Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Fitriyani, Tanti; Oktanasari, Wiji
Kesmas Indonesia: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.289 KB) | DOI: 10.20884/1.ki.2019.11.2.1428

Abstract

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PENANGANAN KEPUTIHAN PADA SISWI KELAS X SMK YPE SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018 The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Tanti Fitriyani1, Wiji Oktanasari2 1-2Dosen Jurusan DIII Kebidanan STIKes Bina Cipta Husada Purwokerto ABSTRACT  One of the clinical complaint from adolescent reproduction is leucorrhea. Leucorrhea is vagina?s liquid expenditure that not shaped blood. It is sometimes caused infection that always wet and make irritation, feel itchy and disturbance to the sufferer.             The purpose of this research is to know about relation between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in student of SMK YPE Sumpiuh 2018 grade X, Banyumas regency. This research use analytic survey method with cross sectional approach. The subject of this research is students of SMK YPE Sumpiuh grade X. The number of students are 71 person. The  analysis method of the statistic that used  is chi square.              The result from this research is 42 student (59,2%) have good level of knowledge about leucorrhea. And 39 student (54,9%) can handles leucorrhea correctly.             The Conclusion of his research is there any relationship between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in class of student SMK YPE Sumpiuh grade X  (c2hitung=5,722> c2tabel=3,481).   Keyword       : level of knowledge, leucorrhea handling.   Bibliography : 29 ( 2005-2016)             PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 216 kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup akibat komplikasi kehamilan dan persalinan tahun 2015. Jumlah total kematian ibu diperkirakan mencapai 303.000 kematian di seluruh dunia. Angka kematian ibu di negara berkembang mencapai 239/100.000 kelahiran hidup, 20 kali lebih tinggi dibandingkan negara maju.Indonesia termasuk salah satu negara berkembang sebagai penyumbang tertinggi angka kematian ibu di dunia. (WHO, 2015) Mengacu pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2015 AKI di Indonesia mencapai 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. (Kemenkes RI, 2016). Masalah kesehatan reproduksi merupakan masalah yang kompleks dan berkaitan dengan isu ketidaksetaraan gender dan pemenuhan hak-hak reproduksi bagi perempuan maupun laki-laki, sehingga memerlukan penanganan secara intensif dan terkoordinasi baik lintas program, lintas sektor maupun lintas disiplin ilmu dengan memperhatikan sosial budaya. Ada beberapa komponen kesehatan reproduksi yang dapat memberikan gambaran umum keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia. Pertama, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN. Kedua, program Keluarga Berencana (KB) yang dianggap berhasil di tingkat internasional. Ketiga, masalah kesehatan reproduksi pada remaja (Siswono, 2013). Masa Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja akan mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya, baik perubahan fisik maupun psikis. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan organ reproduksi juga memberikan banyak perubahan pada diri remaja (Masroah,dkk.2015). Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa kini sebagai masa kritis. Pada usia tersebut organ reproduksi pada wanita sudah berfungsi dengan baik walaupun tidak mengenal batasan usia tetapi pada usia reproduksi atau remaja seorang wanita lebih sering mengalami keputihan oleh karena gangguan hormon atau pengaruh lain diantaranya adalah stress (Iskandar, 2012). Kesehatan reproduksi remaja tidak lepas dari kesehatan di bidang kebidanan dan kandungan. Hingga saat ini masih banyak dijumpai penyakit infeksi yang mengganggu alat reproduksi wanita. Di Indonesia saat ini belum ada data nasional yang bisa digunakan sebagai penunjuk status kesehatan reproduksi remaja. Namun, beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa remaja Indonesia beresiko untuk terkena infeksi PMS/ HIV/ AIDS. Survey surveillance perilaku yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukkan bahwa 2,8% pelajar SMA wanita dan 7% pelajar SMA pria melaporkan adanya gejala-gejala PMS (Utomo, 2016). Sebuah penelitian di Malang dan Manado dan sebuah penelitian di Bali menunjukkan bahwa 26% dan 29% anak muda berusia 20 sampai 24 tahun telah aktif seksual (Dwiyanto, 2016). Salah satu keluhan klinis dari infeksi atau keadaan abnormal alat kelamin tersebut