Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

KARAKTERISTIK PERIKANAN JARING ARAD DAN SEBARAN PANJANG UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis) DI PERAIRAN MEULABOH Yusuf, Helman Nur; Baihaqi, Baihaqi; Hufiadi, Hufiadi; Sayuti, Kamil; Tirtadanu, Tirtadanu; Nurulludin, Nurulludin; Mahiswara, Mahiswara; Utama, Andria Ansri; Sepri, Sepri; Pane, Andina Ramadani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.3.2023.120-131

Abstract

Umumnya, para nelayan di wilayah Meulaboh dan juga sepanjang pantai di Aceh Barat memanfaatkan jaring arad atau mini trawl sebagai alat untuk dapat menangkap hasil laut seperti udang dan ikan demersal. Selama periode antara bulan Maret hingga Desember 2019, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk dapat memahami aspek perikanan yang terkait dengan penggunaan jaring arad di wilayah perairan Meulaboh, serta untuk meneliti udang dogol (Metapenaeus ensis) yang merupakan tangkapan hasil laut mayoritas pada saat menggunakan jaring arad. Penggunaan jaring arad saat beroperasi dilakukan pada kedalaman perairan antara 5 hingga 35 meter. Penangkapan dilaksanakan sebanyak 6-10 kali dalam satu perjalanan, dengan durasi trip kurang lebih yaitu selama 1-2 hari. Hasil operasi penangkapan yang dilakukan mencakup 26 jenis, termasuk 8 jenis udang, 4 jenis krustasea, 2 jenis cumi-cumi, dan 12 jenis ikan. Komposisi jenis didominasi udang cakrek (Harpisquilla harpax) 11,5%, petek (Equulites leuciscus) sebesar 9,7%, buntal (Thorguigner tubercullife) 8,2%, kepiting kecil (Charybdis affinis) 6,9%, udang dogol (Metapenaeus ensis) 6,8% ikan lidah (Cynoglossus sp) 6,1%, udang kelong (Fenneropenaeus indicus)6,0%, baronang (Siganus sp.) 5,1% bilis (Herklotsichthys dispilonotus) 4,8%, tetengkek (Megalopsis cordilla) 4,0% dan lainnya dibawah 4%. Nilai kelimpahan udang paling banyak pada Agustus sebesar 36,66 kg/trip dan paling sedikit terdapat pada bulan April sebanyak 29,13 kg/trip. Sedangkan kelimpahan udang jenis dogol paling banyak terdpat pada bulan Juni yaitu sebesar 4,38 kg/trip dan terendah pada Desember. 1,88 kg/trip. Lokasi penangkapan jaring arad terdapat di perairan Meulaboh, dengan dugaan bahwa puncak musim penangkapan terjadi pada bulan Maret hingga Oktober. Panjang udang jingga yang berhasil ditangkap menggunakan jaring arad bervariasi antara 14,0 hingga 31,9 mmCL, dengan panjang pertama kali tertangkap (Lc) mencapai 21,81 mm, dan panjang pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 23,04 mm.
FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KESIAPAN PESERTA LELANG MENGGUNAKAN APLIKASI PELELANGAN IKAN: STUDI SEM (STRUCTURAL EQUATION MODELING) FACTORS INFLUENCING AUCTION PARTICIPANTS' READINESS TO USE FISH AUCTION APPLICATIONS: SEM STUDY Permana, Sofiyan Muji; Yusuf, Helman Nur; Susiloningtyas, Dewi; Sukoraharjo, Sri Suryo; Baihaqi, Baihaqi
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 30, No 4 (2024): (Desember 2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Karawang, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jppi.30.4.2024.190-200

