Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Humaniora

Perdikan Cahyana Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 13, No 1 (2001)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.785 KB) | DOI: 10.22146/jh.714

Abstract

Bekas daerah Perdikan Cahyana berada di Kecamatan Karangmoncol dan Rembang, Purbalingga, Karesidenan Banyumas. Status perdikan itu dihapus oleh Pemerintah Republik Indonesia pada zaman Orde Lama. Berakhirnya kekuasaan 21 orang demang diyakini oleh masyarakat bahwa para demang telah melanggar piagam dan wewaler perdikan, tidak adil, serta memperkaya diri sehingga mereka harus diturunkan. Tanah-tanah perdikan dikuasai oleh para demang untuk kepentingannya sendiri sehingga rakyat hidup terbengkalai, padahal, rakyat yang mencetak sawah-sawah dan kebun-kebun, sedangkan demang hanya mengaku sebagai hak miliknya. Kejatuhan para demang itu sesuai dengan beberapa ramalan, seperti besuk selehe demang disondol bangkong, besuk ana bangke mili ngalor, dan besuk ana beslit padha dicanthelake gethek (Darmoredjo, 1986: 7 Terlepas dari masalah di atas, desa perdikan menyimpan potensi masalah pertanahan. Penghapusan desa-desa perdikan telah mengubah status tanah dari keputihan menjadi tanah pamajegan. Dengan kata lain, tanah-tanah tersebut menjadi tanah-tanah negara. Sebaliknya, para demang kehilangan hak atas tanah adat yang telah dimilikinya sejak lama. Tanah-tanah keputihan di daerah Perdikan Cahyana adalah tanah-tanah bebas pajak yang diluluskan oleh Sultan Demak dan dilestarikan oleh para raja Jawa sesudahnya dan pemerintah kolonial Belanda untuk pemeliharaan makam-makam orang-orang suci atau para wali lokal yang berjasa dalam penyebaran agama Islam.
Babad Pasir: Banyumas Dan Sunda Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 14, No 2 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3102.592 KB) | DOI: 10.22146/jh.756

Abstract

Banyak Catra alias Kamandaka yang menjadi tokoh legendaris di Daerah Aliran Sungai Serayu-Logawa-Mengaji ternyata mempunyai perilaku yang tidak boleh ditiru oleh masyarakat Banyumas. Teks awal Babad Pasir yang sangat populer itu menceritakan masa muda salah satu leluhur Banyumas yang berasal dari Pajajaran (Knebel, 1900). Kisah-kisah yang dilestarikan secara lisan dan tulisan itu pada hakikatnya mengisahkan kebanggaan Raden Banyak Catra terhadap perilakunya yang kurang terpuji. Kenyataan memang menunjukkan bahwa banyak orang besar yang menceritakan kisah hidupnya, baik dalam otobiografi maupun biografi, khususnya pada masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa muda dengan penuh kebanggaan, meskipun melanggar norma masyarakat. Kiranya kebanggaan seperti menjadi tradisi manusia pada umumnya. Sama halnya dengan Banyak Catra. Ia adalah seorang putra raja Pajajaran yang mencari calon jodohnya di Pasirluhur. Banyak Catra datang dengan membawa kedok sebagai penduduk desa yang mengabdi kepada Patih Pasirluhur, Reksanata. Keberuntungan berpihak kepadanya karena ia diangkat sebagai anak oleh Sang Patih. Di samping itu, Banyak Catra juga menutupi jati dirinya dengan nama samaran, Kamandaka. Menurut beberapa babad, nama tersebut merupakan pemberian seorang pertapa di Gunung Tangkuban Perahu yang bernama Ajar Mirangrong (ada teks yang menyebut Wirangrong). Agaknya pemalsuan nama itu telah dilegitimasikan atau sekurang-kurangnya sudah direstui oleh seorang pertapa.
KONFLIK SOSIAL TABU NIKAH PADA MASYARAKAT PERDESAAN DI PURBALINGGA DAN BANYUMAS Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 18, No 2 (2006)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (68.624 KB) | DOI: 10.22146/jh.874

Abstract

This study is aimed at discovering the social conflicts which the community experienced leading to the marriage taboo. The study employs the historical method combined with the folklore and philological method. The two later methods are applied to provide the historical sources contained in the texts and folklores. Then, the historical method is taken to produce a historiography work, i.e. the cultural history or the intellectual history in the local range of Purbalingga and Banyumas. The results of study show that the marriage taboo in the rural community of Purbalingga and Banyumas indicates the phenomenon of plural socio-culture laid on socio-political legitimate. The marriage taboos are inflicted by social conflict as the manifestation of incest marriage, social rivalry, and legitimate battle. In those conflicts, the communities of Onje, of Banjaranyar, and of Raden Kaligenteng are the troublemakers. In addition, the communities of Sambeng Kulon, of Sambeng Wetan, of Jompo Kulon, and of Jompo Wetan can also be categorized into the troublemaker, since they are involved in the internal conflict, leaving them broken into parts. The marriage taboos indicate something that can be understood as the shift of cosmos into chaos. The chaotic situation is dominant, for the shift has not resulted in a new cosmos, i.e. it is always in the liminal or threshold position.
Orientasi Nilai Budaya Banyumas: Antara Masyarakat Tradisional Dan Modern Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 20, No 2 (2008)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.079 KB) | DOI: 10.22146/jh.933

Abstract

This research aims at finding out the human value of Banyumas people as expressed in Babad Pasir. To achieve this aim, the history method is employed in four steps, (1) heuristic, (2) criticism, (3) interpretation, and (4) historiography. The historical facts which are interpreted are those mental ones so that the resulting historiography reflects Banyumanese ideas as the realization of the Banyumas cultural value system. The results of the research show that Babad Pasir tends to presents internal conflicts, while Babad Banyumas is marked more with ascetism. However, both of them show a paradox between positive and negative values. The relation between the positive values as the thesis and negative ones as the antithesis results in a synthesis in the form of cablaka (straightforwardness) as the value system of the Banyumas culture. Based on the system it can be seen that the orientation of the value is toward both traditional and modern society. Banyumas people tend to look at the past, but have the ability to see the future as a reference in facing the challenging world.
Fenomena Kebudayaan yang Tercermin dari Dialek Banyumasan Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 12, No 1 (2000)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1892.982 KB) | DOI: 10.22146/jh.1297

Abstract

Budaya pantangan tampaknya sangat mencolok dalam kehidupan masyarakat Banyumas. Versi-versi Babad Banyumas memuat teks pantangan yang bervariasi. Namun, teks-teks tersebut sebagian besar berisi pantangan yang sakral, yakni kawin dengan orang Toyareka, jaran dhawuk abrit, bale malang (bale bapang), Sabtu Pahing, dan pindhang banyak. Selain itu, ada pantangan yang bersifat profan yang berfungsi sebagai pelengkap, misalnya bebet destar wulung, madhang ngungkuraken lawang, omah wangun sinom, gantung kawin, kiasa bongka widhik, dan bantal kasur poleng.
Sejarah Trah Yudanegaran Sugeng Priyadi
Humaniora Vol 16, No 3 (2004)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1855.72 KB) | DOI: 10.22146/jh.1311

Abstract

The interesting free-family of yudonegara of Banyumas can be traced from various historical texts about Banyumas. It is known that Yudonegara I until Yudonegara V had ruled Banyumas. The power of Surakarta kings were so great and they had strong influence in the changes of power. The Yudonegara V free family ended after Yudonegara V was forced to leave his power by external factors. Banyumas was then split into two parts, namely Kesepuhan and Kanoman.