Mulya, Happy Cahaya
Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PERBEDAAN SELF-DISCLOSURE DITINJAU DARI TIPE KEPRIBADIAN EXTROVERT & INTROVERT PADA REMAJA PENGGUNA MEDIA SOSIAL INSTAGRAM DI SURABAYA Xaviera, Faustina; Prasetyo, Eli; Mulya, Happy Cahaya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v9i1.2932

Abstract

Manusia sebagai makhluk sosial memiliki dorongan untuk berkomunikasi satu sama lain. Salah satu bentuk komunikasi adalah self-disclosure. Self-disclosure adalah bentuk pengungkapan diri yang dapat terjadi secara tatap muka atau online. Penelitian ini berfokus pada self-disclosure yang dilakukan secara online yaitu melalui media sosial Instagram karena adanya tiga fitur yang mendukung kemampuan kontrol individu dalam situasi komunikasi online seperti anonimitas, asynchronicity, dan aksesibilitas. Self-disclosure merupakan kemampuan yang penting untuk dimiliki dalam berkomunikasi terutama pada masa remaja karena salah satu tugas perkembangan remaja adalah mengembangkan ketrampilan komunikasi dan belajar bergaul dengan orang lain. Salah satu faktor yang mempengaruhi self-disclosure adalah tipe kepribadian. Individu yang suka bersosialisasi dan dengan tipe kepribadian extrovert lebih melakukan self-disclosure daripada mereka yang kurang suka bersosialisasi dan dengan tipe kepribadian introvert.  Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan self-disclosure ditinjau dari tipe kepribadian extrovert & introvert pada remaja pengguna sosial media Instagram di Surabaya. Subjek penelitian ini adalah remaja dengan rentang usia 18-21 tahun yang berdomisili di Surabaya (N=152). Teknik pengambilan data dilakukan dengan teknik incidental sampling. Self-disclosure diukur dengan skala self-disclosure dan tipe kepribadian diukur dengan Eysenck Personality Inventory (EPI-A). Teknik analisis data yang digunakan adalah uji beda Mann-Whitney U. Hasil analisis menunjukkan nilai sig sebesar 0,482 (p>0,05), artinya tidak ada perbedaan self-disclosure ditinjau dari tipe kepribadian extrovert & introvert pada remaja pengguna media sosial Instagram di Surabaya. Berdasarkan nilai mean, self-disclosure pada tipe kepribadian extrovert sebesar 78,49 dan self-disclosure pada tipe kepribadian introvert sebesar 73,36.
The Meanng in life And Depression Level Among Student Happy Cahaya Mulya; Tri Kurniati Ambarini
PSIKODIMENSIA Vol 18, No 2: Desember 2019
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v18i2.2151

Abstract

The aim of this study is to understand the relationship between meaning in life and depression levels of university students. Additionally, this study also aims to understand the relationship between the two aspects of meaning in life with depression levels. This study was done on 254 students using LRI-R to measure meaning in life and BDI-II Indo Version to measure level of depression. Data analysis technique used in this study is kendall tau_b. The result of this study shows that meaning in life has a negative relationship with level of depression on university students. Apart from that, this study also shows that both aspects of meaning in life, framework and fulfillment, have negative relationships with depression levels.
Grit dan Innovative Work Behavior pada Anggota Organisasi Kemahasiswaan pada Masa Pandemi Covid-19 Christantia Agustin Gunawan; Agnes Maria Sumargi; Happy Cahaya Mulya
PSIKODIMENSIA Vol 21, No 1: Juni 2022
Publisher : Universitas Katolik Soegijapranata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24167/psidim.v21i1.4438

Abstract

AbstrakAnggota organisasi kemahasiswaan perlu mengembangkan innovative work behavior khususnya pada masa pandemi Covid-19. Oleh karena itu, diperlukan ketekunan dalam menggali ide-ide baru yang merupakan bagian dari grit. Penelitian ini bertujuan untuk menguji keterkaitan antara grit dengan innovative work behavior pada anggota organisasi kemahasiswaan. Partisipan dalam penelitian ini adalah 171 orang mahasiswa anggota organisasi kemahasiswaan di sebuah universitas swasta di Surabaya. Skala dalam penelitian ini adalah 12-Item Grit Scale dan skala innovative work behavior. Hasil penelitian menunjukkan bahwa grit memiliki hubungan positif yang signifikan dengan innovative work behavior. Perseverance of effort, salah satu dimensi grit, merupakan prediktor yang signifikan bagi innovative work behavior. Hal ini berarti semakin gigih anggota organisasi, maka semakin sering mereka menciptakan, mempromosikan, dan merealisasikan inovasi dalam organisasi.Kata kunci: Grit, Innovative Work Behavior, Organisasi Kemahasiswaan. AbstractMembers of student organizations should have innovative work behavior, particularly during the Covid-19 pandemic. Therefore, they need to show perseverance in developing new ideas, which can be considered a part of grit. This study aimed to examine the relationship between grit and innovative work behavior among members of student organizations. Participants were members of student organizations at a private university in Surabaya. The scales used in the study were the 12-Item Grit Scale and the Innovative Work Behavior Scale. The result showed that grit had a significant positive relationship with innovative work behavior. Perseverance of effort as a dimension of grit was a significant predictor of innovative work behavior. This means that the more persistent the organization members are, the more frequently they generate, promote, and implement innovations in the organization.Keywords: Grit, Innovative Work Behavior, Student Organizations.
PENGARUH GRATITUDE TERHADAP KECENDERUNGAN DEPRESI PADA MAHASISWA DI SURABAYA Ariel Benny Priyantono; Dicky Susilo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 11, No 1 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i1.4494

