Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Fitriyani, Tanti; Oktanasari, Wiji
Kesmas Indonesia: Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat Vol 11 No 2 (2019): Jurnal Kesmas Indonesia
Publisher : Jurusan Kesehatan Masyarakat dan Fakultas Ilmu-Ilmu Kesehatan Universitas Jenderal Soedirman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (479.289 KB) | DOI: 10.20884/1.ki.2019.11.2.1428

Abstract

HUBUNGAN TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG KEPUTIHAN DENGAN PENANGANAN KEPUTIHAN PADA SISWI KELAS X SMK YPE SUMPIUH KABUPATEN BANYUMAS TAHUN 2018 The Relationship Between The Knowledge of leucorrhea on Handling of Leucorrhea in Student of SMK YPE Sumpiuh 2018 Grade X, Banyumas regency Tanti Fitriyani1, Wiji Oktanasari2 1-2Dosen Jurusan DIII Kebidanan STIKes Bina Cipta Husada Purwokerto ABSTRACT  One of the clinical complaint from adolescent reproduction is leucorrhea. Leucorrhea is vagina?s liquid expenditure that not shaped blood. It is sometimes caused infection that always wet and make irritation, feel itchy and disturbance to the sufferer.             The purpose of this research is to know about relation between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in student of SMK YPE Sumpiuh 2018 grade X, Banyumas regency. This research use analytic survey method with cross sectional approach. The subject of this research is students of SMK YPE Sumpiuh grade X. The number of students are 71 person. The  analysis method of the statistic that used  is chi square.              The result from this research is 42 student (59,2%) have good level of knowledge about leucorrhea. And 39 student (54,9%) can handles leucorrhea correctly.             The Conclusion of his research is there any relationship between knowledge of leucorrhea and handling of leucorrhea in class of student SMK YPE Sumpiuh grade X  (c2hitung=5,722> c2tabel=3,481).   Keyword       : level of knowledge, leucorrhea handling.   Bibliography : 29 ( 2005-2016)             PENDAHULUAN World Health Organization (WHO) memperkirakan terdapat 216 kematian ibu setiap 100.000 kelahiran hidup akibat komplikasi kehamilan dan persalinan tahun 2015. Jumlah total kematian ibu diperkirakan mencapai 303.000 kematian di seluruh dunia. Angka kematian ibu di negara berkembang mencapai 239/100.000 kelahiran hidup, 20 kali lebih tinggi dibandingkan negara maju.Indonesia termasuk salah satu negara berkembang sebagai penyumbang tertinggi angka kematian ibu di dunia. (WHO, 2015) Mengacu pada data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) tahun 2015 AKI di Indonesia mencapai 305 kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup. (Kemenkes RI, 2016). Masalah kesehatan reproduksi merupakan masalah yang kompleks dan berkaitan dengan isu ketidaksetaraan gender dan pemenuhan hak-hak reproduksi bagi perempuan maupun laki-laki, sehingga memerlukan penanganan secara intensif dan terkoordinasi baik lintas program, lintas sektor maupun lintas disiplin ilmu dengan memperhatikan sosial budaya. Ada beberapa komponen kesehatan reproduksi yang dapat memberikan gambaran umum keadaan kesehatan reproduksi di Indonesia. Pertama, Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih sangat tinggi dibandingkan negara-negara di ASEAN. Kedua, program Keluarga Berencana (KB) yang dianggap berhasil di tingkat internasional. Ketiga, masalah kesehatan reproduksi pada remaja (Siswono, 2013). Masa Remaja merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Remaja akan mengalami berbagai perubahan dalam hidupnya, baik perubahan fisik maupun psikis. Memasuki masa remaja yang diawali dengan terjadinya kematangan organ reproduksi juga memberikan banyak perubahan pada diri remaja (Masroah,dkk.2015). Masa remaja adalah masa transisi antara masa kanak-kanak dengan dewasa dan relatif belum mencapai tahap kematangan mental dan sosial sehingga mereka harus menghadapi tekanan-tekanan emosi dan sosial yang saling bertentangan. Banyak sekali life events yang akan terjadi yang tidak saja akan menentukan kehidupan masa dewasa tetapi juga kualitas hidup generasi berikutnya sehingga menempatkan masa kini sebagai masa kritis. Pada usia tersebut organ reproduksi pada wanita sudah berfungsi dengan baik walaupun tidak mengenal batasan usia tetapi pada usia reproduksi atau remaja seorang wanita lebih sering mengalami keputihan oleh karena gangguan hormon atau pengaruh lain diantaranya adalah stress (Iskandar, 