Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

KAJIAN TINGKAT DEKOMPOSISI SERASAH DAUN DENGAN MEMANFAATKAN AGEN PENGENDALI HAYATI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN HASIL CABAI MERAH Oktavia Sarhesti Padmini; R.R. Rukmowati Brotodjojo; Dyah Arbiwati
Jurnal Agrivet Vol 26, No 2 (2020): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v26i2.3994

Abstract

Tujuan penelitian untuk mengkaji dampak tingkat dekomposisi serasah daun dan agen pengendali hayati+NPK terhadap pertumbuhan hasil cabai merah. Percobaan menggunakan split plot, disusun menurut Rancangan Acak Kelompok Lengkap dengan tiga ulangan. Sebagai Main plot adalah Dekomposisi serasah daun dengan rasio C/N 28,52 dan dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 16,57. Sub plot adalah jenis agen pengendali hayati dengan enam perlakuan sebagai berikut: 1) Hanya menggunakan NPK dosis rekomendasi (500 kg.ha-1), 2) Kombinasi Trichoderma + 50 % dosis NPK, 3) Kombinasi Mikoriza + 50 % dosis NPK, 4) Kombinasi PGPR + 50 % dosis NPK, 5) Lem pengendalian hama, 6) Stimulant. Data dianalisis varians diikuti oleh Uji Jarak Berganda Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 16,57 secara signifikan memperbaiki tinggi tanaman pada hari ke umur 3 MST, jumlah cabang umur 5 MST dan 7 MST serta jumlah buah dan  bobot buah panen pertama dan kedua dibandingkan dengan cabai yang diberi perlakuan dekomposisi serasah daun dengan rasio C / N 28,52. Tanaman lebih tinggi pada penyemprotan stimulan+50% dosis NPK, tetapi tidak diikuti oleh pertumbuhan cabang, serta jumlah dan bobot buah. Kombinasi agen pengendali hayati  jenis Trichoderma sp, Mikoriza sp. dan PGPR + dosis 50% NPK meningkatkan jumlah cabang serta menghasilkan jumlah dan bobot buah, namun, tidak ada perbedaan yang signifikan antara ketiga jenis agen pengendali hayati. Pertumbuhan tanaman yang diberi pupuk NPK memiliki pertumbuhan tanaman paling rendah dibandingkan dengan perlakuan lainnya.
EVALUASI STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA DI DESA NGLEGI, KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Rachmad Fajar Wibisono; AZ. Purwono Budi Santoso; Dyah Arbiwati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol. 17, No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i1.3992

Abstract

Tanah merupakan faktor produksi biomassa yang mendukung kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya. Di sisi lain, kegiatan produksi biomassa yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah, sehingga dapat menurunkan kualitas dan fungsinya, yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Desa Nglegi memiliki topografi perbukitan dengan tingkat kemiringan lereng tergolong cukup curam dengan tingkat kemiringan 8% - >40% menyebabkan erosi sering terjadi di daerah ini. Sehingga diperlukan informasi mengenai status kerusakan tanah sehingga dalam upaya pemanfaat lahan dapat dilakukan dengan baik untuk menunjang kegiatan produksi biomassa khususnya dalam bidang pertanian. Tujuan dari penelitian adalah menentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa dan menyusun peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa di Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari pengamatan (survey) untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian dan lokasi penelitian ditentukan secara purposif. Penentuan titik sampel berdasarkan Satuan Peta Lahan hasil dari overlay peta jenis tanah, peta tataguna lahan dan peta kemiringan lereng. Hasil Penelitian menunjukkan Desa Nglegi tergolong dalam dua kelas status kerusakan yaitu status kerusakan rusak ringan (R.I) dengan luas sekitar 372,98 ha atau 40,07% dari keseluruhan luas desa Nglegi. Status kerusakan tidak rusak (N) dengan luas 557,82 ha atau 59,93 % dari keseluruhan luas wilayah Desa Nglegi. Status rusak ringan (R.I) dengan faktor pembatas permeabilitas dan redoks.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KAKAO DAN TANAMAN PADI SAWAH TADAH HUJAN DI DESA NGALANG, KECAMATAN GEDANGSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Adityarizqy Putradinantyo; Muhammad Kundarto; Dyah Arbiwati; Lanjar Sudarto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol. 17, No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i1.3993

