Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Hubungan rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan lansia perempuan di Kecamatan Sewon Astriana, Kuntari; Wiboworini, Budiyanti; Kusnandar, Kusnandar
Ilmu Gizi Indonesia Vol 1, No 2 (2018): Februari
Publisher : Program Studi S-1 Ilmu Gizi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (334.975 KB)

Abstract

AbstrakLatar Belakang: Menjadi tua merupakan suatu proses alami yang tidak dapat dihindari. Selain masalah penyakit degeneratif seperti osteoporosis, malnutrisi juga merupakan masalah kesehatan lansia saat ini yaitu masalah gizi kurang dan gizi lebih. Penilaian status gizi lansia dapat diukur dengan menggunakan indeks massa tubuh (IMT) yaitu perbandingan berat badan dan kuadrat tinggi badan. Tinggi badan (TB) merupakan indikator status gizi sehingga pengukuran tinggi badan seseorang secara akurat sangatlah penting untuk menentukan nilai IMT. Akan tetapi untuk memperoleh pengukuran TB yang tepat pada lansia cukup sulit karena masalah postur tubuh, kerusakan spinal, maupun masalah dalam pergerakan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan rentang lengan, tinggi lutut dan panjang ulna dengan tinggi badan. Metode: Penelitian ini menggunakan desain cross sectional dan bersifat observasional analitik. Responden penelitian ini adalah lansia >60 tahun sebanyak 119 lansia. Hasil: Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan korelasi pearson terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan. Tingkat keeratan hubungan untuk rentang lengan sebesar 0,779, tinggi lutut sebesar 0,639,dan panjang ulna sebesar 0,488. Rentang lengan, tinggi lutut, dan panjang ulna dapat digunakan untuk memprediksi tinggi badan lansia. Kesimpulan: terdapat hubungan yang bermakna antara rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna dengan tinggi badan Kata kunci: rentang lengan, tinggi lutut, panjang ulna, lansia 
Perbedaan Kekuatan Genggam Berdasarkan Status Gizi pada Pasien DM Tipe 2 (Handgrip Strength Difference based on Nutritional Status in Type 2 Diabetic Patients) Rohimah, Banun; Sugiarto, Sugiarto; Probandari, Ari; Wiboworini, Budiyanti
Indonesian Journal of Human Nutrition Vol 3, No 1 (2016): Suplemen "Malang Current Issues On Nutrition (MCION)"
Publisher : Jurusan Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.308 KB) | DOI: 10.21776/ub.ijhn.2016.003.Suplemen.2

