Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

FUNGSI SENI TEATER SEBAGAI MEDIA KRITIK SOSIAL DALAM CERITA RAKYAT “PUTRI MANDALIKA” Desnayanti, Rosita; Kailani, Ashwan
TAMUMATRA Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (810.737 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bentuk penyajian teater Putri Mandalika dan fungsi teater Putri Mandalika sebagai media kritik sosial. Teori kritik sosial sebagai alat membedah hubungan sosial yang terjadi karena adanya bentuk dan aturan hidup yang disebabkan oleh manusia. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian deskriptif kualitatif. Penelitian telah dilaksanakan di Desa Seriwe, Kecamatan Jerowaru, serta diadakannya penyajian teater Putri Mandalika. Teknik pengumpulan data yang digunakan peneliti adalah observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan (verifikasi). Setelah melakukan analisis data, maka dapat disimpulkan bahwa: a) bentuk penyajian teater Putri Mandalika menggunakan konsep berbeda yang telah dimodifikasi. b) teater Putri Mandalika dapat dijadikan sebagai media kritik sosial.
Kajian Gerak dalam Pertunjukan Tari Barapan Kebo di Sanggar Sareng Nyer Kabupaten Sumbawa Barat Saputra, Herdyon; Yuliatin, Riyana Rizki; Kailani, Ashwan
TAMUMATRA Vol 3, No 1 (2020)
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v3i1.3027

Abstract

This study aims to describe the form of performances and movement of Barapan Kebo Dance in Sanggar Sareng Nyer, Sumbawa Barat Regency. This study uses the theory of performing arts Y.Sumandiyo Hadi (2018: 5) that the performing arts are always associated with aspects of time, space, and the player, the theory of motion dance Robby Hidajat (2018: 81) that the motion of the dance is a process of moving from one posture to the attitude of the other. The study was conducted at Sanggar Sareng Nyer, Sumbawa Barat Regency. This study was a qualitative method. The Primary data sources were Barapan Kebo dance performances and secondary data sources in the form of documents, photos, recordings, videos and others that can enrich primary data. The techniques of data collection were 1) observation, 2) interviews, 3) documentation. The data analysis techniques were used by 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) data inference. Meanwhile, to check the validity of the data was done by using the data triangulation technique. The results showed that the form of seven stages of the Barapan Kebo dance performance and dance movements that used several typical Sumbawa Barat movements, the movements in the Barapan Kebo Dance include ngomek ngompeng, bagerik, barue’, marenjang, kaliung luntar, ngijik, bejampi, basalunte, and bakeja. There was a division of meaningful and pure movements, meaningful movements including bejampi, basalunte, ngomek ngompeng, and ngijik. Meanwhile, pure motion includes marenjang, kaliung luntar, bagerik, barue', and bakeja.
Fungsi Seni Teater sebagai Media Kritik Sosial dalam Cerita Rakyat “Putri Mandalika” Desnayanti, Rosita; Kailani, Ashwan
TAMUMATRA Vol 2, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v2i1.1624

Abstract

This research aims to know the presentation form of Putri Mandalika theater and function of Putri Mandalika theater as a medium of social criticism. This research is descriptive qualitative research. The theory of social criticism as a tool to dissect social relationship that occur because of the forms and rules of life that are caused by humans.The research has ben conducted in Seriwe village, Jerowaru district and the presentation theater of Putri Mandalika. Data collection techniques used by research is observation, interview and documentation. Data analysis technique in this research is data reduction, data display and conclusion drawing. After data analysis, it can be concluded that: (a) The form presenting of Putri Mandalika theater uses a different concept that has been modified. (b) Putri Mandalika theater can be a media of social criticism.
Bentuk Pertunjukan Drama Tari Bejoraq Ashwan Kailani; Hary Murcahyanto; Mariadah Mariadah
Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora Vol 3 No 2 (2020): Kaganga:Jurnal Pendidikan Sejarah dan Riset Sosial Humaniora
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (514.142 KB) | DOI: 10.31539/kaganga.v3i2.1373