2012). Kesehatan reproduksi remaja tidak lepas dari kesehatan di bidang kebidanan dan kandungan. Hingga saat ini masih banyak dijumpai penyakit infeksi yang mengganggu alat reproduksi wanita. Di Indonesia saat ini belum ada data nasional yang bisa digunakan sebagai penunjuk status kesehatan reproduksi remaja. Namun, beberapa penelitian akhir-akhir ini menunjukkan bahwa remaja Indonesia beresiko untuk terkena infeksi PMS/ HIV/ AIDS. Survey surveillance perilaku yang diadakan oleh Pusat Penelitian Kesehatan Universitas Indonesia (PPK-UI) menunjukkan bahwa 2,8% pelajar SMA wanita dan 7% pelajar SMA pria melaporkan adanya gejala-gejala PMS (Utomo, 2016). Sebuah penelitian di Malang dan Manado dan sebuah penelitian di Bali menunjukkan bahwa 26% dan 29% anak muda berusia 20 sampai 24 tahun telah aktif seksual (Dwiyanto, 2016). Salah satu keluhan klinis dari infeksi atau keadaan abnormal alat kelamin tersebut adalah keputihan. Cairan ini bersifat selalu membasahi dan menimbulkan iritasi, rasa gatal dan gangguan rasa tidak aman pada penderita. Keputihan normal ditandai oleh keluarnya lendir jernih pada saat masih subur atau sebelum menstruasi, tidak berbau, serta tidak adanya keluhan gatal pada vagina. Sebaliknya, keputihan abnormal menandakan adanya infeksi pada vagina yang dibedakan berdasarkan penyebabnya, yaitu Bacterial Vaginosis, Trichomoniasis, dan Candidiasis (Manuaba, 2011). Hasil penelitian menyebutkan 3 dari 4 wanita di dunia ternyata pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap wanita bisa terkena gangguan ini tanpa melihat golongan usia, latar belakang, dan jenis pekerjaan. Di Indonesia masalah keputihan semakin meningkat. Dari hasil penelitian menyebutkan bahwa tahun 2002, 50% wanita Indonesia pernah mengalami keputihan setidaknya sekali dalam hidupnya (Muninjaya, 2015). Berdasarkan hasil studi pendahuluan yang peneliti lakukan pada tanggal 15 Februari 2018 di SMK YPE Sumpiuh kepada 30 siswi yang mengalami keputihan, didapatkan siswi yang segera menindaklanjuti keputihan dengan cara sering mengganti celana dalam sejumlah 10 orang (33.33%) dan membersihkan vagina dengan pembersih kewanitaan sejumlah 5 orang (16,67%) sedangkan 15 siswi (50%) yang lain mengatakan tidak memperdulikan keadaannya. Hasil data tersebut menunjukkan cara penanganan keputihan yang baik hanya 33,33%, dan 66,67% tidak mengetahui bagaimana cara penanganan keputihan yang baik. Selain itu di SMK YPE Sumpiuh juga belum pernah diadakan penyuluhan tentang keputihan. Kurikulum pendidikan juga belum pernah mengajarkan pengetahuan mengenai keputihan sehingga masih banyak siswi yang belum mengetahui tentang keputihan. Berhubung masih banyaknya siswi yang belum mengetahui tentang cara penanganan keputihan secara benar, maka peneliti menilai betapa penting masalah ini untuk diketahui lebih lanjut mengenai ada tidaknya kaitan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018. Tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas Tahun 2018.   METODE PENELITIAN Penelitian ini dilakukan dengan metode descriptive correlation study dengan pendekatan waktu secara Cross sectional yaitu penelitian yang dilakukan untuk melihat hubungan antara dua variabel pada situasi atau sekelompok subyek yang dilakukan bersamaan pada satu waktu dengan cara responden mengisi kuesioner yang telah disediakan. Metode pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik non probability sampling yaitu  sampling jenuh. Sampling jenuh adalah cara pengambilan sampel dengan mengambil semua anggota populasi menjadi sampel. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 71 siswi. Pada penelitian ini mengambil data variabel bebas yaitu tingkat pengetahuan tentang keputihan dan variabel terikat yaitu penanganan keputihan pada waktu yang bersamaan. Lokasi Penelitian ini di SMK YPE Sumpiuh Kabupaten Banyumas. Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah sumber data primer dan sekunder. Pengambilan data dilakukan dengan penyebaran kuesioner kepada responden. Analisis data dalam penelitian ini meliputi editing, coding, tabulating kemudian dianalisis univariat dan bivariat dengan uji Chi Square HASIL DAN PEMBAHASAN   Tabel 1 Pengetahuan siswi tentang keputihan NO Pengetahuan siswa putri tentang keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 42 59,2 2. Cukup 29 40,8 3. Kurang 0 0   Jumlah 71 100     Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan pada 71 responden berhasil di ketahui bahwa sebagian besar pengetahuan siswi tentang keputihan berpengetahuan baik (59,2%). Ini menandakan bahwa sebagian responden berpengetahuan baik mengenai pengetahuan tentang keputihan. Meskipun sebagian besar responden berpengetahuan cukup baik  (40,8%). Masalah keputihan adalah masalah yang sejak lama menjadi persoalan bagi kaum wanita. Tidak banyak wanita yang tahu apa itu keputiahan dan terkadang menganggap enteng persoalan keputihan ini. Padahal keputihan tidak bisa dianggap enteng, karena akibat dari keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani. Tidak hanya bisa mengakibatkan kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga bisa merupakan gejala awal dari kanker leher rahim, yang bisa berujung pada kematian (Iskandar, 2012). Menurut penyebabnya keputihan ada dua macam yaitu penyebab non potologis (bukan penyakit) dan penyebab patologis (karena penyakit). Penyebab non patologis (bukan penyakit) antara lain saat menjelang menstruasi, atau setelah menstruasi, rangsangan seksual, saat wanita hamil, stress, baik fisik maupun psikologi (Cakmoki, 2017). Responden yang diteliti adalah siswi yang memenuhi kriteria   yaitu siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh, siswi yang mengalami keputihan dan bersedia dijadikan responden. Walaupun sebagian besar responden berpengetahuan baik tetapi masih ada responden yang memiliki pengetahuan tentang keputihan cukup baik (40,8%). Pengetahuan keputihan yang cukup baik ini mungkin karena masih ada beberapa responden yang kurang aktif dalam mencari tahu atau mendapatkan informasi mengenai kesehatan reproduksi khususnya keputihan selain itu kurangnya dukungan dari orang tua responden. Menurut Notoatmodjo (2013) pengetahuan merupakan hasil ?tahu? dan terjadi setelah orang melakukan penginderaan  terhadap suatu objek tertentu. Pengetahuan atau kognitif merupakan domain yang sangat penting bagi terbentuknya perilaku seseorang. Pengetahuan akan merangsang terjadinya perubahan sikap dan bahkan tindakan seorang individu (Notoatmodjo, 2013: 123). Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat diamati bahwa pengetahuan siswi tentang keputihan adalah baik. Semakin tinggi pengetahuan siswi tentang keputihan, kemungkinan dapat mempengaruhi penangan keputihan.                           Tabel 2. Penanganan Keputihan     NO Penanganan keputihan Jumlah Persentase (%) 1. Baik 39 54,9 2. Cukup 32 45,1 3. Kurang 0 0   Jumlah 71 100                 Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa penanganan keputihan sebagian besar baik (54,9%). Hal ini berarti sebagian besar responden di SMK YPE Sumpiuh sudah mengetahui bagaimana cara penanganan yang baik dalam mengatasi keputihan. Keputihan yang terjadi pada remaja terkadang menimbulkan suatu masalah tertentu pada sebagian besar remaja. Apabila keputihan tidak segera diobati dapat berakibat lebih parah dan bukan tidak mungkin menjadi penyebab kemandulan. Tidak hanya itu saja, keputihan yang sangat fatal dapat menyebabkan kematian. Seperti pernyataan Iskandar (2012) yaitu keputihan ini bisa sangat fatal bila lambat ditangani, tidak hanya mengalami kemandulan dan hamil di luar kandungan, keputihan juga merupakan segala awal dari kanker leher rahim yang bisa berujung pada kematian. Walaupun sebagian besar responden memiliki sikap penanganan benar dalam menangani keputihan tetapi masih ada beberapa responden yang memiliki penanganan cukup baik (45,1%). Hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya pengetahuan tentang keputihan yang didapat responden. Atau sebenarnya mereka sudah mengatahui penanganan yang baik waktu mengalami keputihan tetapi mereka belum dapat mengaplikasikan dalam bentuk nyata. Sikap merupakan semacam kesiapan untuk bereaksi terhadap suatu objek dengan cara-cara tertentu. Dapat dikatakan bahwa kesiapan tersebut merupakan kecenderungan potensial untuk bereaksi dengan cara tertentu apabila individu dihadapkan pada suatu stimulus yang menghendaki adanya respons (Azwar, 2013: 5). Berdasarkan hasil penelitian menunjukan bahwa penanganan keputihan pada siswi di SMK YPE Sumpiuh adalah baik. Hal ini dipengaruhi oleh pengetahuan siswi tentang keputihan di SMK YPE Sumpiuh yang baik, meskipun di SMK YPE Sumpiuh sendiri belum ada pembinaan khusus tentang kesehatan reproduksi khususnya tentang keputihan.                         