Abstract

AbstrakDiabetes melitus (DM) merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Kondisi malnutrisi dapat terjadi pada pasien DM. Malnutrisi menyebabkan kelainan sensorimotor dan pengecilan otot yang bervariasi pada tiap tahapannya. Penilaian penurunan kekuatan genggam disarankan sebagai metode untuk mendeteksi kekurangan gizi di bidang klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kekuatan genggam berdasarkan status gizi IMT pada pasien DM tipe 2. Penelitian ini bersifat observasional dengan rancangan cross sectional. Jumlah sampel adalah 153 pasien DM tipe 2 di Poliklinik Penyakit Dalam rawat jalan RSUD Dr. Moewardi Surakarta. Teknik pengambilan sampel adalah purposive sampling. Semua sampel diukur kekuatan genggam menggunakan handgrip dynamometer dan untuk Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan penimbangan berat badan menggunakan timbangan digital dan pengukuran tinggi badan menggunaan microtoise kemudian dimasukkan rumus IMT. Analisis yang digunakan yaitu uji t independen untuk mengetahui perbedaan nilai rerata kekuatan genggam, perhitungan koefisien korelasi Pearson untuk mengetahui hubungan kekuatan genggam dengan IMT, dan model regresi linear untuk prediksi skor dari karakteristik ke variabel kekuatan genggam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 153 subjek memiliki rentang usia 38-68 tahun dengan rata-rata 56±7,13 tahun. Terdapat perbedaan kekuatan genggam berdasar jenis kelamin dan pekerjaan pada status gizi baik dan kurang, sedangkan perbedaan kekuatan genggam berdasar pendidikan hanya pada status gizi baik. Nilai kekuatan genggam antara status gizi kurang vs. status gizi baik = 22,28±9,69 kg vs. 22,98±8,27 kg (p=0,807). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan kekuatan genggam antara status gizi kurang dan status gizi baik berdasarkan IMT pada pasien DM tipe 2.Kata kunci : Kekuatan genggam, IMT, DM Tipe 2 AbstractDiabetes mellitus is a major health problem. Malnutrition is common among diabetic patients. Malnutrition may cause sensory motor disorders and muscle wasting in varying degrees. Handgrip strength (HGS) asessment is recommended to detect undernutrition in clinical practice. The aim of this study was to determine the HGS in type 2 diabetic patients. This was an observational study with cross sectional design. 153 type 2 diabetes outpatients of internal medicine clinic in Dr Moewardi Hospital, Surakarta were recruited using purposive sampling technique. HGS level was measured using handgrip dynamometer. The bodyweight and height were measured using digital weight scale and microtoise, respectively. The body mass index (BMI) was determined from body weight in kilograms divided by the square of height in meters. Independent sample t test was used to determine the difference of HGS level based of BMI index; Pearson correlation coefficient  measures the correlation between HGS and BMI while linear regression models were used to predict score from characteristic to HGS variable. Overall, 153 type 2 diabetes patients aged 38-68 year-old were participated in this study. The mean level of age was 56±7,13 year-old. The difference of HGS level was found based on gender and type of jobs, both normoweight and underweight group while HGS difference based on educational level was only found in normoweight group. HGS between underweight vs. normoweight group was 22,28±9,69 vs 22,98±8,27 kgs (p=0,807). There was no significant difference of HGS in type 2 diabetic patients with underweight and normoweight status.Keywords: Handgrip Strength, BMI, Type 2 Diabetes.
Path Analysis: Knowledge, Motivation Factor, and Their Relationship with Readiness to Provide Exclusive Breastfeeding among Pregnant Women Mulyani, Sri; Subiyanto, AA; Anantanyu, Sapja; Respati, Supriyadi Heri; Wiboworini, Budiyanti
International Research Journal of Management, IT & Social Sciences (IRJMIS) Vol 4 No 1: January 2017
Publisher : IJCU