Abstract

Aplikasi pelelangan ikan terintegrasi merupakan salah satu model dan inovasi penting bagi  pelabuhan perikanan dalam menghadapi perkembangan teknologi yang pesat di sektor pelelangan ikan. Dalam konteks ini, kemampuan literasi digital peserta lelang perlu dilatih untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabel-variabel yang memiliki hubungan signifikan antara kesiapan peserta lelang terhadap variabel internal dari peserta lelang dengan menggunakan metode Partial Least Square Structural Equation Model (PLS-SEM). Penelitian dilakukan di Pelabuhan Muara Angke dengan jumlah sampel penelitian sebanyak 30 responden. Variabel internal terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan modalitas.  Analisis data penelitian ini menggunakan analisis deskriptif dan inferensial. Analisis deskriptif menggunakan alat pengolahan data yaitu SPSS, sedangkan analisis inferensial menggunakan software Smart PLS. Hasil studi menemukan bahwa terdapat pengaruh positif antara variabel pengetahuan terhadap kesiapan peserta lelang. Hal ini dibuktikan dengan nilai statistik dibawah 1,96 dan nilai p dibawah 0,5, yang menguatkan hipotesis tersebut. Selain itu Modalitas terbukti memiliki efek positif dan berpengaruh secara signifikan terhadap keterampilan. Namun variabel lain seperti Modalitas tidak mempengaruhi faktor kesiapan peserta lelang secara signifikan.The integrated fish auction application is an important model and innovation for fishing ports in light of rapid technological developments in the fish auction sector. In this context, the digital literacy skills of auction participants need to be trained to adapt to information technology advancements. This study aimed to determine the variables that have a significant relationship between the readiness of auction participants and the internal variables of auction participants using  the Partial Least Square Structural Equation Model (PLS-SEM) method. The research was conducted at Muara Angke Port with a total of 30 respondents. Internal variables include knowledge, skills, and modalities.  The data analysis of this study involves descriptive and inferential analysis. Descriptive analysis utilizes SPSS for data processing, while inferential analysis uses Smart PLS software. The results of the study indicate a positive influence of  knowledge variables on the readiness of auction participants supported by statistical value below 1.96 and a p value below 0.5, reinforcing the hypothesis. Additionally,, Modalities have a positive and have significant effect on skills. However, other variables such as Modality do not significantly affect the readiness factor of auction participants.
PERIKANAN PELAGIS BESAR DENGAN JARING INSANG DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN UTARA FISHERIES OF LARGE PELAGIC BY GILLNET IN THE WATERS OF TARAKAN NORTH KALIMANTAN Yusuf, Helman Nur; Natsir, Moh; Permana, Sofyan Muji; Baihaqi, Baihaqi; Noegroho, Tegoeh; Sepri, Sepri; Mahiswara, Mahiswara
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.01 - 14

