Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Keberhasilan Venoplasti untuk Mengatasi Stenosis Akibat Pemasangan CDL pada Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo Megatia, Ika; Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 46 No 1 (2018): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v46i1.32

Abstract

Latar Belakang: Dalam lima tahun terakhir, pengunaan kateter pada pasien penyakit ginjal kronis (PGK) di RSCM kerap diikuti stenosis vena sentral (SVS, 60-70%). Sejak 2013 SVS ditangani melalui prosedur venoplasti, namun belum ada evaluasi keberhasilan. Penelitian ini ditujukan melakukan evaluasi keberhasilan venoplasti dan faktor risiko terjadinya stenosis. Metode: Dilakukan studi deskriptif analitik dengan desain potong lintang melibatkan pasien PGK stadium 4-5 yang terdiagnosis simptomatik SVS, secara klinis dan radiologis, yang memiliki risiko stenosis, memenuhi kriteria inklusi dan ekslusi serta menjalankan venoplasti. Variabel independen yaitu onset gejala, jenis, lokasi, durasi dan frekuensi pemasangan kateter. Variabel dependen adalah keberhasilan venoplasti dinilai dengan residual stenosis <30%. Data dianalisis secara statistik dengan p = 0,05. Hasil: Tercatat 34 subjek, 73,5% berusia >60 tahun, 61,8% laki-laki dan 70,6% memiliki hipertensi sebagai etiologi PGK. Angka berhasilan venoplasti 85,3%, nilai rerata initial stenosis adalah 79,1±13,8% dan median residual stenosis 24,5% dengan range 10-90%. Letak stenosis terbanyak di vena subklavia (47,1%). Tidak didapatkan hubungan bermakna terhadap keberhasilan venoplasti, namun angka ketidakberhasilan venoplasti yang lebih tinggi ditemukan pada lokasi di vena subklavia (OR 2,45; p = 0,627) dan frekuensi pemasangan kateter >2 kali (OR 1,85; p = 0,648). Simpulan: Keberhasilan venoplasti pada SVS 85,3% dengan keberhasilan ditemukan dua kali lebih tinggi pada implantasi di vena subklavia dan frekuensi > 2 kali. Namun pada studi ini tidak bermakna secara statistik. Ketidakberhasilan venoplasti lebih sering ditemukan pada subjek dengan pemasangan kateter di vena subklavia, durasi pemasangan panjang, onset gejala lambat dan riwayat pemasangan berulang.
Kenaikan Tarif BPJS Kesehatan, Obat Defisit yang Tak Bisa Dihindari Darwis, Patrianef
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.44

