Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Faktor-faktor yang Menentukan Eksistensi Kampung Pekojan sebagai Kampung Kota di Kota Semarang Wahjoerini, Wahjoerini; Setioko, Bambang
JURNAL PEMBANGUNAN WILAYAH & KOTA Vol 10, No 1 (2014): JPWK Vol 10 No 1 March 2014
Publisher : Magister Pembangunan Wilayah dan Kota,Undip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2687.709 KB) | DOI: 10.14710/pwk.v10i1.7637

Abstract

The existence of the urban kampong are the  ability to maintain the morphology, functions and values in it. Trancik (1986) which says that the physical city space theory consists of figure ground, linkage, place. Kampong Pekojan is still the original building until recently. Kampong Pekojan still serves as a place of settlement, is still inhabited by the community. The purpose of doing research to find out what factors are determining the existence of the Kampung  Pekojan as a urban kampong in Semarang from the physical aspect. The research method used was quantitative deductive rationalistic. From the results of the analysis using SPSS 16, had 3 factors which determine the existence of kampung Pekojan as urban kampong from the physical aspect is 1). Architectural of urban kampong factor 2) structure of urban kampong and  3). Elements and interaction space factors. The factors that most influence factor is the highest percentage with Architecture (32,477). These findings support the grand theory that States that the factors which determine the existence of urban kampong influenced by physical factors. However it was found that in the Kampung Pekojan, physical factors which affect more caused by factors of architecture.
PENGARUH KEBERADAAN PT HWASEUNG INDONESIA TERHADAP EKONOMI MASYARAKAT DESA BANYUPUTIH KECAMATAN KALINYAMATAN KABUPATEN JEPARA Rohim, Muhammad Nazilur; Wahjoerini, Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol 4, No 2 (2023): VOLUME 4 NOMOR 2 OKTOBER 2023
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v4i2.6703

Abstract

Pembangunan industri akan selalu disertai dengan berbagai macam perubahan dalam kehidupan masyarakat. Salah satuaspek yang terkena imbas dari adanya industri yaitu ekonomi. Jepara yang terkenal dengan kota ukir beberapa tahun terdapatberbagai macam industri. Sejak tahun 2014 Kabupaten Jepara banyak dibangun industri berskala besar yaitu industri garmendan industri manufaktur. Salah satu desa yang terdapat industri besar yaitu Desa Banyuputih, Kecamatan KalinyamatanKabpaten Jepara. Desa Banyuputih setelah adanya industri PT Hwaseung Indonesia menjadi salah satu pusat ekonomiwilayah. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui bagaimana pengaruh keberadaan PT Hwaseung Indonesia terhadapkondisi ekonomi masyarakat Desa Banyuputih terutama pada pendapatan dan kepemilkan aset. Penelitian ini menggunakanpendekatan kuantitatif serta metode analisis deskriptif dan analisis regresi linier. Berdasarkan hasil analisis yang dilakukanterdapat pengaruh yang diakibatkan industri terhadap pendapatan dan kepemilikan aset. Pengaruh terhadap pendapatansebesar 75,1% yaitu masyarakat mengalami peningkatan yang didapatkan dari perubahan mata pencaharian, munculnyausaha sebagai fasilitas pendukung industri. Sementara pada kepemilikan aset pengaruhnya sebesar 71,2% dapat dilihat dariperubahan rumah masyarakat dari yang semula semi permanen menjadi permanen, dahulu lantai satu sekarang menjadilantai dua.
PERSEPSI PENGGUNA TERHADAP PENGEMBANGAN KONSEP ECO-SHELTER TRANS SEMARANG PADA KORIDOR 7 (TERBOYO – BALAIKOTA) Damanik, Aditya; Wahjoerini, Wahjoerini
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 14 No 01 (2024): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v14i01.1304