Tabel silang antara pengetahuan siswi tentang keputihan dengan penanganan Pengetahuan Siswa Putri Penanganan Keputihan Total     F % F % F %     Baik Cukup    Baik 28 66,7 14 33,3 42 100   Cukup 11 37,9 18 62,1 29 100   Jumlah 39 54,9 32 45,1 71 100                                                                   Dari tabel 3 dapat diketahui bahwa dari 71 responden dalam penelitian ini, terdapat 42 responden yang memiliki tingkat pengetahuan yang baik mengenai keputihan dengan proporsi 28 siswi (66,7%) melakukan penanganan baik, dan 14 siswi (33,3%) yang melakukan penanganan keputihan dalam kategori cukup baik. Sedangkan selebihnya yaitu 29 responden memiliki tingkat pengetahuan yang cukup baik mengenai keputihan dengan proporsi 11 siswi (37,9%) melakukan penanganan baik dan 18 siswi (62,1%) melakukan penanganan cukup baik.                          Pada penelitian ini untuk mencari hubungan antara tingkat pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh menggunakan analisis Chi-Square, dengan alat bantu program SPSS For Windows Release 16.0. Jika didapatkan c2hitung ? c2tabel, maka Ho ditolak artinya ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan. Jika c2hitung ? c2tabel, maka Ho diterima artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan.                      Kemudian juga dapat dilihat pada nilai asymp.sign (P), bila P < a (0,05) artinya ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel dan bila P > a (0,05) artinya tidak ada hubungan yang signifikan antara kedua variabel.                      Berdasarkan hasil perhitungan diperoleh  nilai c2hitung sebesar 5,722 dengan derajat frekuensi (df) = 1. Adapun nilai c2tabel untuk pengujian dengan taraf signifikansi (a) = 0,05 dan df = 1 adalah sebesar 3,481. Oleh karena c2hitung > c2tabel, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan.                      Dapat juga berdasarkan pada nilai c2hitung sebesar 5,722 dan P (Assymp.Sign) = 0,017 yang berarti nilai P < a (0,05) yang berarti secara statisitik terdapat hubungan signifikan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. Artinya adalah Ho ditolak dan Ha diterima sehingga ada hubungan antara tingkat pengetahuan keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi kelas X SMK YPE Sumpiuh. KESIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan Pengetahuan siswi tentang keputihan sebagian besar adalah baik yakni sebanyak 42 responden, Penanganan keputihan di SMK YPE Sumpiuh sebagian besar adalah dalam kategori baik yaitu 39 responden, dan Ada hubungan antara pengetahuan tentang keputihan dengan penanganan keputihan pada siswi SMK YPE Sumpiuh(c2hitung=5,722>c2tabel=3,481), maka Ho ditolak serta nilai asymp.sign (P) < 0,05.     Saran Dapat meningkatkan kualitas pengetahuan mengenai keputihan serta penanganan yang sesuai untuk keputihan.   DAFTAR PUSTAKA Alimul, Aziz. 2013. Riset Keperawatan dan Teknik Penulisan ilmiah. Jakarta : Rineka Cipta. Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka   Cipta. Iskandar, M. 2012. Solusi Keluarga. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 23 Januari 2018 Kusumaningsih. 2007. Faktor Penyebab Keputihan. Online available at http://www.organisasi.org. Diakses tanggal 1 Januari 2018. Manuaba. 2011. Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com.        Diakses tanggal 23 Januari 2018. Manuaba, I.G.B. 2011.  Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan dan KB. Jakarta: EGC. Masroah, Intan Tri; Elviera Gamelia; Bambang Hariyadi. 2015. Perilaku Seksual Remaja Akibat Paparan Media Pornografi. Jurnal Kesmasindo, 7 (3):244-255. Muninjaya, S. 2005. Kejadian Keputihan. Online available at http://www.mitrakeluarga.com. Diakses tanggal 12 Januari 2018. Notoatmodjo, Soekidjo. 2013. Ilmu Kesehatan Masyarakat Prinsip-Prinsip Dasar. Jakarta: Rineka Cipta.   Notoatmodjo, Soekidjo. 2012. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: PT. Rineka Cipta. Nugraeni, Novi. 2006. Keputihan. http://id.mikipedia.org/wiki/keputihan.html Diakses tanggal 12 Januari 2018. Panuju, Panut & Umami, Ida. 2005. Psikologi Remaja. Yogyakarta: PT Tiara Wacana Yogya.   Permatasari.2012.Hubungan Tingkat pengetahuan Remaja Putri tentang Personal Hygine dengan Tindakan Pencegahan Keputihan di SMA Negeri 9 Semarang. Skripsi. Universitas Muhamadiyah Semarang.http:journal.ums.ac.id   Rahman. 2013. Hubungan Sosial. Online available at http://www.indonesia.cri.cnhtm. Diakses tanggal 15 Januari 2018 Rahmi, Egi Yunia.2016. Faktor Perilaku yang mempengaruhi terjadinya Keputihan pada remaja Putri. 