Abstract

Sumberdaya ikan pelagis besar yang tertangkap dengan jaring insang di perairan Tarakan Kalimantan Utara berkontribusi terhadap produksi perikanan sebesar 16,03%. Penelitian ini dilakukan bulan Januari hingga Novemver 2021, bertujuan mengetahui jenis ikan pelagis besar yang tertangkap, serta distribusi panjang cagak tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal terbuat dari kayu bertonase 3 - 5 GT dengan mesin motor 14 PK, jaring dioperasikan pada kedalaman 6 -15 m baik didasar dan pertengahan perairan. Tawur jaring sebanyak 10 -15 pertrip selama 3 - 5 hari. Hasil tangkapan diperoleh sebanyak 27 jenis, yaitu 21 kelompok demersal, 3 jenis pelagis besar, 2 pelagis kecil dan 1 ikan karang. Komposisi jenis didominasi ikan kakap putih (Lates calcarifer) 30,4%, merah (Lutjanus johni) 21,9%, kurau (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, kerong kerong (Pomadasys kaakan) 5,5%, tenggiri papan (Scomberomorus guttatus) 4,4%, bambangan (Lutjanus malabaricus) 4,0%, kerapu (Epinephelus magniscuttis) 3,2%, sebelah (Psettodes erumei) 2,7%, tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 2,2%, merah taring (Lutjanus lemniscatus) 2,0%, bawal putih (Pampus argenteus) 1,1%, kakap hitam (Macolor niger) 1,0% dan lainnya kurang dari 1%. Hasil tangkapan tertinggi pada Januari sebesar 7.336,8 kg dan terendah Oktober sebesar 2.699,2 kg dengan rata-rata sebesar 4.544,0 kg perbulan. Upaya penangkapan tertinggi pada Januari sebanyak 474 trip dan terendah Oktober sebanyak 148 trip. Kelimpahan tertingi pada Agustus sebesar 24,5 kg/trip dan terendah September sebesar 14,6 kg/trip. Daerah penangkapan terdistribusi pada 03°61’254’’LU - 117°70’254’’BT hingga 03°16’293’’LU -117°99’113’’BT dan Panjang pertama kali tertangkap (Lc) tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) 38,65 FLcm dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 43,48 FL cm. The large pelagic fish resources caught with gillnets in the waters of Tarakan, North Kalimantan, contribute 16.03% to fisheries production. This study was conducted from January to November 2021, aiming to identify the species of large pelagic fish caught, as well as the fork length distribution of Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) and Korean mackerel (Scomberomorus koreanus). The results showed that the fishing vessels were made of wood with a tonnage of 3 - 5 GT, powered by 14 HP engines. The gillnets were operated at depths of 6 - 15 meters, both at the bottom and mid-water levels. Each trip involved setting the nets 10 - 15 times over a duration of 3 - 5 days. A total of 27 species were caught, comprising 21 demersal species, 3 large pelagic species, 2 small pelagic species, and 1 reef fish species. The species composition was dominated by: Barramundi (Lates calcarifer) at 30,4%, Golden snapper (Lutjanus johnii) 21,9%, Fourfinger threadfin (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, Javelin grunter (Pomadasys kaakan) 5.5%, Indo–pacific king mackerel (Scomberomorus guttatus) 4,4%, Malabar snapper (Lutjanus malabaricus) 4.0%, Spotted grouper (Epinephelus magniscuttis) 3.2%, Indian halibut (Psettodes erumei) 2.7%, Spanish mackere (Scomberomorus koreanus) 2,2%, Darktail snapper (Lutjanus lemniscatus) 2.0%, Silver pomfret (Pampus argenteus) 1.1%, Black and white snapper (Macolor niger) 1.01% Other species made up less than 1%. The highest catch was recorded in January at 7,336.8 kg, while the lowest was in October 2,699.2 kg, with an average monthly catch of 4,544.0 kg. The highest fishing effort occurred in January with 474 trips, while the lowest was in October with 148 trips. The highest abundance was observed in August at 24.5 kg/trip, and the lowest in September 14.6 kg/trip. The fishing area was distributed between the coordinates 03°61’254’’N - 117°70’254’’E and 03°16’293’’N - 117°99’113’’E. The length at first capture (Lc) for Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) was 38.65 cm FL, and for Korean mackerel (Scomberomorus koreanus) was 43.48 cm FL. 
KOMPOSISI JENIS DAN INDEK KEANEKARAGAMAN HAYATI IKAN DEMERSAL DI LAUT NATUNA SELATAN Nurulludin, Nurulludin; Priatna, Asep; Yusuf, Helman Nur; Ernawati, Tri
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 14, No 1 (2022): (APRIL) 2022
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.14.1.2022.39-45

Abstract

Informasi keanekaragaman hayati ikan memiliki peranan penting dalam manjaga ekosistem perairan. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menginvetaris jenis-jenis ikan demersal dan pembaruan nilai Indek keragaman hayati spesies ikan demersal. Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan suatu informasi dalam pengelolaan sumber daya ikan di Laut Natuna Selatan. Penelitian ini lakukan pada bulan November 2017 menggunakan KR. Baruna Jaya IV (1200 GT). Pengambilan data menggunakan metode sapuan dengan alat tangkap pukat ikan. Nilai Indek keanekaragaman (‘H) antara 1,54 – 3,45 dengan tertinggi pada wilayah bagian tengah, sedangkan terendah pada wilayah bagian timur. Indek kekayaan jenis (‘R) diperoleh antara 8,15 – 19,67 dengan tertinggi di wilayah perairan bagian tengah sebesar 19,67 dan terendah pada bagian barat Laut Natuna Selatan 8,15. Indek dominansi (‘C) tertinggi berada pada perairan bagian timur dengan7,08 dan terendah pada perairan bagian tengah dengan 0,06. Indek kemerataan (‘E) tertinggi pada wilayah perairan bagian tengah dengan 0,36 dan terendah pada wilayah perairan bagian timur sebesar 0,15Information on the biodiversity of the fish plays an essential role when it comes to support and manage ecosystem health. This research aims to list the demersal species and update its biodiversity index, as well as its distribution. The results could provide the baseline information on the richness and evenness of the demersal species in South Natuna waters for the management purposes. The swept area method was used by using the trawler net of R.V. Baruna Jaya IV when conducting the swept area surveys in November 2017. The diversity index value ('H) is between 1.54 - 3.45 with the highest in the central region, while the lowest in the eastern region. The species richness index ('R) was obtained between 8.15-19.67 with the highest in the central waters area of 19.67 and the lowest in the western part of the South Natuna Sea 8.15. The highest dominance index ('C) is in the eastern waters with 7.08 and the lowest is in the middle waters with 0.06. The highest evenness index ('E) is in the central waters with 0.36 and the lowest is in the eastern waters at 0.15
PERIKANAN JARING ARAD DAN SEBARAN PANJANG UDANG KELONG (Fenneropenaeus indicus H. Milne Edward, 1837) HASIL TANGKAPAN JARING ARAD DI PERAIRAN MEULABOH Hasanah, Ap'idatul; Yusuf, Helman Nur; Hufiadi, Hufiadi; Suman, Ali
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 12, No 2 (2020): (AGUSTUS) 2020
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.12.2.2020.69-80