Abstract

Transportasi umum massal merupakan salah satu solusi dalam mengatasi masalah kemacetan, seperti misalkan transportasi umum berbasis bus BRT yang sudah diterapkan pada beberapa kota. Sistem BRT sudah beroperasi sejak lama di Kota Semarang untuk mendukung mobilitas warga setempat serta mengurai masalah kemacetan. Tetapi masih banyak terdapat beberapa sarana prasarana pendukung seperti halte/shelter yang kondisi fasilitasnya masih kurang optimal dalam memberikan pelayanan kepada para pengguna Trans Semarang. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana persepsi para pengguna moda transportasi publik BRT Trans Semarang khususnya pada koridor pelayanan 7 Terboyo – Balaikota (via Genuk) terhadap fasilitas shelter sebagai lokasi titik tunggu/penjemputan (pool) apabila dikembangkan ke arah eco-shelter. Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif yang menganalisis data berdasarkan informasi dari sekitar 100 responden yang diambil secara acak baik dari kalangan pelajar, mahasiswa, maupun pekerja. Hasil analisis dengan menggunakan model skala likert serta Customer Satisfaction Index (CSI) menunjukkan bahwa mayoritas responden menjawab setuju dengan adanya kondisi shelter yang ada saat ini sesuai dengan pernyataan-pernyataan peneliti pada kuesioner dengan nilai CSI sebesar 67%, sedangkan kajian mengenai persepsi pengguna terhadap pengembangan dengan konsep eco-shelter juga memperoleh skor yang sangat baik yaitu sebesar 80,72% dimana para pengguna merasa setuju apabila aspek-aspek yang ada dalam konsep eco-shelter diimplementasikan dengan baik.
KAJIAN KARAKTERISTIK PEDAGANG KAKI LIMA (PKL) PADA KORIDOR JALAN MT. HARYONO KOTA SEMARANG Wahjoerini, Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 6 No. 1 (2025): VOLUME 6 NOMOR 1 MARET 2025
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v6i1.10617

Abstract

Kemudahan aksesbilitas pada Koridor Jalan MT. Haryono Semarang menjadikan munculnya aktivitas fungsi baru di sepanjang koridor jalan seperti pola persebaran pedagang kaki lima yang menjadikan jalur pedestrian sebagai lokasi dagang mereka, parkir dibahu jalan meliputi aktivitas bongkar muat barang oleh pelaku usaha, serta pola sirkulasi kendaraan yang tidak teratur yang sering digunakan oleh kendaraan untuk melawan arus dan banyaknya kendaraan yang menyebrang tanpa memperhatikan rambu-rambu lalu lintas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipologi PKL beberapa kategori meliputi tipologi pedagang yang berjualan di trotoar, tipologi pedagang yang berjualan di bahu jalan dan tipologi pedagang yang berjualan berpindah-pindah kemudian menganalisis karakteristik PKL. Metode yang digunakan pada penelitian ini yaitu diskriptif kualitatif dengan pengamatan langsung dilapangan didukung kajian literatur dan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa karakteristik Pedagang Kaki Lima di koridor jalan MT. Haryono dari persimpangan Pasar Kambing - persimpangan Sompok Kota Semarang dipengaruhi oleh lokasinya yang strategis, waktu berdagang yang menyesuaikan keramaian lokasi baik pagi, siang hingga malam hari, sarana fisik perdagangan dan jenis dagangannya (tidak permanen dan dapat dipindah-pindah dengan menggunakan gerobak, dengan meja dan kursi yang setelah selesai berjualan bisa dibawa pulang kembali), serta pola penyebaran PKL mengelompok dan linear.
KAJIAN TINGKAT KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN PADA JALAN IMAM BONJOL KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA Mukti, Dhatu Dinar; Wahjoerini, Wahjoerini
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 01 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i01.1497

