Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PANDANGAN ORANG JAWA TERHADAP KETAMPANAN DI DALAM KORPUS BAHASA JAWA Enggartias Larasati; Novika Stri Wrihatni; Dwi Rahmawanto
Cross-border Vol. 6 No. 2 (2023): JULI-DESEMBER
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Masyarakat Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research aimed to discover the concept of the word handsomeness in the perspective of Javanese people. The concept could be discovered by understanding the meaning of the word bagus based on its usage in the society. The data utilized to discover the meaning of bagus was obtained from the Javanese corpus in the corpus web application at https://korpus.ui.ac.id/. In the corpus web application, there is a data in which Javanese is utilized both from the oral and written sources since 1950 until 2010, approximately four million words. The meaning of bagus was discovered through collocation of the word’s meaning with another words. It refers to the concept of semantic preference. The words related with the word “bagus” was categorized based on the category of UCREL Semantic Analysis System (USAS). The research discovered that the word bagus is not only associated with a man with certain level of maturity, but also applies for kids and babies. Moreover, bagus is also associated with objects, animals, thoughts, personality, beliefs, and politeness. It discovers a new understanding to the concept of the word bagus in the Javanese society which is previously associated with the physical condition or a man’s look.
Adverbia Temen dan Tenan Sebagai Penanda Kesangatan dan Kesungguhan dalam Bahasa Jawa Melvi Ilya Herdiana; Novika Stri Wrihatni
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i3.1404

Abstract

Adverbia temen dan tenan dalam bahasa Jawa menunjukkan makna yang sama. Berbagai penelitian terdahulu terbatas pada definisi adverbia temen dan tenan. Penelitian ini menemukan perbedaan adverbia temen dan tenan apabila dilihat dari suatu konstruksi. Tujuan penelitian ini untuk menunjukkan perbedaan adverbia temen dan tenan secara gramatikal serta menunjukkan makna kesangatan dan kesungguhan pada adverbia temen dan tenan. Sumber data penelitian ini berupa novel dan cerkak berbahasa Jawa pada tahun 2000-2020. Dari sumber data tersebut, terdapat permasalahan pada data berupa kalimat yang mengandung adverbia temen dan tenan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan cara penyajian informal, yaitu tanpa menggunakan lambang khusus. Hasil analisis menunjukkan bahwa adverbia temen dan tenan memiliki perbedaan secara gramatikal, tetapi sama-sama dapat digunakan untuk menunjukkan makna kesangatan dan kesungguhan. Makna kesangatan dan kesungguhan pada adverbia temen dan tenan dipengaruhi oleh kelas kata konstituen pendamping dan posisi adverbia temen dan tenan, atau bahkan konteks kalimat sebelum dan sesudahnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adverbia temen dan tenan mengalami ketaksaan sehingga membutuhkan konstituen pendamping atau konteks untuk mengetahui maknanya
Low Malay Language as A Stimulant for Bahasa Indonesia Development Novika Stri Wrihatni; Sutami, Hermina
International Journal of Culture and Art Studies Vol. 2 No. 1 (2019): International Journal of Cultural and Art Studies (IJCAS)
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (761.795 KB) | DOI: 10.32734/ijcas.v2i1.938

Abstract

Bahasa Indonesia, which is the national and official language in Indonesia, is the result of the development of the High Malay Language (High Malay) in Riau. As the language used in the literature published by Balai Pustaka, the High Malay is respected as a language that is higher; than other languages used by the people of the Archipelago in the period before Indonesian independence in 1945. One of the lower languages is Low Malay Language (Low Malay). Some literary works written in this language were printed by printing presses belonging to individuals consisting of indigenous and Chinese groups. The Low Malay style was used in writing romance to make the stories feel more alive. This language of conversation should be counted as one type of language that contributes to the Indonesian language. The range of its uses is vast. However, with the development of politics in Indonesia, the Low Malay is once again marginalized. The language now only lives in conversation, yet it remains alive and developed along with the development of the times and the many influences of foreign languages on Indonesian language.
Kalimat Tanya : Kajian Sintaktis Bentuk Kalimat Tanya Dalam Novel Bekisar Merah Wurjantoro, Wawan; Wrihatni, Novika Stri
Blantika: Multidisciplinary Journal Vol. 3 No. 8 (2025): Special Issue
Publisher : PT. Publikasiku Academic Solution