adalah keputihan. Cairan ini bersifat selalu membasahi dan menimbulkan iritasi, rasa gatal dan gangguan rasa tidak aman pada penderita. Keputihan normal ditandai oleh keluarnya lendir jernih pada saat masih subur atau sebelum menstruasi, tidak berbau, serta tidak adanya keluhan gatal pada vagina. Sebaliknya, keputihan abnormal menandakan adanya infeksi pada vagina yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu Bacterial Vaginosis, Trichomoniasis, dan Candidiasis (Manuaba, 2011). Hasil penelitian menyebutkan 3 dari 4 wanita di dunia ternyata pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap wanita bisa terkena gangguan ini tanpa melihat golongan usia, latar belakang, dan jenis pekerjaan. Di Indonesia masalah keputihan semakin meningkat. Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun 2002, 50% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya (Muninjaya, 2015). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 15 Februari 2018 di SMK YPE Sumpiuh kepada 30 siswi yang mengalami keputihan, didapatkan siswi yang segera menindaklanjuti keputihan dengan cara sering mengganti celana dalam sejumlah 10 orang (33.33%) dan membersihkan vagina dengan pembersih kewanitaan sejumlah 5 orang (16,67%) sedangkan 15 siswi (50%) yang lain mengatakan tidak memperdulikan keadaannya. Hasil data tersebut menunjukkan cara penanganan keputihan yang baik hanya 33,33%, dan 66,67% tidak mengetahui bagaimana cara penanganan keputihan yang baik. Selain itu di SMK YPE Sumpiuh juga belum pernah diadakan penyuluhan tentang keputihan. Kurikulum pendidikan juga belum pernah mengajarkan pengetahuan mengenai keputihan sehingga masih banyak siswi yang belum mengetahui tentang keputihan. Berhubung masih banyaknya siswi yang belum mengetahui tentang cara penanganan keputihan secara benar, maka peneliti menilai betapa penting masalah ini untuk diketahui lebih lanjut mengenai ada tidaknya kaitan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018.   METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode descriptive correlation study dengan pendekatan waktu secara Cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel pada situasi atau sekelompok subyek yang dilakukan bersamaan pada satu waktu dengan cara responden mengisi kuesioner yang telah disediakan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu  sampling jenuh. Sampling jenuh adalah cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 siswi. Pada penelitian ini mengambil data variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan tentang keputihan dan variabel terikat yaitu penanganan keputihan pada waktu yang bersamaan. Lokasi Penelitian ini di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada responden. Analisis data dalam penelitian ini meliputi editing, coding, tabulating kemudian dianalisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square HASIL DAN PEMBAHASAN   Tabel 1 Pengetahuan siswi tentang keputihan NO Pengetahuan siswa putri tentang keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 42 59,2 2. Cukup 29 40,8 3. Kurang 0 0   Jumlah 71 100     Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 71 responden berhasil di ketahui bahwa sebagian besar pengetahuan siswi tentang keputihan berpengetahuan baik (59,2%). Ini menandakan bahwa sebagian responden berpengetahuan baik mengenai pengetahuan tentang keputihan. Meskipun sebagian besar responden berpengetahuan cukup baik  (40,8%). Masalah keputihan adalah masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu apa itu keputiahan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan ini. Padahal keputihan tidak bisa dianggap enteng, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim, yang bisa berujung pada kematian (Iskandar, 2012). Menurut penyebabnya keputihan ada dua macam yaitu penyebab non potologis (bukan penyakit) dan penyebab patologis (karena penyakit). Penyebab non patologis (bukan penyakit) antara lain saat menjelang menstruasi, atau setelah menstruasi, rangsangan seksual, saat wanita hamil, stress, baik fisik maupun psikologi (Cakmoki, 2017). Responden yang diteliti adalah siswi yang memenuhi kriteria   yaitu siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh, siswi yang mengalami keputihan dan bersedia dijadikan responden. Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan baik tetapi masih ada responden yang memiliki pengetahuan tentang keputihan cukup baik (40,8%). Pengetahuan keputihan yang cukup baik ini mungkin karena masih ada beberapa responden yang kurang aktif dalam mencari tahu atau mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi khususnya keputihan selain itu kurangnya dukungan dari orang tua responden. Menurut Notoatmodjo (2013) pengetahuan merupakan hasil ?tahu? dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan  terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan akan merangsang terjadinya perubahan sikap dan bahkan tindakan seorang individu (Notoatmodjo, 2013: 123). