Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Faktor Biologis dan Sosial Ekonomi Terhadap Kejadian Gondok di Kismantoro Wonogiri Dewi, Yulia Lanti Retno; Wiboworini, Budiyanti; Widardo, Widardo; Augusthina, Amelya; Rahayu, Dwi
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 3 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.3.159-162

Abstract

Latar Belakang: Gondok merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kecamatan Kismantoro kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah endemik kekurangan iodium dan telah diketahui lebih dari setengah abad yang lalu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor biologis dan sosial ekonomi terhadap kejadian gondok di Kismantoro, Wonogiri.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kasus kontrol. Data dikumpulkan dengan kuesioner pada orang yang telah diketahui menderita gondok dan tidak sebagai kontrol.  Data yang diambil meliputi faktor biologis dan sosial ekonomi. Jumlah subjek penelitian sebanyak 38 orang .Hasil : Penderita gondok sebanyak 55.3%, umur terbanyak diatas 50 tahun 57.9%, jenis kelamin perempuan sebanyak 86.8%, riwayat gondok dalam keluarga 23.7%, pendidikan rendah 73.7%, pekerjaan sebagai petani 60.5% dan pendapatan rendah 63.2%.  Uji Fisher menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.001).Simpulan: Faktor biologis dan faktor sosial ekonomi mempengaruhi kejadian gondok di Kismantoro.Kata kunci: gondok,  Kismantoro, Wonogiri, faktor biologis, faktor sosial ekonomiABSTRACTTitle: The  Influence of Biological and Socioeconomic Factors on The Event Of Endemic Goiter  In Kismantoro, Wonogiri Background: Endemic goiter is a public health problem in Indonesia. Kismantoro sub-district, Wonogiri at Central Java is one of these endemic area. It has been known for a long time, around five decades. This study was aimed at analyzing the influence of biological and socioeconomic factors on the event  of endemic goiter.Method: The study is an observational analytic with case control design.A specially designed questionnaires was used to collect the data. Data on biological socioeconomic factors were taken from 38 subjects.Result: Subjects with goiter 55.3 %, 57.9% of subjects with goiter aged >50 y, and 86.8% are females, 23.7% have history of endemic goiter in their families, working as farmer 60.5%, lower education in 73.7%, and lower incomes in 63.2%.  Fisher test showed significant result (p<0.001)Conclusion: Biological and socioeconomic factors aggravate endemic goiter in Kismantoro , Wonogiri. Keywords: goiter, Kismantoro, Wonogiri, biological factor, socioeconomic factor
Konsumsi Kafein dan Derajat Kontrol Asma Pada Pasien Asma Dewasa Bahari, Muh Arif Wira; Aphridasari, Jatu; Widardo, Widardo
Kieraha Medical Journal Vol 5, No 2 (2023): KIERAHA MEDICAL JOURNAL
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Khairun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33387/kmj.v5i2.7095

Abstract

Asma merupakan penyakit inflamasi jalan nafas yang bersifat kronik yang merupakan salah satu penyebab kematian dan kesakitan tertinggi di Indonesia. Kafein sendiri memiliki zat kimia theophylline yang memiliki efek sebagai bronkodilator sehingga dapat digunakan sebagai salah satu terapi asma yang dapat meningkatkan derajat kontrol asma. Penelitian ini ditujukan untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara konsumsi kafein dengan derajat kontrol asma pada pasien asma di RSUD Dr. Moewardi. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Subyek yang digunakan adalahpenderita asma yang berobat jalan di klinik Paru RSUD Dr. Moewardi. Subyek penelitian mengisi kuesioner mengenai konsumsi kafein dan derajat kontrol asma. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik accidental sampling sebanyak 50 responden.Data yang didapat dianalisis menggunakan uji normalitas data shapiro wilk dan uji korelasi pearson. Hasil analisis pada 42 sampel penelitian, hasil uji normalitas dengan uji shapiro wilk bahwa skor Asthma Control Test (ACT) terdistribusi normal dengan p= 0,331 dan skor Food Frequency Questionnaire (FFQ) terdistribusi normal dengan p= 0,165. Dengan uji hipotesis non-parametrik, yakni uji korelasi pearson didapatkan hasil p= 0,004 yang mana menunjukkan hasil bahwa antara konsumsi kafein dengan derajat kontrol asma terdapat korelasi yang bermakna secara statistik antara keduanya, dengan nilai r= 0,464 yang mana hal tersebut menunjukkan bahwa antara konsumsi kafein dengan derajat kontrol asma terdapat korelasi yang bernilai positif dan nilai korelasi lemah. Hasil ini sudah mengontrol variabel perancu yaitu penyakit lain, alkohol, merokok, kehamilan, dan obat-obatan. Kesimpulan Terdapat hubungan yang bermakna antara konsumsi kafein dengan derajat kontrol asma pada pasien asma dewasa dengan hubungan korelasi positif dan kekuatan korelasi lemah.