Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

PENGARUH POLIMORFISME GEN RESEPTOR VITAMIN D BsmI rs1544410 PADA PSORIASIS Lufiana, Fardella
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 11, No 3 (2024): Volume 11 Nomor 3
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v11i3.13435

Abstract

Abstrak: Pengaruh Polimorfisme Gen Reseptor Vitamin D BsmI rs1544410 Pada Psoriasis. Psoriasis merupakan penyakit multifactorial baik ekstrinsik maupun intrinsic. Salah satu factor yang berperan penting adalah factor genetic. Dasar genetika molekuler psoriasis bersifat komplek terbukti dari banyak gen yang berperan. Salah satu gen yang berperan adalah gen dari vitamin D dikarenakan terjadinya perbedaan respon pasien terhadap terapi Vitamin D. Gen Reseptor Vitamin D BsmI merupakan salah satu gen yang berada di intron 8 dan belum banyak diteliti pada kelompok psoriasis di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh polimorfisme gen RVD BsmI pada pasien psoriasis. Metode penelitian ini adalah case control terhadap 44 subyek kelompok psoriasis dan 44 subyek kelompok tidak psoriasis dengan usia >18 tahun. Dilakukan PCR-RFLP terhadap hasil isolasi DNA pada kedua kelompok. Analisis data dilakukan dengan uji Chi Square. Hasil analisis didapat Varian GG (bb) lebih banyak terdapat dikedua kelompok (kasus:77,3%;kontrol:81,8%) dibandingkan varian GA (Bb). Pada penelitian ini tidak terdapat varian AA (BB). Dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat hubungan yang bermakna antara varian GG (bb) dan GA (Bb) dengan kejadian psoriasis (p=0,792).
Persentase Visceral Fat Berhubungan Dengan Kejadian Diabetes Melitus Tipe 2 di Rumah Sakit Umum Haji Medan Rahmania, Puja; Lufiana, Fardella
JURNAL PANDU HUSADA Vol 5, No 4 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/jph.v5i4.21485

Abstract

Abstrak: Diabetes melitus merupakan suatu kelompok penyakit metabolik yang diikuti dengan karakteristik hiperglikemia yang terjadi akibat kelainan sekresi insulin, kerja insulin, atau keduanya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya diabetes melitus ini disebabkan oleh usia, jenis kelamin, genetik, gaya hidup, aktivitas fisik, status gizi baik obesitas sentral maupun perifer. Obesitas ini sendiri dapat dilihat dari pemeriksaan distribusi lemak, yang terbagi atas subcutaneus fat dan visceral fat. Visceral fat ini biasanya akan terkumpul pada area perut yang sering disebut lemak intra abdominal. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan persentase visceral fat dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 di rumah sakit umum haji medan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Subjek penelitian berjumlah 69 pasien diabetes melitus tipe 2 di rumah sakit umum haji medan yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil uji korelasi pearson menunjukkan adanya hubungan persentase visceral fat dengan kejadian diabetes melitus tipe 2 dengan nilai signifikan koefisien korelasi 0,681 (p= 0,001). Kesimpulan penelitian ini, terdapat korelasi hubungan persentase visceral fat pada kejadian diabetes melitus tipe 2 pada sampel secara keseluruhan dengan kekuatan korelasi kuat
Hubungan Persentase Visceral Fat dengan Tekanan Darah pada Pasien DM Tipe II di RS Haji Medan Adetya, Intan Tiara; Lufiana, Fardella
Buletin Farmatera Vol 10, No 3 (2025)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30596/bf.v10i3.24445

Abstract

Abstract: Diabetes mellitus is a metabolic disorder with chronic hyperglycemia due to genetic and lifestyle interactions. Type 2 diabetes and hypertension are often comorbidities because they share risk factors such as endothelial dysfunction, vascular inflammation, atherosclerosis, dyslipidemia, and obesity. Increased blood pressure in diabetics is triggered by hyperinsulinemia, insulin resistance, and sleep apnea. Visceral fat also plays an important role in the development of hypertension, especially in adulthood. This study aims to determine the relationship between visceral fat percentage and blood pressure in Type II DM patients at Haji Medan Hospital The research conducted was observational analytical research with a cross sectional approach. The largest age group is 50–59 years old and the most gender is male (53.6%). The most blood pressure category is grade I hypertension (50.7%), and the most visceral fat category is high (10–14%). Systolic blood pressure had an average value of 142.4 mmHg, diastolic 81.8 mmHg, and MAP 102 mmHg. The correlation of blood pressure with visceral fat has a coefficient of 0.14 which indicates a moderate relationship. The correlation of systolic and visceral fat (r = 0.350) showed a low relationship, while the correlation of diastolic and visceral fat (r = 0.416) showed a moderate relationship. The most patients diagnosed with type 2 DM at Haji Medan Hospital are male with a percentage of 53.6% with the highest age range of 50-59 years, there is a positive correlation between the percentage of visceral fat and blood pressure, both systolic and diastolic. 
Hubungan Indeks Massa Tubuh (IMT) Dengan Derajat Nyeri Pada Pasien Gout Artritis Di Klinik Pratama Aisyiyah Medan Amplas Chumairah, Salsabilah; Lufiana, Fardella
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 12, No 8 (2025): Volume 12 Nomor 8
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v12i8.20362

