Ermin Alperiana Mosooli
Sekolah Tinggi Teologi Star's Lub Luwuk Banggai

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : JURNAL MISIONER

NILAI PENGANTIN PEREMPUAN DALAM MAS KAWIN SUKU BANGGAI DITINJAU DARI KONSEP IMAGO DEI DALAM KEJADIAN 1:26-27 Yusdian Lumbon; Ermin Alperiana Mosooli; Oskar Sopang
Misioner Vol 1 No 1 (2021)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (258.347 KB) | DOI: 10.51770/jm.v1i1.3

Abstract

This study aims to examine the bride's value in the Banggainese (in Central Sulawesi Province, Indonesia) dowry tradition from the concept of man and woman as Imago Dei in Genesis 1: 26-27. The method used is a literature study with content analysis as a data analysis technique. The results showed that the prospective bride's value in the Banggainese dowry tradition contradicts the human concept as Imago Dei in Gen 1: 26-27. As Imago Dei, women and men are created equal and are equally servants of Allah whose position is above other creations. The bride's value in the Banggainese dowry tradition shows that women's status is lower than men. It put a prospective bride as an object who could exchange for family prestige and adjusted with things like money.
PERAN GEREJA DALAM PENDIDIKAN SEKS KEPADA REMAJA DI GEREJA ANUGERAH BENTARA KRISTUS (GABK) JEMAAT HOSANA BOLUNI Sartini Sitoki; Iran Morente; Milka Elsin; Ermin Alperiana Mosooli
Misioner Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (445.566 KB) | DOI: 10.51770/jm.v2i1.44

Abstract

Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah adanya realita perilaku seks bebas pada remaja di lingkungan Gereja Anugerah Bentara Kristus (GABK) Jemaat Hosana Boluni. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) mengetahui apakah apa saja peran gereja dalam mengatasi perilaku seks bebas remaja; 2) bagaimana persepsi pengambil kebijakan dan orang tua di gereja mengenai pendidikan seks untuk mengatasi perilaku seks bebas pada remaja. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan data dianalisa menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa: Pertama, upaya yang telah dilakukan oleh gereja baru sebatas: 1) mengajarkan firman Tuhan, 2) Memberikan nasihat kepada remaja. Kedua, secara umum pendeta, majelis gereja, dan orang tua belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik mengenai pendidikan seks untuk remaja.Masalah yang menjadi fokus dalam penelitian ini adalah adanya realita perilaku seks bebas pada remaja di lingkungan Gereja Anugerah Bentara Kristus (GABK) Jemaat Hosana Boluni. Tujuan penelitian adalah untuk: 1) mengetahui apakah apa saja peran gereja dalam mengatasi perilaku seks bebas remaja; 2) bagaimana persepsi pengambil kebijakan dan orang tua di gereja mengenai pendidikan seks untuk mengatasi perilaku seks bebas pada remaja. Penulis menggunakan metode kualitatif deskriptif, teknik pengumpulan data menggunakan wawancara, dan data dianalisa menggunakan teknik reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Setelah melakukan penelitian, penulis menemukan bahwa: Pertama, upaya yang telah dilakukan oleh gereja baru sebatas: 1) mengajarkan firman Tuhan, 2) Memberikan nasihat kepada remaja. Kedua, secara umum pendeta, majelis gereja, dan orang tua belum memiliki kesadaran dan pemahaman yang baik mengenai pendidikan seks untuk remaja.
PERNIKAHAN SEBAGAI PENYEBAB KONVERSI AGAMA DI KALANGAN PEMUDA GPIBK JEMAAT BUKIT ZAITUN BAKUM Manganai, Alpian; Mosooli, Ermin Alperiana; Ruindungan, Leo Mardani
Misioner Vol 2 No 1 (2022)
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID MAKALE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.471 KB) | DOI: 10.51770/jm.v2i1.45

Abstract

Penelitian ini bertujuan menggali bagaimana pernikahan dapat mengakibatkan terjadinya konversi agama di kalangan pemuda GPIBK Jemaat Bukit Zaitun Bakum. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Teknik pengumpulan data yang di gunakan peneliti mengunakan teknik wawancara. Informan yang dilibatkan adalah tujuh orang mualaf yang sebelumnya merupakan anggota pemuda GPIBK Jemaat Bukit Zaitun Bakum. Hasil penelitian menunjukan bahwa pernikahan menjadi sebab terjadinya konversi agama karena: 1) rasa cinta pada pasangan, 2) kemauan diri sendiri, 3) kepercayaan bahwa pasangannya adalah jodoh yang disediakan Tuhan
Pengaruh Kesadaran terhadap Partisipasi dalam Kegiatan Persekutuan Oikumene Bukit Mambual Regency Luwuk Moningka, Allen Ruddy; Mosooli, Ermin Alperiana; Parinsi, Niel Kapoginta
Misioner Vol 5 No 1 (2025): Jurnal Misioner
Publisher : SEKOLAH TINGGI TEOLOGI KIBAID MAKALE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51770/jm.v5i1.220

Abstract

Partisipasi aktif dalam kegiatan Oikumene di Persekutuan Oikumene Bukit Mambual Regency Luwuk adalah isu penting karena merupakan bentuk konkrit dari perwujudan gagasan Oikuemene itu sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh kesadaran Oikumene terhadap partisipasi anggota dalam kegiatan Oikumene. Menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan survey, penelitian ini mengumpulkan data melalui angket dengan skala Likert dari 39 anggota persekutuan yang dijadikan sampel jenuh. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan regresi linear. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesadaran Oikumene tidak berpengaruh secara signifikan terhadap partisipasi dalam kegiatan Oikumene. Meskipun kesadaran Oikumene sangat tinggi dengan nilai rata-rata sebesar 3,92, namun partisipasi dalam kegiatan Oikumene hanya bernilai rata-rata 3.50. Artinya, tingkat kesadaran Oikumene tidak berbanding lurus dengan tingkat partisipasi dalam kegiatan Oikumene. Kesimpulan ini mengindikasikan adanya faktor-faktor lain yang mempengaruhi partisipasi anggota selain kesadaran Oikumene. Oleh karena itu, pengembangan kegiatan Oikumene memerlukan pendekatan yang lebih holistik dan strategis, dengan mempertimbangkan aspek-aspek lain yang dapat mendorong partisipasi aktif.