2016. Skipsi.  Riau: FIK-UNRI   Saryono. 2008. Metodelogi Penelitian Kesehatan. Jogjakarta : Citra Cendikia. Sarwono S, W. 2007. Psikologi Remaja. Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada. Sugiyono. 2014. Statistik Untuk Penelitian. Cetakan Keenam. Bandung: Alfabeta. Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Suryani, Eko & Widyasih, Hesty. 2008. Psikologi Ibu dan Anak. Yogyakarta: Fitramaya.   Wandha Paramitha, Misrawati. 2012. EfektifitasPendidikan Kesehatan tentang Hygine Kewanitaan terhadap Pengetahuan dan SikapRemaja Putri dalam menangani Keputihan.Jurnal Ners Indonesia, 2012 : vol 2. Riau. UNRI   Wardani, K. 2007. Menghindari dan Mencegah Keputihan. Online available at http://www.dechacare.com. Diakses tanggal 12 Februari 2010. Widyastuti, Yani et al. 2009. Kesehatan reproduksi. Yogyakarta: Fitramaya.   Wiknjosastro, H. 2012. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.   Nursalam. (2008). Konsep Dan Penerapan Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan. Jakarta  : Salemba Medika.   Saryono, A.S. (2010). Metodologi Penelitian Kebidanan. Yogyakarta : Nuha Medika.   Saefudin. (2009). Langkah ? Langkah Membuat Proposal Penelitian Bidang Kedokteran Dan Kesehatan. Jakarta : Salemba Medika.   Siswanto, Susila, dan Suyanto. 2013. Metodologi Penelitian Kesehatan dan Kedokteran. Bursa Ilmu Karangkajen, Yogyakarta.   Sugandi, Ahcmad., & Haryanto. (2006). Teori Pembelajaran. Semarang : Universitas Negeri Semarang Press.   Sugiyono. (2007). Statistik untuk Penelitian. Bandung : Alfabeta                  
PENGARUH DUKUNGAN MERTUA DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF DI RSU AGHISNA MEDIKA KROYA Ayuningtyas, Beby Yohana Okta; Oktanasari, Wiji; Fitriyani, Tanti
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 4 (2024): Vol. 6 No. 4 Edisi 2 Juli 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i4.2476

Abstract

The only food and drink that babies' nutritional needs may be satisfied with for the first six months of their lives is exclusive breast milk, with the exception of vitamins, minerals, and medications. In addition to monitoring the baby's growth each month and making sure the breastfeeding mother eats a healthy diet, mothers can give breast milk whenever the infant requests for it. The mother-in-law's support is what determines exclusive breastfeeding the most. The mother-in-law's responsibilities include helping to express breast milk to the kid while the mother is at work, supporting the mother mentally, helping to take care of the child, and helping with housework. (Health Ministry, 2023) The purpose of the study is to ascertain the impact of the mother-in-law's exclusive breast milk support. sort of case-control time survey study methodology. 62 postpartum moms from RSU Aghisna Medika Kroya served as the study's sample. It is a purposeful sampling method. A survey is the instrument that is employed. cross-tabulation of the chi-square statistical test results showing the link between the independent and dependent variables. At RSU Aghisna Medika, the chi square test results, which produced a p value (0.029) < 0.05, demonstrate that the research findings indicate that there is an influence of mother-in-law's support on exclusive breastfeeding. 2.046% of RSU Aghisna Medika Kroya students exclusively breastfeed when their mother-in-law supports them. According to research findings and recommendations, exclusive breastfeeding at RSU Aghisna Medika Kroya is significantly influenced by the mother-in-law's support. It is intended that health professionals will enlighten and educate mothers-in-law or families to raise understanding about exclusive breastfeeding.Keywords: Mother-in-law support, exclusive breastfeeding
ANALISIS BOUNDING ATTACHMENT SEBELUM DAN SETELAH PELAKSANAAN PIJAT BAYI Purwanti, Sugi; Fitriyani, Tanti; Yohana, Beby
Ensiklopedia of Journal Vol 6, No 2 (2024): Vol. 6 No. 2 Edisi 2 Januari 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v6i2.2145

Abstract