Abstract

Lahan kering yang luas di Desa Ngalang umumnya digunakan sebagai tegalan atau sawah non-irigasi. Budidaya tanaman kakao mulai ditinggalkan oleh warga karna produksinya menurun. Selain itu, penggunaan sawah non-irigasi yang ditanami tanaman padi hasilnya belum optimal. Untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan lahan diperlukan adanya analisis kesesuaian lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik lahan dan menganalisis kesesuaian lahan untuk tanaman kakao dan tanaman padi di Desa Ngalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, dengan penentuan titik sampel menggunakan metode purposive berdasarkan satuan peta lahan yang dibentuk dari hasil overlay peta jenis tanah dan peta kemiringan lereng. Untuk analisis data dengan menggunakan metode pembandingan (matching) antara data karakteristik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan. Karakteristik Desa Ngalang memiliki bentuk lahan berbukit, jenis tanah didominasi oleh tanah Inceptisol, dan ketersediaan air permukaan yang rendah. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kakao di seluruh Desa Ngalang termasuk kelas N (tidak sesuai) dengan faktor pembatas ketersediaan air, kedalaman tanah, kemiringan lereng, dan penyiapan lahan. Terdapat dua kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman padi sawah tadah hujan di Desa Ngalang, yaitu kelas S3 (sesuai marginal) seluas 716,7 Ha atau (48,4%) dengan faktor pembatas ketersediaan air, media perakaran, retensi hara, hara tersedia, bahaya erosi dan kemiringan lereng. Kelas N seluas 764,3 Ha (51,6%) dengan faktor pembatas media perakaran, bahaya erosi dan penyiapan lahan.
KAJIAN ERODIBILITAS TANAH PADA BEBERAPA SUB GROUP TANAH DI KECAMATAN SEMIN Dwi Kurnia Sandi; Djoko Mulyanto; Dyah Arbiwati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 16, No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v16i2.3986

Abstract

Kehilangan tanah yang dipicu oleh erosi air merupakan masalah utama yang menyebabkan beberapa masalah lingkungan. Erosi tanah berkontribusi pada hilangnya kesuburan dan penurunan kualitas sumber daya tanah. Salah satu komponen yang berperan penting dalam proses erosi tanah adalah erodibilitas tanah, yakni kepekaan tanah terhadap erosi. Wilayah Kecamatan Semin memiliki 4 sub group tanah yaitu Typic Hapluderts, Typic Eutropepts, Typic Troporthents dan Lithic Haplustols. Keempat sub group tanah tersebut memiliki sifat-sifat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai erodibilitas pada setiap sub group tanah yang terdapat di Kecamatan Semin. Penelitian ini menggunakan Metode Survey, pengambilan sampel tanah secara Purposive berdasarkan Peta Satuan Lahan Kecamatan Semin. Pengamatan struktur tanah dan pengambilan sampel tanah yang akan dianalisis dilakukan dengan cara membuat mini pit dan menggunakan ring sampler. Analisis data erodibilitas tanah dilakukan dengan menggunakan persamaan Weischmeier 1978 yaitu 100 K = 1,292 [2,1 M1,14  (10-4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)]. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa nilai erodibilitas tertinggi pada sub group tanah Typic Troporthents yakni 0,730 dengan kisaran sangat tinggi yang terletak pada kemiringan lereng landai, sedangkan nilai erodibilitas terendah pada sub group  Typic Hapluderts yaitu 0,184 dengan status rendah pada kemiringan lereng agak curam. Secara umum urutan besarnya nilai erodibilitas pada lereng yang relatif sama adalah: Typic Troporthents > Lithic Haplustols > Typic Eutropepts > Typic Hapluderts. Secara umum semakin tinggi kelerengan pada sub grup yang sama, erodibilitasnya  semakin meningkat. Faktor yang menentukan nilai erodibilitas tanah adalah bahan organik dan tekstur tanah khususnya fraksi lempung, debu dan pasir sangat halus. 
Evaluasi status kesuburan tanah didesa nglegi, kecamatan patuk, kabupaten gunungkidul, daerah istimewa yogyakarta Andi Suseno; Dyah Arbiwati; AZ Purwono Budi Santosa
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v15i1.2725

