Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

KONSEP JIHAD (Studi Komparatif Terhadap Pemikiran Sayyid Qutb Dan M. Quraish Shihab) Mudrika, Syarifah
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alquran dan Tafsir Vol 2 No 1 (2017): Volume 2 No.1, Juni 2017
Publisher : Department of Alquran Science and Interpretation of the Faculty of Ushuluddin, Adab, and Dawah of IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/tibyan.v2i1.252

Abstract

Secara nash, kata jihad itu sendiri disebutkan dalam Alquran yang tersebar di beberapa surat. Kata jihad ini dengan derivasinya terulang sebanyak empat puluh satu kali dalam berbagai bentuknya. Diskursus mengenai jihad merupakan bagian dari berbagai wacana ke-Islaman hingga saat ini, bahkan menjadi salah satu isu sensitif yang menjadi perdebatan menarik di kalangan para ulama, intelektual Islam dan juga intelektual Barat, baik dalam kaitannya dengan doktrin fikih maupun dalam konteks politik. Mereka banyak melakukan kajian dan analisa mengenai jihad ini, baik menyangkut ruang lingkupnya, pembahasan maupun pro-kontra mengenai maknanya. Salah satu contoh yaitu munculnya pemahaman yang ketat, di mana jihad dipahami sebagai suatu perang fisik melawan sesuatu yang dianggap batil dan menyimpang dari syariat Islam. Akhirnya ini kemudian dipraktikkan, umumnya terorganisir dalam suatu wadah atau organisasi tertentu. Muncullah kasus-kasus peledakan dan bom bunuh diri dengan sengaja dilakukan di tempat-tempat umum yang dianggap sebagai tempat maksiat dan tempat-tempat yang dipandang sebagai saham dan produk Barat (kafir). Di sini, jihad diartikan sebagai suatu perang suci melawan orang-orang kafir yang memang menurut mereka halal darahnya dan bahkan wajib diperangi. Artikel ini mengulas pemahaman jihad yang sesuai aturan Islam dengan mengkomparasikan dua pemahaman penafsir yang berbeda sudut pandang dan zaman. Sayyid Qutb dan Muhammad Quraish Shihab adalah dua tokoh ulama tafsir yang sangat terkenal sehingga dengan menganalisis dan mengkomparasikan dua pemahaman ahli tafsir ini dapat menjembatani pemahaman-pemahaman yang dianggap melenceng dan kembali kepada pemahaman syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.
KONSEP JIHAD (Studi Komparatif Terhadap Pemikiran Sayyid Qutb Dan M. Quraish Shihab) Mudrika, Syarifah
At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2017): Volume 2 No.1, Juni 2017
Publisher : Department of Alquran Science and Interpretation of the Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah of IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/tibyan.v2i1.252

Abstract

Secara nash, kata jihad itu sendiri disebutkan dalam Alquran yang tersebar di beberapa surat. Kata jihad ini dengan derivasinya terulang sebanyak empat puluh satu kali dalam berbagai bentuknya. Diskursus mengenai jihad merupakan bagian dari berbagai wacana ke-Islaman hingga saat ini, bahkan menjadi salah satu isu sensitif yang menjadi perdebatan menarik di kalangan para ulama, intelektual Islam dan juga intelektual Barat, baik dalam kaitannya dengan doktrin fikih maupun dalam konteks politik. Mereka banyak melakukan kajian dan analisa mengenai jihad ini, baik menyangkut ruang lingkupnya, pembahasan maupun pro-kontra mengenai maknanya. Salah satu contoh yaitu munculnya pemahaman yang ketat, di mana jihad dipahami sebagai suatu perang fisik melawan sesuatu yang dianggap batil dan menyimpang dari syariat Islam. Akhirnya ini kemudian dipraktikkan, umumnya terorganisir dalam suatu wadah atau organisasi tertentu. Muncullah kasus-kasus peledakan dan bom bunuh diri dengan sengaja dilakukan di tempat-tempat umum yang dianggap sebagai tempat maksiat dan tempat-tempat yang dipandang sebagai saham dan produk Barat (kafir). Di sini, jihad diartikan sebagai suatu perang suci melawan orang-orang kafir yang memang menurut mereka halal darahnya dan bahkan wajib diperangi. Artikel ini mengulas pemahaman jihad yang sesuai aturan Islam dengan mengkomparasikan dua pemahaman penafsir yang berbeda sudut pandang dan zaman. Sayyid Qutb dan Muhammad Quraish Shihab adalah dua tokoh ulama tafsir yang sangat terkenal sehingga dengan menganalisis dan mengkomparasikan dua pemahaman ahli tafsir ini dapat menjembatani pemahaman-pemahaman yang dianggap melenceng dan kembali kepada pemahaman syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.
WANITA ANTARA POSISI DEPAN DAN PINGGIRAN Mudrika, Syarifah; Yusri, Dian
Al-Bukh?r? : Jurnal Ilmu Hadis Vol 2 No 1 (2019): Januari- Juni 2019 M/ 1440 H
Publisher : Department of Hadis Sciences (IH), Faculty of Usuluddin, Adab, and Da'wah (FUAD), State Islamic Institute of Langsa (IAIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1044.931 KB) | DOI: 10.32505/al-bukhārī.v2i1.1131