Abstract

This study aimed to to describe the element of performance form and the meaning of the motion of the drama "bejoraq" in the Marong village Praya Timur, Lombok Tengah Regency. There were also data collection techniques carried out in this study by conducting observations, interviews, and documentation. This research was a descriptive qualitative research by taking all samples supporting this study. The data analysis technique used consists of four stages such as data collection data reduction, data display, and conclusion drawing/ verification The dominant theory used in this study was a theory about the form of art performance that is shown to be shown can be exhibitions, dance, puppets, music, drama, and so on. From the results and discussion it was concluded that the form of the Bejoraq drama show has several elements that strengthen performances such as motion, costumes, makeup, dialogue, music, stage, lighting, and the theme of the show. Keywords: Form of Performance, Dance drama, "Bejoraq".
PELATIHAN KESENIAN GENDANG BELEQ DI SANGGAR BANASPATI RAJA Alwan Hafiz; Ashwan Kailani Aswan
Jurnal Gembira: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 1 No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Media Inovasi Pendidikan dan Publikasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kesenian gendang beleq merupakan kesenian yang menjadi iconic Lombok. Penyebutan kesenian ini masing masing daerah memiliki nama yang berbeda, misalnua di Lombok timur bagian selatan disebut dengan Dodak, kemudian Lombok timur bagian timur di sebut dengan gendang beleq, lalu Lombok bagian tengah disebut dengan oncer.kesenian ini biasanya dimainkan secara berkelompok, dengan pembagian jenis alat musiknya terdiri dari alat music melodis dan ritmis. Alat music melodis terdiri dari reong dan seruling sedangkan alat music terdiri dari gendang, rencek, oncer dan gong. Salah satu sanggar yang konsisten dalam melestarikan music tradisional adalah sanggar banasbati raja. Sanggara ini berada di wilayah masbagik Lombok timur. Pada proses pelatihan yang dilakukan sanggar ini masih menggunakan metode otodidak sehingga terkadang bagi sekahe atau pemain yang memiliki tingkat kepekaan nada sulit untuk mengerti permainan yang di akan dimainkan. Melihat kondisi yang ada setelah melakukan observasi di sanggar tersebut maka alternatif yang di gunakan adalah dengan menggunakan metode baca tanda atau dalam istilah teori musiknya disebut sight reading. Dari hasil pelatuhan yang dilakukan dengan menggunakan metode ini terlihat jauh perbedaan kemudahan para sekaha dalam memainkan kesenian gendang beleq.
TEKNIK PERMAINAN REONG PADA KESENIAN GENDANG BELEQ DI SANGGAR MALIK GIRANG DESA PAOK MOTONG Hafiz, Alwan; Markarma, Muh.Ridwan; Kailani, Ashwan; Zaiful; Sapriadi
TAMUMATRA Vol 7 No 2 (2025): Tamumatra
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v7i2.28452

Abstract

The purpose of this research is to find out how the technique of playing reong in the traditional music of gendang beleq art. The method used in this research is qualitative method. Data collection techniques using observation, interview and documentation techniques. The data analysis technique starts from data collection, data reduction, data analysis, presentation, and finally drawing conclusions. Based on the results of the research conducted that in the reong game there are several techniques used including the first Ngambak technique. This technique is used to play the basic notes on the reong by pressing or hitting hard using a reong beater. Second, the Slow or Beradeng technique . The Beradeng technique is one of the techniques played in creating dynamic variations, especially in setting the tempo and intensity of sound. and the last technique used is the kotekan or betimbalan technique . Kotekan or in the Sasak language in the beleq drum game is called betimbalan or in music theory it is called an interlocking pattern or a complementary pattern between two players
METODE PEMBELAJARAN KESENIAN GENDANG BELEQ DI SMP N 3 MASBAGIK Ashwan Kailani; Alwan Hafiz; Teguh Bayu Alam
TAMUMATRA Vol 8 No 2 (2026)
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/tmmt.v8i2.35312

