Claim Missing Document
Check
Articles

Pertumbuhan Material Interlayer di Mineral Lempung Smekit di Tanah Leptic Hapludert yang Berkembang di atas Ca-Bentonit di Nanggulan Kulon Progo Nurcholis, Mohammad; Buntoro, Aris
Forum Geografi Vol 26, No 2 (2012): December 2012
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/forgeo.v26i2.5071

Abstract

The objective of this study was to understand the mineralogical characteristics of the bentonite and its upper developed soil, at Nanggulan Kulonprogo. Separation and collection of clay fraction were done by fractionation on suspension at pH 10 after organic matter was oxidized using H2O2. Characteristics of clay mineral was analyzed using X-ray diffraction on parallel oriented samples after Mg saturation, glycerol solvation, or K saturation, and its following successive heating at 100°C, 300°C and 550°C. Cation exchange capacity (CEC) and the exchangeable bases were analyzed using saturation of NH4OAc 1N pH 7. Results showed that clay materials of both samples were Ca-bentonite. Comparing with clay from soil, bentonite had peak intensity of the semctite minerals and low value of CEC and exchangeable Ca. Potassium saturation caused incompletely shrinkage of the studied smectite minerals, and it was reflected by a broader peaks at 13,11 Å. The presence of these broader peaks was interpreted as a growth of interlayer materials that it may alter to smectite-chlorite intergrade minerals.
PENGARUH KELERENGAN TERHADAP STATUS UNSUR N, P, DAN K DAN PRODUKSI TANAMAN KAYU PUTIH PADA TANAH MEDITERAN DI BAGIAN DAERAH HUTAN KARANGMOJO Handayani, Wuri; Nurcholis, Mohammad; Mulyanto, Djoko
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 16, No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v16i2.3984

Abstract

Bagian selatan Gunungkidul didominasi oleh pegunungan batugamping, solum tanah yang tipis, kekurangan unsur hara, dan sumber air permukaan yang terbatas, sehingga tanahnya memiliki  sifat-sifat fisik buruk. Kemiringan lahan merupakan salah satu faktor penting yang harus diprioritaskan, karena dapat menimbulkan limpasan yang dapat membawa partikel tanah dan unsur hara. Beberapa permasalahan tanah Mediteran antara lain ketersediaan air, pH tanah sering diatas 7 dan fiksasi unsur hara terutama N, P, dan K. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemiringan lereng terhadap kandungan N, P dan K. di dalam tanah dan untuk mengetahui pengaruh kemiringan terhadap produksi tanaman kayu putih. Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Daerah Hutan Karangmojo Ruas Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Nglipar plot 26 dengan kemiringan 0-8% dan RPH Kenet plot 47 dengan kemiringan 8-15% dan RPH Gelaran plot 32 dengan kemiringan 15-25%, Kabupaten Gunugkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Dalam penelitian ini terdapat tiga lereng yang masing-masing lereng dibuat dari tiga lokasi, di lokasi tersebut dipilih lima tanaman yang pertumbuhannya optimal untuk diamati profil tanahnya kemudian dilakukan pengambilan sampel tanah pada satu profil yang mewakili setiap horizon untuk dianalisis. Penghitungan produktivitas tanaman sampel dapat ditentukan dari percabangan dan daun sampel setelah dilakukan penimbangan. Pengamatan terhadap profil tanah meliputi: horizon, kedalaman lapisan, tekstur, struktur, dan warna tanah. Analisis sifat kimia tanah terdiri dari: pH, N-total, P-tersedia, K-tersedia, BV dan BJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemiringan terhadap N, P, K dan produksi. Dimana unsur N-total tertinggi berada pada kemiringan 8-15%, unsur P tersedia tertinggi pada kemiringan 15-25%, unsur K-tersedia tertinggi berasal dari tiga lereng yang sama yaitu bernilai rendah dan produksi tanaman kayu putih tertinggi pada kemiringan 15-25%.
PENGARUH KELERENGAN TERHADAP STATUS UNSUR N, P, DAN K DAN PRODUKSI TANAMAN KAYU PUTIH PADA TANAH MEDITERAN DI BAGIAN DAERAH HUTAN KARANGMOJO Handayani, Wuri; Nurcholis, Mohammad; Mulyanto, Djoko
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 16, No. 2 (2019)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v16i2.3984