Abstract

Kehidupan umat Islam dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan, termasuk dalam persoalan nilai yang di jadikan ukuran atau standar. Akibat dari perubahan ini, terutama era pengetahaun dan teknologi segala sesuatu selalu di nilai dengan akal. Oleh sebab itu, banyak produk hukum Islam termasuk dalam hal politik kenegaraan tidak bisa di terima begitu saja, karena tidak sesuai dengan akal, salah satu contoh kepemimpinan perempuan. Hadis yang di jadikan landasan bagi ketidak bolehan pemimpin perempuan di pandang sudah tidak relevan lagi dengan perubahan kondisi struktur sosial, ekonomi dan teknologi. Menurut Jumhur Ulama', salah satu syarat yang harus di penuhi bagi seorang Khalifah (kepala negara) adalah laki-laki. Hal tersebut di dasarkan pada respon Nabi SAW mendengar berita bahwa masyarakat Persia telah memilih putri Kisra sebagai pemimpin, kemudian Nabi bersabda (tidak akan beruntung suatu kaum manakal menyerahkan urusannya kepada seorang wanita). Hadis tersebut dipahami sebagai isyarat bahwa perempuan tidak boleh dijadikan pemimpin dalam urusan pemerintahan
PASANG SURUT INKAR SUNNAH: Mudrika, Syarifah; Nur, Imamul Authon
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 3 No 1 (2020): Januari - Juni 2020 M / 1441 H
Publisher : Department of Hadis Sciences (IH), Faculty of Usuluddin, Adab, and Da'wah (FUAD), State Islamic Institute of Langsa (IAIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v3i1.1474

Abstract

Although the function of Sunnah is as a second source of Islamic teachings.  however, it has been continously debated and even rejected by certain group of people known as inkarusunnah group. The ideology developed in the late of the second century Hijriyah yet it muffled by Imam Shafie until the greatly long period. Unfortunately,  during  the shift of 19th to 20th centuries, this idea has reemerged and grown up to the present. This article analyzes the development of the ideology using the content analysis method from the various literatures related to the history of InkarSunnah Ideology and movement. This research found the modern InkarSunnah concept is a continuity of the previous movement. According to this group, the rejection of Sunnah due to the fact that Qur?an has cover all matters. In fact, this group lack of understanding on it's real position and function as the second source of Islamic teaching. Whereas, later, they deny it's validity, though it was narrated by a truthful narrators including the companions.
PASANG SURUT INKAR SUNNAH: Mudrika, Syarifah; Nur, Imamul Authon
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 3 No 1 (2020): Januari - Juni 2020 M / 1441 H
Publisher : Department of Hadis Sciences (IH), Faculty of Usuluddin, Adab, and Da'wah (FUAD), State Islamic Institute of Langsa (IAIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v3i1.1474

