Penyuluhan dilakukan pada Selasa, 23 Mei 2023 jam 08.00-12.30, di aula kantor Korwilcam Bidang Pendidikan Kecamatan Kerjo, Karanganyar. Peserta penyuluhan adalah para guru SD dalam wilayah Kecamatan Kerjo, Karanganyar sebanyak 50 orang. Di Kecamatan Kerjo terdapat 29 SD, dari tiap-tiap SD mewakilkan 1-2 orang guru. Tahap-tahap kegiatan pengabdian masyarakat meliputi persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan kegiatan. Penyuluhan diberikan melalui ceramah interaktif dan mempraktekkan cara menghafal dengan metode Loci. Peserta menjalani pretes sebelum dan postes sesudah penyuluhan. Nilai pretes dan postes dibandingkan menggunakan uji statistik Wilcoxon (α=0,05). Hasil dan pembahasan: Kegiatan pengabdian masyarakat yang berupa penyuluhan metode Loci telah dilaksanakan sesuai rencana dan diikuti oleh 50 orang guru SD dari 29 SD yang ada di wilayah Kecamatan Kerjo, Karanganyar. Rerata nilai pretes peserta 42,56±21,04 dan nilai postes 62,56±28,11 dengan nilai signifikansi p<0,001. Hal ini berarti bahwa penyuluhan yang berupa ceramah interaktif dan praktek aplikasi metode Loci, selain dapat memberikan pemahaman mengenai pengetahuan metode Loci, juga berpengaruh dalam meningkatkan daya ingat peserta.Kesimpulan: Edukasi dan aplikasi metode Loci yang diberikan melalui penyuluhan dapat memberikan pemahaman mengenai metode Loci dan dapat meningkatkan daya ingat pada para guru SD di Kecamatan Kerjo, Karanganyar.
Pelatihan Kader Kesehatan dalam Pemberdayaan Poskestren di Pondok Pesantren Al Amaanah Karanganyar Handayani, Selfi; Nurwati, Ida; Subandono, Jarot; Muthmainah, Muthmainah; Hermawan, Danus; Budiani, Dyah Ratna; Hakim, Fikar Arsyad; Pakha, Dyonisa Nasirochmi; Sunggoro, Agus Jati
Smart Society Empowerment Journal Vol 5, No 2 (2025): Juli
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/ssej.v5i2.94068

Abstract

Pendahuluan: Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) adalah suatu bentuk upaya untuk meningkatkan kesehatan warga pesantren. Para kader poskestren, yang meliputi para santri, perlu memiliki pengetahuan dan keterampilan dalam pemeriksaan vital sign (VS), antropometri, serta perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah memberikan pengetahuan, pemahaman dan keterampilan pelatihan VS, antropometri, dan PHBS kepada kader kesehatan di pos kesehatan pesantren.Metode: Sosialisasi dan pelatihan keterampilan pemeriksaan VS, antropometri, dan PHBS dilaksanakan pada bulan Juli 2024. Terdapat 30 orang kader kesehatan poskestren beserta 10 pamong yang mengikuti acara ini. Pemateri dan instruktur memberikan materi menggunakan media presentasi, pamflet, dan tanya-jawab. Kemudian kegiatan dilanjutkan dengan melatih keterampilan kader secara langsung. Sebelum dilakukan sosialisasi dan pelatihan, peserta melaksanakan pre-test, dan kemudian diikuti dengan post-test setelah mendapatkan pelatihan.Hasil dan pembahasan: Hasil evaluasi terhadap pengetahuan tentang PHBS pada kader Kesehatan memperlihatkan bahwa 80% (24 kader) telah mengalami peningkatan pengetahuan dari yang awalnya hanya 24% (7 kader). Nilai pretest dan post-test keterampilan VS dan antropometri memperlihatkan perbedaan, yaitu terjadi peningkatan pengetahuan tentang vital sign dan antropometri. Setelah dilakukan pelatihan pemeriksaan vital sign dan antropometri, semua kader sudah dapat melakukan pemeriksaan dengan baik.Kesimpulan: Sosialisasi dan pelatihan keterampilan dapat meningkatkan pengetahuan tentang PHBS, pemeriksaan VS, dan antropometri. Semua kader kesehatan yang dilatih sudah dapat melaksanakan pemeriksaan VS dan antropometri dengan baik.