Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Productivity Evaluation of Digging, Loading, and Hauling Equipment in Limestone Mining, PT Pertama Mina Sutra Perkasa, Jember, Indonesia Santoso, Raffaello; Suparno, Fanteri Aji Dharma; Irawan, Januar Fery
Journal of Earth and Marine Technology (JEMT) Vol 4, No 2 (2024)
Publisher : Lembaga Penelititan dan Pengabdian kepada Masyarakat - Institut Teknologi Adhi Tama Suraba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31284/j.jemt.2024.v4i2.5561

Abstract

The failure of meeting the productivity target often occurs in mining operations and is caused by several technical obstacles. PT Pertama Mina Sutra Perkasa set a productivity target of 80 tons/hour for loading and digging equipment and 35 tons/hour for transportation equipment. An analysis of factors that affect productivity needs to be studied in order to find out the causes of not achieving the productivity targets set by the company. This research was conducted on the limestone quarry of PT Pertama Mina Sutra Perkasa (PMSP) located in Grenden Village, Puger District, Jember Regency using quantitative research methods. Research begins with the formulation of problems and then data collection and processing. Data that has been processed and analyzed can then be the basis for determining efforts to improve the productivity of loading and transporting excavations. There are three loadings location not reached the productivity target. Not achieving tool productivity targets due to low work efficiency, suboptimal tool distribution time, and a combination of a less than ideal number of tools. In this study, productivity improvement was carried out by reducing the actual obstacle time in order to increase effective working time and tool efficiency.
ANALISA GRID ALGORITMA SEGMEN UNTUK MENGETAHUI ANCAMAN TANAH LONGSOR DI KAWASAN TUMPANGPITU DAN SEKITARNYA Irawan, Januar Fery; Haeruddin, Haeruddin; Fachruzaki, Fachruzaki; Midiawati, Erni
FKIP e-PROCEEDING Vol 9 No 1 (2024): Prosiding Seminar Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kelurusan merupakan faktor penting dalam struktur geologi untuk menentukan daerah yang terancam dengan longsor. Banyuwangi bagian selatan merupakan daerah yang terbentuk karena gaya gaya endogen dari dalam bumi. Struktur geologi yang membentuk daerah banyuwangi selatan dapat memicu terjadi bencana tanah longsor. Tujuan penelitian ini adalah untuk membuat grid yang digunakan dalam mengetahui kelurusan di lokasi Tumpangpitu dan sekitarnya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah algoritma penelusuran segmen (STA) menggunakan program matlab 2015 dari data DEM SRTM 30 meter. Hasil analisis menunjukkan grid kerapatan jumlah kelurusan di wilayah Tumpangpitu dan sekitarnya. Berdasarkan data lapangan adanya longsor dan sesar turun juga memiliki kesesuaian dengan grid yang dihasilkan dari STA. Kata Kunci : Kelurusan, Grid, Struktur, Geologi, DEM
Potensi Bahan Galian C Kabupaten Gresik Berdasarkan Kajian Geologi Januar Fery Irawan
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v1i1.21559

Abstract

Era Otonomi, yang diperluas pada saat ini untuk pembangunan daerah perlu didukung dengan adanya sumber daya alam daerah. Oleh karena itu maka posisi dan penyebaran kekayaan daerah perlu diketahui secara pasti, sehingga langkah-langkah dalam pemanfaatan sumber daya alam tersebut dapat direncanakan secara berkesinambungan dan lestari. Sumber daya alam suatu daerah adalah aset pembangunan dan merupakan salah satu modal dasar pembangunan serta sebagai sumber atau potensi kekayaan yang ada di daerah. Oleh karena itu, potensi sumberdaya mineral yang bisa dijadikan sebagai bahan galian industri penting untuk dilakukan. Tujuan khusus penelitian ini adalah untuk mengethui potensi sumber daya mineral di Kabuapaten Gresik berdasrkan kajian Geologi. Penelitian dilaksanakan dengan melakukan Survey dan Kajian Geologi. Berdasarkan uji petrologi pada beberapa sampel diketahui bahwa potensi sumbe daya mineral di lokasi penelitian terdiri dari batugamping, batulempung, dolomit, batupasir kwarsa dan endapan fosfat.
Pemodelan 1D Resistivitas Semu Lapisan Tanah Di Wilayah Durjo, Kabupaten Jember Nur Faizin; Januar Fery Irawan
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v1i1.21560