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diamati bahwa pengetahuan siswi tentang keputihan adalah baik. Semakin tinggi pengetahuan siswi tentang keputihan, kemungkinan dapat mempengaruhi penangan keputihan.                           Tabel 2. Penanganan Keputihan     NO Penanganan keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 39 54,9 2. Cukup 32 45,1 3. Kurang 0 0   Jumlah 71 100                 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penanganan keputihan sebagian besar baik (54,9%). Hal ini berarti sebagian besar responden di SMK YPE Sumpiuh sudah mengetahui bagaimana cara penanganan yang baik dalam mengatasi keputihan. Keputihan yang terjadi pada remaja terkadang menimbulkan suatu masalah tertentu pada sebagian besar remaja. Apabila keputihan tidak segera diobati dapat berakibat lebih parah dan bukan tidak mungkin menjadi penyebab kemandulan. Tidak hanya itu saja, keputihan yang sangat fatal dapat menyebabkan kematian. Seperti pernyataan Iskandar (2012) yaitu keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani, tidak hanya mengalami kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga merupakan segala awal dari kanker leher rahim yang bisa berujung pada kematian. Walaupun sebagian besar responden memiliki sikap penanganan benar dalam menangani keputihan tetapi masih ada beberapa responden yang memiliki penanganan cukup baik (45,1%). Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang keputihan yang didapat responden. Atau sebenarnya mereka sudah mengatahui penanganan yang baik waktu mengalami keputihan tetapi mereka belum dapat mengaplikasikan dalam bentuk nyata. Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan tersebut merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons (Azwar, 2013: 5). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa penanganan keputihan pada siswi di SMK YPE Sumpiuh adalah baik. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan siswi tentang keputihan di SMK YPE Sumpiuh yang baik, meskipun di SMK YPE Sumpiuh sendiri belum ada pembinaan khusus tentang kesehatan reproduksi khususnya tentang keputihan.                         Tabel silang antara pengetahuan siswi tentang keputihan dengan penanganan Pengetahuan Siswa Putri Penanganan Keputihan Total     F % F % F %     Baik Cukup    Baik 28 66,7 14 33,3 42 100   Cukup 11 37,9 18 62,1 29 100   Jumlah 39 54,9 32 45,1 71 100                                                                   Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 71 responden dalam penelitian ini, terdapat 42 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai keputihan dengan proporsi 28 siswi (66,7%) melakukan penanganan baik, dan 14 siswi (33,3%) yang melakukan penanganan keputihan dalam kategori cukup baik. Sedangkan selebihnya yaitu 29 responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik mengenai keputihan dengan proporsi 11 siswi (37,9%) melakukan penanganan baik dan 18 siswi (62,1%) melakukan penanganan cukup baik.                          Pada penelitian ini untuk mencari hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh menggunakan analisis Chi-Square, dengan alat bantu program SPSS For Windows Release 16.0. Jika didapatkan c2hitung ? c2tabel, maka Ho ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan. Jika c2hitung ? c2tabel, maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan.                      Kemudian juga dapat dilihat pada nilai asymp.sign (P), bila P < a (0,05) artinya ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan bila P > a (0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel.                      Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh  nilai c2hitung sebesar 5,722 dengan derajat frekuensi (df) = 1. Adapun nilai c2tabel untuk pengujian dengan taraf signifikansi (a) = 0,05 dan df = 1 adalah sebesar 3,481. Oleh karena c2hitung > c2tabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan.                      