Abstract

Evaluation of Soil Fertility Status in Nglegi Village, Patuk Sub-District, Gunungkidul District (Andi Suseno, Dyah Arbiwati, and AZ Purwono Budi Santosa): Nglegi Village has relatively good potential in the fields of agriculture, plantations and animal husbandry, and contributes as a food supply supplier to the areas in Patuk Subdistrict and its surroundings.Based on data from the Department of Agriculture and Food of the last 5 years in the Gunungkidul region, Nglegi Village is a producer of food crops such as cassava, rice and soybean, the second largest after Paliyan District. Thus this region is a producer of food crops in the District of Patuk.This studyaims to evaluate the soil fertility status, find out the obstacles and overcome problems and make a soil fertility map in Nglegi Village, Patuk District, Gunungkidul Regency. This study uses a survey method to describe the general condition of the area and the determination of sample points based on the Land Map Unit made by overlaying the land use map, and the slope map. Assessment of soil fertility status based on a combination of several parameters of soil chemical properties (PPT 1983).The results showed that there were two fertility statuses namely moderate and low fertility status. Fertility limiting factors are C-Organic and low Nitrogen levels. Giving organic material and fertilizers containing Nitrogen is one of the alternatives for solving this problem.soil Fertility status; Nglegi village
PENDUGAAN EROSI DAN PEMETAAN TINGKAT BAHAYA EROSI DI DESA SAMBIREJO KECAMATAN PRAMBANAN KABUPATEN SLEMAN D.I. YOGYAKARTA Raina Nur Malinda; Dyah Arbiwati; Sugiman Setyo Wardoyo
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 16, No. 1 (2019)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v16i1.3980

Abstract

Erosi dapat terjadi karena faktor erosivitas hujan, erodibitas tanah, kemiringan dan panjang lereng serta penggunaan lahan dan pengelolaan lahan. Desa Sambirejo termasuk dalam desa yang memiliki bentuk lahan yang berbukit-bukit dengan berbagai macam kemiringan mulai dari datar (0-8%) hingga sangat terjal (>45%). Kemiringan yang beragam akan mempengaruhi kecepatan aliran air permukaan. Selain itu Desa Sambirejo memiliki berbagai macam penggunaan lahan antara lain kebun atau perkebunan, permukiman, sawah irigasi, sawah tadah hujan, tegalan, rumput atau lahan kosong, semak belukar dan tubuh air. Pemanfaatan lahan yang berbeda-beda pada berbagai macam kemiringan lereng dapat memperbesar risiko terjadinya erosi apabila tidak didukung dengan pengelolaan lahan yang baik. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pendugaan erosi dan sebaran Tingkat Bahaya Erosi (TBE) di Desa Sambirejo. Perhitungan pendugaan erosi dihitung menggunakan metode USLE (Universal Soil Loss Equation) dan kelas TBE ditentukan berdasarkan tabel klasifikasi TBE menurut Kementrian Kehutanan (2013). Metode penelitian ini dilakukan dengan metode survey. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposive berdasarkan overlay peta kemiringan lereng dan peta penggunaan lahan, sehingga diperoleh 16 satuan peta lahan. Parameter yang diukur antara lain erosivitas hujan, erodibilitas tanah, panjang lereng, kemiringan lereng, penggunaan lahan dan pengelolaan lahan. Hasil penelitian ini adalah pendugaan erosi tertinggi pada satuan lahan tegalan sangat terjal dengan nilai A sebesar 5.210,45 ton/ha/thn (38,88 cm/thn) dan terendah nilai A sebesar 6,96 ton/ha/thn (0,05 cm/thn) pada satuan lahan sawah tadah hujan terjal. Tingkat bahaya erosi (TBE) diperoleh kelas ringan, sedang, berat dan sangat berat, sedangkan persentase luasan TBE yaitu, ringan 2,25%, sedang 19,01%, berat 4,32% dan sangat berat sebesar 74,43%. 
EVALUASI STATUS KERUSAKAN TANAH UNTUK PRODUKSI BIOMASSA DI DESA NGLEGI, KECAMATAN PATUK, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Rachmad Fajar Wibisono; AZ. Purwono Budi Santoso; Dyah Arbiwati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol. 17, No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i1.3992