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21744/irjmis.v4i1.340

Abstract

Women who prepare early will be better prepared both physically and psychologically to breastfeed exclusively. The purpose of this research was to determine whether the motivation variable as a mediator of the relation between knowledge of exclusive breastfeeding with readiness to exclusive breastfeeding. The study was observational, A total of 150 respondents, These three variables, namely knowledge, motivation, and readiness in exclusive breastfeeding, measured by the enclosed questionnaire. Correlation between variables was analyzed with path analysis. The relation between variables in all three models was significant (p <0.001), whereas the relation between knowledge and preparedness in exclusive breastfeeding is not significant (1b = 0.142; p = 0.092). The relation between knowledge and preparedness in exclusive breastfeeding changed from the first model, into the fourth model. Besides there is a decline in the path coefficient of 0,302 became 0,142, the relation also becomes insignificant. This shows that the fourth mediation relationship condition is fulfilled. Pregnant women motivation exclusively breastfed mediates the relationship between knowledge of exclusive breastfeeding with maternal readiness in exclusive breastfeeding.
Pengaruh Konsumsi Buah Naga Merah (Hylocereus Costaricensis) Terhadap Kadar Glukosa Darah Puasa dan Kolesterol-Ldl pada Penderita Dm Tipe 2 Hapsari, Agustina Indri; Purwanto, Bambang; Wiboworini, Budiyanti
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 2, No 1 (2015)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Diabetes Melitus (DM) merupakan kelompok penyakit metabolik kronik dengan karakteristik hiperglikemi yang meningkat prevalensinya di berbagai negara. Keadaan hiperglikemia pada DM menyebabkan terjadinya stres oksidatif yang dapat memacu terjadinya komplikasi baik mikro maupun makro vaskuler dengan indikator antara lain gula darah puasa dan kolesterol-LDL ˃ 100 mg/dL. Stres oksidatif dapat dihambat dengan mengkonsumsi makanan yang mengandung antioksidan yang tinggi. Buah naga merah mengandung sumber antioksidan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh konsumsi buah naga merah terhadap kadar glukosa darah puasa dan kolesterol-LDL pada penderita DM tipe 2.Metode : Penelitian ini adalah penelitian eksperimental klinis  dengan rancangan pre and post randomized controlled group design. Subjek penelitian adalah penderita DM tipe 2 di klub diabetisi Prolanis Poliklinik Rejosari Husada, Delanggu, Klaten. Kelompok perlakuan diberi buah naga merah dalam bentuk potongan sebanyak 180 gram/hari selama 15 hari. Kadar glukosa darah puasa dan kolesterol-LDL diukur sebelum dan sesudah perlakuan. Data dianalisis dengan uji Kolmogorov-Smirnov untuk uji normalitas data kadar glukosa darah puasa dan kolesterol-LDL, uji paired t-test untuk mengetahui perbedaan rerata pretest dan posttest dalam satu kelompok setelah dilakukan perlakuan, uji independent t-test untuk mengetahui perbedaan selisih rerata pretest dan posttest antara kelompok yang diberi perlakuan berbeda dan asupan gizi dari makanan hasil 24 hours food recall dianalisis dengan menggunakan program Nutrisurvey.Hasil  : Tidak terdapat penurunan kadar glukosa darah puasa baik pada kelompok perlakuan maupun pada kelompok kontrol. Terdapat penurunan signifikan kadar kolesterol-LDL sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok perlakuan (p 0,02), terdapat penurunan kadar kolesterol-LDL pada kelompok kontrol tidak signifikan (p 0,31) dan asupan energi dari makanan subjek rata-rata 134,46% kebutuhan rata-rata.Kesimpulan : Konsumsi buah naga merah dapat menurunkan kadar kolesterol-LDL pada penderita DM tipe 2. Konsumsi buah naga merah tidak dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa pada penderita DM tipe 2. Pengaturan makan untuk pada pasien DM dengan pengendalian asupan terutama sumber energi penting dalam kendali kadar glukosa darah dan kolesterol-LDL. Keywords : buah naga merah, penderita DM tipe 2, glukosa darah puasa, kolesterol-LDL
PENGARUH SUPLEMENTASI BESI DAN KOMBINASI BESI DAN VITAMIN B6 TERHADAP KADAR HEMOGLOBIN TENAGA KERJA WANITA ANEMIA Mahyaningtyas, Fransisca Pradnya; Santoso, Santoso; Wiboworini, Budiyanti
Jurnal Gizi dan Kesehatan Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi Pascasarjana Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Tenaga kerja wanita usia subur merupakan kelompok yang rentan terhadap anemia. Menurut data WHO, prevalensi anemia pada wanita usia subur adalah 30,2% atau sekitar 468,4 juta. Anemia yang sebagian besar diderita oleh wanita usia subur adalah anemia gizi besi. Beberapa penelitian suplementasi besi telah dilakukan dan hasilnya menunjukkan peningkatan kadar hemoglobin yang signifikan. Banyak zat gizi mikro yang digunakan meningkatkan penyerapan zat besi, misalnya vitamin B6. Vitamin B6 adalah salah satu jenis vitamin B yang berperan dalam pembentukan asam alfa-aminolevulinat, yaitu perkursor hem dalam hemoglobin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan efek suplementasi besi dengan kombinasi besi dan vitamin B6 terhadap kadar hemoglobin pada tenaga kerja wanita usia subur yang menderita anemia.Metode : Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimental, desain Randomized Controlled Trial pre-test post-test dengan double blind. Teknik pengambilan sampel dengan cara purposive sampling yang kemudian didapatkan 49 subjek penelitian. Pengambilan data menggunakan kuesioner data karakteristik, formulir food recall 24 jam, dan sampel darah vena. Data kadar hemoglobin diuji menggunakan independent t-test serta paired t-test .Hasil : Tidak ada perbedaan perubahan kadar hemoglobin yang bermakna baik pada kelompok yang diberi suplemen besi dan vitamin B6 maupun kelompok yang diberi suplemen besi saja yang ditunjukkan dengan nilai p yang tidak signifikan(p > 0,05).Kesimpulan : Suplementasi besi dan kombinasi besi dan vitamin B6 dapat meningkatkan kadar hemoglobin namun rata-rata kenaikannya tidak signifikan. Kata Kunci : suplementasi, hemoglobin, tenaga kerja wanita, anemia
Prevalence and Factor Associated with Severity of Dysmenorrhea Among Female Adolescent in Surakarta Wrisnijati, Dita; Wiboworini, Budiyanti; Sugiarto, Sugiarto
Jurnal Gizi dan Pangan Soedirman Vol 3 No 1 (2019): JURNAL GIZI DAN PANGAN SOEDIRMAN
Publisher : Program Studi Ilmu Gizi, Jurusan Kesmas Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.541 KB) | DOI: 10.20884/1.jgps.2019.3.1.1463