Abstract

Sejawat sekalian, memasuki tahun 2020 sangat banyak kejadian yang terjadi di dunia kesehatan. Masalah kenaikan tarif BPJS Kesehatan yang masih banyak dtentang oleh banyak pihak tentu saja mempengaruhi kerja para spesialis bedah secara keseluruhan. Pengaruh ini terjadi secara langsung karena sebagian besar pembiayaan pasien saat ini menggunakan dana Jaminan Kesehatan Nasional yang diselenggarakan oleh BPJS Kesehatan. Berdasarkan pasal 34 Perpres nomor 75 tahun 2019 maka akan terjadi kenaikan iuran BPJS Kesehatan pada 1 januari 2020. Kenaikan itu secara rinci adalah sebagai berikut: Kelas III dari Rp 25.500 per bulan menjadi Rp 42.000 Kelas II dari Rp 51.000 menjadi Rp 110.000 Kelas I dari Rp 80.000 menjadi Rp 160.000 Kenaikan tersebut juga berlaku bagi Penerima Bantuan Iuran (PBI) baik dari APBN maupun PBI yang berasal dari APBD. Khusus untuk kenaikan iuran PBI yang dibayarkan pemerintah ini, akan terjadi kenaikan daari Rp 23.000 per bulan menjadi Rp 42.000. Tentu saja kenaikan tersebut berpengaruh positif bagi seluruh rumah sakit yang banyak mengandalkan pasien BPJS Kesehatan, terutama rumah sakit di daerah. Pelayanan kesehatan selama ini terganggu karena aliran dana dari pembiayaan ke rumah sakit sering terlambat beberapa bulan. Hal itu tidak terlepas akibat defisit yang dialami oleh BPJS kesehatan yang semakin meningkat dari tahun ke tahun. Secara langsung aliran yang terhambat dan terlambat tersebut juga mempengaruhi para dokter yang bekerja di RS tersebut, termasuk dokter spesialis bedah. Defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan sudah berlangsung sejak than 2014. Pada tahun 2018 defisit yang dialami oleh BPJS Kesehatan sebanyak Rp 19,4 T dan ditalangi oleh pemernah sebanyak Rp 10,3 T dan defisit dibawa ke tahun 2019 sebanyak Rp 9,1 T. Pada tahun 2019 defisit semakin melebar mencapai Rp 32,84 T ini termasuk beban defisit Rp 9,1 T yang dibawa ke tahun 2019. Pada tahun 2019 ini pemerintah menalangi defisit sebanyak Rp 14 Tsehingga ada beban defisit sebanyak Rp 18,84 T yang dibawa ke tahun 2020. Tanpa adanya kenaikan iuran maka beban defisit akan semakin melebar tahun 2020. Diperkirakan defisit tahun 2020 mencapai Rp 31 T dan ditambah dengan beban defisit tahun 2019 yang dbawa ke tahun 2020 sebanyak Rp 18 T maka defsit akan semakin melebar. Hal ini akan semakin memperburuk pelayanan di rumah sakit yang sudah tertekan oleh penundaan pembayaran pelayanan pasien beberapa bulan oleh BPJS Kesehatan. Sejawat sekalian, kenaikan iuran BPJS kesehatan sepertinya memang keniscayaan yang tak dapat ditunda lagi dan sangat mendesak, hall ini akibat defisit yang dialami oeh BPJS Kesehatan yang sudah berlangsung 5 tahun terus menerus dan semakin membesar tetapi persoalannya adalah seberapa besar kenaikan tersebut dan apakah kenaikan tersebut masih mampu ditanggung oleh masyarakat. Kita paham bahwa orang miskin pembiayaannya ditanggung oleh pemerintah baik melalui dana APBN maupun dana APBD. Persoalannya adalah apakah semua orang miskin sudah terdata baik dan masuk dalam daftar penerima bantuan PBI. Sebagai seorang spesialis bedah tentu saja kita tidak bisa berlepas diri dari gonjang ganjing di dunia kesehatan tersebut, apalagi hal ini menyangkut pembiayaan pasien kita. Bagaimanapun tindakan pada pasien yang dilakukan para spesialis bedah memerlukan pembiayaan yang tidak sedikit. Harapan kita bersama tahun 2020 didepan akan lebih baik dari tahun lalu.
Factors Affecting Hospital Length of Stay in Patient with Diabetic Foot Ulcer Darwis, Patrianef; Simanjuntak, Bakti H; Wangge, Grace; Pratama, Deddy; Bakri, Ahmad; Telaumbanua, Rizky
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.45