Baby massage is a series of massage actions performed on babies using certain techniques. Baby massage has several benefits, including: increasing the baby's body weight, increasing the baby's bond and family, increasing the baby's growth and development, increasing the baby's immune system. High bounding between parents and children stimulates optimal growth and development of children. The purpose of the study was to describe bounding attachment before baby massage. Describe bounding after baby massage. Describe the differences in bounding attachments before and after baby massage. This type of research is descriptive research with a cross sectional time approach. The population is parents who have babies under 6 months a total of 12 respondents. The study sample used a purposive sampling design. The sample size was 10 respondents. The research instrument used an infant massage checklist and a bounding questionnaire. The results of bounding research before baby massage all respondents have a sense of pride in the birth of a baby (100%), respondents take care of babies happily as much as 90%, respondents have feelings of liking for babies as much as 90%.  The result of bounding after baby massage is that all respondents have a level of attention to the baby (100%). All respondents had pride in the birth of a baby (100%). All respondents had feelings for babies (100%). All respondents had a baby's birth match with expectations (100%). The average bounding increase before and after baby massage was 2.1.Keywords : Baby Massage, Bounding Attachment
PENGARUH SOSIAL BUDAYA DENGAN PEMBERIAN NUTRISI PADA IBU MENYUSUI DI POSYANDU MELATI CILACAP Oktanasari, Wiji; Fitriyani, Tanti; Okta Ayuningtyas, Beby Yohana
Ensiklopedia of Journal Vol 7, No 2 (2025): Vol. 7 No. 2 Edisi 1 Januari 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Penerbitan Hasil Penelitian Ensiklopedia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33559/eoj.v7i2.2786

Abstract

There are still issues in society with the breastfeeding mother culture of dietary restriction. Despite its strong cultural beliefs, it is undeniable that this culture of food limitation may reduce the amount of nutrients that nursing moms need to consume. The purpose of the study is to use a type of case-control time survey approach to ascertain whether sociocultural factors have an impact on the nourishment provided to nursing mothers at Posyandu Melati Cilacap. Thirty-two breastfeeding women made up the study sample. A cross-sectional strategy is used in this quantitative study with a descriptive correlation research design. While Chi Square is used for data analysis and product moment correlation calculations are used for the validity test, Cronbach's Alpha is used for the reliability test. The findings of the chi square test, which yielded a p value (0.029) < 0.05, demonstrated that social culture had an impact on Posyandu Melati Cilacap's breastfeeding moms' access to nourishment. 2,046 breastfeeding mothers at Posyandu Melati have a strong correlation between social culture and nutrition. Based on research findings and recommendations, breastfeeding mothers are strongly encouraged to eat a healthy diet; there are no dietary restrictions because the mother's food intake has a significant impact on the production of breast milk.Keywords: Socio-Cultural, Nutrition, Breastfeeding Mothers
Pemijatan Untuk Mengurangi Nyeri Punggung Pada Ibu Hamil Fitriyani, Tanti; Purwanti, Sugi; Lestari, Tri Endah Widi
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 21 No 1 (2025): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wanita hamil sering kali mengalami masalah yang menimbulkan ketidaknyamanan selama trimester terakhir. Ketidaknyamanan punggung adalah salah satu dari beberapa penyebab hal ini. Di Indonesia, kehamilan trimester akhir menyumbang 75% kasus nyeri punggung. Ibu hamil sering mengalami sakit pinggang pada trimester ketiga. Tujuh (70%) dari 10 wanita hamil yang diwawancarai untuk studi pendahuluan melaporkan mengalami ketidaknyamanan punggung pada trimester ketiga. Pra-tes dan pasca-tes adalah metode yang digunakan. Tujuan dari asuhan kebidanan adalah dengan menggunakan pengobatan pijat punggung untuk membantu ibu hamil yang mengalami nyeri punggung agar tidak terlalu merasa tidak nyaman. Dalam hal ini, perawatan diberikan selama tiga kunjungan dan tujuh hari. Berdasarkan temuan dari kunjungan tujuh hari tersebut, ketidaknyamanan punggung ibu tidak seburuk biasanya. Selain itu, menurut (p) 0,000 < 0,05, nyeri punggung ibu hamil pada trimester ketiga berkurang secara signifikan ketika mereka melakukan pijat kehamilan. Praktisi kesehatan disarankan untuk menggunakan pijat punggung sebagai pengobatan untuk membantu wanita hamil mengurangi rasa tidak nyamannya sepanjang trimester ketiga kehamilannya.