Abstract

Karakteristik dari suatu material yang dapat membedakan setiap material salah satunya adalah Resistivitas. Resistivitas dari suatu material dapat diperoleh yaitu dengan mengetahui dimensi dan hambatan listrik material tersebut. Resistivitas semu dapat dimodelkan dalam 1 -Dimensi (1-D). Pemodelan resistivitas semu 1-D merupakan landasan dasar untuk pemodelan dua dimensi dan tiga dimensi. Konfigurasi Schlumberger merupakan konfigurasi yang sering dipakai dalam survey geolistrik. Hal ini dikarenakan konfigurasi Schlumberger mudah dalam operasinya yaitu cukup dengan mengubah jarak antar elektroda arusnya saja tanpa mengubah jarak elektroda potensialnya. Pengubahan jarak antar elektroda arus harus tetap memperhatikan jarak antar elektroda potensial. Konfigurasi Schlumberger dilakukan dalam bentuk lintasan atau line. Dari line tersebut diperoleh beda potensial (ΔV) dan resistansi bumi (R). Jarak antar elektroda potensialnya (P) diset 5 meter dan jarak antar elektroda arusnya (C) diubah seperti deret aritmatik dengan beda 5 meter untuk masing-masing C dalam satu line. Arus yang digunakan untuk injeksi berupa arus DC dengan besar arus 20,582 mA. Setelah dibandingkan nilai resistivitas semu antara hasil analisa data dengan referensi diketahui bahwa lapisan 3 memiliki resistivitas semu 16,2 Ωm pada kedalaman 5,85 m. Nilai resistivitas tersebut menunjukkan bahwa adanya tanah lempung. Dimana tanah lempung tersebut berperan sebagai bidang gelincir. Ketebalan bidang gelincir ini adalah 1,11 m. Dengan adanya bidang gelincir ini maka dapat memungkinkan terjadinya tanah longsor.
Identifikasi Lapisan Tanah dan Batuan Dengan Metode Geolistrik Konfigurasi Schlumberger Pada Daerah Durjo, Kabupaten Jember, Jawa Timur Nur Faizin; Januar Fery Irawan; Siti Aminah
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v2i2.28449

Abstract

Resistivitas material dapat diukur dengan dimensi dan hambatan listrik material tersebut. Salah satu model resistivitas semu adalah satu Dimensi (1-D). Resistivitas semu dapat diperoleh dengan metode geolistrik. Salah satu konfigurasi untuk metode geolistrik adalah Konfigurasi Schlumberger. Konfigurasi ini umumnya digunakan dalam survey geolistrik. Keunggulan konfigurasi ini adalah kemampuan deteksi ketidakhomogenan lapisan batuan permukaan dan penetrasi arus dapat mencapai 20%. Konfigurasi Schlumberger dilakukan dalam bentuk lintasan atau line. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah beda potensial (ΔV), resistansi (R), dan jarak elektroda (x). Jumlah lintasan yang digunakan dalam penelitian ini adalah dua. Setiap lintasan diset sepanjang 100 m mendatar dengan jarak spasi injeksi arus 5 m. sedangkan jarak antar lintasan adalah 30 m. Setelah dibandingkan nilai resistivitas semu antara hasil analisa data dengan referensi, diketahui bahwa lintasan 1 terdapat batuan sedimen dimana batuan sedimen ini memiliki nilai resistivitas semu berorde 10-103 Ωm. Batuan ini ditemukan pada kedalaman 6,1-38,47 m. Jenis batuan sedimen yang mungkin adalah batu kapur, batu serpih atau batu pasir. Hasil yang diperoleh pada lintasan 2 hampir sama dengan lintasan 1. Sehingga lintasan 2 kemungkinan jenis batuan yang muncul adalah batuan sedimen. Batuan ini berada pada kedalaman 2,98-61,73 m. Batuan ini merupakan batuan yang menopang salah satu kebun kopi yang berada pada perkebunan kopi durjo.
Studi Karakteristik Geologi Gumuk di Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember Jawa Timur Ditinjau dari Analisis Petrologi Januar Fery Irawan; Sapna Rizqi Febriany; Ade Reza Saputra; Sultan Affith Faizal
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v2i2.28502