Abstract

Background. Foot ulcer is one of the most common complications in diabetes mellitus patients. This condition prolongs hospital length of stay (LOS) and increases hospitalization cost. This study aims to assess factors that affect the LOS in patients with the mentioned condition. Methods. This is a retrospective cohort study of diabetes mellitus patients with foot ulcer who were hospitalized in Cipto Mangunkusumo General Hospital from January 2015 to April 2016. There were 120 patients recruited and then divided into two groups according to their hospitalization duration, which was short and long. Univariate analysis was conducted in predicted factors including gender, ankle-brachial index, ulcer size, ulcer depth, leukocyte count, treatment, cardiovascular comorbidity, blood pressure, smoking history, septicemia, ketoacidosis, hypoalbuminemia, and upper respiratory tract infection. Chi-Square tests were performed to analyze the association of those factors with LOS. The odds ratio of each variable was evaluated using logistic regression analysis. Result. In this study, the mean of LOS was 26 days (2 – 87 days). Factors that significantly correlated with LOS were ankle-brachial index (p 0.041, OR 2.275, CI 95 % 1.025 – 5.041), ulcer size (p 0.044, OR 3.038, CI 95 % 1.032 – 9.942), smoking history (p 0.022, OR 2.434, CI 95 % 1.125 – 5.265), sepsis (p < 0.001, OR 4.240, CI 95 % 1.908 – 9.423), and ketoacidosis (p < 0.001, OR 8.611, CI 95 % 3.396 – 21.835) In multivariate analysis, the most significant factor was ketoacidosis (p < 0.001, OR 8.360, CI 95 % 3.209 – 21.780). Conclusion. Ketoacidosis is the most significant factor that prolonged hospital stays in a patient with diabetic foot ulcer. Keywords: Diabetic foot ulcer, Length of stay
Intervensi Endovaskular Aneurisma Aorta Torako-Abdominalis Pada Pasien dengan Sindrom Marfan: Tinjauan Literatur Darwis, Patrianef; Vanto, Yoni
Jurnal llmu Bedah Indonesia Vol 47 No 2 (2019): Artikel Penelitian
Publisher : Ikatan Ahli Bedah Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46800/jibi-ikabi.v47i2.48

Abstract

Latar Belakang. Sindroma Marfan merupakan penyakit jaringan ikat yang diturunkan secara autosom dominan dengan penyebab utama morbiditas dan mortalitas akibat kelainan aorta. Bedah terbuka merupakan tata laksana utama untuk kelainan aorta pada pasien sindrom Marfan, namun tidak semua pasien dapat dilakukan bedah terbuka, misalkan pada kondisi hemodinamik yang tidak stabil dan usia tua. Intervensi endovaskular merupakan salah satu pendekatan tata laksana minimal invasif yang masih kontroversial karena adanya risiko kegagalan primer berupa kebocoran aneurisma. Metode. Penelusuran literatur dilakukan secara daring pada 3 database: PubMed, ClinicalKey, dan ScienceDirect. Dilakukan pemilihan studi berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi literatur. Artikel terpilih ditelaah secara kritis berdasarkan alur seleksi dari PRISMA Flow Diagram. Didapatkan 6 artikel yang ditelaah secara kritis Hasil. Tiga literatur mengenai prosedur endovaskular menunjukkan angka keberhasilan prosedur berkisar 20%-38% dengan risiko kegagalan primer (primary endoleak) yang cukup tinggi. Kematian akibat aneurisma lebih tinggi pada pasien sindrom Marfan yang menjalani teknik endovaskular dibandingkan pasien yang dilakukan bedah terbuka. Kesimpulan. Prosedur endovaskular dapat dijadikan alternatif tatalaksana dengan mempertimbangkan kondisi pasien. Sedikitnya jumlah subyek pada penelitian-penelitian yang ada serta waktu follow-up yang singkat menyebabkan efektivitas teknik endovaskular masih diragukan jika dibandingkan dengan prosedur bedah terbuka. Kata kunci: sindrom marfan, endovaskular, bedah terbuka, aneurisma aorta, torako-abdominal
Rare nephrostomy complication mimicking rupture of abdominal aortic aneurysm: a case report Bangsawan, Kiwah Andanni; Irdam, Gampo Alam; Raharja, Putu Angga Risky; Darwis, Patrianef; Fachriza, Ihza; Rahman, Fakhri
Medical Journal of Indonesia Vol. 33 No. 3 (2024): September
Publisher : Faculty of Medicine Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13181/mji.cr.247245