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57096/blantika.v3i8.390

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi kalimat tanya dalam novel "Bekisar Merah" karya Ahmad Tohari, dengan berkonsentrasi pada proses penyusunan kalimat interogatif dari struktur deklaratifnya. Dalam bahasa Indonesia, kalimat interogatif biasanya berasal dari kalimat deklaratif dengan menghadap kata-kata interogatif, seperti apa (apa), siapa (siapa), di mana (dimana), dan kapan (kapan), dari struktur deklaratif. Penelitian ini mengidentifikasi kalimat interogatif yang memerlukan respons dan yang tidak, sering menggunakan kata kueri "apakah" (adalah/sedang atau lakukan/lakukan). Selain itu, penelitian ini mengidentifikasi kata-kata interogatif tambahan daripada "apakah" yang digunakan untuk pertanyaan yang tidak memerlukan tanggapan. Penelitian ini bertujuan untuk menawarkan wawasan mendalam tentang pola dan penggunaan frasa interogatif dalam bahasa Indonesia, khususnya dalam karya sastra.
Adverbia Temen dan Tenan Sebagai Penanda Kesangatan dan Kesungguhan dalam Bahasa Jawa Ilya Herdiana, Melvi; Stri Wrihatni, Novika
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 3 (2024): COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v4i3.1404

Abstract

Adverbia temen dan tenan dalam bahasa Jawa menunjukkan makna yang sama. Berbagai penelitian terdahulu terbatas pada definisi adverbia temen dan tenan. Penelitian ini menemukan perbedaan adverbia temen dan tenan apabila dilihat dari suatu konstruksi. Tujuan penelitian ini untuk menunjukkan perbedaan adverbia temen dan tenan secara gramatikal serta menunjukkan makna kesangatan dan kesungguhan pada adverbia temen dan tenan. Sumber data penelitian ini berupa novel dan cerkak berbahasa Jawa pada tahun 2000-2020. Dari sumber data tersebut, terdapat permasalahan pada data berupa kalimat yang mengandung adverbia temen dan tenan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan cara penyajian informal, yaitu tanpa menggunakan lambang khusus. Hasil analisis menunjukkan bahwa adverbia temen dan tenan memiliki perbedaan secara gramatikal, tetapi sama-sama dapat digunakan untuk menunjukkan makna kesangatan dan kesungguhan. Makna kesangatan dan kesungguhan pada adverbia temen dan tenan dipengaruhi oleh kelas kata konstituen pendamping dan posisi adverbia temen dan tenan, atau bahkan konteks kalimat sebelum dan sesudahnya. Kesimpulan dari penelitian ini adalah adverbia temen dan tenan mengalami ketaksaan sehingga membutuhkan konstituen pendamping atau konteks untuk mengetahui maknanya
BENTUK  DAN PENGGUNAAN KATA SAPAAN IBU DALAM BAHASA JAWA Neisya Kirana; Widhyasmaramurti; Novika Stri Wrihatni
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 2 No. 1 (2025): JANUARI 2025
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kata sapaan ibu, simak, simbok, dan biyung dipakai untuk menyapa perempuan kelas bawah oleh masyarakat kelas bawah (Atmawati, 2020). Penggunaanya dapat dilihat untuk dipakai oleh pelosok pedesaan dengan taraf ekonomi yang rendah. Akan tetapi, ditemukan data yang menunjukkan adanya perbedaan dari pernyataan Atmawati (2020) karena ada penggunaan biyung oleh mitra tutur dengan taraf ekonomi atas dan peggunaan ibu oleh suami kepada istri. Faktor tersebut menjadi alasan utama dalam penelitian ini yaitu untuk menjelaskan bentuk kata sapaan ibu, simak, simbok, dan biyung dalam masyarakat Jawa serta menjelaskan penggunaan kata sapaan tersebut di rentang waktu yang berbeda. Sumber data dalam penelitian ini berasal dari novel dan cerita pendek yang diterbitkan pada tahun 1960-an hingga 2020-an. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif, dan pengumpulan datanya memakai teknik simak catat. Penggunaan teori morfologi oleh Kridalaksana (2008) untuk menjelaskan bentuk kata sapaan, dan teori Kridalaksana (1993) serta teori Sulistyowati (2008) untuk menjelaskan penggunaan kata sapaan ibu dalam bahasa Jawa.  Hasil analisis menunjukkan bahwa kata sapaan ibu, simak, simbok, dan biyung memiliki bentuk utuh dan pemenggalan dengan arti yang sama. Pada penggunaannya ada faktor penentu non-kebahasaan dalam menambah penjelasan. Penggunaan kata sapaan ibu dan biyung terdapat perluasan konteks pada status sosial dan usia antara penutur dan mitra tutur.
PENGETAHUAN BERSAMA SEBAGAI UNSUR PEMBANGUN HUMOR PADA <em>STAND UP COMEDY</em> Fauzy, Miftah; Wrihatni, Novika Stri; Rahmawanto, Dwi
Multikultura Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini menjelaskan pengetahuan bersama sebagai pembangun humor pada Stand Up Comedy (SUC) yang dilakukan oleh komika Deddy Gigis, Sega, dan Wawan Saktiawan. Pemilihan topik penelitian ini dilatarbelakangi oleh ditemukannya efek lucu yang disebabkan oleh aspek di luar bahasa. Pada penelitian sebelumnya, efek lucu dipengaruhi oleh gaya bahasa. Oleh sebab itu, penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran pengetahuan bersama pada SUC. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data yang digunakan berupa ujaran yang menghasilkan efek lucu karena pengetahuan bersama dengan sumber data lisan pada pertunjukkan Stand Up Comedy (SUC) oleh Deddy Gigis, Sega, dan Wawan Saktiawan yang tayang di jaringan televisi bernama JTV, tetapi diunggah di YouTube dengan akun bernama Khatulistiwa. Analisis data menggunakan teori tindak ilokusi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa humor dengan menghadirkan pengetahuan bersama dibangun dengan cara 1) menghadirkan konteks lain pada pengetahuan bersama, 2) menyelewengkan pengetahuan bersama, dan 3) mengomentari pengetahuan bersama. Kesimpulan pada penelitian ini menunjukkan bahwa dalam menyampaikan humor Stand Up Comedy (SUC), daya ilokusi tidak hanya terealisasi oleh wacana atau kata-kata, tetapi juga dengan menghadirkan pengetahuan bersama bersamaan dengan wacana yang disampaikan.
Intonasi Tuturan Bahasa Jawa Logat Korea Chairina, Shafira Dinda; Wrihatni, Novika Stri
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 12 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i12.9024