Abstract

Although the function of Sunnah is as a second source of Islamic teachings.  however, it has been continously debated and even rejected by certain group of people known as inkarusunnah group. The ideology developed in the late of the second century Hijriyah yet it muffled by Imam Shafie until the greatly long period. Unfortunately,  during  the shift of 19th to 20th centuries, this idea has reemerged and grown up to the present. This article analyzes the development of the ideology using the content analysis method from the various literatures related to the history of InkarSunnah Ideology and movement. This research found the modern InkarSunnah concept is a continuity of the previous movement. According to this group, the rejection of Sunnah due to the fact that Qur?an has cover all matters. In fact, this group lack of understanding on it's real position and function as the second source of Islamic teaching. Whereas, later, they deny it's validity, though it was narrated by a truthful narrators including the companions.
RELIGIOSITY IN ACEH: THE DIVERSITY MEANING OF PARTICIPATION IN SALAT Al-JAMA'AH (CONGREGATIONAL PRAYER) FOR INSTITUTIONAL MUSLIM EMPLOYEES GOVERNMENT OF ACEH TAMIANG: RELIGIOSITY IN ACEH: THE DIVERSITY MEANING OF PARTICIPATION IN SALAT Al-JAMA'AH (CONGREGATIONAL PRAYER) FOR INSTITUTIONAL MUSLIM EMPLOYEES GOVERNMENT OF ACEH TAMIANG Nina Afrida; Syarifah Mudrika Mudrika; Nina Rahayu
al-Afkar, Journal For Islamic Studies Vol. 4, No.2, July 2021
Publisher : Fakultas Agama Islam Universitas Wiralodra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.168 KB) | DOI: 10.31943/afkarjournal.v4i2.183

Abstract

Congregational prayer for Acehnese government employees has been regulated in qanun number 11 of 2002. In its implementation, this qanun receives a positive response in Aceh Tamiang regency, so that many employees implemented it. According to dramaturgy theory, this implementation could have various meanings. The objective of this study is to find out how Aceh Tamiang Muslim employees interpret their participation, either pray in a congregation at the office or individual prayer (munfarid). This study uses a qualitative approach with ethnographic type. The results of this study indicate that muslim employees have different interpretations of their participation in congregational prayers. Some of them feel calmer besides getting multiple rewards of praying in the congregation. Congregational prayer is also a gathering moment in which they can interact socially with fellow congregations so that associative meanings can appear which the results are cooperation, assimilation, and negotiation. However, some choose to perform individual prayer (munfarid) for certain reasons.
KONSEP JIHAD (Studi Komparatif Terhadap Pemikiran Sayyid Qutb Dan M. Quraish Shihab) Syarifah Mudrika
Jurnal At-Tibyan: Jurnal Ilmu Alqur'an dan Tafsir Vol 2 No 1 (2017): Volume 2 No.1, Juni 2017
Publisher : The Department of the Qur'anic Studies, Faculty of Ushuluddin, Adab, and Da'wah, State Institute of Islamic Studies (IAIN) Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/at-tibyan.v2i1.252

Abstract

Secara nash, kata jihad itu sendiri disebutkan dalam Alquran yang tersebar di beberapa surat. Kata jihad ini dengan derivasinya terulang sebanyak empat puluh satu kali dalam berbagai bentuknya. Diskursus mengenai jihad merupakan bagian dari berbagai wacana ke-Islaman hingga saat ini, bahkan menjadi salah satu isu sensitif yang menjadi perdebatan menarik di kalangan para ulama, intelektual Islam dan juga intelektual Barat, baik dalam kaitannya dengan doktrin fikih maupun dalam konteks politik. Mereka banyak melakukan kajian dan analisa mengenai jihad ini, baik menyangkut ruang lingkupnya, pembahasan maupun pro-kontra mengenai maknanya. Salah satu contoh yaitu munculnya pemahaman yang ketat, di mana jihad dipahami sebagai suatu perang fisik melawan sesuatu yang dianggap batil dan menyimpang dari syariat Islam. Akhirnya ini kemudian dipraktikkan, umumnya terorganisir dalam suatu wadah atau organisasi tertentu. Muncullah kasus-kasus peledakan dan bom bunuh diri dengan sengaja dilakukan di tempat-tempat umum yang dianggap sebagai tempat maksiat dan tempat-tempat yang dipandang sebagai saham dan produk Barat (kafir). Di sini, jihad diartikan sebagai suatu perang suci melawan orang-orang kafir yang memang menurut mereka halal darahnya dan bahkan wajib diperangi. Artikel ini mengulas pemahaman jihad yang sesuai aturan Islam dengan mengkomparasikan dua pemahaman penafsir yang berbeda sudut pandang dan zaman. Sayyid Qutb dan Muhammad Quraish Shihab adalah dua tokoh ulama tafsir yang sangat terkenal sehingga dengan menganalisis dan mengkomparasikan dua pemahaman ahli tafsir ini dapat menjembatani pemahaman-pemahaman yang dianggap melenceng dan kembali kepada pemahaman syariat Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw.
WANITA ANTARA POSISI DEPAN DAN PINGGIRAN Syarifah Mudrika; Dian Yusri
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 2 No 1 (2019): Januari - Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v2i1.1131