Abstract

ABSTRACT Dysmenorrhea is the most common health problem among female adolescent in Indonesia. Generally, dysmenorrhea decreases the quality of life due to negatively impact on every aspects. This study aim to investigate the prevalence and associated factors with severity of dysmenorrhea among female adolescent aged 15-17 years in Surakarta. This cross-sectional study design conducted among 274 female adolescent aged 15-17 years in State Senior High School 7 Surakarta. The samples selected by stratified random sampling technique. Data were analyzed using chi-square and binary logistic regression test. The results of this study showed the prevalence of dysmenorrhea among female adolescent aged 15-17 years was 89.8%. Several factors such as age of menarche (p<0.001; OR=0.08; 95% CI: 0.03-0.18), menstrual duration (p<0.001; OR=7.54; 95% CI: 3.37-16.86), pain onset (p=0.004; OR=3.34; 95% CI: 1.48-7.51), and pain duration (p<0.001; OR=3.96; 95% CI: 2.07-7.51) were found significantly associated with increased severity of dysmenorrhea. Meanwhile, family history of dysmenorrhea (p=0.296), menstrual cycle interval, and caffeine intake were not significantly associated. This study concluded that a high prevalence of dysmenorrhea among female adolescent aged 15-17 years in Surakarta was detected, and factor associated with its severity were age of menarche, menstrual duration, pain onset, and pain duration. Keywords : Primary dysmenorrhea, menstruation, pain, prevalence
Pengaruh Faktor Biologis dan Sosial Ekonomi Terhadap Kejadian Gondok di Kismantoro Wonogiri Dewi, Yulia Lanti Retno; Wiboworini, Budiyanti; Widardo, Widardo; Augusthina, Amelya; Rahayu, Dwi
MEDIA KESEHATAN MASYARAKAT INDONESIA Vol 20, No 3 (2021): MKMI
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/mkmi.20.3.159-162

