Putri, Agustin Soewitomo
Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Published : 14 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Ekopedagogi sebagai Fungsi Praksis Imago Dei dalam Menjaga dan Merawat Lingkungan Agustin Soewitomo Putri
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 9, No 1: Desember 2022
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v9i1.82

Abstract

The world is in a state of environmental crisis, disaster, and various problems that touch the interests of many people's lives. In this case, the Bible reveals that likeness to God is a form of responsibility to deal with this problem. In God's likeness, there is a mandate and responsibility for caring for nature to the next generation. One of the implementations that can be carried out is through eco-pedagogy. The world, which is entering the era of society 5.0, is pulling humanity forward in a technological development that cannot be avoided, and preserving the environment is a generational educational task that affects the comfort of the "home" where we live. Using the library research method, this article describes eco-pedagogy as the implementation of the task of being like God, which can be part of the answer to today's ecological problems.  AbstrakDunia ada dalam kondisi krisis lingkungan, bencana dan berbagai problematika yang menyentuh kepada kepentingan hidup orang banyak. Dalam hal ini Alkitab menguak tentang keserupaan dengan Allah menjadi wujud tanggung jawab untuk menghadapi persoalan tersebut. Di dalam keserupaan dengan Allah, dijumpai sebuah mandat dan tanggung jawab pemeliharaan alam kepada keturunan berikutnya dan salah satu pelaksanaan yang dapat dilaksanakan adalah melalui ekopedagogi. Dunia yang memasuki  Era society  5.0 ini menarik maju manusia dalam sebuah perkembangan tehnologi yang tidak dapat dihindarkan, dan pelestarian terhadap lingkungan menjadi tugas pendidikan generasi yang mempengaruhi kenyamanan “rumah” di mana kita tinggal. Dengan metode penelitian kepustakaan, artikel ini memaparkan ekopedagogi sebagai pelaksanaan tugas keserupaan dengan Allah yang mampu menjadi sebagian jawaban terhadap permasalah ekologi masa kini.
Kemerdekaan Menurut Roma 6:1-14 dan Penerapannya bagi Generasi Z Tuan, Monika; Santo, Joseph Christ; Putri, Agustin Soewitomo
Teokristi: Jurnal Teologi Kontekstual dan Pelayanan Kristiani Vol 2 No 1 (2022): Mei 2022
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtk.v2i1.294

Abstract

Independence is a person's freedom against something that makes him feel oppressed, shackled and even bound to a forced rule. Christians who live in sin are slaves to sin. Man's attachment to sin makes his life without freedom in life. Generation Z is a generation that lives in a world where everything is instantaneous, has great innovation and creativity, even this generation can make their own money. The application of freedom according to Romans 6:1-14 in generation Z is important. By using a hermeneutic approach and linking the meaning of freedom according to Romans 6:1-14 with generation Z, the researchers came to the conclusion that generation Z needs to understand that they have been baptized into Christ, need to crucify the old man, should not commit themselves to sin, and must live for God. in Christ Jesus.Kemerdekaan merupakan kebebasan seseorang terhadap sesuatu yang membuat dirinya merasa tertindas, terbelenggu bahkan terikat akan suatu aturan yang dipaksakan. Orang Kristen yang hidup di dalam dosa adalah budak dosa. Keterikatan manusia akan dosa membuat hidupnya tidak memiliki kebebasan dalam hidup. Generasi Z adalah generasi yang hidup di dalam dunia yang serba ada yang tersedia segala sesuatunya yang instan, memiliki inovasi dan kreativitas yang hebat, bahkan generasi ini dapat menghasilkan uang sendiri. Penerapan kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 pada generasi Z merupakan hal yang penting. Dengan menggunakan pendekatan hermeneutik dan menghubungkan makna kemerdekaan menurut Roma 6:1-14 dengan generasi Z, peneliti sampai pada kesimpulan bahwa generasi Z perlu memahami telah dibaptis dalam Kristus, perlu menyalibkan manusia lama, tidak boleh menghambakan diri pada dosa, dan harus hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.
Koinonia sebagai Spiritualitas Persahabatan Lintas Iman: Sebuah Tawaran Konstruktif Teologi Kristen Siahaan, Harls Evan R.; Putri, Agustin Soewitomo; Pardede, Nurmalia; Sumakul, Nicolien Meggy
Jurnal EFATA: Jurnal Teologi dan Pelayanan Vol 11, No 2: Juni 2025
Publisher : STT Iman Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47543/efata.v11i2.188