Abstract

Gumuk di kabupaten Jember khususnya di kecamatan Sumbersari merupakan morfologi yang unik yang sering dikaitkan dengan fungsi sebagai resapan air. Sementara itu, pemanfaatan Gumuk di kecamatan Sumbersari seringkali digunakan untuk sumber bahan galian. Apabila komposisi batuan penyusun gumuk memiliki porositas dan permeabiiitas yang baik, maka morfologi gumuk memiliki fungsi sebagai tempat resapan air. Disamping itu terjadinya gumuk dikarenakan oleh proses geologi yang unik yang muncul di morfologi bergelombang. Oleh karena itu diperlukan penelitian untuk mengetahuI karakteristik morfologi gumuk. Metode penelitian ini dilakukan dengan menggunakan analisis mineralogi dan petrologi. Analisis ini dilakukan dengan cara mengambil sampel batuan penyusun gumuk di kecamatan sumbersari. Dari hasil analisis petrologi menunjukkan bahwa batuan penyusun gumuk merupakan endapan breksi volkanik klastik dengan fragmen andesit berwarna abu abu cerah dengan matriks terdiri dari mineral lempung dan pasir halus yang berwarna coklat cerah.
Prediksi Curah Hujan Berdasarkan Analisis Deret Waktu di PIT A, B, dan C PT. Darma Henwa Kalimantan Timur Khusmiawati, Yunita; Haeruddin, Haeruddin; Irawan, Januar Fery
Jurnal Tekno Insentif Vol 19 No 1 (2025): Jurnal Tekno Insentif
Publisher : Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah IV

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36787/jti.v19i1.1902

Abstract

Curah hujan berpengaruh terhadap kegiatan operasional pertambangan, termasuk di PT. Darma Henwa site Bengalon yang memiliki tiga pit. Curah hujan tinggi sering menyebabkan genangan air pada area tambang, terganggunya kegiatan produksi, dan mempengaruhi keselamatan kerja. Oleh karena itu dibutuhkan prediksi curah hujan sesuai karakteristik wilayah untuk mendukung perencanaan operasional. Salah satu metode prediksi yang efektif adalah deret waktu dengan pendekatan seperti Moving average (MA), Weights moving average (WMA), dan Exponential Smoothing. Berdasarkan analisis pada Pit A, B, dan C, metode terbaik untuk analisis pola curah hujan adalah weights moving average [1,2,3] karena memiliki rata-rata error terkecil yaitu berkisar 0,90-1,35. Prediksi curah hujan dengan metode exponential smoothing didapatkan hasil antara 2,40-7,63mm dan tergolong sedang untuk wilayah Bengalon dengan grafik stabil. Metode prediksi terbaik adalah kombinasi weights moving average [1,2,3] dengan MAE 1,14; MSE 3,34; RMSE 1,77; MAPE 20,14% dan exponential smoothing dengan MAE 2,04; MSE 6,64; RMSE 2,54; MAPE 18,52%. Kombinasi kedua metode tersebut dapat meningkatkan akurasi dalam prediksi curah hujan di Site Bengalon PT. Dharma Henwa, Kalimantan Timur.
Application of a Multispectral SPOT Image for Land Use Classification in Sampean Watershed Irawan, Januar Fery; Indarto, .
JOURNAL OF TROPICAL SOILS Vol. 16 No. 2: May 2011
Publisher : UNIVERSITY OF LAMPUNG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5400/jts.2011.v16i2.176-181