Abstract

Tanah merupakan faktor produksi biomassa yang mendukung kehidupan manusia serta makhluk hidup lainnya yang harus dijaga dan dipelihara kelestariannya. Di sisi lain, kegiatan produksi biomassa yang tidak terkendali dapat mengakibatkan kerusakan tanah, sehingga dapat menurunkan kualitas dan fungsinya, yang pada akhirnya dapat mengancam kelangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya. Desa Nglegi memiliki topografi perbukitan dengan tingkat kemiringan lereng tergolong cukup curam dengan tingkat kemiringan 8% - >40% menyebabkan erosi sering terjadi di daerah ini. Sehingga diperlukan informasi mengenai status kerusakan tanah sehingga dalam upaya pemanfaat lahan dapat dilakukan dengan baik untuk menunjang kegiatan produksi biomassa khususnya dalam bidang pertanian. Tujuan dari penelitian adalah menentukan status kerusakan tanah untuk produksi biomassa dan menyusun peta status kerusakan tanah untuk produksi biomassa di Desa Nglegi, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul. Metode yang dilakukan dalam penelitian ini terdiri dari pengamatan (survey) untuk mengetahui kondisi umum daerah penelitian dan lokasi penelitian ditentukan secara purposif. Penentuan titik sampel berdasarkan Satuan Peta Lahan hasil dari overlay peta jenis tanah, peta tataguna lahan dan peta kemiringan lereng. Hasil Penelitian menunjukkan Desa Nglegi tergolong dalam dua kelas status kerusakan yaitu status kerusakan rusak ringan (R.I) dengan luas sekitar 372,98 ha atau 40,07% dari keseluruhan luas desa Nglegi. Status kerusakan tidak rusak (N) dengan luas 557,82 ha atau 59,93 % dari keseluruhan luas wilayah Desa Nglegi. Status rusak ringan (R.I) dengan faktor pembatas permeabilitas dan redoks.
ANALISIS KESESUAIAN LAHAN UNTUK TANAMAN KAKAO DAN TANAMAN PADI SAWAH TADAH HUJAN DI DESA NGALANG, KECAMATAN GEDANGSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL Adityarizqy Putradinantyo; Muhammad Kundarto; Dyah Arbiwati; Lanjar Sudarto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol. 17, No. 1 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i1.3993

Abstract

Lahan kering yang luas di Desa Ngalang umumnya digunakan sebagai tegalan atau sawah non-irigasi. Budidaya tanaman kakao mulai ditinggalkan oleh warga karna produksinya menurun. Selain itu, penggunaan sawah non-irigasi yang ditanami tanaman padi hasilnya belum optimal. Untuk memperbaiki atau meningkatkan kemampuan lahan diperlukan adanya analisis kesesuaian lahan. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik lahan dan menganalisis kesesuaian lahan untuk tanaman kakao dan tanaman padi di Desa Ngalang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survey, dengan penentuan titik sampel menggunakan metode purposive berdasarkan satuan peta lahan yang dibentuk dari hasil overlay peta jenis tanah dan peta kemiringan lereng. Untuk analisis data dengan menggunakan metode pembandingan (matching) antara data karakteristik lahan dengan kriteria kesesuaian lahan. Karakteristik Desa Ngalang memiliki bentuk lahan berbukit, jenis tanah didominasi oleh tanah Inceptisol, dan ketersediaan air permukaan yang rendah. Berdasarkan hasil analisis dapat diketahui bahwa kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman kakao di seluruh Desa Ngalang termasuk kelas N (tidak sesuai) dengan faktor pembatas ketersediaan air, kedalaman tanah, kemiringan lereng, dan penyiapan lahan. Terdapat dua kelas kesesuaian lahan aktual untuk tanaman padi sawah tadah hujan di Desa Ngalang, yaitu kelas S3 (sesuai marginal) seluas 716,7 Ha atau (48,4%) dengan faktor pembatas ketersediaan air, media perakaran, retensi hara, hara tersedia, bahaya erosi dan kemiringan lereng. Kelas N seluas 764,3 Ha (51,6%) dengan faktor pembatas media perakaran, bahaya erosi dan penyiapan lahan.
KAJIAN ERODIBILITAS TANAH PADA BEBERAPA SUB GROUP TANAH DI KECAMATAN SEMIN Dwi Kurnia Sandi; Djoko Mulyanto; Dyah Arbiwati
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 16, No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v16i2.3986

