Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Persepsi Nelayan Mengenai Penangkapan Ikan dengan Dampak Rendah dan Hemat Bahan Bakar di PPN Brondong Lamongan Jawa Timur: Fisherman's Perception Regarding Life (Low Impact and Fuel Efficient) Fishing in Brondong Fishing Port Lamongan East Java Lelono, Tri Djoko; Fuad, Fuad; Gatut Bintoro; Destiana Hermanita; Mihrobi Khalwatu Rihmi; Anung Widodo; Mahiswara, Mahiswara
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 8 No. 1 (2024): JFMR on March
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2024.008.01.3

Abstract

Pengelolaan perikanan merupakan komponen penting dari pengelolaan sumber daya perairan (stok spesies, dan lingkungannya). Sumber daya perikanan memiliki definisi yang komprehensif dan, secara umum, merujuk pada semua hewan yang sebagian besar menghuni habitat perairan dan ditangkap oleh manusia. Berkurangnya  stok disebabkan tingginya produktifitas penangkapan, yang dipenggaruhi penggunaan armada alat tangkap. Armada alat tangkap harus dapat memperhitungkan setidaknya tiga dampak utama, yaitu: (1) dampak lingkungan, (2) dampak terhadap kelimpahan sumber daya dan (3) dampak pada target stok sumberdaya ikan. Penelitian ini dilakukan bulan Maret – Juni 2023 di Pelabuhan Brondrong. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif dengan cara wawancara, observasi, dokumentasi Tujuan Penelitian ini mengetahu informasi nelayan sebagai pengguna langsung terhadap  keberadaan sumberadaya  ikan tentang  Penangkapan ikan dengan dampak rendah dan hemat bahan bakar (LIFE (Low impact and Fuel Efficient) FISHING. Berdasarkan  hasil penelitian Low Impact (Dampak Rendah), alat tangkap yang memiliki kontribusi paling besar terhadap lingkungan perairan yaitu cantrang dengan nilai 34%, alat tangkap payang sebesar 41%, pancing ulur 65%, dan rawai sebesar 64%. Jadi, alat tangkap yang memiliki kontribusi paling rendah adalah rawai dan pancing ulur, kemudian payang dan cantrang. Berdasarkan fuel efficient (efisiensi bahan bakar), alat tangkap yang memiliki tingkat efesiensi bahan bakar paling baik yaitu alat tangkap rawai dan pancing ulur dengan nilai 67%, kemudian payang dengan nilai 59%, dan cantrang dengan nilai 42%. Hal tersebut dikarenakan pengaruh ukuran kapal, jarak trip, dan lama trip kapal rawai dan pancing ulur dan rawai lebih sedikit dari alat tangkap payang dan cantrang  . Hasil penelitian ini merekomidasi penggunaan alat tangkap rawai dan pancing dikarenakan ramah lingkungan dan efeisiensi bahan bahar.Fisheries management is essential to aquatic resource management (species stocks and their environment). Fisheries resources have a comprehensive definition and generally refer to all animals that predominantly inhabit aquatic habitats and are caught by humans. Stock depletion is caused by high fishing productivity, which is influenced by the use of fishing gear fleets. Fishing gear fleets must be able to take into account at least three main impacts, namely: (1) environmental impacts, (2) impacts on resource abundance, and (3) impacts on target stocks of fish resources. This research was conducted from March to June 2023 at Brondrong Harbor. The research methodology employed in this study is descriptive, utilizing interviews, observations, and documentation. The purpose of this study is to determine the information of fishermen as direct users of the existence of fish resources about Fishing with low impact and fuel-efficient LIFE (Low impact and Fuel Efficient) FISHING. Based on the Low Impact study results, the fishing gear with the most significant contribution to the aquatic environment is cantrang with a value of 34%, payang gear with 41%, handline with 65%, and longline with 64%. So, the fishing gear with the lowest contribution is longline and handline, then payang and cantrang. Based on fuel efficiency, the fishing gear with the best fuel efficiency is longline and hand line fishing gear with a value of 67%, then payang with a value of 59%, and cantrang with a value of 42%. This refers to the influence of vessel size, trip distance, and trip length of longline and handline and longline vessels which are less than payang and cantrang fishing gear. The study suggests using longline and fishing gear due to their environmental friendliness and material efficiency.
KARAKTERISTIK PERIKANAN JARING ARAD DAN SEBARAN PANJANG UDANG DOGOL (Metapenaeus ensis) DI PERAIRAN MEULABOH Yusuf, Helman Nur; Baihaqi, Baihaqi; Hufiadi, Hufiadi; Sayuti, Kamil; Tirtadanu, Tirtadanu; Nurulludin, Nurulludin; Mahiswara, Mahiswara; Utama, Andria Ansri; Sepri, Sepri; Pane, Andina Ramadani
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 15, No 3 (2023): (DESEMBER) 2023
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.15.3.2023.120-131

