Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

An Islamic Law Sociology Review on Menre’ Bola Baru Tradition in Bugis Community Alim Mappiasse, Achmad Habibul Alim; Achmad, Mukhsin
Syarah: Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Vol. 13 No. 1 (2024): SYARAH : Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi
Publisher : Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/syarah.v13i1.2548

Abstract

Menre’ Bola Baru or moving to a new house is a local Bugis culture. The focus of this research is that among the Bugis tribe, especially South Sulawesi, there are differences of opinion regarding the Menre’ Bola Baru tradition because some rituals are considered deviating from Islamic teachings, so it is necessary to know the sociology of Islamic law. This research aims to further review the Menre’ Bola Baru tradition as a tradition of the Bugis community according to the Sociology of Islamic Law. The research uses a library research approach by adopting a descriptive-qualitative method. The research data sources come from interviews and secondary data, which the author gets from journals, books and observation results. While the research data analysis adopted the Miles and Huberman analysis technique, which was carried out by reducing data, presenting data and drawing conclusions. This research found that the Menre’ Bola Baru ceremony inherited from the ancestors of the Bugis tribe has a series of stages that contain local wisdom values so that these traditional activities or ceremonies still exist today. Meanwhile, Menre’ Bola Baru in the review of Islamic Law Sociologists experiences a combination of Islamic law and customs to become a religious practice. The role of religion is indeed very important as a source of values adopted by the community as a benchmark for action. Thus, religion determines the social structure of a society.
INTEGRASI SAINS DAN AGAMA: Peluang dan Tantangan bagi Universitas Islam Indonesia Achmad, Mukhsin
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 2 No. 1 (2021): Maret 2021
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Paradigma integrasi sains dan agama telah banyak diteorisasikan oleh banyak sarjana Muslim baik dalam negeri maupun luar negeri seperti Ismail Raji Al Faruqi, Osman Bakar, Sardar, Kuntowijoyo, M. Amin Abdullah dan sarjana Muslim yang lain, namun dalam prakteknya masing masing mempunyai kontekstualisasinya sendiri sendiri. Semangat membaca realitas kauniyah berbasis kehadiran ilahiyah merupakan praktek implementasi teoritis integrasi sains dan agama. Bagi UII integrasi sains dan agama merupakan peluang yang besar selain dari visi dan misi universitas juga mendukung ke arah pemikiran tersebut juga harapan masyarakat yang besar kepada UII sebagai Perguruan Tinggi Islam pertama dan tertua di Indonesia yan berusaha mencetak ulama intelek yang berjiwa ulil albab yakni menggabungkan antara tradisi fikir, dzikir dan ikhtiyar ilmiah yang dibekali dengan ketrampilan dan akhlaqul karimah.
Perkembangan dan Tantangan Peradaban Islam Dalam Konteks Teknik Sipil Kristianti, Novita; Achmad, Mukhsin
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 5 No. 1 (2024): Maret 2024
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol5.iss1.art5

