Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

ANALISIS PENDAPATAN USAHA PEMBUATAN TEMPE DENGAN TAHU DI KOTA LANGSA Anzitha, Silvia
JURNAL AGRICA Vol 12, No 2 (2019): JURNAL AGRICA
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (717.806 KB) | DOI: 10.31289/agrica.v12i2.2661

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pendapatan usaha pembuatan tempe dengan tahu di Kota Langsa Penelitian ini dilakukan dengan Metode Survei (Survey Method) dan dilaksanakan di Kota Langsa. Objek penelitian ini adalah pengusaha tempe dan tahu di Kota Langsa. Ruang lingkup penelitian ini meliputi produksi, harga, biaya produksi, nilai produksi dan pendapatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha tempe dan tahu yang berada di Kota Langsa yang berjumlah 21 usaha. Sampel diambil dengan teknik pengambilan sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan pengusaha tempe adalah sebesar Rp. 19.927.897/bulan, sedangkan rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha tahu dalam produksinya adalah sebesar Rp. 16.157.541/bulan. Selisih biaya produksi usaha tempe dan tahu adalah Rp. 3.770.357/bulan atau 23,33%. Rata-rata nilai produksi pengusaha tempe adalah sebesar Rp. 27.461.538/bulan, sedangkan rata-rata nilai produksi pengusaha tahu adalah sebesar Rp. 20.812.500/bulan. Rata-rata pendapatan bersih pengusaha pembuatan tempe untuk penggunaan bahan baku kedelai sebesar 1000 Kg kedelai yang diolah pengusaha tempe adalah Rp. 3.956.930 dan pengusaha tahu adalah Rp. 2.998.866.
Aplikasi Teknologi Proliga (Produksi Lipat Ganda) untuk Penanaman Beberapa Varietas Unggul Cabai Merah Keriting (Capsicum annuum L.) pada Lahan Marginal Murdhiani Murdhiani; Maria Heviyanti; Silvia Anzitha; Rina Maharany
Agrikultura Vol 32, No 2 (2021): Agustus, 2021
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/agrikultura.v32i2.34722

Abstract

Cabai merah (Capsicum annuum L.) termasuk ke dalam keluarga tanaman Solanaceae merupakan salah satu tanaman sayuran penting di Indonesia. Teknologi Proliga (Produksi Lipat Ganda) merupakan suatu paket teknologi yang tujuannya melipatgandakan produksi cabai baik pada saat on season maupun saat off season. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi, pertumbuhan dan perkembangan serta produksi dari beberapa varietas cabai merah yang dibudidayakan pada lahan marginal melalui penerapan teknologi Proliga. Penelitian ini menerapkan lima komponen teknologi proliga yaitu penggunaan varietas unggul, persemaian sehat dengan pemangkasan pucuk, meningkatkan populasi tanaman dengan sistem tanam dua satu zig zag, pengolahan tanah dan pemupukan, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Varietas-varietas unggul cabai merah keriting yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas Lado F1, PM 999 F1, Taro F1 dan Kastilo F1. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Lado F1, PM 999 F1, Taro F1 dan Kastilo F1 berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 2 dan 4 minggu setelah tanam (MST), umur berbunga dan jumlah cabang umur 5 MST, akan tetapi berpengaruh nyata pada parameter jumlah cabang umur 4 MST. Jumlah cabang terbanyak terdapat pada perlakuan V2 (Varietas PM 999 F1) yaitu 57,50 cabang. Produksi cabai merah per plot plot tertinggi terdapat pada perlakuan V2 (Varietas PM 999 F1) dengan berat buah per plot yaitu 267,88 g. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari empat varietas unggul cabai merah yang di tanam pada lahan marginal dengan menerapkan teknologi proliga, varietas PM 999 F1 merupakan varietas unggul cabai merah keriting yang mampu beradaptasi pada lahan marginal.m keluarga tanaman Solanaceae merupakan salah satu tanaman sayuran penting di Indonesia. Teknologi Proliga (Produksi Lipat Ganda) merupakan suatu paket teknologi yang tujuannya melipatgandakan produksi cabai baik pada saat on season maupun saat off season. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat adaptasi, pertumbuhan dan perkembangan serta produksi dari beberapa varietas cabai merah yang dibudidayakan pada lahan marginal melalui penerapan teknologi Proliga. Penelitian ini menerapkan lima komponen teknologi proliga yaitu penggunaan varietas unggul, persemaian sehat dengan pemangkasan pucuk, meningkatkan populasi tanaman dengan sistem tanam dua satu zig zag, pengolahan tanah dan pemupukan, serta pengendalian organisme pengganggu tanaman (OPT). Varietas-varietas unggul cabai merah keriting yang digunakan dalam penelitian ini adalah varietas Lado F1, PM 999 F1, Taro F1 dan Kastilo F1. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa varietas Lado F1, PM 999 F1, Taro F1 dan Kastilo F1 berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman umur 2 dan 4 minggu setelah tanam (MST), umur berbunga dan jumlah cabang umur 5 MST, akan tetapi berpengaruh nyata pada parameter jumlah cabang umur 4 MST. Jumlah cabang terbanyak terdapat pada perlakuan V2 (Varietas PM 999 F1) yaitu 57,50 cabang. Produksi cabai merah per plot plot tertinggi terdapat pada perlakuan V2 (Varietas PM 999 F1) dengan berat buah per plot yaitu 267,88 g. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa dari empat varietas unggul cabai merah yang di tanam pada lahan marginal dengan menerapkan teknologi proliga, varietas PM 999 F1 merupakan varietas unggul cabai merah keriting yang mampu beradaptasi pada lahan marginal.
PELATIHAN ENRICHMENT DAPHNIA UNTUK MENINGKATKAN KECERAHAN WARNA IKAN CUPANG (Betta sp.) Andika Putriningtias; Siti Komariyah; Silvia Anzitha
SELAPARANG Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 5, No 1 (2021): Desember
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v5i1.6433