Dapat juga berdasarkan pada nilai c2hitung sebesar 5,722 dan P (Assymp.Sign) = 0,017 yang berarti nilai P < a (0,05) yang berarti secara statisitik terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. Artinya adalah Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan siswi tentang keputihan sebagian besar adalah baik yakni sebanyak 42 responden, Penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh sebagian besar adalah dalam kategori baik yaitu 39 responden, dan Ada hubungan antara pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh(c2hitung=5,722>c2tabel=3,481), maka Ho ditolak serta nilai asymp.sign (P) < 0,05.     Saran Dapat meningkatkan kualitas pengetahuan mengenai keputihan serta penanganan yang sesuai untuk keputihan.   DAFTAR PUSTAKA Alimul, Aziz. 2013. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan ilmiah. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka   Cipta. Iskandar, M. 2012. Solusi Keluarga. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 23 Januari 2018 Kusumaningsih. 2007. Faktor Penyebab Keputihan. Online available at http://www.organisasi.org. Diakses tanggal 1 Januari 2018. Manuaba. 2011. Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com.        Diakses tanggal 23 Januari 2018. Manuaba, I.G.B. 2011.  Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC. Masroah, Intan Tri; Elviera Gamelia; Bambang Hariyadi. 2015. Perilaku Seksual Remaja Akibat Paparan Media Pornografi. Jurnal Kesmasindo, 7 (3):244-255. Muninjaya, S. 2005. Kejadian Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 12 Januari 2018. Notoatmodjo, Soekidjo. 2013. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.   Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nugraeni, Novi. 2006. Keputihan. http://id.mikipedia.org/wiki/keputihan.html Diakses tanggal 12 Januari 2018. Panuju, Panut & Umami, Ida. 2005. Psikologi Remaja. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.   Permatasari.2012.Hubungan Tingkat pengetahuan Remaja Putri tentang Personal Hygine dengan Tindakan Pencegahan Keputihan di SMA Negeri 9 Semarang. Skripsi. Universitas Muhamadiyah Semarang.http:journal.ums.ac.id   Rahman. 2013. Hubungan Sosial. Online available at http://www.indonesia.cri.cnhtm. Diakses tanggal 15 Januari 2018 Rahmi, Egi Yunia.2016. Faktor Perilaku yang mempengaruhi terjadinya Keputihan pada remaja Putri. 2016. Skipsi.  Riau: FIK-UNRI   Saryono. 2008. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jogjakarta : Citra Cendikia. Sarwono S, W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2014. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan Keenam. Bandung: Alfabeta. Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suryani, Eko & Widyasih, Hesty. 2008. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta: Fitramaya.   Wandha Paramitha, Misrawati. 2012. EfektifitasPendidikan Kesehatan tentang Hygine Kewanitaan terhadap Pengetahuan dan SikapRemaja Putri dalam menangani Keputihan.Jurnal Ners Indonesia, 2012 : vol 2. Riau. UNRI   Wardani, K. 2007. Menghindari dan Mencegah Keputihan. Online available at http://www.dechacare.com. Diakses tanggal 12 Februari 2010. Widyastuti, Yani et al. 2009. Kesehatan reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya.   Wiknjosastro, H. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.   Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta  : Salemba Medika.   Saryono, A.S. (2010). Metodologi Penelitian Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika.   Saefudin. (2009). Langkah ? Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.   Siswanto, Susila, dan Suyanto. 2013. Metodologi Penelitian Kesehatan dan Kedokteran. Bursa Ilmu Karangkajen, Yogyakarta.   Sugandi, Ahcmad., & Haryanto. (2006). Teori Pembelajaran. Semarang : Universitas Negeri Semarang Press.   Sugiyono. (2007). Statistik untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta                  
PENGARUH DUKUNGAN MERTUA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI RSU AGHISNA MEDIKA KROYA Ayuningtyas, Beby Yohana Okta; Oktanasari, Wiji; Fitriyani, Tanti
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 4 (2024): Vol. 6 No. 4 Edisi 2 Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i4.2476

Abstract

