Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : e-CliniC

Hubungan antara Migrain dan Kafein Kumaat, Matthew A.; Pertiwi, Junita M.; Mawuntu, Arthur H. P.
e-CliniC Vol 9, No 2 (2021): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v9i2.32864

Abstract

Abstract: Migraine is one of the primary headaches that often causes moderate to severe disability. One of the most commonly consumed psychoactive substances associated with migraine is caffeine. This study was aimed to evaluate the relationship between migraine and caffeine thoroughly based on various studies. This was a literature review study using databases of Pubmed/Medline, Cochrane, Wiley Online Library, Science Direct, Google Scholar, and Garuda. The eligibility criteria for this study were observational research articles or clinical trials, written in Indonesian or English, published in the last five years, and their fulltexts could be accessed. The results obtained 10 articles. Almost all of them showed that caffeine could cause migraine whether after caffeine consumption (non-absent group) or no consumption of caffeine (absent group). The association of caffeine with migraine was more significant than with tension headaches. Besides being a trigger factor of migraine, caffeine cpuld also act as a migraine therapy. In conclusion, there is a close association between migraine and caffeine. Migraine tends to be triggered than to be reduced by caffeine.Keywords: caffeine, migraine  Abstrak: Migrain merupakan salah satu jenis nyeri kepala primer yang sering menyebabkan disabilitas sedang dan berat. Salah satu zat psikoaktif yang umum dikonsumsi dan berhubungan dengan migrain yaitu kafein. Penelitian ini bertujuan untuk menelaah hubungan migrain dan kafein lebih mendalam berdasarkan berbagai penelitian. Jenis penelitian ialah literature review menggunakan database dari Pubmed/Medline, Cochrane, Wiley Online Library, Science Direct, Google Scholar, dan Garuda. Kriteria kelayakan artikel penelitian ialah artikel penelitian observasional atau uji klinis, ditulis dalam Bahasa Indonesia atau Inggris, terbit dalam lima tahun terakhir, dan naskah lengkap artikel dapat diakses secara lengkap. Hasil penelitian mendapatkan 10 artikel penelitian. Hampir semua penelitian memperlihatkan bahwa kafein dapat menyebabkan migrain baik setelah kafein dikonsumsi (kelompok nonabsen) maupun saat kafein sudah tidak dikonsumsi (kelompok absen). Hubungan kafein dengan migrain lebih kuat dibandingkan dengan nyeri kepala tipe tegang. Selain menjadi factor pencetus, kafein juga dapat berperan sebagai terapi migrain. Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan erat antara migrain dan kafein. Migrain cenderung lebih sering dicetuskan oleh kafein dibandingkan diringankan oleh kafein.Kata kunci: kafein, migrain
Gambaran penggunaan ponsel pintar sebagai faktor risiko nyeri kepala primer pada mahasiswa angkatan 2013 Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi Manado Oroh, Kezia; Pertiwi, Junita M.; Runtuwene, Theresia
e-CliniC Vol 4, No 2 (2016): Jurnal e-CliniC (eCl)
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v4i2.14486

