Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH PEMBERIAN JUS BUAH NANAS MUDA (Ananas Comosus) DALAM MENURUNKAN INTENSITAS NYERI PADA LUKA RADANG AMANDEL (Tonsilitis) damanik, chrisyen
Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 4 No 2 (2019): Jurnal Medika : Karya Ilmiah Kesehatan Vol 4 No 2 Tahun 2019
Publisher : STIKES Wiyata Husada Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (188.281 KB) | DOI: 10.35728/jmkik.v4i2.100

Abstract

Latar belakang: Respon inflamasi yang terjadi pada klien yang menderita tonsilitis adalah nyeri. Penilaian rasa sakit dalam intervensi keperawatan berdasarkan penggunaan bahan-bahan alami seperti nanas muda yang mengandung enzim bromeilin yang dapat mengatasi peradangan yang disebabkan oleh bakteri streptococcus. Tujuan: untuk mengetahui efektivitas pemberian jus nanas muda (Ananas Comosus) untuk mengurangi intensitas rasa sakit untuk klien yang menderita tonsilitis. Metode: penelitian ini menggunakan eksperimen semu dengan pendekatan time series. Itu dilakukan dari bulan Juli 2019 dengan total sampel 13 responden dengan pengambilan sampel berturut-turut jus dengan 90cc / hari tanpa gula dalam 7 hari. Hasil: analisis statistik ini menggunakan uji Friedman dan diperoleh nilai p 0,000 atau (p <0,05), artinya ada perbedaan hasil intensitas nyeri sebelum dan sesudah melakukan intervensi pada 1, 3, 5, 7 hari. Hasil analisis post hoc Wilcoxon menunjukkan bahwa terdapat perbedaan intensitas nyeri antara hari 1 dan hari 3 p 0,000 hari 3 dan hari 5 p 0,001, hari 5 dan hari 7 p 0,001, kemudian hari-ke-hari 1 dengan hari 5 p 0,001 dan hari 1 dengan hari 7 hal 0.001. Kesimpulan: penelitian ini menunjukkan ada perbedaan rerata intensitas skor nyeri sebelum dan sesudah pemberian jus nanas muda adalah hari pertama dengan hari ke 3, hari ke 3 dengan hari ke 5, hari ke 5 dengan hari ke 7, kemudian hari ke 1 dengan hari ke 5 dan hari ke 1 dengan hari ke 7
PARTICIPATION OF HEALTH CAREERS AS IMPLEMENTATION OF NURSING CARE WITH COMMUNITY ATTITUDES IN EFFORTS TO PREVENT COVID-19 Sholichin; Damanik, Chrisyen; fittarsih, Niya; Purwanto, Puwanto
Jurnal Kesehatan Vol 11 No 2 (2024): Jurnal Kesehatan
Publisher : STIKES Bethesda Yakkum

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35913/jk.v11i2.397

Abstract

Pendahuluan : Upaya pencegahan Covid-19 yang dapat dilakukan adalah dengan pemberdayaan masyarakat dalam hal ini adalah peran aktif kader kesehatan yang dapat menjadi role model dan memberikan contoh ke masyarakat. Sikap masyarakat merupakan faktor penting untuk mewujudkan perilaku yang efektif dalam pencegahan penularan penyakit Covid-19. Metode: Penelitian korelasional melalui pendekatan cross sectional. 109 responden yang terlibat dalam penelitian dengan teknik consecutive sampling. Analisa data dilakukan dengan uji Spearman Rho dengan tingkat signifikansi 0,05. Hasil : Responden penelitian didominasi laki-laki (n=69; 63,3%), berusia 36-45 tahun (n=45; 41,28%), berpendidikan SMA (n=45; 41,3%) dan bekerja petani(n=40; 36,69%). Skor rata-rata partisipasi kader adalah 70,01 dan sikap masyarakat adalah 56,56. Terdapat hubungan yang signifikan antara partisipasi kader kesehatan dengan sikap masyarakat dalam upaya pencegahan COVID-19 di Kecamatan Talisayan (p= 0,000; koefisien korelasi 0,364). Simpulan & Saran: Semakin baik partisipasi kader akan meningkatkan sikap masyarakat dalam pencegahan COVID-19. Diharapkan pemberdayaan masyarakat dilakukan secara optimal dalam pencegahan penularan COVID-19.
GAMBARAN KEMAMPUAN AMBULASI DINI POST OPERASI PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS BAWAH DI RUANG PERAWATAN BEDAH RSUD dr. ABDUL RIVAI BERAU Damanik, Chrisyen; Sinaga, Sumiati; Rosalina, Sara
Jurnal Keperawatan Wiyata Vol. 5 No. 2 (2024): Volume 5 Nomor 2 Tahun 2024
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan ITKes Wiyata Husada Samarida