Abstract

Umumnya, para nelayan di wilayah Meulaboh dan juga sepanjang pantai di Aceh Barat memanfaatkan jaring arad atau mini trawl sebagai alat untuk dapat menangkap hasil laut seperti udang dan ikan demersal. Selama periode antara bulan Maret hingga Desember 2019, penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan untuk dapat memahami aspek perikanan yang terkait dengan penggunaan jaring arad di wilayah perairan Meulaboh, serta untuk meneliti udang dogol (Metapenaeus ensis) yang merupakan tangkapan hasil laut mayoritas pada saat menggunakan jaring arad. Penggunaan jaring arad saat beroperasi dilakukan pada kedalaman perairan antara 5 hingga 35 meter. Penangkapan dilaksanakan sebanyak 6-10 kali dalam satu perjalanan, dengan durasi trip kurang lebih yaitu selama 1-2 hari. Hasil operasi penangkapan yang dilakukan mencakup 26 jenis, termasuk 8 jenis udang, 4 jenis krustasea, 2 jenis cumi-cumi, dan 12 jenis ikan. Komposisi jenis didominasi udang cakrek (Harpisquilla harpax) 11,5%, petek (Equulites leuciscus) sebesar 9,7%, buntal (Thorguigner tubercullife) 8,2%, kepiting kecil (Charybdis affinis) 6,9%, udang dogol (Metapenaeus ensis) 6,8% ikan lidah (Cynoglossus sp) 6,1%, udang kelong (Fenneropenaeus indicus)6,0%, baronang (Siganus sp.) 5,1% bilis (Herklotsichthys dispilonotus) 4,8%, tetengkek (Megalopsis cordilla) 4,0% dan lainnya dibawah 4%. Nilai kelimpahan udang paling banyak pada Agustus sebesar 36,66 kg/trip dan paling sedikit terdapat pada bulan April sebanyak 29,13 kg/trip. Sedangkan kelimpahan udang jenis dogol paling banyak terdpat pada bulan Juni yaitu sebesar 4,38 kg/trip dan terendah pada Desember. 1,88 kg/trip. Lokasi penangkapan jaring arad terdapat di perairan Meulaboh, dengan dugaan bahwa puncak musim penangkapan terjadi pada bulan Maret hingga Oktober. Panjang udang jingga yang berhasil ditangkap menggunakan jaring arad bervariasi antara 14,0 hingga 31,9 mmCL, dengan panjang pertama kali tertangkap (Lc) mencapai 21,81 mm, dan panjang pertama kali matang gonad (Lm) sebesar 23,04 mm.
Identifikasi Spesies dan Estimasi Nilai Produksi Ikan Kerapu (Epinephelus spp.) di Pelabuhan Tangkahan Kandangsemangkon: Analisis Data Perikanan yang Tidak Tercatat: Identification of Species and Estimation of Production Value of Grouper Fish (Epinephelus spp.) at Tangkahan Kandangsemangkon Port: Analysis of Unreported Fisheries Data Lelono, Tri Djoko; Bintoro, Gatut; Tumulyadi, Agus; Fuad, Fuad; Yulianto, Eko Sulkhani; Sutjipto, Darmawan Okto; Waliyuddin, Achmad; Hidayah, Lisa Nur; Widodo, Anung; Mahiswara, Mahiswara
JFMR (Journal of Fisheries and Marine Research) Vol. 9 No. 2 (2025): JFMR on July
Publisher : Faculty of Fisheries and Marine Science, Brawijaya University, Malang, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jfmr.2025.009.02.1