Abstract

Abstract: The aim of this research is to get a description of smart phone usage as a factor of primary headache to the students of medical faculty year 2013 Sam Ratulangi Unifersity of Manado. This research is a kind of descriptive research by approach of latitude cut. Received data are from primary data using questioner. From 243 of the total respondent there are 72 male respondents and 171 female respondents, with the percentages of each primary headache as follows: tension-type headache 72.84%, migraine without aura 17.28%, migraine with aura 8.64% and cluster headache 1.23%. The most usage feature of the smart phone user is social media (40.16%). The length of smart phone usage is 5 to 7 hours a day (47.33%). 64.61% of the respondents that using a smart phone experienced an eye ache. 48.98% of the respondents are those who do physic activities less than two times during fifteen minutes or more in one week. 48.56% of the respondents are using the smart phones with 30 degree neck declivity. Respondents who are using smart phones experienced tension-type headache is 75.71%, migraine without aura 16.43% , migraine with aura 7.15% and cluster headache 0.71%.Keywords: primary headache, smart phones Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan gambaran penggunaan ponsel pintar sebagai faktor risiko nyeri kepala primer pada mahasiswa angkatan 2013 fakultas kedokteran Universitas Sam Ratulangi. Jenis penelitian ini deskriptif dengan pendekatan potong lintang. Data yang didapat melalui data primer menggunakan kuesioner. Dari total 243 responden, diperoleh 72 responden laki-laki dan 171 responden perempuan, dengan presentase untuk setiap jenis nyeri kepala primer adalah sebagai berikut: nyeri kepala tipe tegang 72.84%, migren tanpa aura 17.28%, migren dengan aura 8.64% dan nyeri kepala klaster 1.23%. Fitur yang sering digunakan pada ponsel pintar adalah sosial media (40.16%). Lama penggunaan ponsel pintar 5-7 jam dalam sehari (47.33%). 64.61% dari responden yang menggunakan ponsel pintar terdapat keluhan mata. 48.98% dari responden adalah mereka yang melakukan aktivitas fisik < 2x selama > 15 menit dalam seminggu. 48.56% responden menggunakan ponsel pintar dengan kemiringan leher 30o. Responden yang menggunakan ponsel pintar dan mengeluhkan nyeri kepala tipe tegang 75.71%, migren tanpa aura 16.43%, migren dengan aura 7.15% dan klaster 0.71%. Kata kunci: nyeri kepala primer, ponsel pintar
Korelasi antara Kecemasan dan Depresi dengan Kualitas Hidup pada Pasien dengan Penyakit Parkinson Sugiarto, Natanael E.; Pertiwi, Junita M.; Warouw, Finny
e-CliniC Vol. 12 No. 3 (2024): e-CliniC
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ecl.v12i3.59448

Abstract

Abstract: Parkinson's disease (PD) is a neurodegenerative disorder significantly impacting health-related quality of life (HRQoL). Psychological disturbances such as anxiety and depression are common in Parkinson's disease patients, affecting their dependence on care, occupational disruptions, and social functions. This literature review study examines the correlation between anxiety, depression, and HRQoL in Parkinson's disease patients. Analysis was conducted through literature search from various sources with predetermined inclusion and exclusion criteria. The study reveals a negative correlation between anxiety and depression and HRQoL in Parkinson's disease patients. These symptoms have a greater impact on HRQoL than motor symptoms. In conclusion, anxiety and depression play a crucial role in decreasing the quality of life of patients with Parkinson's disease. Effective management of these conditions is important to improve HRQoL in the patients. Keywords: Parkinson's disease; anxiety; depression; quality of life   Abstrak: Penyakit Parkinson (PP) merupakan gangguan neurodegeneratif yang berdampak bermakna pada kualitas hidup terkait kesehatan (HRQoL). Gangguan psikologis seperti kecemasan dan depresi sering terjadi pada pasien dengan penyakit Parkinson, yang memengaruhi ketergantungan dalam perawatan, gangguan pekerjaan, dan fungsi sosial. Penelitian ini merupakan telaah pustaka yang mengkaji korelasi antara kecemasan dan depresi dengan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit Parkinson. Analisis dilakukan melalui pencarian literatur dari berbagai sumber dengan kriteria inklusi dan eksklusi yang telah ditentukan. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa kecemasan dan depresi berkorelasi negatif dengan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit Parkinson. Gejala-gejala ini memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap kualitas hidup dibandingkan dengan gejala motorik. Simpulan penelitian ini ialah kecemasan dan depresi berperan penting dalam menurunkan kualitas hidup pasien dengan penyakit Parkinson. Pengelolaan yang efektif terhadap kedua kondisi ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup pada pasien dengan penyakit Parkinson. Kata kunci: penyakit Parkinson; kecemasan; depresi; kualitas hidup