PENGARUH PIJAT BAYI TERHADAP PENINGKATAN BOUNDING ATTACHMENT ORANG TUA DAN BAYI THE EFFECT OF BABY MASSAGE ON IMPROVEMENT BOUNDING ATTACHMENT OF PARENTS AND BABIES Purwanti, Sugi; Fitriyani, Tanti; Yohana, Beby
Jurnal Ayurveda Medistra Vol 5 No 2 (2024): Jurnal Ayurveda Medistra
Publisher : STIKes Medistra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51690/medistra-jurnal123.v5i2.109

Abstract

The relationship between parents and children begins from the beginning of the womb, at the time of infancy (early postpartum period), and from the age of toddlers to even children before adulthood. The existence of good and continuous interaction between parents and babies can increase bounding attachment. This interaction can be done through massage by parents to the baby. The objection of the study was to describe the frequency distribution of attachment bounding between parents and babies before and after the massage, knowing the effect of infant massage on the bounding attachment of parents and babies. This type of research is comparative descriptive research, a time approach using a cross-sectional approach. The variables of the study were infant massage and bounding attachment between parents and babies. The study population is all infants with a general 0–6 months total of 12 infants. The data collection method was carried out through a survey using a questionnaire. Sample determination using purposive sampling. Univariate analysis uses frequency distribution and bivariate analysis uses paired T tests. The results of the study were the frequency distribution of the bounding attachment before massage. The mean value was 47, the lowest score was 45, and the highest score was 49. The frequency distribution on the bounding attachment after massage had a mean value of 49, with the lowest score of 46 and the highest score of 52. The value of the correlation coefficient (correlation) is 0.687 with a significant value of 0.028 (sig value < 0.05), so the result of the study is that there is an influence between baby massage and the increase of bounding attachment of parents and babies
Pengaruh Pijat Bayi terhadap Kualitas Tidur Bayi Usia 3-12 Bulan Maghfiroh, Ainul; Lestari, Tri Endah Widi; Fitriyani, Tanti
Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal Vol 15 No 3 (2025): Jurnal Ilmiah Permas: Jurnal Ilmiah STIKES Kendal: Juli 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kendal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32583/pskm.v15i3.3554

Abstract

Bayi yang menderita kelainan tidur kemungkinan besar akan terus mengalami masalah ini di masa depan, terutama seiring perkembangannya. Masalah tidur bayi mungkin memengaruhi sikap dan perkembangan emosinya. Upaya yang dapat diberikan pada bayi agar tidak berdampak buruk pada perkembangan dan pertumbuhannya dengan terapi non farmakologi yaitu pijat bayi. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian eksperimental  dengan rancangan penelitian  yaitu pretest post  test one group. Instrumen yang digunakan yaitu SOP pijat bayi,  dan lembar observasi menggunakan kuesioner BISQ (Brief Infant Sleep Questionnaire) untuk mengukur kualitas tidur bayi. Uji validitas pada kuesioner BISQ telah dilakukan pada penelitian sebelumnya Sebanyak 586 anak terdaftar dalam penelitian ini dengan kesimpulan bahwa hasil spesifitas tinggi dari parameter kuesioner dengan nilai r=0,82. hasil penelitian menunjukan bahwa setelah pemberian pijat bayi seluruh bayi menunjukan perubahan kualitas tidur baik sebanyak 15 (100%). Berdasarkan temuan uji t berpasangan yang diperoleh nilai p value sebesar 0,000 dan nilai α < 0,05, maka dapat dikatakan bayi usia 3 hingga 12 bulan memiliki kualitas tidur yang lebih baik setelah mendapat pijat bayi.
