Aliyanto, Deky Nofa
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

“PENUH ROH KUDUS” KUASA RESISTENSI: TAFSIR KPR 4: 1-22 DALAM PERSPEKTIF POSKOLONIAL SUBALTERN GAYATRI CAKRAVOTI SPIVAK Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 5, No 2 (2024): JUNI 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v5i2.194

Abstract

AbstractThe horizon of interpretation of Kpr 4: 1-22 is predominantly based on a theological perspective (Christological, soteriological and missiological) with a critical historical approach to analyzing the text of the holy book. In a society at any time and anywhere, socio-political aspects are an integral and significant part that shapes the dynamics and social structure of society. So that within the framework of religion and society, the religious mystical experience of being "full of the Holy Spirit" as recorded in Kpr 4: 1-22 is undoubtedly related to the socio-political aspects of the era. This research aims to show that postcolonial interpretation of Acts 4:1-22 provides a concrete example of how the power of socio-political resistance can be expressed through the full spiritual experience of the Holy Spirit from Subaltern groups against the hegemony and domination of religious elite groups. This research uses a postcolonial hermeneutic approach which investigates issues of authority and power in the context of colonialism at the center of the study (interpretation) of the Bible. The research results show, First: The Jerusalem Council was a form of hegemony and domination of the religious elite group through imprisonment, silencing and threats of violence against Peter and John who were identical to the subaltern class group. Second: The Holy Spirit who filled the subaltern class group (Peter and John) in the phenomenon of mystical religious experience gave them the power to provide resistance so that the hegemony and domination of the religious elite group collapsed. Key words: Full of the Holy Spirit, Kpr 4:1-22, Resistance, postcolonial, Subaltern, hegemony, domination.
Agama Di Ruang Publik: Relevansi Pengalaman Mistik Keagamaan Gerakan Kristen Pentakosta Dalam Konteks Postmodern Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 3, No 1 (2021): Desember 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v3i1.70

Abstract

Abstrak Postmodern yang mencakup sebuah pemikiran baru, masa sejarah baru, produk budaya baru, dan suatu jenis teori baru tentang dunia sosial umumnya dipahami sebagai realitas yang memberikan tantangan-tantangan baru dalam wilayah agama khususnya agama Kristen. Beberapa penelitian sebelumnya cenderung mendukung pandangan ini. Namun pandangan demikian tidak sepenuhnya benar jika dikenakan pada perkembangan gerakan Kristen pentakosta yang memiliki kekhasan pada pengalaman-pengalaman mistik kegamaan. Dengan menggunakan teori agama diruang publik maka data-data bereputasi  menunjukkan  eksistensi dan perkembangan signifikan gerakan ini sejak awal  kelahiran  sampai sekarang yang secara faktual ada dalam konteks postmodern. Penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa pengalaman-pengalaman mistik keagamaan gerakan Kristen pentakosta relevan dalam konteks postmodern. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa gerakan Kristen pentakosta dengan kekhasan pada pengalaman-pengalaman mistik keagaamaan relevan dengan konteks postmodern yang telah menobatkan emosi sebagai instrumen untuk menemukan kebenaran. Oleh sebab itu gerakan keagaamaan yang memberikan penekanan pada pengalaman-pengalaman mistik keagamaan akan tetap eksis dalam konteks postmodern. Kata kunci: pengalaman mistik keagamaan, gerakan Kristen Pentakosta, Postmodern, emosi
Pengajaran Tuhan Yesus Tentang Konsep Kekayaan Dalam Injil Lukas Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 3, No 2 (2022): Juli 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v3i2.81

Abstract

Hidup dalam kekayaan menjadi harapan semua orang termasuk orang Kristen, terlebih dalam era globalisasi. Namun demikian Tuhan Yesus dalam kitab Injil sepertinya menentang perspektif demikian misalkan dalam kisah orang kaya yang bodoh (Lukas 12: 13-20). Kepemilikan kekayaan dianggap sebagai kebodohan oleh-Nya. Tulisan ini bertujuan untuk menjelaskan pengajaran Tuhan Yesus tentang konsep kekayaan dalam Injil Lukas sehingga melaluinya para pembaca khususnya orang Kristen memiliki pemahaman yang komprehensif.Penelitian ini menggunakan metodologi pendekatan kualitatif.  Sumber data didapatkan dari studi Alkitab dan literatur yang terdiri dari buku-buku, internet, artikel, serta data tertulis lain yang berkaitan dengan penelitian ini.  Secara spesifik penelitian ini akan menerapkan metode Teologi Biblika mencakup pendekatan hermeneutik untuk pengkajian Alkitab dengan tujuan memahami makna teks  yang dalam penelitian ini difokuskan dengan pengajaran Tuhan Yesus tentang konsep kekayaan dalam Injil Lukas. Hasil penelitian menunjukan bahwa pengajaran Tuhan Yesus tentang konsep kekayaan dalam Injil Lukas mencakup: Pertama, adanya konsep kekayaan jasmani dan rohani. Kekayaan jasmani berarti memiliki harta benda, sedangkan kekayaan rohani berarti memiliki kehidupan dan tinggal dalam kerajaan Allah yaitu jaminan keselamatan di dalam Yesus Kristus. Kedua, karakteristik konsep kekayaan jasmani dan rohani. Kekayaan jasmani yang berarti memiliki harta benda bersifat netral artinya tidak jahat dan tidak baik tergantung di tangan siapa dan digunakan untuk apa? Sedangkan menurut Yesus Kristus kekayaan Rohani bersifat mutlak diperlukan oleh semua orang. Kata kunci: Pengajaran Yesus, Konsep Kekayaan, Injil Lukas.
DIMENSI KULTIS DAN ETIS: KAJIAN HISTORIS-TEOLOGIS PRAKTIK PERSEPULUHAN DALAM ALKITAB Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 7, No 1 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v7i1.339