Abstract

Islam merupakan agama yang kaffah dimana hamper semua cabang keilmuan terkandung dalam ajaran agama Islam termasuk keilmuan teknik sipil. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisis perdaban Islam dalam konteks keilmuan teknik sipil. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan analisis deskriptif berdasarkan kajian literatur. Hasil analisis menunjukkan bahwa Islam membangun peradaban dengan menjadikan pembangunan sebagai symbol dan nilai yang bermanfaat bagi berbagai aspek kehidupan social dan kemasyarakatan. Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah di Madinah adalah mendirikan masjid, Masjid Quba dan masjid Nabawi. Islam terus berkembang hingga mencapai masa keemasan dan dalam rentang waktu 1250-1500 Masehi, peradaban dan kebudayaan Islam mengalami berbagai tantangan yang mengakibatkan kemunduran politik, ekonomi, dan intelektual. Salah satu faktor utama yang mempengaruhi kemunduran ini adalah serangan dan penaklukan dari bangsa Mongol dan penerus mereka, seperti Dinasti Ilkhanate dan Timur Lenk. Proses dari masa kejayaan (keemasan) hingga masuk dalam masa kemunduran peradaban Islam pada periode pertengahan yang disampaikan adalah merupakan sebuah contoh bahwa suatu peradaban akan roboh jika terdapat celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar. Tantangan-tantangan yang ada dalam integrasi nilai keislaman pada teknik sipil di peradaban Islam modern ini dapat dilakukan dengan merekonstruksi nilai-nilai yang tertanam dalam diri untuk dapat merefleksikan diri berdasarkan nilai keislaman. Keywords: Peradaban islam, infrastruktur, teknik sipil, kejayaan Islam.
UPAYA PBB DALAM PENYELESAIAN SENGKETA KASHMIR (INDIA-PAKISTAN): STUDI PENDEKATAN KAJIAN ISLAM KONTEMPORER Azmi, Diinu Tsabitul; Achmad, Mukhsin
Lisyabab : Jurnal Studi Islam dan Sosial Vol 6 No 2 (2025): Lisyabab, Jurnal Studi Islam dan Sosial
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Agama Islam Mulia Astuti (STAIMAS) Wonogiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58326/jurnallisyabab.v6i2.411

Abstract

Abstrack The Kashmir conflict between India and Pakistan has been a chronic source of regional instability since the mid-20th century, despite various mediation and resolution efforts initiated by the United Nations (UN). This study critically evaluates the effectiveness of UN interventions in resolving the Kashmir dispute, highlighting the geopolitical constraints and internal resistance that limit the implementation of resolutions. Originally, this research expands the analytical framework by integrating the perspective of contemporary Islamic studies as both a theoretical and practical lens. We argue that Islamic principles founded on justice, peace, consultation (syura), and reconciliation offer a conflict resolution paradigm that has not been extensively explored in the Kashmir context. Initial findings suggest that while the UN faces structural challenges, integrating an Islamic approach one that emphasizes consensus building and substantive justice can provide novelty and essential depth in formulating sustainable solutions. This represents a significant contribution to the literature on international conflict resolution, particularly concerning disputes rooted in historical and cultural complexities. Keywords: Kashmir, India-Pakistan, UN, Contemporary Islam
Integritas Ilmu Sebagai Fondasi Keilmuan: Analisis Epistemologis dan Aksiologis Dalam Filsafat Ilmu Novinda, Assyifa Ramadanti; Achmad, Mukhsin
Eshraq: Journal of Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2026): Januari
Publisher : Eshraq: Journal of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan modern menunjukkan kecenderungan fragmentasi disiplin dan klaim netralitas nilai yang semakin menguat. Kondisi ini menimbulkan problem keilmuan berupa terpisahnya dimensi epistemologis dan aksiologis dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Akibatnya, ilmu sering berkembang secara teknis tanpa disertai refleksi etis dan orientasi kemanusiaan yang memadai. Persoalan tersebut menjadikan integritas ilmu sebagai isu mendasar dalam filsafat ilmu, khususnya dalam konteks upaya menjaga keberlanjutan dan tanggung jawab keilmuan di tengah kompleksitas tantangan zaman. Berdasarkan latar tersebut, artikel ini bertujuan untuk menganalisis konsep integritas ilmu sebagai fondasi keilmuan melalui pendekatan epistemologis dan aksiologis, serta menelaah relevansinya dalam perspektif pemikiran Islam. Penelitian ini menggunakan metode kajian kepustakaan (library research) dengan pendekatan filsafat ilmu. Sumber data terdiri atas buku-buku filsafat ilmu dan integrasi ilmu, serta pemikiran pakar Indonesia yang relevan dengan tema epistemologi dan aksiologi ilmu. Hasil kajian menunjukkan bahwa integritas ilmu meniscayakan keterpaduan antara validitas cara memperoleh pengetahuan dan orientasi nilai dalam pemanfaatannya. Dalam perspektif Islam, integrasi antara wahyu, akal, dan pengalaman empiris memperkuat landasan epistemologis sekaligus aksiologis ilmu pengetahuan. Dengan demikian, integritas ilmu tidak hanya berfungsi sebagai konsep filosofis, tetapi juga sebagai kerangka normatif dan praksis dalam pengembangan keilmuan yang beretika, kontekstual, dan bertanggung jawab secara sosial.
Ihdad dan Media Sosial: Dialektika Norma Fiqh dan Realitas Sosial Athifah, Zulfa; Achmad, Mukhsin
AL-ASHLAH : Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 5 No. 01 (2026): January 2026
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam, Fakultas Syariah, Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy Genteng Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69552/gvg4g910