Abstract

Latar Belakang: Gondok merupakan masalah kesehatan masyarakat di Indonesia. Kecamatan Kismantoro kabupaten Wonogiri merupakan salah satu daerah endemik kekurangan iodium dan telah diketahui lebih dari setengah abad yang lalu. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh faktor biologis dan sosial ekonomi terhadap kejadian gondok di Kismantoro, Wonogiri.Metode: Penelitian ini adalah penelitian observasional analitik dengan rancangan kasus kontrol. Data dikumpulkan dengan kuesioner pada orang yang telah diketahui menderita gondok dan tidak sebagai kontrol.  Data yang diambil meliputi faktor biologis dan sosial ekonomi. Jumlah subjek penelitian sebanyak 38 orang .Hasil : Penderita gondok sebanyak 55.3%, umur terbanyak diatas 50 tahun 57.9%, jenis kelamin perempuan sebanyak 86.8%, riwayat gondok dalam keluarga 23.7%, pendidikan rendah 73.7%, pekerjaan sebagai petani 60.5% dan pendapatan rendah 63.2%.  Uji Fisher menunjukkan perbedaan yang signifikan (p<0.001).Simpulan: Faktor biologis dan faktor sosial ekonomi mempengaruhi kejadian gondok di Kismantoro.Kata kunci: gondok,  Kismantoro, Wonogiri, faktor biologis, faktor sosial ekonomiABSTRACTTitle: The  Influence of Biological and Socioeconomic Factors on The Event Of Endemic Goiter  In Kismantoro, Wonogiri Background: Endemic goiter is a public health problem in Indonesia. Kismantoro sub-district, Wonogiri at Central Java is one of these endemic area. It has been known for a long time, around five decades. This study was aimed at analyzing the influence of biological and socioeconomic factors on the event  of endemic goiter.Method: The study is an observational analytic with case control design.A specially designed questionnaires was used to collect the data. Data on biological socioeconomic factors were taken from 38 subjects.Result: Subjects with goiter 55.3 %, 57.9% of subjects with goiter aged >50 y, and 86.8% are females, 23.7% have history of endemic goiter in their families, working as farmer 60.5%, lower education in 73.7%, and lower incomes in 63.2%.  Fisher test showed significant result (p<0.001)Conclusion: Biological and socioeconomic factors aggravate endemic goiter in Kismantoro , Wonogiri. Keywords: goiter, Kismantoro, Wonogiri, biological factor, socioeconomic factor
EFEKTIVITAS SUPLEMENTASI BRANCHED-CHAIN AMINO ACID (BCAA) TERHADAP TIMBULNYA DELAYED ONSET MUSCLE SORENESS (DOMS) Sanjaya, Evan Japutra; Ayusari, Amelya Aughustina; Ghozali, Dhoni Akbar; Wiboworini, Budiyanti
Journal of Nutrition College Vol 10, No 2 (2021): April
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v10i2.29947

Abstract

Background: Sensation in the form of pain, edema, and stiffness that increases 24-48 hours after high-intensity training, especially eccentric exercises is called Delayed Onset Muscle Soreness (DOMS). One method to accelerate the recovery process and reduce the pain caused by DOMS is with Branched-Chain Amino Acid (BCAA) supplementation. However, until now, there has been limited research that proves the difference in the effectiveness of supplementation time between before and after exercise. Objectives: The aim of this research was to determine the difference in the effectiveness of BCAA supplementation time on DOMS.Methods: This research was an experimental research. A posttest only control group design approach was carried out to measure the effectiveness of supplementation on DOMS as measured by VAS at 24 hours after exercise. A pre and post control group design approach was carried out to measure the effectiveness of supplementation on the alteration in Range of Motion (ROM) as measured by the modified Lower Extremity Functional Scale (LEFS) questionnaire before exercise and 24 hours after exercise. The subjects were classified into 3 groups, namely the control group, 30 minutes before exercise supplementation, and 1 hour after exercise supplementation. Data were analyzed by one way ANOVA and Kruskall Wallis tests. Results Total sample in this study was 30 people. The result of oneway ANOVA test for differences in the effectiveness of BCAA supplementation on VAS was p<0.001. The result of post hoc test between the control and before and after exercise supplementation group was p<0.001, while between the before and after supplementation group was p=0.113. The result of Kruskall Wallis test to measure the effectiveness of supplementation on the alteration (Δ) in LEFS was p=0.336Conclusion: There was no significant difference in the level of pain between the before and after BCAA supplemented group. However, there were significant differences in the level of pain in both of the before and after supplementation group with the control group. There was no significant differences in the alteration of ROM between the three groups
Analisis Antosianin dan Flavonoid Ekstrak Kecambah Beras Hitam Pasaribu, Sudana Fatahillah; Wiboworini, Budiyanti; Kartikasari, Lilik Retna
Jurnal Dunia Gizi Vol 4, No 1 (2021): Edisi Juni
Publisher : Study Program of Nutrition, Public Health Faculty, Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v4i1.4852