Abstract

Kehilangan tanah yang dipicu oleh erosi air merupakan masalah utama yang menyebabkan beberapa masalah lingkungan. Erosi tanah berkontribusi pada hilangnya kesuburan dan penurunan kualitas sumber daya tanah. Salah satu komponen yang berperan penting dalam proses erosi tanah adalah erodibilitas tanah, yakni kepekaan tanah terhadap erosi. Wilayah Kecamatan Semin memiliki 4 sub group tanah yaitu Typic Hapluderts, Typic Eutropepts, Typic Troporthents dan Lithic Haplustols. Keempat sub group tanah tersebut memiliki sifat-sifat yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui nilai erodibilitas pada setiap sub group tanah yang terdapat di Kecamatan Semin. Penelitian ini menggunakan Metode Survey, pengambilan sampel tanah secara Purposive berdasarkan Peta Satuan Lahan Kecamatan Semin. Pengamatan struktur tanah dan pengambilan sampel tanah yang akan dianalisis dilakukan dengan cara membuat mini pit dan menggunakan ring sampler. Analisis data erodibilitas tanah dilakukan dengan menggunakan persamaan Weischmeier 1978 yaitu 100 K = 1,292 [2,1 M1,14  (10-4) (12-a) + 3,25 (b-2) + 2,5 (c-3)]. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa nilai erodibilitas tertinggi pada sub group tanah Typic Troporthents yakni 0,730 dengan kisaran sangat tinggi yang terletak pada kemiringan lereng landai, sedangkan nilai erodibilitas terendah pada sub group  Typic Hapluderts yaitu 0,184 dengan status rendah pada kemiringan lereng agak curam. Secara umum urutan besarnya nilai erodibilitas pada lereng yang relatif sama adalah: Typic Troporthents > Lithic Haplustols > Typic Eutropepts > Typic Hapluderts. Secara umum semakin tinggi kelerengan pada sub grup yang sama, erodibilitasnya  semakin meningkat. Faktor yang menentukan nilai erodibilitas tanah adalah bahan organik dan tekstur tanah khususnya fraksi lempung, debu dan pasir sangat halus. 
Evaluasi status kesuburan tanah didesa nglegi, kecamatan patuk, kabupaten gunungkidul, daerah istimewa yogyakarta Andi Suseno; Dyah Arbiwati; AZ Purwono Budi Santosa
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 15, No 1 (2018)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v15i1.2725

Abstract

Evaluation of Soil Fertility Status in Nglegi Village, Patuk Sub-District, Gunungkidul District (Andi Suseno, Dyah Arbiwati, and AZ Purwono Budi Santosa): Nglegi Village has relatively good potential in the fields of agriculture, plantations and animal husbandry, and contributes as a food supply supplier to the areas in Patuk Subdistrict and its surroundings.Based on data from the Department of Agriculture and Food of the last 5 years in the Gunungkidul region, Nglegi Village is a producer of food crops such as cassava, rice and soybean, the second largest after Paliyan District. Thus this region is a producer of food crops in the District of Patuk.This studyaims to evaluate the soil fertility status, find out the obstacles and overcome problems and make a soil fertility map in Nglegi Village, Patuk District, Gunungkidul Regency. This study uses a survey method to describe the general condition of the area and the determination of sample points based on the Land Map Unit made by overlaying the land use map, and the slope map. Assessment of soil fertility status based on a combination of several parameters of soil chemical properties (PPT 1983).The results showed that there were two fertility statuses namely moderate and low fertility status. Fertility limiting factors are C-Organic and low Nitrogen levels. Giving organic material and fertilizers containing Nitrogen is one of the alternatives for solving this problem.soil Fertility status; Nglegi village