Abstract

Kecenderungan depresi didefinisikan sebagai suatu pengalaman yang menyakitkan dengan perasaan kebahagiaan yang hilang dan dapat ditunjukan dengan gejala tertentu. Salah satu penyebab kecenderungan depresi adalah menurunnya gratitude atau rasa syukur yang dimiliki oleh seorang individu yang terdiri dari intencity, frequency, span dan dencity. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetauhi pengaruh dari gratitude terhadap kecenderungan depresi pada mahasiswa Surabaya. Peneliti menggunakan metode kuantitif dengan menyebarkan skala gratitude questionnaire 6 (GQ-6) dan depression anxiety stress scale 21 (DASS-21) yang peneliti susun dengan bantuan Google Form. Subjek yang menjadi penelitian ini adalah mahasiswa strata satu berumur 18-25 tahun di Surabaya. Penelitian ini menggunakan metode purposive sampling dan teknik analisa regresi sederhana dengan memakai bantuan aplikasi SPSS for Windows versi 25. Penelitian ini mendapatkan hasil adanya pengaruh signifikan antar variabel. Uji pengaruh pada penelitian ini digambarkan dengan sumbangan efektif sebesar 12.6% dan nilai sig, sebesar 0.000 (p < 0.05) dan nilai persamaan Y=41,274 – 0,449X. Berdasarkan persamaan regresi tersebut memperoleh arti bahwa setiap kenaikan 0,449 poin pada poin gratitude maka akan menurunkan 1 poin kecenderungan depresinya. Sebaliknya, setiap terdapat penurunan poin gratitude sebesar 0,449 poin maka akan menambahkan kenaikan 1 poin pada kecenderungan depresinya.
DINAMIKA SELF-ESTEEM PADA EMERGING ADULTHOOD YANG FATHERLESS Abdiel Serafino Iskandar; Eli Prasetyo; Happy Cahaya Mulya
EXPERIENTIA : Jurnal Psikologi Indonesia Vol 11, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33508/exp.v11i2.5122

Abstract

Fatherless adalah kondisi anak tumbuh dengan tanpa keterlibatan ayah kandung (fisik, emosional dan spiritual) dikarenakan meninggal, perceraian, ataupun permasalahan pernikahan. Kurangnya secure attachment dari ayah berdampak pada perkembangan self-esteem ke arah negatif, khususnya anak laki-laki. Self-esteem adalah evaluasi diri secara positif maupun negatif. Rendahnya self-esteem dari masa kanak-kanak akan mempengaruhi hingga fase perkembangan berikutnya (Emerging adulthood). Tujuan penelitian ini untuk melihat dinamika self­-esteem (positif dan negatif) emerging adulthood fatherless (perceraian). Metode kualitatif fenomenologi dan analisis tematik induktif. Informan penelitian ini adalah 2 laki-laki emerging adulthood fatherless sejak usia 3-11 tahun. Peneliti menggolongkan dinamika self-esteem dalam 3 fase, yaitu 1) fase anak-anak (3-11 tahun), 2) fase remaja (12-18 tahun), 3) fase emerging adulthood (18-25 tahun), juga faktor pembentuk self-esteem. Hasil penelitian menyatakan ada penilaian diri negatif yaitu kurang percaya diri, tetapi juga ada penilaian diri positif yaitu pribadi yang adaptif dan resilient. Penerimaan dari individu sebaya, relasi keluarga, pemaknaan pribadi pada kondisi fatherless-nya, menjadi faktor yang membentuk self-esteem. Jadi tidak selalu, individu fatherless akan menilai diri negatif lalu terpuruk. Penilaian diri positif membuat individu semakin kuat menjalani tantangan hidup.