Abstract

ABSTRAKPermasalahan yang dihadapi mitra adalah rendahnya kualitas warna ikan cupang yang mitra peroleh dari agen, sehingga harga jual ikan cupang juga rendah. Setelah mengetahui permasalahan mitra, tim menawarkan solusi yaitu pelatihan enrichment Daphnia untuk memanipulasi pigmen warna ikan cupang. Tujuan dari pengabdian ini adalah memberikan pelatihan kepada pemuda dan para penggiat ikan cupang di Gampong Teungoh, Kota Langsa tentang enrichment Daphnia sebagai pakan ikan cupang yang dapat meninngkatkan kecerahan warna ikan cupang. Metode yang digunakan adalah sosialisasi dan penjaringan mitra, pemberian materi tentang faktor-faktor yang mempengaruhi kecerahan warna ikan cupang serta teknik enrichment pakan ikan cupang dan pelatihan teknik enrichment pakan ikan cupang. Mitra yang mengikuti kegiatan ini adalah pemuda gampong dan penggiat ikan cupang di Gampong Teungoh yang berjumlah 25 orang. Evaluasi keberhasilan pelatihan dihitung berdasarkan kepahaman para peserta terhadap materi pelatihan. Hasil yang dicapai dari pelatihan ini yaitu adanya peningkatan ketrampilan para pemuda dan penggiat ikan cupang dalam meningkatkan warna ikan cupang dan juga adanya peningkatan harga jual ikan yang telah diberikan pakan Daphnia yang telah di enrichment. Kata kunci: astaxhantin; daphnia; ikan cupang; kecerahan warna; pakan alami. ABSTRACTThe problem faced by partners is the low quality of betta fish colors that partners get from agents, so the selling price of betta fish is also low. After knowing the partners' problems, the team offered a solution, namely Daphnia enrichment training to manipulate betta fish color pigments. The purpose of this service is to provide training to youth and betta fish activists in Gampong Teungoh, Langsa City on the enrichment of Daphnia as betta fish food that can increase the brightness of the color of betta fish. The methods used were socialization and partner networking, providing material about the factors that affect the color brightness of betta fish and betta fish feed enrichment techniques and training on betta fish feed enrichment techniques. Partners who participated in this activity were village youth and betta fish activists in Teungoh Village, totaling 25 people. The evaluation of the success of the training is calculated based on the participants' understanding of the training material. The results achieved from this training are an increase in the skills of young people and betta fish activists in increasing the color of betta fish and also an increase in the selling price of fish that have been given enrichment Daphnia feed. Keywords: astaxhantin; daphnia; betta fish; color brightness; natural food
ANALISIS PENGARUH PREFERENSI KONSUMEN TERHADAP KEPUTUSAN PEMBELIAN IKAN BANDENG (Chanos chanos) DI KECAMATAN SERUWAY KABUPATEN ACEH TAMIANG Mutia Ardini; Cut Gustiana; Silvia Anzitha
Jurnal Inovasi Penelitian Vol 2 No 11: April 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47492/jip.v2i11.1419