Abstract

Perkembangan media sosial mengubah cara perempuan berinteraksi di ruang publik, termasuk selama masa ihdad. Dalam hukum Islam, ihdad mewajibkan perempuan membatasi berhias dan interaksi sosial untuk menjaga kehormatan dan mencegah fitnah. Namun, di era digital, perempuan tetap dapat “hadir” di ruang publik melalui media sosial tanpa keluar rumah. Artikel ini membahas dialektika antara norma fiqh ihdad dan realitas sosial penggunaan media sosial oleh perempuan berihdad. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-empiris dengan memadukan kajian hukum Islam dan temuan penelitian terdahulu, yang dianalisis melalui teori sosiologi. Hasil kajian menunjukkan bahwa penggunaan media sosial didorong oleh kebutuhan emosional, keterhubungan sosial, kebiasaan bermedia, dan tuntutan profesional, sementara secara normatif praktik tersebut berpotensi bertentangan dengan esensi ihdad apabila memuat unsur berhias dan membuka ruang fitnah. Temuan ini menegaskan perlunya penafsiran aplikatif ihdad yang tetap menjaga tujuan syariat sekaligus mempertimbangkan realitas sosial perempuan di era digital.
Epistimologi Hukum Akad Perkawinan Online (Studi Tentang Fatwa MUI, Fatwa Bahtsul Masail NU dan Fatwa Majlis Tarjih Muhammadiyah) Permana, Ayus; Achmad, Mukhsin
QIYAS: JURNAL HUKUM ISLAM DAN PERADILAN Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/qys.v10i2.7783

Abstract

Abstract: Considering the current situation and the increasingly modern and practical development of technology, this greatly influences the way of life within the cultural traditions and habits of today‘s society. One of the impacts of this advanced and modern technology is the practice of marriage ceremonies conducted online via mobile phones, which are carried out remotely without being in the same place or gathering. This phenomenon raises concerns about the sanctity of the wedding ceremony. Based on this issue, questions arise regarding the epistemology of online marriage law, which has led organizations such as MUI, NU, and Muhammadiyah to issue their respective fatwas on the matter. In this study, the author uses a descriptive qualitative research method by selecting relevant data to serve as a basis for legal decision-making. According to the fatwa issued by MUI, an online marriage contract is deemed valid if it fulfills several specified requirements, one of which is the mandatory presence of an official marriage registrar and the proper recording of the marriage in front of witnesses.Keywords: Epistemology, Online Marriage Contract, MUI.Abstrak: Melihat situasi dan kondisi perkembangan teknologi yang semakin modern dan serba praktis, hal ini tentunya sangat memengaruhi seni berkehidupan dalam kultur budaya dan kebiasaan masyarakat saat ini. Salah satu dampak dari berkembangnya teknologi yang canggih dan modern adalah pelaksanaan prosesi perkawinan secara online melalui handphone (HP), yang dilakukan secara jarak jauh dan tidak dalam satu tempat atau majelis. Hal ini seakan-akan memengaruhi kesakralan acara prosesi pernikahan. Berdasarkan fenomena ini, muncul pertanyaan mengenai epistemologi hukum perkawinan online, yang kemudian ditanggapi oleh MUI, NU, dan Muhammadiyah melalui fatwa-fatwa yang mereka keluarkan. Dalam penelitian ini, penulis menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif, dengan menyeleksi data yang relevan sebagai bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan hukum. Menurut fatwa MUI yang telah ditetapkan, hukum akad perkawinan secara online dinyatakan sah apabila memenuhi beberapa syarat yang telah ditentukan, salah satunya adalah keharusan adanya pendampingan dari petugas pencatatan perkawinan serta pencatatan yang sah di hadapan para saksi.Kata Kunci: Epistemologi, Akad Online, MUI.
The Concept of Women's Deficiency in Sahih Bukhari No. 304: A Perspective of Fiqh Mubadalah by Faqihuddin Abdul Kodir: Konsep Kekurangan Wanita dalam Shahih Bukhari No. 304: Perspektif Fiqh Mubadalah Faqihuddin Abdul Kodir Nawawi, Muhammad; Achmad, Mukhsin
ABHATS: Jurnal Islam Ulil Albab Vol. 7 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Direktorat Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/abhats.vol7.iss1.art11