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35728/jkw.v5i2.1460

Abstract

Latar Belakang: Penyebab masalah keperawatan post tindakan operasi fraktur ekstremitas bawah adalah gangguan ambulasi atau aktivitas berjalan yang kemudian disertai dengan oedema, keterbatasan luas gerak sendi, dan penurunan kekuatan otot. Kemampuan ambulasi pada pasien post operasi akibat fraktur ekstremitas bawah menjadi dasar dalam menentukan intervensi keperawatan lebih lanjut. Tindakan paling umum dilakukan oleh perawat di RSUD dr. Abdul Rivai pada pasion post operasi fraktur ekstremitas bawah diantaranya adalah latihan miring kanan dan miring kiri. Tujuan: Untuk menganalisa gambaran kemampuan ambulasi post operasi pada pasien fraktur ekstremitas bawah di ruang perawatan bedah RSUD dr. Abdul Rivai Berau. Metode: Penelitian deskriptif kuantitatif yang bertujuan mendeskripsikan gambaran kemampuan pasien ambulasi post oporasi dengan fraktur ekstremitas bawah beserta variabel lain yang mendukungnya, menggunakan 26 responden. Hasil: Kategori ambulasi 6-8 jam terbanyak 42.3% (11 responden) yaitu mampu menggerakkan kaki dan mengkontraksikan otot kaki, kategori ambulasi 12-24 jam terbanyak 57.7% (15 responden) yaitu mampu duduk dengan posisi kaki tergantung dan kategori ambulasi >24 jam terbanyak 65.4% (17 reponden) yaitu dapat melakukan mobilisasi sederhana dengan bantuan. Kesimpulan: Ambulasi >24 jam terbanyak pada responden yang dapat mobilisasi sederhana dengan bantuan 65.4% (17 responden) dan dengan mobilisasi sederhana secara mandiri 34.6% (9 responden).
Pengaruh Pijat Laktasi Terhadap Kelancaran Pengeluaran Asi Pada Ibu Post Partum Di Wilayah Kerja Puskesmas Baqa Kota Samarinda Azizah, Ema Nur; Prasetiyarini, Asih; Damanik, Chrisyen; Meihartati, Tuti
Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal Vol. 1 No. 2 (2023): Mutiara: Multidiciplinary Scientifict Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/mutiara.v1i2.30

Abstract

Latar Belakang : Menyusui terkadang menyebabkan lecet atau luka pada puting ibu karena respon bayi terhadap ASI yang tidak lancar sehingga menyebabkan bayi semakin memperkuat hisapannya untuk mendapatkan ASI yang cukup. Ibu yang mengalami masalah ketidaklancaran pengeluaran ASI maka berpengaruh terhadap pemberian ASI yang kurang optimal. Pijat laktasi merupakan salah satu intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan produksi ASI. Tujuan : teranalisanya pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum. Metode : penelitian Pre-Eksperiment dengan desain penelitian one group pretest-posttest. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling sehingga responden berjumlah 36 orang. Instrumen menggunakan kuesioner kelancaran pengeluaran ASI Puspitasari, 2016 dalam penelitian Kharisma, 2019 dan SOP pijat laktasi. Analisa data menggunakan uji Paired Samples T-test. Hasil : Hasil penelitian kelancaran pengeluaran ASI sebelum diberikan pijat laktasi, yaitu mempunyai skor rata-rata 62,47. Sedangkan kelancaran pengeluaran ASI setelah dilakukan pijat laktasi memperoleh kenaikan skor rata-rata yaitu 87,17. Hasil analisis uji Paired Samples T-test menunjukkan Sig.(2-tailed) 0.000 < α 0.05, sehingga terdapat pengaruh pijat laktasi terhadap kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja puskesmas Baqa kota Samarinda. Kesimpulan : skor rata-rata kelancaran pengeluaran ASI pada seluruh responden yang diberikan pijat laktasi mengalami kenaikan oleh karena itu pijat laktasi sangat bermanfaat dalam meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI pada ibu postpartum di wilayah kerja Puskesmas Baqa. Disarankan kepada tenaga kesehatan dapat menjadikan pijat laktasi sebagai alternatif non farmakologi dalam upaya meningkatkan kelancaran pengeluaran ASI dan mengedukasi ibu postpartum terkait ASI.
Caregiver Knowledge and Functional Status in Preventing Pressure Ulcers among Stroke Patients: A Cross-Sectional Study Damanik, chrisyen; Pratama, Salwa Setya Anggun
Journal of Applied Nursing and Health Vol. 7 No. 3 (2025): Journal of Applied Nursing and Health
Publisher : Chakra Brahmanda Lentera Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55018/janh.v7i3.408

Abstract

Background: Stroke is a leading cause of death and disability, often reducing patients' quality of life and increasing caregiver burden. Immobility after stroke raises the risk of pressure ulcers, worsening outcomes, and prolonging hospital stays. Caregivers are crucial in prevention, as their knowledge and functional ability affect care effectiveness. However, few studies have explored the direct link between caregiver knowledge and functional status in pressure ulcer prevention, particularly in home or community settings. This study aims to examine that relationship. Methods: This cross-sectional study (June–July 2025) in Indonesia involved 38 primary caregivers of stroke patients, selected via consecutive sampling. Eligible caregivers were ≥18 years old, had ≥1 month of caregiving experience, and consented; professional caregivers and those caring for acute-phase patients were excluded. Data were collected using bilingual questionnaires on caregiver knowledge (15 items, α = 0.739) and functional status (18 items, α = 0.878). Descriptive statistics summarized participant characteristics, and Pearson’s correlation analyzed the relationship between knowledge and functional status. Results: Most caregivers were aged 46–55 (42.1%), female (76.3%), educated to junior/high school level (71.1%), and predominantly housewives (47.4%). A majority (76.3%) had no prior caregiving experience. The mean knowledge and functional status scores were 10.58 ± 1.605 and 61.95 ± 4.550, respectively. Pearson’s correlation revealed a strong, significant positive relationship between caregiver knowledge and functional status (r = 0.634; p < 0.001), suggesting that greater understanding of pressure ulcer prevention is associated with improved caregiving performance in stroke care. Conclusion: Caregivers’ knowledge and functional status directly affect their effectiveness in stroke care. Better-informed caregivers more successfully prevent pressure ulcers, emphasizing the need for structured training programs that build skills and confidence, improve patient outcomes, and reduce complications.