Abstract

This study aims to analyze influence of consumer preferences for purchasing decisions of milkfish (Chanos chanos) in Seruway District, Aceh Tamiang Regency. The independent variables used in this study are price, location and quality. While the dependent variable used is consumer preferences for milkfish purchasing decisions. Determination of the sampling technique using the Nonprobability Sampling method, namely the saturated sampling method as many as 35 respondents. The data used are primary data and secondary data with a quantitative descriptive approach. Data analysis includes income analysis and multiple linear regression. The results showed that the price variable (X1) had a significant effect on consumer preferences on milkfish purchasing decisions (Chanos chanos), the location variable (X2) had no significant effect on consumer preferences on milkfish purchasing decisions (Chanos chanos), quality variable (X3) has a significant effect on consumer preferences on purchasing decisions of milkfish (Chanos chanos) in Seruway District, Seruway Regency.
PEMBERDAYAAN EKONOMI MASYARAKAT MELALUI BUDIDAYA JAMUR MERANG DENGAN PEMANFAATAN MEDIA KARDUS Silvia Anzitha; Muhammad Jamil
Global Science Society Vol 2 No 1 (2020): Global Science Society (GSS) Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyaraka
Publisher : LPPM dan PM Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

To contribute to the real work of Higher Education through the implementation of Community Service activities, one of the potential locations for improving mushroom cultivation technology with the use of cardboard media is a form of utilization of useful local resources, which has been a waste that has not been used. useful and very disturbing environmental sustainability. The chosen location is Meurandeh Teungoh Village, Langsa Lama District, Langsa City. The use, benefits and ways of applying straw mushroom cultivation technology to the community or farmers, farmers are expected to be interested in the technology so that it can be applied to mushroom cultivation business in the future. The introduction or socialization of the method of utilizing cardboard media in the cultivation of straw mushrooms is believed to be easily understood by the community or farmers as participants, because the community will be trained in how to conduct direct demonstrations between the program implementers (proposers) with the community as participants of community service activities.
ANALYSIS OF THE RELATIONSHIP OF INCOME WITH THE PROPORTION OF HOUSEHOLD FOOD EXPENDITURE OF RICE FARMS IN GAMPONG ALUE MERBAU, LANGSA CITY Hanisah Hanisah; Silvia Anzitha; Fitri Lia Ningsih; Rini Mastuti
Agrisocionomics: Jurnal Sosial Ekonomi Pertanian Vol 6, No 1 (2022): May 2022
Publisher : Faculty of Animal and Agricultural Science, Diponegoro University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/agrisocionomics.v6i1.11700

Abstract

The purposes of this research were 1) to analyze the household income of rice farmers in Gampong Alue Merbau, 2) to analyze the proportion of household food expenditures for rice farmers in Gampong Alue Merbau, 3) to analyze the relationship between income and the proportion of household food expenditures for rice farmers in Gampong Alue Merbau. This research was conducted in Gampong Alue Merbau, East Langsa District, Langsa City. The analytical methods used are rice farmer household income analysis, rice farmer household food expenditure proportion analysis, and Pearson Correlation analysis. The results showed that the average household income of rice farmers was Rp 2,898,804/month. The average proportion of household food expenditure is 52%. Income with the proportion of food expenditure has a significant relationship. The correlation coefficient value is -0.579, which indicates a moderate relationship. The correlation coefficient value in the analysis results is negative, which means that income and the proportion of food expenditure have an opposite relationship. If the income is high, the proportion of food expenditure is low; if the income is low, the proportion of food expenditure is high.
ANALISIS PENDAPATAN USAHA PEMBUATAN TEMPE DENGAN TAHU DI KOTA LANGSA Silvia Anzitha
JURNAL AGRICA Vol 12, No 2 (2019): JURNAL AGRICA
Publisher : Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/agrica.v12i2.2661