Abstract

Bagian selatan Gunungkidul didominasi oleh pegunungan batugamping, solum tanah yang tipis, kekurangan unsur hara, dan sumber air permukaan yang terbatas, sehingga tanahnya memiliki  sifat-sifat fisik buruk. Kemiringan lahan merupakan salah satu faktor penting yang harus diprioritaskan, karena dapat menimbulkan limpasan yang dapat membawa partikel tanah dan unsur hara. Beberapa permasalahan tanah Mediteran antara lain ketersediaan air, pH tanah sering diatas 7 dan fiksasi unsur hara terutama N, P, dan K. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh kemiringan lereng terhadap kandungan N, P dan K. di dalam tanah dan untuk mengetahui pengaruh kemiringan terhadap produksi tanaman kayu putih. Penelitian ini dilaksanakan di Bagian Daerah Hutan Karangmojo Ruas Resort Pengelolaan Hutan (RPH) Nglipar plot 26 dengan kemiringan 0-8% dan RPH Kenet plot 47 dengan kemiringan 8-15% dan RPH Gelaran plot 32 dengan kemiringan 15-25%, Kabupaten Gunugkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling. Dalam penelitian ini terdapat tiga lereng yang masing-masing lereng dibuat dari tiga lokasi, di lokasi tersebut dipilih lima tanaman yang pertumbuhannya optimal untuk diamati profil tanahnya kemudian dilakukan pengambilan sampel tanah pada satu profil yang mewakili setiap horizon untuk dianalisis. Penghitungan produktivitas tanaman sampel dapat ditentukan dari percabangan dan daun sampel setelah dilakukan penimbangan. Pengamatan terhadap profil tanah meliputi: horizon, kedalaman lapisan, tekstur, struktur, dan warna tanah. Analisis sifat kimia tanah terdiri dari: pH, N-total, P-tersedia, K-tersedia, BV dan BJ. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh kemiringan terhadap N, P, K dan produksi. Dimana unsur N-total tertinggi berada pada kemiringan 8-15%, unsur P tersedia tertinggi pada kemiringan 15-25%, unsur K-tersedia tertinggi berasal dari tiga lereng yang sama yaitu bernilai rendah dan produksi tanaman kayu putih tertinggi pada kemiringan 15-25%.
Tropical Vegetation and Land Cover Mapping Using LiDAR Nurcholis, Mohammad; Himawan, Iwan Qodar; Wijayanti, Syintianuri Intan; Darmaristianti, Ayu
PLANTA TROPIKA: Jurnal Agrosains (Journal of Agro Science) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.2019.088.8-18

Abstract

LiDAR (Light Detection and Ranging) is a system of active remote sensing technology using a laser beam that has an invisible wave (Infrared) that can penetrate the leaf gap to produce topographic characteristics of the land surface. The research locations were in Tunas Baru Village Sekernan District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. The purpose of this study was to apply Airborne LiDAR technology along with interpretations in agriculture, especially land cover vegetation mapping in Jambi Province, which is a province that has a fairly extensive forest area. Speaking of that situation, a land cover map and classification are needed to find out which vegetation is dominant in the area. The data needed in this professional work class were DEM, DSM and orthophoto data to be processed into CHM (dataCrown Height Model) in order to facilitate digitization in determining density classes. At the same time, orthophoto was used to digitize the classification of vegetation types, which will produce output in the form of a map of land cover in Tunas Baru Village, Sekernan District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province.
Tropical Vegetation and Land Cover Mapping Using LiDAR Nurcholis, Mohammad; Himawan, Iwan Qodar; Wijayanti, Syintianuri Intan; Darmaristianti, Ayu
PLANTA TROPIKA: Jurnal Agrosains (Journal of Agro Science) Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.2019.088.8-18

Abstract

LiDAR (Light Detection and Ranging) is a system of active remote sensing technology using a laser beam that has an invisible wave (Infrared) that can penetrate the leaf gap to produce topographic characteristics of the land surface. The research locations were in Tunas Baru Village Sekernan District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province. The purpose of this study was to apply Airborne LiDAR technology along with interpretations in agriculture, especially land cover vegetation mapping in Jambi Province, which is a province that has a fairly extensive forest area. Speaking of that situation, a land cover map and classification are needed to find out which vegetation is dominant in the area. The data needed in this professional work class were DEM, DSM and orthophoto data to be processed into CHM (dataCrown Height Model) in order to facilitate digitization in determining density classes. At the same time, orthophoto was used to digitize the classification of vegetation types, which will produce output in the form of a map of land cover in Tunas Baru Village, Sekernan District, Muaro Jambi Regency, Jambi Province.
Growth and Brix of Sweet Sorghum under Different Fertilizer Application in Maginal Land Rukmowati Brotodjojo; Mohammad Nurcholis; T Marnoto; Ari Wijayani; Rochman Isdiyanto
Jurnal Agrivet Vol 23, No 2 (2017): AGRIVET
Publisher : UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL ”VETERAN” YOGYAKARTA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/agrivet.v23i2.4738