Abstract

Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi spesies kerapu (Epinephelus spp.) serta mengestimasi volume produksi hasil tangkapan kerapu yang tidak tercatat di Tangkahan Kandangsemangkon, Lamongan. Data primer diperoleh melalui identifikasi spesies hasil tangkapan, dan pencatatan volume produksi di Tangkahan Kandangsemangkon. Data sekunder berupa data produksi resmi di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Brondong. Analisis data menggunakan identifikasi visual spesies, kategorisasi spesies pendukung perikanan kerapu berdasarkan Unit of Assessment (UoA). Hasil penelitian menunjukkan terdapat tiga spesies target utama, yaitu Epinephelus fuscoguttatus, Plectropomus maculatus, dan Epinephelus areolatus. Volume produksi yang tidak tercatat selama periode penelitian mencapai 12,33% dari total produksi kerapu di wilayah tersebut. Spesies pendukung yang teridentifikasi terdiri dari enam spesies primer utama, empat spesies primer minor, satu spesies sekunder utama, dan lima spesies sekunder minor. Hasil ini menunjukkan bahwa keterlibatan aktif nelayan dalam   pengumpulan data spasial serta pencatatan produksi secara partisipatif berperan penting dalam memperbaiki akurasi data perikanan untuk mendukung pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan.   This research aims to identify grouper species (Epinephelus spp.) and estimate the volume of unrecorded grouper catch production at Tangkahan Kandangsemangkon, Lamongan. Primary data were obtained through the identification of landed species and the recording of production volume at Tangkahan Kandangsemangkon. Secondary data consisted of official production data from the Brondong Fishing Port. Data analysis involved visual species identification and categorization of supporting species for the grouper fishery based on the Unit of Assessment (UoA). The research results indicate the presence of three main target species: Epinephelus fuscoguttatus, Plectropomus maculatus, and Epinephelus areolatus. The unrecorded production volume during the research period reached 12.33% of the total grouper production in the area. The supporting species identified consisted of six major primary species, four minor primary species, one major secondary species, and five minor secondary species. These findings suggest that the active involvement of fishermen in spatial data collection and participatory production recording plays a crucial role in improving the accuracy of fisheries data to support sustainable resource management.
PERIKANAN PELAGIS BESAR DENGAN JARING INSANG DI PERAIRAN TARAKAN KALIMANTAN UTARA FISHERIES OF LARGE PELAGIC BY GILLNET IN THE WATERS OF TARAKAN NORTH KALIMANTAN Yusuf, Helman Nur; Natsir, Moh; Permana, Sofyan Muji; Baihaqi, Baihaqi; Noegroho, Tegoeh; Sepri, Sepri; Mahiswara, Mahiswara
BAWAL Widya Riset Perikanan Tangkap Vol 17, No 1 (2025): April 2025
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/bawal.17.1.2025.01 - 14