Abstract

Percutaneous nephrostomy (PCN) is a routine procedure in urology with up to 99% success rate and less than 6% of total complications dominated by minor cases. This was a case report of a 59-year-old male patient with an unusual major bleeding complication after PCN that mimicked a ruptured abdominal aortic aneurysm. The laparotomy exploration identified the bleeding source from the right lobar artery, thus renorrhaphy was performed. Proper visualization of anatomic layout, color Doppler imaging, and selecting a guiding method and technique could reduce bleeding complications following PCN.
Comparison of Intima-Media-Thichness, Brachialic Artery VF and VF Draining Vein CKD with Diabetes and Non-Diabetes Performed AVF-Brachiosephiccia at RSCM Herwen, Herwen; Patrianef, Patrianef; Vidiawati, Dhanasari
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 8 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i8.4750

Abstract

Brachiocephalic arteriovenous fistula (AVF) is the recommended vascular access for long-term hemodialysis. However, AVF failure rates remain high, particularly among patients with diabetes mellitus (DM). Diabetes contributes to vascular structural changes, such as increased intima-media thickness (IMT) and reduced volume flow (VF), which may affect AVF maturation success. To compare changes in IMT, brachial artery volume flow, and draining vein volume flow in chronic kidney disease (CKD) patients with and without DM who underwent brachiocephalic AVF creation. This was a retrospective cohort study conducted at Cipto Mangunkusumo National General Hospital between April and June 2025. A total of 42 CKD patients were enrolled and divided into two groups: 21 with DM and 21 without DM. IMT and volume flow were measured using Doppler ultrasound at weeks 0, 2, and 6 after AVF creation. Data were analyzed using the Mann-Whitney test and independent T-test, depending on data distribution. Forty two participants met the inclusion criteria. No significant differences were found between the DM and non-DM groups regarding changes in brachial artery IMT (p = 0.918), brachial artery volume flow (p = 0.538), or draining vein volume flow (p = 0.642) at week 6. Although both groups showed a trend of increased VF from week 0 to week 6, the differences were not statistically significant. There were no significant differences in changes in IMT, brachial artery volume flow, or draining vein volume flow between CKD patients with and without DM following brachiocephalic AVF creation.
Relationship of Saphenous Magna Vein Diameter to Venous Occlusion & Revised Venous Clinical Severity Score (rVCSS) in Patients with Chronic Venous Insufficiency (IVK) Post-Endovenous Microwave Ablation (EMA) Rachmanto, Ary; Patrianef, Patrianef; Kekalih, Aria
Jurnal Locus Penelitian dan Pengabdian Vol. 4 No. 8 (2025): JURNAL LOCUS: Penelitian dan Pengabdian
Publisher : Riviera Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58344/locus.v4i8.4751

Abstract

Chronic venous insufficiency (IVK) is characterized by impaired reverse blood flow in the lower extremities. Endovenous microwave ablation (EMA) is a minimally invasive procedure with advantages on large diameter veins. This study aimed to determine the relationship between the diameter of the great saphenous vein (GSV) and venous occlusion in the first week and the change in the Revised Venous Clinical Severity Score (rVCSS) in the first month post-EMA. This retrospective cohort design study involved 47 patients from RSCM, Hermina Bekasi Hospital and Hermina Depok Hospital for the January-December 2024 period. Data collection used medical record tracing, GSV diamter, GSV venous occlusion, rVCSS score. Bivariate analysis with Chi-Square or Fischer Test, multivariate analysis with multiple logistic regression while diagnostic parameter analysis with ROC curve. The venous occlusion rate reached 87.2%, and the change in rVCSS score was 63.8%. There was a significant relationship between GSV diameter and GSV occlusion [p<0.001; MD -2.101 (95% CI: -2.84; -1.36)] and with changes in rVCSS score [B=1.188; p=0.029; OR 3.28 (95% CI: 1.13–9.53)]. The GSV diameter threshold value of 6.55 mm was a good predictor of occlusion (75.6% sensitivity, 100% specificity), but not good for rVCSS change (70% sensitivity, 52.9% specificity). Other factors such as gender, age ?60 years, hypertension, diabetes, and obesity were not significantly related. GSV diameter was significantly associated with venous occlusion and changes in rVCSS scores post-EMA. A cut-off value of 6.55 mm can be a good predictor of occlusion.