Abstract

Sorghum is one of the commodities that are potentially very good to meet the needs of food, feed, industrial and renewable energy sources. Sorghum has protein, iron and calcium content that is much higher than rice. Additionally, sorghum has wide adaptability and is a plant that is tolerant to drought and low fertility. Therefore it can be cultivated on marginal lands. This study aimed to study the effects of fertilization on the growth and brix value of sweet sorghum cultivated on marginal land. The experiment was arranged in randomized completely block design, with three treatments, namely NPK, NPK + LOF (Liquid Organic Fertilizer) / 1 week, NPK + LOF/ 2 weeks. Each treatment consisted of 5 replication, and for each replication 6 plant samples was observed. Each plot consisted of 12 rows and in each row there were 7 plants. Sorghum was planted with the distance between rows 75 cm and the distance between plants in rows was 30 cm. The data was subjected to analysis of variance followed by Duncan’s Multiple Range Test. The application of NPK fertilizer plus LOF once a week resulted in significantly higher plant height, number of leaves and brix value compared to NPK fertilizer plus LOF fortnightly or just NPK fertilizer alone. Fertilization treatment did not significantly affect sorghum stem diameter, except at the age of 3 weeks after planting.Keywords: fertilization, growth, brix, sweet sorghum.
Coagulation and adsorption techniques for purification of the amalgamation slurry waste Mohammad Nurcholis; E Nursanto; H E B Sakti; D F Yudiantoro; D Haryanto
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol 7, No 2 (2020)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2020.072.2001

Abstract

Amalgamation in the processing of community gold mines may leave slurry waste with the potential for heavy metal contamination of the environment. Technical studies for handling these wastes are very necessary to process the waste using a simple and applicable manner in the community. The purpose of this study was to examine the coagulation-adsorption technique of liquid waste from the amalgamation process. Slurry waste samples from the amalgamation process were collected from amalgamation sites in Boto Village, Wonogiri regency which had the highest Hg and Pb levels in the slurry. The coagulation-adsorption process is carried out by a continuous process with the gravitational flow because the area of the amalgamation process has a steep slope.  Coagulation of particles in the slurry used two kinds of natural ingredients, i.e. papaya seed, and moringa seed extracts.  The adsorption was conducted using two types of minerals, i.e. Ca-bentonite and zeolite which had been activated. The results of this study showed that the coagulation process was a simple process to purify amalgamation slurry waste and reduce the levels of Fe, Mn, Hg, and Pb metals.  Then the following step by using the absorption process to produce clear water from amalgamation liquid waste and reduce the levels of Fe and Mn metals. Coagulation using papaya seeds might purify amalgamation slurry waste and reduce heavy metal content of Fe 99.996%; Mn 99.994%; Pb 100%; Hg 100%. Based on these results, the Hg and Pb metals were metals that were very easy to settle. Adsorption on the liquid result of the coagulation process using unactivated zeolite reduced the metal content of Fe> 99.40% and Mn> 88.69%.
BEBERAPA SIFAT KIMIA TANAH SAWAH ATAS PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK DENGAN KURUN WAKTU BERBEDA DI SAYEGAN, SLEMAN Tri Mulyadi; Mohammad Nurcholis; Partoyo Partoyo
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i2.4237

Abstract

Pemberian pupuk organik dalam jangka pendek atau jangka panjang ke tanah sawah dapat berpengaruh terhadap peningkatan bahan organik tanah sawah, sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan unsur hara tanah sawah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui beberapa sifat kimia tanah sawah pada pemberian pupuk organik yang berbeda kurun waktunya. Penelitian dilakukan di tanah sawah jenis Latosol di Desa Margoluwih, Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, di tanah sawah yang sudah dipupuk organik selama kurun waktu berbeda, yaitu: 3, 7, dan 13 tahun. Pengambilan sampel tanah di ketiga lokasi penelitian dilakukan di kedalaman 0-20 cm. Sifat kimia tanah yang dianalisis adalah pH (H2O dan KCl), Daya Hantar Listrik (DHL), Potensial Redoks (Eh), C- Organik, P-Tersedia, K-Tersedia, N-Total. Beda rerata antar perlakuan untuk setiap parameter di Uji t-Test pada taraf α =5%. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan pupuk organik meningkatkan nilai rerata tertinggi C-Organik, K Tersedia, dan N Total tanah pada pemberian kontinyu selama 13 tahun. 
PENDUGAAN EROSI DI LAHAN KERING DENGAN METODE USLE DI SUB SUB DAS DENGKENG KECAMATAN BULU DAN WERU KABUPATEN SUKOHARJO PROVINSI JAWA TENGAH Novita Andarwati; AZ. Purwono Budi Santoso; Mohammad Nurcholis
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 17, No 2 (2020)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v17i2.4238