Abstract

Cultural arts education plays a vital role in fostering creativity and preserving local culture; however, in practice, it is often dominated by theoretical approaches, resulting in a learning experience that falls short of being optimal for students. One potential solution is the implementation of clear teaching methods in traditional music education, such as Gendang Beleq. This study aims to describe the teaching methods for traditional Gendang Beleq music among seventh-grade students at SMP Negeri 3 Masbagik and to identify supporting and inhibiting factors in the learning process. This study employs a qualitative approach with a descriptive design and a case study framework. The research subjects include the Arts and Culture teacher and seventh-grade students selected through purposive sampling. Data collection techniques included observation, interviews, and documentation. The results indicate that several methods effectively foster students’ understanding of Gendang Beleq—both theoretically and practically—including the lecture method, demonstration method, and drill method. This study contributes to the development of practice-based cultural arts education and supports the preservation of traditional arts through formal education.  
Strategi Pembelajaran Seni Tari Kreasi Pada Kelas VI di MI NWDI Pancor Siti Rizkiatul Ummah; Alwan Hafiz; Ashwan Kailani; Muh. Ridwan Markarma
Jurnal DIDIKA: Wahana Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 12 No. 1 (2026): JURNAL DIDIKA : WAHANA ILMIAH PENDIDIKAN DASAR
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan strategi pembelajaran yang dilakukan pada pembelajaran tari kreasi di MTs Mu’allimat NWDI Pancor. Metode yang digunakan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi serta analisi yang digunakan meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil penelitian menunjukan strategi pembelajaran yang digunakan pada pembelajaran tari kreasi adalah strategi deep learning, yang dimana strategi ini merupakan strategi pembelajaran yang dirancang untuk mendorong peserta didik memahami materi secara mendalam, kritis, reflektif, dan bermakna. Pada strategi terdapat beberapa tahapan diantaranya tahap stimulasi, tahap eksplorasi, tahap elaborasi dan kreasi dan terakhir adalah tahap refleksi.
Upaya Pelestarian Kesenian Cupak Gerantang di Sembalun Bumbung Lombok Timur Elvin Febrina; Ela Cahyani; Isropiani Isropiani; Baiq Azmira Antika Husna; Baiq Silvia Zahra Tuhry; Ashwan Kailani
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1782

Abstract

Kesenian Cupak Gerantang yang ada di Desa Sembalun Bumbung, Kabupaten Lombok Timur, merupakan salah satu warisan budaya dari komunitas Sasak yang menggabungkan elemen musik, tarian, teater, dan karya sastra lisan dalam sebuah sajian tradisional. Kesenian ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai saluran untuk menyampaikan nilai moral, pendidikan, dan identitas budaya dari masyarakat setempat. Dengan adanya perubahan modernisasi dan transformasi sosial-ekonomi, keberlanjutan praktik serta kontinuitas regenerasi kesenian ini mengalami penurunan disebabkan oleh menurunnya ketertarikan generasi muda, terbatasnya dukungan dari lembaga, kurangnya dana, serta pengaruh budaya modern yang semakin kuat. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya upaya pelestarian yang melibatkan berbagai pihak agar keberadaan kesenian ini tetap terjaga sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan keadaan saat ini dari seni Cupak Gerantang, mengidentifikasi beragam tantangan yang dihadapi dalam usaha pelestariannya, serta menganalisis berbagai bentuk penguatan masyarakat yang diimplementasikan untuk memastikan keberlanjutan seni tersebut. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif deskriptif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam kepada praktisi seni, tokoh masyarakat, dan pihak yang relevan, observasi langsung terhadap aktivitas latihan dan pertunjukan, serta kajian dokumentasi pada berbagai sumber yang mendukung. Hasil studi menunjukkan bahwa untuk melestarikan Cupak Gerantang, dibutuhkan pendekatan menyeluruh dengan meningkatkan kemampuan para pelaku seni, menyusun program untuk regenerasi generasi muda, memajukan sanggar seni, mengintegrasikan seni dalam pendidikan berbasis budaya lokal serta pariwisata budaya, dan menyediakan dukungan pendanaan yang berkelanjutan dari pemerintah dan berbagai pihak terkait. Selain itu, penggunaan media digital untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan menyebarluaskan informasi mengenai Cupak Gerantang merupakan langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan warisan budaya di tengah kemajuan zaman.