Abstract

This constructive theological study examines the potential of koinonia as a theological foundation for authentic interfaith spiritual friendship. This research demonstrates that koinonia has universal aspects rooted in the Trinity that can inform interfaith relationships while preserving the distinctiveness of Christian beliefs. This study employs a constructive theology methodology alongside a library research approach to analyze primary biblical sources and secondary scholarship from both classical and contemporary traditions. The research demonstrates that koinonia's ability to involve and transform people, primarily through the work of the Holy Spirit, facilitates an understanding of the Spirit's life-giving role even outside of church settings. Friendship spirituality, which serves as a mode of interfaith koinonia, offers deeper personal engagement than formal dialogue models; it is characterized by mutual vulnerability, a commitment to shared flourishing, and the celebration of diversity as a divine gift. For Indonesian churches, this framework provides practical guidance for navigating pluralistic contexts while maintaining theological integrity. The study contributes to global interfaith discourse by bridging international scholarship with Indonesian contextual wisdom, offering an innovative synthesis between Trinitarian theology and interfaith engagement. Abstrak Studi teologi konstruktif ini mengeksplorasi potensi koinonia sebagai fondasi teologis bagi spiritualitas persahabatan lintas iman yang autentik. Kajian ini menunjukkan bahwa koinonia memiliki aspek yang bersifat umum yang berakar pada konsep Trinitas dan bisa menjadi model untuk hubungan antaragama tanpa menghilangkan ciri khas Kristen. Dengan menggunakan metode teologi konstruktif dan penelitian pustaka, studi ini memeriksa sumber-sumber utama dari Alkitab dan penelitian tambahan dari tradisi lama dan baru. Penelitian menunjukkan bahwa sifat partisipatif dan mengubah dari koinonia, terutama aspek yang berkaitan dengan Roh Kudus, memberikan ruang teologis untuk mengakui kerja Roh Kudus yang memberi kehidupan di luar batas-batas gereja. Spiritualitas persahabatan sebagai cara koinonia antaragama memberikan keterlibatan pribadi yang lebih mendalam dibandingkan dengan model dialog formal, yang ditandai oleh kerentanan bersama, komitmen untuk kesejahteraan bersama, dan perayaan keragaman sebagai anugerah ilahi. Bagi gereja-gereja di Indonesia, kerangka ini memberikan panduan praktis untuk menghadapi berbagai kepercayaan sambil tetap menjaga keyakinan teologis mereka. Studi ini menambah pembicaraan tentang hubungan antaragama di seluruh dunia dengan menghubungkan penelitian internasional dengan kebijaksanaan yang ada di Indonesia, serta memberikan gabungan baru antara teologi Trinitarian dan keterlibatan antaragama.
Inkarnasi mendalam dan krisis iklim: Menuju eko-kristologi penebusan planetari di era antroposen Putri, Agustin Soewitomo; Pintakhari, Benyamin
KURIOS Vol. 11 No. 1: April 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v11i1.1079

Abstract

This article explores the theological concept of deep incarnation as a framework for addressing the climate crisis in the Anthropocene epoch. Drawing from contemporary eco-theological discourse, particularly the work of Niels Henrik Gregersen and Elizabeth Johnson, this study examines how the incarnation of Christ extends beyond humanity to encompass all creation. The research employs a systematic theological methodology, integrating biblical exegesis, patristic sources, and contemporary ecological science. The article argues that deep incarnation provides a robust theological foundation for environmental ethics by affirming God's redemptive presence within the entire cosmos. This eco-Christological approach challenges anthropocentric interpretations of salvation and calls for a renewed understanding of humanity's role as co-creators in the planet's healing. The findings suggest that deep incarnation theology offers transformative potential for Christian environmental engagement in the Anthropocene. Abstrak Artikel ini mengeksplorasi konsep teologis inkarnasi mendalam sebagai kerangka kerja untuk mengatasi krisis iklim di era Antroposen. Berdasarkan wacana eko-teologi kontemporer, khususnya karya Niels Henrik Gregersen dan Elizabeth Johnson, penelitian ini mengkaji bagaimana inkarnasi Kristus melampaui kemanusiaan untuk mencakup seluruh ciptaan. Penelitian menggunakan metodologi teologi sistematis, mengintegrasikan eksegesis alkitabiah, sumber-sumber patristik, dan ilmu ekologi kontemporer. Artikel ini berargumen bahwa inkarnasi mendalam menyediakan fondasi teologis yang kuat untuk etika lingkungan dengan menegaskan kehadiran redemptif Allah dalam seluruh kosmos. Pen-dekatan eko-kristologis ini menantang interpretasi antroposentris tentang keselamatan dan menyerukan pemahaman baru tentang peran manusia sebagai rekan pencipta dalam penyembuhan planet. Temuan menunjukkan bahwa teologi inkarnasi mendalam menawarkan potensi transformatif untuk keterlibatan lingkungan Kristen di era Antroposen.