Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Sosiohumaniora

TABU NIKAH ANTARA MASYARAKAT PURBALINGGA DENGAN SOKARAJA Sugeng Priyadi
Sosiohumaniora Vol 9, No 1 (2007): SOSIOHUMANIORA, MARET 2007
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v9i1.5377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap tabu nikah pada masyarakat perdesaan Purbalingga dan Sokaraja (Banyumas). Penelitian ini ditempuh melalui metode filologi yang dikombinasikan dengan metode folklor. Metode filologi dan folklor dipakai untuk menyediakan sumber sejarah yang terkandung dalam teks dan folklor. Selanjutnya, kedua metode itu ditempuh untuk menghasilkan karya historiografi berupa sejarah kebudayaan atau sejarah intelektual di tingkat lokal Purbalingga dan Banyumas. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tabu nikah yang terdapat pada masyarakat perdesaan Purbalingga dan Sokaraja menggambarkan fenomena pluralitas sosial budaya yang didasarkan atas legitimasi sosial politik. Tabu nikah yang timbul disebabkan oleh konflik-konflik sosial sebagai bentuk dari persaingan pengaruh dan perang legitimasi antarelite Purbalinga dengan Sokaraja. Dalam konflik tersebut, Raden Kaligenteng menjadi troublemaker (biang kerok). Tabu nikah di atas menunjukkan sesuatu yang dapat dimaknai sebagai gejala pergeseran dari cosmos menuju chaos. Namun, situasi chaos lebih dominan karena pergeseran itu belum atau tidak melahirkan cosmos yang baru sehingga selalu dalam posisi liminal atau ambang. Posisi tersebut bisa dijelaskan dalam rangka binary opposition yang bersifat relatif yang menghadirkan pihak ketiga yang menempati posisi liminal. Kata Kunci : tabu nikah, konflik sosial, persaingan sosial, cosmos, chaos, posisi liminal
SINTESIS NILAI-NILAI PARADOKSAL PADA TEKS BABAD PASIR DAN BABAD BANYUMAS Sugeng Priyadi
Sosiohumaniora Vol 10, No 3 (2008): SOSIIOHUMANIORA, NOPEMBER 2008
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v10i3.5405

Abstract

Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai-nilai pada teks Babad Pasir cenderung menyajikan konflik di dalam, sedangkan nilai-nilai pada teks Babad Banyumas lebih didominasi oleh aktivitas asketisisme. Nilai-nilai yang terkandung pada kedua teks tradisi babad besar di Banyumas menunjukkan fenomena paradoksal antara nilai-nilai positif dan negatif. Relasi nilai positif sebagai tesis dan negatif sebagai antitesis menghasilkan sintesis yang berupa cablaka sebagai sistem nilai budaya lokal Banyumas. Berdasarkan sistem tersebut bisa dicermati bahwa orientasi nilai budaya Banyumas mengarah kepada, baik masyarakat tradisional maupun maju. Manusia Banyumas berada pada posisi masyarakat yang cenderung melihat masa lampau, tetapi mempunyai kemungkinan untuk melihat masa depan sebagai acuan dalam menghadapi tantangan zaman.