Abstract

Pendahuluan; Serealia merupakan sumber pangan fungsional dan nutrisi. Beras hitam merupakan beras spesies Oryza sativa Lyang memiliki kandungan fitokimia alami antioksidan. Antosianin dan flavonoid merupakan senyawa fenolik bersifat antioksidan yang banyak ditemukan pada tanaman, serta memiliki manfaat bagi kesehatan yaitu antidiabetes, antiinflamasi, pencegahan penyakit alzheimer dan pencegahan penyakit kardiovaskular. Beras hitam merupakan salah satu tanaman yang memiliki kandungan senyawa antioksidan seperti antosianin dan flavonoid. Proses perkecambahan beras hitam akan dapat mempengaruhi komponen senyawa fitokima pada kecambah beras hitam. Ekstrak kecambah beras hitam memiliki warna ungu gelap menunjukkan adanya kandungan senyawa antosianin dan flavonoid. Belum pernah dilakukan penelitian terkait analisis kandungan antosianin total dan flavonoid total ekstrak kecambah beras hitam lokal varietas Krisna, sehingga perlu dilakukan analisis senyawa fitokimia tersebut, sebagai dukungan dalam kesehatan dunia. Tujuan; untuk menganalisis kandungan antosianin dan flavonoid ekstrak kecambah beras hitam. Bahan dan Metode; Metode ekstraksi yang digunakan maserasi. Kandungan total antosianin menggunakan metode pH Differential dan kandungan total flavonoid menggunakan metode Spektrofotometri . Hasil; Ekstrak kecambah beras hitam dengan jumlah kadar antosianin 48,68 mg / g + 1,56 dan flavonoid 2,08 mgQE / g + 0,01 Kesimpulan;Ekstrak kecambah beras hitam memiliki kandungan senyawa fitokimia antosianin total dan flavonoid total. Perlu penelitian lanjutan yaitu pengaruh mempersembahkan dan penentuan dosis ekstrakambah beras hitam terhadap pengobatan suatu penyakit.
Red dragon fruit juice in reducing ros levels and insulin resistance In rats with type 2 diabetes mellitus model Putri, Mahendri Deayu; Wiboworini, Budiyanti; Dirgahayu, Paramasari
Jurnal Gizi Indonesia (The Indonesian Journal of Nutrition) Vol 10, No 1 (2021): December
Publisher : Department of Nutrition Science, Faculty of Medicine, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgi.10.1.6-14