Abstract

Kehidupan umat Islam dari waktu ke waktu selalu mengalami perubahan, termasuk dalam persoalan nilai yang di jadikan ukuran atau standar. Akibat dari perubahan ini, terutama era pengetahaun dan teknologi segala sesuatu selalu di nilai dengan akal. Oleh sebab itu, banyak produk hukum Islam termasuk dalam hal politik kenegaraan tidak bisa di terima begitu saja, karena tidak sesuai dengan akal, salah satu contoh kepemimpinan perempuan. Hadis yang di jadikan landasan bagi ketidak bolehan pemimpin perempuan di pandang sudah tidak relevan lagi dengan perubahan kondisi struktur sosial, ekonomi dan teknologi. Menurut Jumhur Ulama', salah satu syarat yang harus di penuhi bagi seorang Khalifah (kepala negara) adalah laki-laki. Hal tersebut di dasarkan pada respon Nabi SAW mendengar berita bahwa masyarakat Persia telah memilih putri Kisra sebagai pemimpin, kemudian Nabi bersabda (tidak akan beruntung suatu kaum manakal menyerahkan urusannya kepada seorang wanita). Hadis tersebut dipahami sebagai isyarat bahwa perempuan tidak boleh dijadikan pemimpin dalam urusan pemerintahan
Pasang Surut Inkar Sunnah: Studi Analisis Pada Masa Klasik dan Modern Syarifah Mudrika; Imamul Authon Nur
Al-Bukhari : Jurnal Ilmu Hadis Vol 3 No 1 (2020): Januari - Juni
Publisher : Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/al-bukhari.v3i1.1474

Abstract

Although the function of Sunnah is as a second source of Islamic teachings. however, it has been continously debated and even rejected by certain group of people known as inkarusunnah group. The ideology developed in the late of the second century Hijriyah yet it muffled by Imam Shafie until the greatly long period. Unfortunately, during the shift of 19th to 20th centuries, this idea has reemerged and grown up to the present. This article analyzes the development of the ideology using the content analysis method from the various literatures related to the history of InkarSunnah Ideology and movement. This research found the modern InkarSunnah concept is a continuity of the previous movement. According to this group, the rejection of Sunnah due to the fact that Qur’an has cover all matters. In fact, this group lack of understanding on it's real position and function as the second source of Islamic teaching. Whereas, later, they deny it's validity, though it was narrated by a truthful narrators including the companions.
Implementasi Jarimah Zina Di Aceh Dalam Perspektif Hadis Syarifah Mudrika
Legalite : Jurnal Perundang Undangan dan Hukum Pidana Islam Vol 8 No 1 (2023): Legalite: Jurnal Perundang Undangan dan Hukum Pidana Islam
Publisher : IAIN Langsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32505/legalite.v8i1.5918

Abstract

As a region that strives for the formal and material form of Islamic law, it is only natural that Aceh formulates a special regulation to replace the law called Qanun Aceh. The Aceh Qanun that specifically discusses the implementation of zina is Aceh Qanun No.6 of 2014 concerning Jinayat Law. Supposedly, as the Islamic Sharia area of Qanun Aceh related to zina in accordance with the hadiths of shoheh, in fact there are still hadith instructions that are not contained in the Aceh Qanun even though it is important to implement. This article is classified as literature research with a qualitative approach. The methodology used is a descriptive analysis study. The results of the study concluded that the implementation of jarimahh zina in Aceh that has not been in accordance with the hadith orders is stoning sanctions for muhsan adulterers, and exile sanctions for ghairu muhsan adulterers.