Abstract

Jalan Imam Bonjol merupakan salah satu jalan protokol yang merupakan akses utama untuk menuju pusat pemerintahan di Kota Semarang. Pada kawasan sepanjang jalan Imam Bonjol terdapat berbagai macam aktivitas seperti perumahan, pendidikan, perkantoran, dan komersial antara lain: pertokoan, restoran, dan hotel yang padat serta berdekatan. Hal ini membuat kawasan Jalan Imam Bonjol memiliki intensitas kegiatan lalu lintas, baik kendaraan bermotor maupun pejalan kaki, cukup tinggi. Beragamnya aktivitas yang ada di kawasan Jalan Imam Bonjol harus didukung dengan jalur pedestrian sebagai wadah aktivitas pejalan kaki yang berfungsi sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Hal ini penting untuk menjaga agar ruang publik khususnya jalur pedestrian dapat berfungsi sebagai prasarana transportasi jarak pendek yang efektif dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Imam Bonjol berdasarkan persepsi pengguna. Metode analisis yang gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif deskriptif. Kajian ini mengacu pada 8 aspek penting dari kenyaman jalur pedestrian yaitu aspek: sirkulasi, iklim dan kekuatan alam, kebisingan, bau-bauan, bentuk, keamanan, kebersihan, dan keindahan. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah jalur pedestrian Jalan Imam Bonjol Kota Semarang memiliki tingkat kenyamanan yang tergolong Nyaman, dengan perolehan persentase sebesar 70%. Perolehan tingkat kenyamanan jalur pedestrian yang tergolong nyaman tersebut menunjukkan bahwa pengguna tidak merasa terganggu akan tetapi terkadang masih mengharapkan sebuah perbaikan. Hal dasar yang paling mempengaruhi nilai tersebut ialah aspek bentuk yang terkait dengan kondisi perkerasan jalur pedestrian dan ketersediaan fasilitas pendukung.
PEMANFAATAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS (SIG) DALAM IDENTIFIKASI DAYA SERAP EMISI KARBON DI KECAMATAN TEMBALANG, KOTA SEMARANG Adimagistra, Tiasa; Ridho Prakasa, Rizqy; Wahjoerini, Wahjoerini
Jurnal Pengembangan Rekayasa dan Teknologi Vol. 4 No. 2 (2020): November (2020)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jprt.v16i2.3011

Abstract

Pencemaran udara yang terjadi pada kawasan padat aktivitas seperti perkotaan umumnya disebabkan oleh kegiatan industri, moda transportasi kendaraan bermotor, asap limbah, dan limbah rumah tangga. Hubungan antara aktivitas tertentu juga dapat mempengaruhi tingkat pencemaran udara seperti pergerakan manusia dari suatu tempat ke tempat lain yang memanfaatkan moda transportasi seperti kendaraan bermotor. Menurut Shaheen (2007), sektor transportasi merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca yang paling utama. Penggunaan kendaraan bermotor pada kehidupan modern ini banyak membantu pergerakan manusia. Di sisi lain, penggunaan kendaraan bermotor berperan dalam pelepasan emisi ke lingkungan. Seperti yang terjadi di Kecamatan Tembalang, Kota Semarang, dimana banyak terdapat aktivitas penduduk seperti perdagangan jasa, pendidikan, dan beberapa sektor pemerintahan. Pada kawasan pendidikan yang cukup dominan penggunaan lahannya berkontribusi terhadap pencemaran udara karena terdapat pergerakan manusia dari dan ke kawasan pendidikan menggunakan kendaraan. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi daya serap emisi karbon di Kecamatan Tembalang menggunakan analisis dalam Sistem Informasi Geografis (SIG). Metode yang dilakukan adalah dengan menghitung potensi serap emisi karbon, emisi karbon wilayah, dan daya serap emisi karbon. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi perencana maupun pemerintah (stakeholder) dalam menyusun kebijakan penataan ruang wilayah.
Analytical Solution of Transverse Electric and Transverse Magnetic Mode Electromagnetic Wave Equations in Left-Handed Materials Handayani, Iryan Dwi; Muliandhi, Puri; Wahjoerini, Wahjoerini; Pamurti, Andarina Aji
Lontar Physics Today Vol 4, No 3 (2025): November 2025
Publisher : Universitas PGRI Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26877/lpt.v4i3.25060

Abstract

Artificial composite materials that focus on electromagnetic waves are known as metamaterials. Metamaterials are artificial materials engineered by human technology, possessing a geometric structure built from microscopic, engineerable materials. The goal is for the new material to be able to direct light, sound, and waves, making it useful. Metamaterials are known as left-handed materials (LHMs), but the concept of metamaterials is broader than LHM. The purpose of this research is to solve the transverse electric (TE) and transverse magnetic (TM) electromagnetic wave equations in left-handed materials (LHMs) using the Nikiforov-Uvarov approach and to analyze the results of the energy spectrum equation from the solution of the transverse electric (TE) and transverse magnetic (TM) electromagnetic wave equations in left-handed medium (LHM). This research was conducted using Matlab software. The material being studied is the positive-negative gradient profile in an LHM medium thru variations in dielectric permittivity and/or magnetic permeability. Energy and wave equations were obtained with their visualization.
KUALITAS VISUAL ELEMEN PERANCANGAN KOTA PADA ALUN – ALUN KAUMAN SEMARANG Rizal Saputra, Andhika; Wahjoerini, Wahjoerini
Indonesian Journal of Spatial Planning Vol. 6 No. 2 (2025): VOLUME 6 NOMOR 2 OKTOBER 2025
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fakultas Teknik, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/ijsp.v6i2.12807