Abstract

Background: The peel of red dragon fruit (Hylocereus polyrhizus) had been proven to have a total polyphenol content and total flavonoids 2 to 3 times more than its flesh. These components could reduce oxidative stress and maintain the function of pancreatic beta cells, which could affect blood sugar levels.Objectives: This study aimed to test the red dragon fruit juice using peel and flesh to reduce oxidative stress and insulin resistance in T2DM model rats.Materials and Methods: This study was a true experimental study with a randomized controlled trial, with a Matching Pretest Post-test Control Group Design. We used 21 white male rats (Rattus norvegicus) Wistar strain which was divided into three groups: (P1) negative control group (induced Streptozotocin + Nicotinamide induction), (P2) positive control group (given Streptozotocin + Nicotinamide and given Metformin HCl induction 0,9 mg/kg BW, and (P3) Red Dragon fruit group (induced Streptozotocin + Nicotinamide and given Red Dragon Fruit juice 3.6 ml / 200 g BW / day given for 14 days. The data were analyzed using a one-way ANOVA test, paired t-test, and Post Hoc.Results: After 14 days of intervention, the average HOMA-IR levels were as follows: negative control group (Mean=8.32; SD=0.26), positive group (Mean 4.89; SD=0.29), and the Red Dragon Fruit intervention group (Mean=4.65; SD=0.30). The average MDA levels were as follows: control group (Mean = 9.08; SD = 0.68), positive group (Mean=3.34;SD=0.22), and the red dragon fruit intervention group (Mean = 3.05; SD = 0.47). Both the Metformin group and the Red Dragon Fruit group had low HOMA-IR and MDA levels compared to the negative control group.Conclusions: When administered alone, red dragon fruit and metformin effectively reduced HOMA-IR and MDA levels in rats with type 2 DM. Red dragon fruit can be used as an alternative to metformin because of its effectiveness in reducing plasma HOMA-IR and MDA.
Co-Authors AA Subiyanto, AA Adi Prayitno Agustina Indri Hapsari Ali Djamhuri Ari Natalia Probandari Ari Probandari Arum, Wuryan Dewi Miftahtyas Ayu Kusuma Dewi Ayusari, Amelya Aughustina Ayusari, Amelya Augusthina Azzahrah, Aisyah Bambang Purwanto Banun Rohimah, Banun Betania, Sakha Ukta Billah, Muhammad Muayyad Brian Wasita Budiastuti, Veronika Ika Dhoni Akbar Ghozali Didik Gunawan Tamtomo Diffah Hanim Dono Indarto Dwi Rahayu ernawati, ammik Ernawati, Erni Firnanda, Sani Widya Handayani, Sutartinah Sri Hanifah, Rosalinda Abir Hasibuan, Wahyu Aulia Jokomarsono, Elisabet Puspita Kezia Elian Devina khusnul khotimah Kristisanthy, Akwilina Dwi Kuntari Astriana, Kuntari Kusmadewi Eka Damayanti kusnandar kusnandar Kusumawati, Ratna Kusumawati, Ratna Lilik Retna Kartikasari Lourena, Crysty Mahyaningtyas, Fransisca Pradnya Majestika Septikasari, Majestika Mariestu, Farah Kurnia Maulidya, Rizki Mega Fatimah Rosana Muhammad Akhyar Muthmainah Muthmainah Nilasari, Aprilina Citra Ayu Nur Hafidha Hikmayani Nurgajayanti, Cendi Paramasari Dirgahayu Pasaribu, Sudana Fatahillah Putri, Mahendri Deayu Putri, Yulia Rahmawati Wibowo Qadrijati, Isna Retnowati, Sri Sanjaya, Evan Japutra SANTOSO SANTOSO Sapja Anantanyu, Sapja Sari, Amelya Augusthina Ayu Sari, Atriany Nilam Shabrina, Amalina Shanti Listyawati Sinaga, Ruth Dearani Sogen, Maria Dolorosa P. Sri Mulyani Sudarsono, Joko Sugiarto S Sugiarto, S Sukamto, Ika Sumiyarsi Suminah Suminah, Suminah Supriyadi Heri Respati, Supriyadi Heri Tjung, Vivienne Tri Nugraha Susilawati Tri Rejeki Andayani Valensia, Yualeny Veonika, Dea Anenta Wahidah, Nurul Jannatul widardo, Widardo Widyaningsih, Vitri Wijaya, Angellica Eliora Wrisnijati, Dita Wrisnijati, Dita Wulandari, Anggraini Yulia Lanti yulia lanti retno dewi Yuniarti, Windy