Abstract

AbstractThis article examines the cultic and ethical themes historically and theologically using biblical methods. The study finds that the cultic dimension of tithing practice is evident in its role as part of the worship and liturgical life of God's people, from the time of the patriarchs, the Torah period, the kingdom period, to the post-exilic restoration. Each historical period demonstrates that tithing is closely related to true worship, the maintenance of God's house, and the people's respect for God's holiness. The ethical dimension is evident in the Pentateuch and the writings of the prophets, where tithing is directly related to social justice, the welfare of priests and Levites, and concern for vulnerable groups such as foreigners, widows, and orphans. Furthermore, the criticism of the prophets, particularly Amos and Malachi, shows that the practice of tithing without righteousness, justice, and faithfulness is merely an empty formality rejected by God. This principle was reaffirmed by the Lord Jesus, who affirmed the importance of tithing but rejected religious hypocrisy that ignored the ethical aspects of the Torah.Keywords:  Tithing Practices, Cultism, Ethics. AbstrakArtikel ini mengkaji secara historis-teologis tema kultis dan etis dengan menggunakan metode penyelidikan Alkitab. Hasil penelitian menemukan bahwa dimensi kultis praktik persepuluhan terlihat dalam peran persepuluhan sebagai bagian dari ibadah dan tata kehidupan liturgis umat Allah, baik pada masa para patriarkh, periode Taurat, masa kerajaan, hingga pemulihan pasca-pembuangan. Setiap periode sejarah menunjukkan bahwa persepuluhan berkaitan erat dengan penyembahan yang benar, pemeliharaan rumah Tuhan, dan penghormatan umat terhadap kekudusan Allah. Dimensi etis terlihat dalam Pentateukh maupun tulisan para nabi, persepuluhan terkait langsung dengan keadilan sosial, kesejahteraan para imam dan orang Lewi, serta kepedulian terhadap kelompok rentan seperti orang asing, janda, dan anak yatim. Selain itu, kritik para nabi khususnya Amos dan Maleakhi yang menunjukkan bahwa praktik persepuluhan tanpa kebenaran hidup, keadilan, dan kesetiaan hanya akan menjadi formalitas kosong yang ditolak oleh Allah. Prinsip ini ditegaskan kembali oleh Tuhan Yesus yang mengafirmasi pentingnya persepuluhan, namun menolak kemunafikan religius yang mengabaikan aspek etis dari hukum Taurat.  
Fakta El Gibor Dalam Kisah Gideon dan Pergumulan Kaum Miskin Asia: Suatu Konstruksi Teologi Kontekstual Asia Aliyanto, Deky Nofa
LOGIA: Jurnal Teologi Pentakosta Vol 1, No 1 (2019): Desember 2019
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berea, Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37731/log.v1i1.23

Abstract

Masalah kemiskinan menjadi pergumulan sebagian besar masyarakat Asia sampai hari sehingga usaha berteologi harus menyentuh realitas itu. Usaha tersebut mungkin dikerjakan karena fakta El Gibore dalam kisah Gideon berkaitan dengan masalah kemiskinan. Tujuan penelitian ini adalah menemukan bagaimana kontruksi teologi kontekstual Asia berdasarkan fakta El Gibor dalam kisah Gideon dan pergumulan kaum miskin Asia. Penelitian ini menggunakan metode kuwalitatif Teologi Biblika dan Teologi Kontekstual dengan prosedur mencakup: Pertama, mendeskripsikan pergumulan kaum miskin Asia, Kedua, mengeksegesis fakta El Gibor dalam kisah Gideon dalam kaitannya dengan pergumulan kemiskinan, ketiga, mereduksi kedua data tersebut sehingga ditemukan konstruksi teologi kontekstual Asia dan Keempat, menarik kesimpulan. Hasil penelitian mencakup: Adanya perjumpaan kemiskinan Asia dan Israel zaman Gideon dalam dimensi ekonomis, sosiologis, psikologis dan mesinanis. Teisme bagi kaum miskin Asia adalah Allah yang memperjuangkan nasib kaum miskin yang hadir dalam penderitaan. Manusia dari realitas kemiskinan Asia terdiri dari kaum penindas dan tertindas yang keduanya memerlukan anugerah pengampunan Allah. Kata kunci: Kaum miskin Asia, El Gibor, kisah Gideon, Konstruksi.