Abstract

Nelayan di Meulaboh dan pesisir Pantai Aceh Barat umumnya mengunakan jaring arad (mini trawl) untuk menangkap udang dan ikan demersal. Penelitian dilakukan dari bulan April sampai dengan November 2018 yang bertujuan untuk mengetahui aspek perikanan jaring arad di perairan Meulaboh dan sebaran panjang udang kelong hasil tangkapan jaring arad. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal jaring arad yang berbasis di Meulaboh terbuat dari kayu dan memiliki tonase 1-5 GT dengan mesin motor tempel. Jaring arad dioperasikan pada kedalaman perairan 5-40 m. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 6-10 dalam satu kali trip selama 1-2 hari. Hasil tangkapan yang diperoleh sebanyak 25 jenis, terdiri dari 3 jenis udang, 2 jenis krustasea dan 20 jenis ikan yang didominasi oleh udang kelong sebesar 13%, diikuti oleh udang dogol, rajungan, kepiting dan pepetek masing-masing 9%. Nilai kelimpahan tertinggi pada Desember sebesar 17.214 kg dan terendah pada Juli sebesar 2.824,9 kg dengan nilai rata-rata sebesar 6.089,8 kg per bulan. Upaya penangkapan tertinggi pada September sebanyak 440 trip dan terendah pada April sebanyak 150 trip. Nilai CPUE tertinggi sebesar 37,3 kg/trip terjadi pada Desember, sedangkan terendah sebesar 14,95 kg/trip pada November. Kelimpahan udang kelong tertinggi sebesar 4,84 kg/trip pada Desember, sedangkan terendah 3,02 kg/trip pada September. Daerah penangkapan jaring arad terletak di perairan Meulaboh dan diduga puncak musim penangkapan terjadi pada April dan Oktober. Sebaran panjang udang kelong yang tertangkap jaring arad berkisar 20-60 mmCL dengan panjang pertama kali tertangkap (Lc) 35,12 mm dan panjang pertama kali matang gonad (Lm) 33,90 mm.Fishermen in Meulaboh and Coast of West Aceh generally use mini trawl to catch shrimp and demersal fish. Research conducted from April to November 2018 which aims to determine the aspect of mini trawl in Meulaboh waters and length distribution of kelong shrimp caught by mini trawl. The results showed that the mini trawl based in Meulaboh were made of wood and had a tonnage of 1-5 GT with an outboard motor. Mini trwals are operated at 5 - 40 m. The fishing operation is carried out 6-10 times in one trip for 1-2 days. The catch obtained 25 species consist of 3 species of shrimps, 2 species of crustaceans and 20 species of fish which were dominated by kelong shrimps 13%, followed by dogol shrimps, swimming crabs, crabs, and splendid ponyfishes each 9%. The highest abundance value was 17,214 kg in Descember and the lowest was 2,824.9 kg in July with an average value of 6,089.8 kg per month. The highest fishing effort was in September with 440 trips and the lowest in April with 150 trips. The highest CPUE value was 37.3 kg/trip in December, while the lowest was 14.95 kg/trip in November. The highest abundance of kelong shrimps was 4.84 kg/trip in December, while the lowest was 3.02 kg/trip in September. Fishing ground of mini trawl in Meulaboh waters with peak season for fishing operation in April and October. The length distribution of kelong shrimp caught by mini trawl ranged from 20 to 60 cmCL with the length at first capture (Lc) was 35.12 mmCL and lengt at first maturity (Lm) was 33.90 mmCL.