The only food and drink that babies' nutritional needs may be satisfied with for the first six months of their lives is exclusive breast milk, with the exception of vitamins, minerals, and medications. In addition to monitoring the baby's growth each month and making sure the breastfeeding mother eats a healthy diet, mothers can give breast milk whenever the infant requests for it. The mother-in-law's support is what determines exclusive breastfeeding the most. The mother-in-law's responsibilities include helping to express breast milk to the kid while the mother is at work, supporting the mother mentally, helping to take care of the child, and helping with housework. (Health Ministry, 2023) The purpose of the study is to ascertain the impact of the mother-in-law's exclusive breast milk support. sort of case-control time survey study methodology. 62 postpartum moms from RSU Aghisna Medika Kroya served as the study's sample. It is a purposeful sampling method. A survey is the instrument that is employed. cross-tabulation of the chi-square statistical test results showing the link between the independent and dependent variables. At RSU Aghisna Medika, the chi square test results, which produced a p value (0.029) < 0.05, demonstrate that the research findings indicate that there is an influence of mother-in-law's support on exclusive breastfeeding. 2.046% of RSU Aghisna Medika Kroya students exclusively breastfeed when their mother-in-law supports them. According to research findings and recommendations, exclusive breastfeeding at RSU Aghisna Medika Kroya is significantly influenced by the mother-in-law's support. It is intended that health professionals will enlighten and educate mothers-in-law or families to raise understanding about exclusive breastfeeding.Keywords: Mother-in-law support, exclusive breastfeeding
PENGARUH SOSIAL BUDAYA DENGAN PEMBERIAN NUTRISI PADA IBU MENYUSUI DI POSYANDU MELATI CILACAP Oktanasari, Wiji; Fitriyani, Tanti; Okta Ayuningtyas, Beby Yohana
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 2 (2025): Vol. 7 No. 2 Edisi 1 Januari 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i2.2786

Abstract

There are still issues in society with the breastfeeding mother culture of dietary restriction. Despite its strong cultural beliefs, it is undeniable that this culture of food limitation may reduce the amount of nutrients that nursing moms need to consume. The purpose of the study is to use a type of case-control time survey approach to ascertain whether sociocultural factors have an impact on the nourishment provided to nursing mothers at Posyandu Melati Cilacap. Thirty-two breastfeeding women made up the study sample. A cross-sectional strategy is used in this quantitative study with a descriptive correlation research design. While Chi Square is used for data analysis and product moment correlation calculations are used for the validity test, Cronbach's Alpha is used for the reliability test. The findings of the chi square test, which yielded a p value (0.029) < 0.05, demonstrated that social culture had an impact on Posyandu Melati Cilacap's breastfeeding moms' access to nourishment. 2,046 breastfeeding mothers at Posyandu Melati have a strong correlation between social culture and nutrition. Based on research findings and recommendations, breastfeeding mothers are strongly encouraged to eat a healthy diet; there are no dietary restrictions because the mother's food intake has a significant impact on the production of breast milk.Keywords: Socio-Cultural, Nutrition, Breastfeeding Mothers
Pengaruh Pijat Oketani Terhadap Pencegahan Bendungan ASI Pada Ibu Postpartum Sectio Caesarea Di RSUD Cilacap Lestari, Tri Endah Widi; Ayuningtyas, Beby Yohana Okta; Oktanasari, Wiji
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 21 No 2 (2025): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelahiran melalui sectio caesarea dapat menjadi faktor penghambat keberhasilan menyusui, terutama pada hari-hari awal setelah melahirkan. Keterlambatan dalam memberikan ASI pada bayi dapat menyebabkan ASI menumpuk di saluran payudara dan sulit untuk dikeluarkan, yang mengakibatkan terjadinya bendungan ASI. Upaya preventif terhadap kejadian bendungan ASI dapat secara non farmakologi dengan perawatan payudara berupa yang aman bagi ibu dan bayi yaitu memberikan pijat oketani pada payudara ibu. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh pijat oketani terhadap pencegahan bendungan ASI ibu postpartum sectio caesarea. Metode penelitian menggunakan pre test post test control group, dengan pemilihan responden yaitu purposive sampling, dengan jumlah 15 responden pada kedua kelompok. Perlakuan dilakukan pada hari pertama sampai hari ketiga setelah melahirkan dengan durasi pemijatan selama 20 menit satu sekali sehari pada kedua payudara. Hasil penelitian didapatkan pada kelompok pijat oketani  15 (100%) responden tidak mengalami bendungan ASI, sedangkan pada kelompok kontrol terjadi bendungan Asi pada hari kedua sebanyak 2 (13,3%) responden dan meningkat pada hari ketiga yaitu sebanyak 5 (33,3%) responden. Kesimpulan temuan ini menunjukan bahwa adanya pengaruh pijat oketani yang diberikan pada hari pertama sampai ketiga pada ibu postpartum sectio caesarea terhadap pencegahan bendungan ASI.