APPLICATION OF CHEST AND INFRA RED PHYSIOTHERAPY ON BREATHWAY CLEANING IN TODDLER AGE 0-24 MONTHS WITH COMMON COLD Lestari, Tri Endah Widi; Fitriyani, Tanti
JOURNAL EDUCATIONAL OF NURSING(JEN) Vol 6, No 2 (2023): Journal Educational of Nursing (JEN)
Publisher : Akademi Keperawatan RSPAD Gatot Soebroto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37430/jen.v6i2.174

Abstract

Coughs and colds are upper respiratory tract infections (ARI) which often occur in children under 5 years and can occur 6-9 times a year. Symptoms of a cold cough are excessive mucus production which makes it difficult for children to breathe because toddlers cannot produce their own secretions so it can cause breathing problems andfeel restless so need to be given chest physiotherapy and infrared intervention. The aim of this research is to find outeffectivenessfrom the application of physiotherapy and infrared to clear the airway in toddlers 0-24 months with coughs and colds. This research methodusedescriptive method with a case study approach with research subjects of 5 toddler respondents aged 0-24 months with inclusion criteria. The instruments used include observation sheets and Borg score assessments. The results of this study were that it was able to overcome airway clearance in the respondent's condition after being given intervention twice a day with a duration of 50 minutes for 3 days with sputum output of (60%) and no sputum output of (40%), a decrease in frequency.Respiratory, decreased Borg score, no shortness of breath and baby sleeps more soundly.Conclusion: the application of chest physiotherapy and infrared is effective in overcoming airway clearance problems in toddlers aged 0-24 months with coughs and colds. 
GAMBARAN POLA TIDUR PADA IBU HAMIL PRIMIGRAVIDA TRIMESTER III Fitriyani, Tanti; Rudatiningtyas, Ulfa Fadilla; Lestari, Tri Endah Widi
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 20 No 1 (2024): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The sleep pattern is a habit of falling asleep until wake up who is experienced in pregnant women. During pregnancy change in sleep patterns due to feelings of anxiety, and the onset of various health problems such as back pain, frequent urination, nausea and dizziness that often occur at night are very influential on sleep patterns of pregnant women. The purpose of this study is to investigate the characteristics of pregnant women, sleep patterns based on the position, bedtime rituals, the sleep duration of sleep per day, and rest sleep disorders in third trimester primigravidae. The study design was descriptive type. The sample in this study used total population with 33 third trimester primigravida women as the respondents. Instruments used questionnaire with 16 questions. Analysis of the data used frequency and percentage distributions. From the results obtain that most of pregnant women choose aslant position to the left as many as 20 respondents 60,6%, ritual before going to sleep in most of pregnant women many as 21 respondents (63,65%) majority of respondents watching TV as many as nine respondents (27,3%), total sleep duration day during pregnancy, mostly of respondents sleep 6-8 hours as many as 24 respondents (72,7%), and most of the respondents experienced  mild rest sleep disorder that is as many as 19 respondents (57,6%). Suggestions in this study are expected that pregnant women follow counselling about sleep patterns given by health workers, while for researchers to conduct further research on other factors that could affect sleep patterns in pregnant women.
Pengaruh Pijat Oketani Terhadap Kelancaran ASI Pada Ibu Postpartum Sectio Caesarea Di RSUD Cilacap Lestari, Tri Endah Widi; Fitriyani, Tanti
Jurnal Bina Cipta Husada Vol 20 No 2 (2024): Jurnal Bina Cipta Husada
Publisher : STIKes Bina Cipta Husada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada enam bulan pertama kehidupannya, ASI merupakan makanan yang paling optimal bagi bayi. 68,65% data Kabupaten Cilacap pada tahun 2021 sesuai dengan target Indonesia yaitu 80% pemberian ASI. Salah satu masalah dalam keperawatan adalah beberapa hari pertama kehidupan ditandai dengan terbatasnya produksi ASI. Hormon prolaktin dan oksitosin, yang memiliki dampak besar pada efisiensi produksi dan pelepasan ASI, mungkin tidak cukup terstimulasi untuk memberikan efek yang diinginkan. cara memijat otot pektoralis payudara dengan teknik oketani untuk meningkatkan kelancaran produksi ASI. Penelitian seperti ini termasuk dalam satu kelompok. dua desain pra dan pasca tes untuk satu kelompok. Sepuluh orang dijadikan sampel untuk penelitian ini. Uji Wilcoxon digunakan untuk analisis data dalam penelitian ini, dan purposive sampling adalah strategi pengambilan sampelnya. Analisis Wilcoxon menunjukkan nilai sig sebesar 0,004 < a (0,05), artinya aliran ASI pada ibu postpartum caesar mengalami perubahan signifikan pada hari kedua dan ketiga setelah dilakukan pijat oketani pada salah satu payudara selama sepuluh hingga lima belas menit sekali sehari selama tiga hari.