Abstract

Artritis gout merupakan penyakit inflamasi sendi yang ditandai oleh nyeri akibat deposisi kristal monosodium urat. Nyeri bersifat subjektif dan bervariasi dalam tingkat keparahannya. Faktor risiko seperti usia, jenis kelamin, pola makan, dan obesitas—yang ditunjukkan melalui Indeks Massa Tubuh (IMT) tinggi—diduga memengaruhi tingkat keparahan nyeri pada penderita. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara IMT dan derajat nyeri pada pasien artritis gout di Klinik Pratama Aisyiyah Medan Amplas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif analitik dengan desain potong lintang (cross-sectional) dan teknik purposive sampling. Pengukuran IMT dilakukan menggunakan timbangan digital dan stature meter, sedangkan derajat nyeri diukur dengan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar pasien berada pada kategori overweight (38,6%) dan obesitas (33,3%). Tingkat nyeri yang paling sering dialami adalah nyeri sedang (36,8%) dan nyeri berat (36,8%). Hasil analisis korelasi Spearman menunjukkan adanya hubungan yang signifikan dan kuat antara IMT dan derajat nyeri (p < 0,001; r = 0,760). Semakin tinggi IMT, semakin tinggi pula tingkat nyeri pada pasien artritis gout
Upaya Promotif Kesehatan Metabolik melalui Identifikasi Prediabetes dan Edukasi Kopi Sehat pada Pegawai BKKBN di Sumatera Utara: Metabolic Health Promotion Efforts through Identification of Prediabetes and Healthy Coffee Education for BKKBN Employees in North Sumatra Nasution, Huwainan Nisa; Febriyanti, Eka; Lufiana, Fardella
PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 9 (2025): PengabdianMu: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/pengabdianmu.v10i9.10058

Abstract

Prediabetes is a condition characterized by glucose or HbA1C levels that do not meet the criteria for diabetes but have abnormal carbohydrate metabolism that results in abnormal glucose levels between normoglycemia and diabetes. Early screening in young adults is an effort to prevent progression to diabetes mellitus. On the other hand, coffee consumption habits in young adults, including office workers, affect glucose metabolism and insulin sensitivity. This activity aims to identify prediabetes status in employees of Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) in North Sumatra through fasting blood glucose level examinations, as well as providing education about prediabetes and healthy coffee. The methods used include interactive counseling and fasting blood glucose level examinations using spectrophotometry techniques. The results of the activity showed that 26.7% of participants suffered from prediabetes, and most of them did not know the relationship between coffee consumption and prediabetes. Conclusion: This activity increased participants' knowledge and awareness of healthy coffee and efforts to prevent prediabetes.
HUBUNGAN ANTARA TINGKAT AKTIVITAS FISIK DENGAN DERAJAT KEPARAHAN OSTEOARTRITIS Mustaqim, M Rifqi Rahmat; Lufiana, Fardella; Rangkuti, Deske Muhadi
Jambura Health and Sport Journal Vol 7, No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Negeri Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37311/jhsj.v7i2.31935

Abstract

Osteoartritis adalah penyakit degeneratif yang ditandai dengan degradasi matriks kartilago articular yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya adalah tingkat aktivitas fisik yang dapat diukur dengan international physical activity questionnaire (IPAQ). Tujuan dari penelitian untuk menentukan apakah ada korelasi antara tingkat aktivitas dengan derajat keparahan osteoartritis. Penelitian ini mengaplikasikan metode deskriptif analitik dengan pendekatan Cross Sectional. Sebanyak 67 pasien osteoartritis di poli reumatologi Rumah Sakit Umum (RSU) Haji Medan diambil sebagai sampel dengan menggunakan teknik purposive sampling, kriteria inklusi meliputi pasien yang terdiagnosis osteoartritis lutut berdasarkan kriteria radiografi Kellgren-lawrence dengan hasil pemeriksaan X-ray pada rekam medik, berusia diatas 50 tahun dan bersedia berpartisipasi setelah mengisi lembar informed consent. Pasien dengan kondisi medis lain yang dapat memengaruhi tingkat aktivitas fisik seperti gangguan neurologis dan muskuloskeletal atau yang tidak dapat mengisi kuesioner pada pasien yang mengalami gangguan kognitif akan dieksklusi dari penelitian. Analisa penelitian dilakukan dengan menggunakan uji Spearman. Temuan penelitian menunjukkan bahwa tingkat aktivitas fisik sebagian besar pasien adalah tinggi (44,8%) dan aktivitas tingkat sedang (31,3%). Derajat keparahan osteoartritis paling banyak adalah grade 2 dengan jumlah 30 orang (44,8%) diikuti oleh grade 3 dengan jumlah 21 orang (31,3%). Analisis korelasi spearman didapati nilai (p = 0,000 0,05, r = -0,453). Kesimpulannya bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat aktivitas fisik dengan derajat keparahan osteoartritis dengan kekuatan korelasi yang cukup dan arah hubungan yang negatif. Indikasinya, bahwa intervensi berbasis aktivitas fisik dapat menjadi komponen penting dalam penatalaksanaan osteoartritis.