PENGARUH PENYULUHAN GIZI TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP IBU TENTANG MENU SEIMBANG ANAK TK KASIH IBU KEBUN RIMBA BELIAN KABUPATEN SANGGAU Oktanasari, Wiji; Ayuningtyas, Beby Yohana Okta
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rendahnya pengetahuan masyarakat tentang gizi di Indonesia tercermin dalam banyaknya kasus gizi buruk yang terjadi di negara ini. Hal yang sangat penting untuk perkembangan anak-anak adalah penyediaan makanan yang memiliki gizi yang baik. Ketika seorang wanita tidak mampu memberikan pola makan yang sehat dan seimbang bagi anak-anaknya yang masih kecil, hal ini dapat memiliki dampak negatif terhadap kebiasaan makan anak-anak tersebut. Dalam konteks pemasaran yang informatif, penyuluhan gizi merupakan ide yang bertujuan untuk meningkatkan kesadaran gizi ibu dan membentuk perilaku (pengetahuan dan tindakan) yang mendukung peningkatan gizi yang sehat. Penelitian ini dilakukan di Taman Kanak-kanak Ibu Kebun Rimba Belian yang terletak di Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji pengaruh penyuluhan gizi terhadap pengetahuan dan sikap ibu mengenai makanan sehat dan seimbang bagi anak-anak di Taman Kanak-Kanak tersebut. Penelitian dilakukan menggunakan teknik penelitian Quasi-Experimental dengan desain yang terdiri dari satu kelompok yang melakukan pre-test dan post-test. Untuk mendapatkan data penelitian, digunakan kuesioner tanpa ruang tanggapan terbuka. Sampel penelitian ini diambil dengan metode whole sampling, melibatkan 35 ibu dari Taman Kanak-Kanak tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa skor rata-rata pada pengukuran pengetahuan sebelum pre-test adalah 11,48, sedangkan skor rata-rata setelah post-test adalah 14,00. Nilai rata-rata pada pengukuran sikap sebelum pre-test adalah 16,34, sedangkan pada pengukuran sikap setelah post-test adalah 20,00. Hasil uji Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat pengaruh penyuluhan gizi terhadap pengetahuan dan sikap ibu mengenai menu gizi seimbang, dan nilai signifikansi pengaruh tersebut adalah p=0,00 (p<0,05).
HUBUNGAN KARAKTERISTIK INDIVIDU DENGAN PENGETAHUAN TENTANG PIJAT OKSITOSIN Ayuningtyas, Beby Yohana Okta; Oktanasari, Wiji
Ensiklopedia of Journal Vol 8, No 1 (2025): Vol. 8 No. 1 Edisi 2 Oktober 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v8i1.3445

Abstract

The healthiest diet for babies to promote healthy growth and development is breast milk (ASI), according to the Ministry of Health (2025).  Babies receive the most comprehensive nourishment from breast milk.  Breastfeeding exclusively is consuming just breast milk for six months, with the exception of vitamins, minerals, and prescription drugs.  Fifty percent of women worldwide are exclusively nursing.  82.3% of Kalibagor's population exclusively breastfeeds (Banyumas Health Office Profile, 2024).  Exclusive breastfeeding is frequently associated with nipple pain, breast engorgement, mastitis, and breast abscesses.  To increase the success rate of exclusive breastfeeding coverage, therefore, measures must be taken to overcome breastfeeding obstacles, such as oxytocin massage. Breast milk release may be improved by oxytocin massage.  Raising pregnant women's awareness of oxytocin massage has the potential to improve social conduct.  This study aims to determine the relationship between oxytocin massage knowledge and personal characteristics.  Thirty pregnant women who were enrolled in a prenatal class at the Kaliori Community Health Center in Kalibagor made up the study sample.  Total sampling was the method of sample that was employed.  The concept of oxytocin massage, its advantages, efficacy, timing, factors influencing the release of the oxytocin hormone, factors impacting the success of oxytocin massage, and the processes involved in the massage were all covered in the oxytocin massage knowledge quiz.  According to the chi-square test results, the p-value was less than 0.05. Individual characteristics such as age, occupation, education, and parity were significantly associated with pregnant women's knowledge of oxytocin massage (0.001; 0.000; 0.004; 0.000).Keywords: Age, education, parity, knowledge, oxytocin massage