Abstract

This article addresses the prevailing stigma that views women as inherently possessing deficient intellect and religion, a perception often legitimized by literal interpretations of religious texts, specifically Sahih Bukhari Hadith No. 304. This misinterpretation perpetuates gender bias and undermines women's capacity in the public sphere. Consequently, this research aims to reinterpret the concept of women's deficiency to uncover a more just and humanistic meaning that aligns with the core Islamic values of equality. This study employs a qualitative library research method, utilizing a normative theological approach synergized with the hermeneutics of Fikih Mubadalah (Reciprocal Jurisprudence) to analyze primary and secondary literature regarding the Hadith. The analysis reveals that the term deficiency is not a theological verdict on women's nature but a contextual description; lack of reason refers to historical legal witness contexts, while lack of religion denotes the biological exemption from rituals during menstruation. Furthermore, scientific evidence suggests that emotional differences do not equate to intellectual inferiority. By integrating these perspectives, the study concludes that the Hadith serves as a universal motivation for charity rather than a tool for subordination. Ultimately, applying Fikih Mubadalah restores the equal status of men and women as complementary partners in building a civilized society based on mutual respect and piety. [Artikel ini membahas stigma yang berkembang yang memandang perempuan secara inheren memiliki kekurangan akal dan agama, sebuah persepsi yang sering kali dilegitimasi oleh penafsiran tekstual terhadap teks-teks keagamaan, khususnya Hadis Shahih Bukhari No. 304. Kesalahpahaman ini melanggengkan bias gender dan melemahkan kapasitas perempuan di ruang publik. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mereinterpretasi konsep kekurangan pada perempuan guna menemukan makna yang lebih adil dan humanis yang selaras dengan nilai-nilai inti kesetaraan dalam Islam. Studi ini menggunakan metode penelitian kepustakaan kualitatif, dengan menerapkan pendekatan teologis normatif yang disinergikan dengan hermeneutika Fikih Mubadalah untuk menganalisis literatur primer dan sekunder terkait hadis tersebut. Hasil analisis menunjukkan bahwa istilah kekurangan bukanlah vonis teologis terhadap kodrat perempuan melainkan deskripsi kontekstual; kurang aka" merujuk pada konteks historis kesaksian hukum, sedangkan kurang agama merujuk pada dispensasi biologis dari ritual ibadah saat menstruasi. Lebih jauh, bukti ilmiah menunjukkan bahwa perbedaan emosional tidak sama dengan inferioritas intelektual. Dengan mengintegrasikan perspektif-perspektif ini, studi ini menyimpulkan bahwa hadis tersebut sejatinya berfungsi sebagai motivasi universal untuk bersedekah dan bukan alat untuk subordinasi. Pada akhirnya, penerapan Fikih Mubadalah mengembalikan status kesetaraan laki-laki dan perempuan sebagai mitra yang saling melengkapi dalam membangun masyarakat yang berkeadaban berdasarkan rasa saling menghormati dan ketakwaan.]