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan pendapatan usaha pembuatan tempe dengan tahu di Kota Langsa Penelitian ini dilakukan dengan Metode Survei (Survey Method) dan dilaksanakan di Kota Langsa. Objek penelitian ini adalah pengusaha tempe dan tahu di Kota Langsa. Ruang lingkup penelitian ini meliputi produksi, harga, biaya produksi, nilai produksi dan pendapatan. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan April 2018. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh pengusaha tempe dan tahu yang berada di Kota Langsa yang berjumlah 21 usaha. Sampel diambil dengan teknik pengambilan sampling jenuh. Hasil penelitian menunjukkan rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan pengusaha tempe adalah sebesar Rp. 19.927.897/bulan, sedangkan rata-rata biaya produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha tahu dalam produksinya adalah sebesar Rp. 16.157.541/bulan. Selisih biaya produksi usaha tempe dan tahu adalah Rp. 3.770.357/bulan atau 23,33%. Rata-rata nilai produksi pengusaha tempe adalah sebesar Rp. 27.461.538/bulan, sedangkan rata-rata nilai produksi pengusaha tahu adalah sebesar Rp. 20.812.500/bulan. Rata-rata pendapatan bersih pengusaha pembuatan tempe untuk penggunaan bahan baku kedelai sebesar 1000 Kg kedelai yang diolah pengusaha tempe adalah Rp. 3.956.930 dan pengusaha tahu adalah Rp. 2.998.866.
Analisis Kelayakan Usahatani Jagung Pipilan di Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur Ramini; Silvia Anzitha
Jurnal Penelitian Agrisamudra Vol 6 No 1 (2019): Jurnal Penelitian Agrisamudra
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian Universitas Samudra

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (534.255 KB) | DOI: 10.33059/jpas.v6i1.1348

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kelayakan usahatani jagung pipilan Di Kecamatan Peureulak Kabupaten Aceh Timur. Penelitian ini menggunakan metode survey dan teknik pengambilan sampel menggunakan metode simple random sampling. Pengambilan sampel ditetepkan 25% dari populasi yang berjumlah 62 0rang dan total sampel berjumlah 30 orang. Hasil analisis finansial usahatani jagung pipilan di Kecamatan Peureulak dari sisi R/C Ratio diperoleh nilai sebesar 3,47 (layak). BEP Rupiah sebesar sementara total biaya riil jagung pipilan di Kecamatan Peureulak adalah 1.151,96 (layak) BEP jumlah produksi sebesar 106,48 sementara produksi riil usahatani jagung pipilan di Kecamatan Peureulak adalah sebesar 3.697,73 Kg (layak) daerah.
APLIKASI CRABBING BOX PORTABEL PADA POKDAKAN LAUT BERJAYA BAGI PEMENUHAN KETERSEDIAAN KEPITING SOKA DI KABUPATEN ACEH TAMIANG Muhammad Jamil; Agus Putra AS; Baihaqi Baihaqi; Cut Gustiana; Silvia Anzitha
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 8, No 1 (2024): Februari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v8i1.19545

Abstract

Abstrak: Pengabdian kepada masyarakat (PKM) ini merupakan lanjutan dari penelitian terdahalu yang bertujuan untuk mengaplikasikan teknologi crabbing box pada 15 angggota kelompok pembudidaya kepiting soka Laut Berjaya dalam rangka pemenuhan ketersediaan produk itu di masyarakat. Metode yang digunakan adalah participatory rural appraisal dan transfer teknologi melalui serangkaian tahapan kegiatan antaranya koordinasi, sosialisasi, pelaksanaan kegiatan, pendampingan serta monitoring dan evaluasi. Keseluruhan tahapan kegiatan mulai dari koordinasi hingga monitoring dan evaluasi tercatat melalui instrument lembar posttest yang memperlihatkan 26,6% anggota kelompok sangat memahami ukuran cangkang kepiting yang dihasilkan paska moulting, 23% anggota yang lain memahami dengan baik kadar suhu air, PH dan jumlah oksigen terlarut yang ideal dalam budidaya kepiting soka, 80% anggota kelompok mengetahui tata cara penempatan crabbing box pada kolam, 67% anggota pokdakan memahami teknik penyambungan crabbing box, 27% anggota yang lain memahami teknik pencatatan dan penjualan produk. Disimpulkan bahwa rerata 40% anggota kelompok sangat memahami keseluruah teknik budidaya kepiting soka mulai dari tahap pemijahan, pembesaran, moulting hingga penjualan produk. Hal ini memperlihatkan bahwa budidaya kepiting soka mampu meningkatkan pendapatan anggota kelompok hingga 20% per siklus panenAbstract: This community service (PKM) it is a continuation of previous research with the aims to apply crabbing box technology to the Laut Berjaya Cultivation Groups. The method used is participatory rural appraisal and technology transfer through a series of activity stages including coordination, socialization, implementation of activities, mentoring and monitoring and evaluation. All stages of activities carried out from coordination up to monitoring and evaluation are listed on the post-test sheet instrument which shows that 26.6% of group members really understand the size of crab shells produced after mounting, 23% of other members understand well the water temperature levels, PH and the ideal amount of dissolved oxygen in cultivation. soft shell crab, 80% of group members know the procedures for placing crabbing boxes in ponds, 67% of cultivation groups understand the techniques for connecting crabbing boxes, 27% of other members understand the techniques for recording and selling products. It was concluded that an average of 40% of group members really understood all soft-shell crab cultivation techniques starting from the spawning, enlargement, mounting stages to product sales. This shows that cultivating soft shell crabs can increase the income of group members by up to 20% per harvest cycle 
PENGADAAN GENSET PORTABEL BAGI MASYARAKAT TERDAMPAK BENCANA HIDROMETEOROLOGI DI KABUPATEN ACEH TAMIANG Muhammad Jamil; Rahmi Zuhra; Silvia Anzitha; Hanisah Hanisah; Baihaqi Baihaqi
Journal of Community Empowerment Vol 5, No 2 (2026): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v5i2.39333