Abstract

Erosi tanah merupakan proses penghancuran, pengikisan, pengangkutan, atau penyimpanan tanah dari materi eksternal, yaitu hujan. Erosi mengakibatkan penurunan kesuburan tanah dan hilangnya top soil sebagai lapisan tanah yang subur untuk media tumbuh tanaman dan berkembangnya akar. Budidaya tanaman di daerah yang berbukit-bukit memiliki beberapa masalah seperti lereng yang relatif curam, kepekaan tanah terhadap erosi dan curah hujan yang tinggi. Pada daerah aliran sungai, erosi dapat mengakibatkan pendangkalan badan sungai karena sedimen tanah yang menumpuk. Tujuan penelitian ini untuk menetapkan besarnya potensi erosi yang ada dan peta penyebaran erosi. Penelitian dilaksanakan di sub-sub DAS Dengkeng Kecamatan Bulu dan Weru, Kabupaten Sukoharjo seluas 288 ha. Titik sampel ditentukan dengan metode purposive sampling dari hasil tumpangsusun peta kemiringan lereng dan tataguna lahan. Parameter penelitian ini adalah nilai erosivitas hujan, bahan organik, tekstur, struktur, permeabilitas tanah, indeks panjang dan kemiringan lereng, indeks nilai C dan nilai P. Pendugaan nilai erosi dihitung menggunakan Metode USLE (Universal Soil Loss Equation) yang dikelaskan menurut Kementerian Kehutanan. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penggunaan lahan sawah tadah hujan pada kemiringan curam memiliki nilai pendugaan erosi tertinggi yaitu 600,64 ton/ha/tahun atau 40,04 mm/tahun, sedangkan pada lahan pemukiman dengan kemiringan lereng datar memiliki nilai pendugaan erosi terkecil yaitu 4,54 ton/ha/tahun atau 0,30 mm/tahun. Kelas erosi berat memiliki penyebaran paling luas yaitu 175,27 ha dengan penyebaran terluas di Dusun Kedung Lanang, Desa Karangmojo. 
BEBERAPA SIFAT FISIKA DAN KIMIA TANAH PADA AREAL REVEGETASI TANAMAN SENGON DI WASTE DUMP TAMBANG BATUBARA DI KALIMANTAN SELATAN Dwi Ayu Fitriani; Mohammad Nurcholis; Djoko Mulyanto
Jurnal Ilmu Tanah dan Air Vol 15, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Pembangunan Nasional Veteran Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jta.v15i2.4110

Abstract

Pertambangan tambang terbuka dapat berakibat menurunkan produktivitas tanah karena perubahan sifat fisik, sifat kimiawi, dan sifat biologi tanah. Perubahan tersebut meliputi: pemampatan, penurunan daya tahan tanah terhadap erosi, penurunan produktivitas tanah, laju infiltrasi yang mempengaruhi air tanah, penurunan pH tanah, dan penurunan populasi mikroba tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penentu pertumbuhan tanaman sengon berhubungan dengan sifat fisika dan kimia tanah sehingga dapat menyebabkan terjadinya perbedaan pertumbuhan pada tanaman sengon berumur 5 tahun. Penelitian dilakukan di areal waste dump tambang batubara di Kalimantan Selatan, dengan menggunakan metode survei. Pengambilan sampel tanah dilakukan dengan metode purposif dengan membagi areal menjadi 4 lokasi yaitu datar 1, miring 1, datar 2 dan miring 2 dan sampel yang diambil berjumlah 12 buah. Data hasil setiap blok dihitung rata-rata dan deviasi standarnya.  Unuk mengetahui hubungan antar parameter digunakan analisis regresi, dan untuk mengetahui perbedaan yang signifikan antar area digunakan Uji t. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sifat fisik, kimiawi dan pertumbuhan sengon pada kemiringan lebih baik dari pada areal datar dan faktor penentu pertumbuhan sengon sebagai vegetasi utama untuk sifat fisik adalah porositas, permeabilitas dan tinggi lempung, sedangkan untuk sifat kimia adalah C-organik, total N, P tersedia, dan KPK.