Abstract

Sumberdaya ikan pelagis besar yang tertangkap dengan jaring insang di perairan Tarakan Kalimantan Utara berkontribusi terhadap produksi perikanan sebesar 16,03%. Penelitian ini dilakukan bulan Januari hingga Novemver 2021, bertujuan mengetahui jenis ikan pelagis besar yang tertangkap, serta distribusi panjang cagak tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa kapal terbuat dari kayu bertonase 3 - 5 GT dengan mesin motor 14 PK, jaring dioperasikan pada kedalaman 6 -15 m baik didasar dan pertengahan perairan. Tawur jaring sebanyak 10 -15 pertrip selama 3 - 5 hari. Hasil tangkapan diperoleh sebanyak 27 jenis, yaitu 21 kelompok demersal, 3 jenis pelagis besar, 2 pelagis kecil dan 1 ikan karang. Komposisi jenis didominasi ikan kakap putih (Lates calcarifer) 30,4%, merah (Lutjanus johni) 21,9%, kurau (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, kerong kerong (Pomadasys kaakan) 5,5%, tenggiri papan (Scomberomorus guttatus) 4,4%, bambangan (Lutjanus malabaricus) 4,0%, kerapu (Epinephelus magniscuttis) 3,2%, sebelah (Psettodes erumei) 2,7%, tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 2,2%, merah taring (Lutjanus lemniscatus) 2,0%, bawal putih (Pampus argenteus) 1,1%, kakap hitam (Macolor niger) 1,0% dan lainnya kurang dari 1%. Hasil tangkapan tertinggi pada Januari sebesar 7.336,8 kg dan terendah Oktober sebesar 2.699,2 kg dengan rata-rata sebesar 4.544,0 kg perbulan. Upaya penangkapan tertinggi pada Januari sebanyak 474 trip dan terendah Oktober sebanyak 148 trip. Kelimpahan tertingi pada Agustus sebesar 24,5 kg/trip dan terendah September sebesar 14,6 kg/trip. Daerah penangkapan terdistribusi pada 03°61’254’’LU - 117°70’254’’BT hingga 03°16’293’’LU -117°99’113’’BT dan Panjang pertama kali tertangkap (Lc) tenggiri papan (Scomberomorus gutatus) 38,65 FLcm dan tenggiri bunga (Scomberomorus koreanus) 43,48 FL cm. The large pelagic fish resources caught with gillnets in the waters of Tarakan, North Kalimantan, contribute 16.03% to fisheries production. This study was conducted from January to November 2021, aiming to identify the species of large pelagic fish caught, as well as the fork length distribution of Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) and Korean mackerel (Scomberomorus koreanus). The results showed that the fishing vessels were made of wood with a tonnage of 3 - 5 GT, powered by 14 HP engines. The gillnets were operated at depths of 6 - 15 meters, both at the bottom and mid-water levels. Each trip involved setting the nets 10 - 15 times over a duration of 3 - 5 days. A total of 27 species were caught, comprising 21 demersal species, 3 large pelagic species, 2 small pelagic species, and 1 reef fish species. The species composition was dominated by: Barramundi (Lates calcarifer) at 30,4%, Golden snapper (Lutjanus johnii) 21,9%, Fourfinger threadfin (Eleutheronema tetradactylum) 17,9%, Javelin grunter (Pomadasys kaakan) 5.5%, Indo–pacific king mackerel (Scomberomorus guttatus) 4,4%, Malabar snapper (Lutjanus malabaricus) 4.0%, Spotted grouper (Epinephelus magniscuttis) 3.2%, Indian halibut (Psettodes erumei) 2.7%, Spanish mackere (Scomberomorus koreanus) 2,2%, Darktail snapper (Lutjanus lemniscatus) 2.0%, Silver pomfret (Pampus argenteus) 1.1%, Black and white snapper (Macolor niger) 1.01% Other species made up less than 1%. The highest catch was recorded in January at 7,336.8 kg, while the lowest was in October 2,699.2 kg, with an average monthly catch of 4,544.0 kg. The highest fishing effort occurred in January with 474 trips, while the lowest was in October with 148 trips. The highest abundance was observed in August at 24.5 kg/trip, and the lowest in September 14.6 kg/trip. The fishing area was distributed between the coordinates 03°61’254’’N - 117°70’254’’E and 03°16’293’’N - 117°99’113’’E. The length at first capture (Lc) for Spanish mackerel (Scomberomorus guttatus) was 38.65 cm FL, and for Korean mackerel (Scomberomorus koreanus) was 43.48 cm FL.