Abstract

Ditemukan tuturan bahasa Jawa berlogat Korea pada media sosial TikTok yang menunjukkan pola intonasi berbeda dari bahasa Jawa standar. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan perbedaan pola intonasi tuturan deklaratif, interogatif, dan imperatif dalam bahasa Jawa berlogat Korea dibandingkan dengan bahasa Jawa standar, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menyebabkan perbedaan tersebut. Metode kualitatif dengan pendekatan fonetik akustik digunakan dalam penelitian ini. Data bersumber dari tiga akun TikTok (@artiyanangeliza_, @awingaljamal, dan @bukanoppa_new) yang berisi video parodi bahasa Jawa berlogat Korea. Analisis dilakukan menggunakan aplikasi PRAAT untuk mengukur kontur nada pada suku kata ultima dan penultima, dengan merujuk pada temuan Horne (1961), Wedhawati et al. (2001), dan Rahyono (2003) sebagai pembanding. Uji persepsi melibatkan 30 penutur jati bahasa Jawa untuk memvalidasi perbedaan intonasi yang teridentifikasi. Hasil penelitian menunjukkan perbedaan signifikan pada tuturan deklaratif dan interogatif. Tuturan deklaratif bahasa Jawa berlogat Korea memiliki pola naik-turun-naik besar (berbeda dari pola naik-turun pada bahasa Jawa standar), sedangkan tuturan interogatif menunjukkan pola turun-naik (berbeda dari pola turun-turun pada bahasa Jawa standar). Pada tuturan imperatif, perbedaan tidak signifikan secara pola, namun terdapat perbedaan mencolok pada besaran kenaikan nada akhir (173.4 Hz pada bahasa Jawa berlogat Korea versus 43.5 Hz pada bahasa Jawa standar). Temuan ini melengkapi kajian intonasi bahasa Jawa dengan menambahkan variasi baru yang dipengaruhi logat asing, khususnya dalam konteks perkembangan media sosial dan kreativitas linguistik masyarakat Jawa kontemporer.