Abstract

This article described the process of land use classification at Sampean Watershed. The research was conducted in Sampean watershed to calculate the land use area using a multispectral SPOT image. Two SPOT image scenes were used to identify and classify the main nomenclature of land use. The research applied level 2A of SPOT image raw data which were obtained during 2004. Research methodology consisted of geometric correction of Image; image enhancement using high sharpen filter; un-supervised classification and supervised classification. The classification algorithm used the maximum likelihood in which pixels was classified based on their spectral signature. Severaltraining areas were identified to define the region area. Supervised classification could classified 9 class of land uses, the classification of land use consist of irrigated paddy field (56.05%), rain fed paddy field (0.89%), forest (10.75%), urban area (8.69%), plantation (4.22%), barren land (11.19%), river (0.05%), cropland (7.98%), and bushes (0.19%). The overall classification accuracy was 84.21%. This work will be useful for hydrological modelling and management planning of the Watershed.
POTENTIAL FORMATION OF ACID MINE DRAINAGE BASED ON THE GEOCHEMISTRY OF GOLD ORE ROCKS Aminah, Siti; Haeruddin, Haeruddin; Suparno, Fanteri Aji Dharma; Irawan, Januar Fery
BIOLINK (Jurnal Biologi Lingkungan Industri Kesehatan) Vol. 12 No. 1 (2025): Biolink August
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/biolink.v12i1.14182

Abstract

Open pit mining activities can have many impacts on the environment, such as the formation of mine pits containing acid mine drainage. This requires proper and correct handling so as not to harm the environment. The acidity of mine drainage can vary greatly depending on the quantity and type of minerals it contains. The objectives of this research are: to identify and determine the rock materials that have the potential to generate acid mine drainage (AMD) as Potentially Acid Forming (PAF) rocks and Non-Acid Forming (NAF) rocks. The research began with sample preparation, mineralogical analysis, AAS, static testing, and XRF testing. The research results indicate that the samples are primarily composed of quartz, with some hematite and goethite grains observed as fine, curved pore fillings. Gold (Au) is found within the mineral electrum (AuAg). The minerals present in the gold ore rocks are predominantly oxides, consisting of 84.7% SiO2, 8.23% Fe2O3, and other components. The rock samples are classified as NAF, as indicated by the paste pH analysis results of 7.05 and 6.94, total sulfur analysis values of 0.37% and 6.43%, and NAPP values of -5.1 and -3.5.
Kajian Investigasi Potensi dan Eksplorasi Morfologi Gumuk di Kabupaten Jember Menggunakan Penginderaan Jauh: Indonesia Irawan, Januar Fery; Haeruddin; Aminah, Siti; Aji DS, Fanteri; Ulum, Miftakhul
Asian Journal of Innovation and Entrepreneurship Volume 08, Issue 02, May 2024
Publisher : UII

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/ajie.vol8.iss2.art2

Abstract

Hummock is a typical morphology that is not found anywhere except in the active mountains. This uniqueness is due to the isolated hill shape with plain morphology formed in the geological setting. The existence of Gumuks dissiminated in Jember has been mined, causing their numbers to decrease drastically. Hummock in Jember district has a unique hill-shaped landscape with a height of over 2 meters. Hummocks in Jember are arranged from Raung Mount to the southwest to Jember Regency. There are several types (three) types of dunes that differ from the type of rock contained, namely rock dunes, coral dunes and sand dunes. At this moment, the existence of Hummock has been partially used for building material needs. The problem faced now is that the potential for piles other than as a building material requirement has not yet been researched. Therefore, effective management is needed through the identification of potential dunes through green mining research so that environmental problems are minimized when dune exploration is carried out. The purpose of this study was to find a green mining-based dune exploration technology, so that the treatment of each dune can be carried out appropriately. The stages of the research were carried out by observing the images. After the observations are made, field data is needed to validate and verify the pattern of dune. The research used remote sensing with guided techniques based on data in the field and geological maps. Based on remote sensing results it was found that there were 4 Classes in Land Use Change after Mining Operation carried out by people around the mine site.