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk mendorong perkembangan pusat kegiatan yang merefleksikan identitas dan keragaman suatu kawasan. Dalam hal ini, perancangan kota menjadi bagian penting dari proses perencanaan fisik yang berorientasi pada kualitas estetika dan fungsional ruang kota. Mengacu pada teori Hamid Shirvani (1985) dalam The Urban Design Process, terdapat delapan elemen pembentuk fisik kota: land use, building form and mass, circulation and parking, open space, signages, pedestrian ways, support activity, dan preservation. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi kualitas visual elemen perancangan kota pada Kawasan Alun-Alun Kauman Semarang sebagai ruang publik hasil revitalisasi. Metode yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif melalui penyebaran kuesioner kepada pengunjung dan pedagang kaki lima (PKL). Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi responden terhadap kualitas visual elemen perancangan kota terbagi merata antara kategori cukup (50%) dan baik (50%). Elemen dengan nilai rendah mencakup sirkulasi dan parkir, signages, serta jalur pejalan kaki, yang membutuhkan perbaikan dan peningkatan desain. Temuan ini menegaskan pentingnya penguatan elemen visual dalam menunjang keberfungsian dan daya tarik ruang publik, serta menjadi dasar perencanaan lanjutan guna meningkatkan kualitas kawasan secara menyeluruh.
KAJIAN TINGKAT KENYAMANAN JALUR PEDESTRIAN PADA JALAN IMAM BONJOL KOTA SEMARANG BERDASARKAN PERSEPSI PENGGUNA Mukti, Dhatu Dinar; Wahjoerini, Wahjoerini
Jurnal MEDIAN Arsitektur dan Planologi Vol 15 No 01 (2025): Jurnal Median
Publisher : Universitas Sains dan Teknologi Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58839/jmap.v15i01.1497

Abstract

Jalan Imam Bonjol merupakan salah satu jalan protokol yang merupakan akses utama untuk menuju pusat pemerintahan di Kota Semarang. Pada kawasan sepanjang jalan Imam Bonjol terdapat berbagai macam aktivitas seperti perumahan, pendidikan, perkantoran, dan komersial antara lain: pertokoan, restoran, dan hotel yang padat serta berdekatan. Hal ini membuat kawasan Jalan Imam Bonjol memiliki intensitas kegiatan lalu lintas, baik kendaraan bermotor maupun pejalan kaki, cukup tinggi. Beragamnya aktivitas yang ada di kawasan Jalan Imam Bonjol harus didukung dengan jalur pedestrian sebagai wadah aktivitas pejalan kaki yang berfungsi sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Hal ini penting untuk menjaga agar ruang publik khususnya jalur pedestrian dapat berfungsi sebagai prasarana transportasi jarak pendek yang efektif dan nyaman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat kenyamanan jalur pedestrian di Jalan Imam Bonjol berdasarkan persepsi pengguna. Metode analisis yang gunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis kuantitatif deskriptif. Kajian ini mengacu pada 8 aspek penting dari kenyaman jalur pedestrian yaitu aspek: sirkulasi, iklim dan kekuatan alam, kebisingan, bau-bauan, bentuk, keamanan, kebersihan, dan keindahan. Hasil yang didapatkan dalam penelitian ini adalah jalur pedestrian Jalan Imam Bonjol Kota Semarang memiliki tingkat kenyamanan yang tergolong Nyaman, dengan perolehan persentase sebesar 70%. Perolehan tingkat kenyamanan jalur pedestrian yang tergolong nyaman tersebut menunjukkan bahwa pengguna tidak merasa terganggu akan tetapi terkadang masih mengharapkan sebuah perbaikan. Hal dasar yang paling mempengaruhi nilai tersebut ialah aspek bentuk yang terkait dengan kondisi perkerasan jalur pedestrian dan ketersediaan fasilitas pendukung.