Abstract

ABSTRAK                                                                                      PKM tanggap darurat bencana ini di Desa Mesjid Kecamatan Manyak Payed Kabupaten Aceh Tamiang bertujuan untuk membantu memenuhi kebutuhan dasar warga yang terdampak bencana banjir melalui pengadaan mesin genset portabel bagi pemenuhan kebutuhan listrik  serta tidak hanya diposisikan sebagai bantuan alat semata, melainkan sebagai bagian dari sistem penanganan bencana berbasis desa, yang menopang berbagai layanan dasar selama masa tanggap darurat. Kegiatan dilaksanakan selama dua minggu (02-16 maret 2026) dengan melibatkan 20 peserta dari pemerintah desa, MDSK, LKMK, perwakilan perempuan dan kelompok difabel. Metode pelaksanaan dilakukan secara partisipatif dan demonstrasi langsung  meliputi koordinasi, sosialisasi, pengenalan mesin genset portabel, tatacara mengoperasikan mesin genset portabel, serah terima produk serta monitoring dan evaluasi melalui selebaran angket yang diisi oleh seluruh peserta. Hasil evaluasi menunjukkan sebanyak 13 peserta (65%) berada pada kategori sangat memahami materi pengertian dan fungsi genset sebagai sumber listrik alternatif, sebanyak 9 peserta (45%) memahami tentang manfaat genset dalam kondisi darurat (banjir/pemadaman listrik), 11 peserta (55%) mengetahui jenis-jenis genset portabel dan bahan bakar yang digunakan, sebanyak 17 peserta (85%) memahami tahapan persiapan sebelum penggunaan (pengecekan bahan bakar dan oli) serta sebanyak 18 peserta (90%) mengetahui materi cara menghubungkan genset dengan peralatan listrik. Dengan demikian, pengadaan mesin genset portabel menjadi salah satu solusi praktis pemenuhan listrik bagi masyarakat terdampak bencana banjir.  Dengan adanya kegiatan ini diharapkan bantuan peralatan mesin genset portabel dapat dirasakan secara berkelanjutan dan meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.Kata kunci: Genset Portabel; Masyarakat; Banjir; Kesiapsiagaan; Aceh Tamiang. ABSTRACTThis disaster emergency response community service program (PKM) at mesjid village , manyak payed subdistrict, Aceh Tamiang regency, aims to help meet the basic needs of residents affected by flooding through the provision of portable generator sets to supply electricity. The generators are not merely positioned as equipment assistance, but as part of a village-based disaster management system that supports various essential services during the emergency response period. The activity was carried out over two weeks (March 2–16, 2026), involving 20 participants from the village government, MDSK, LKMK, women’s representatives, and persons with disabilities groups. The implementation method was participatory and based on direct demonstrations, including coordination, socialization, introduction to portable generators, procedures for operating the generators, handover of the equipment, as well as monitoring and evaluation through questionnaires completed by all participants. The evaluation results showed that 13 participants (65%) were in the category of highly understanding the concept and function of generators as an alternative power source, 9 participants (45%) understood the benefits of generators in emergency situations (floods/power outages), 11 participants (55%) recognized the types of portable generators and their fuel, 17 participants (85%) understood the preparation stages before use (checking fuel and oil), and 18 participants (90%) understood how to connect generators to electrical devices.Keywords: Portable Generator; Community;Flood; Preparedness; Aceh Tamiang.