Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Emergency Preparedness for Children with Autism Spectrum Disorder (ASD) in Yogyakarta Indriasari, Fika Nur; Widyarani, Linda; Kusuma, Prima Daniyati
Jurnal Keperawatan Soedirman Vol 13, No 3 (2018)
Publisher : Jurusan Keperawatan FIKES UNSOED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20884/1.jks.2018.13.3.747

Abstract

ABSTRACTIndonesia lies on the ring of fire and this includes Yogyakarta province which had experienced some earthquakes. The earthquake that occurred in 2006 caused thousands of people died. Most of the survivors were elderly people and children. Children are a vulnerable group, especially those with special needs. School is the first reference to teach earthquake disaster preparedness to children. This research used observational descriptive design. Purposive sampling technique was used, and data was collected through observation sheet. Respondents were with autism in Special School of Negeri Pembina Yogyakarta (n=23). Storytelling and Simulation on Earthquake Disaster Preparedness gave positive influence towards the mitigation ability by children with special needs, especially those with autism. There were nine children with autism in the category of low IQ, six in the category of average IQ and eight children in the category of superior IQ. Before the storytelling was conducted, children’s ability and involvement in the simulation was 35% (8 children). Conversely, the children’s ability and involvement raised to 78% (18 children) after being given five times (5x) simulation and storytelling. Storytelling and simulation method were effective as training methods in earthquake disaster mitigation on children with autism. There was 43% increase of mitigation level before and after intervention.ABSTRAKDaerah di Indonesia merupakan ring of fire dan Yogyakarta merupakan salah satu daerah yang mengalami gempa bumi. Gempa yang terjadi pada tahun 2006 menimbulkan banyak korban, mayoritas adalah orang lanjut usia dan anak-anak. Anak-anak merupakan kelompok rentan terlebih anak dengan berkebutuhan khusus. Sekolah sebagai tempat rujukan pertama untuk memberikan edukasi siaga bencana terhadap anak-anak.Desain penelitian adalah deskriptif observasional. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampel sedangkan teknik pengumpulan data dengan lembar observasi. Metode pengambilan sampel dengan purposive sampling. Responden yang mengikuti penelitian ini sebanyak 23 anak autis. Pemberian simulasi siaga bencana gempa bumi memberikan pengaruh positif terhadap kemampuan mitigasi anak berkebutuhan khusus dengan autis. Anak autis dengan kategori IQ rendah 9 orang, IQ sedang 6 orang dan IQ tinggi 8 orang. Sebelum diberikan pembelajaran story telling, kemampuan dan keterlibatan anak dalam melakukan simulasi sebanyak 35% (8 anak) namun setelah diberikan pembelajaran dan simulasi sebanyak 5x, kemampuan dan keterlibatan anak meningkat sebanyak 78% (18 anak). Metode simulasi efektif sebagai pembelajaran mitigasi bencana gempa bumi pada anak autis. Peningkatan kemampuan mitigasi sebelum dan sesudah diberikan pembelajaran sebanyak 43%.
ANALISIS KESIAPSIAGAAN KOMUNITAS SEKOLAH DALAM MENGHADAPI BENCANA GEMPA BUMI DI SLB N PEMBINA YOGYAKARTA Fika Nur Indriasari; Prima Daniyati Kusuma
Prosiding Seminar Nasional: Pertemuan Ilmiah Tahunan Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta Vol 1 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Poltekkes Karya Husada Yogyakarta Tahun 2019
Publisher : Prosiding Seminar Nasional: Pertemuan Ilmiah Tahunan Politeknik Kesehatan Karya Husada Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.916 KB)

Abstract

Gempa bumi berskala besar sering menimbulkan korban jiwa dan kerugian materi yang sangat parah. Pendidikan kebencanaan menjadi salah satu prioritas penting penanggulangan bencana terutama dalam upaya mitigasi bencana. Melalui pendidikan kebencanaan diharapkan dapat mengubah kesadaran dan menguatkan karakter penerus bangsa yang tangguh terhadap bencana. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis domain faktor kesiapsiagaan bencana. Metode: Jenis penelitian ini adalah deskriptif eksploratif dengan desain cross sectional study. Populasi dalam penelitian ini adalah semua guru atau tenaga pendidik dan tenaga non kependidikan di SLB N Pembina Yogyakarta. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling. Hasil: Domain faktor kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana yang paling dominan adalah: 1) kemampuan melindungi diri dan menghindari risiko bahaya, 2) kemampuan untuk mengidentifikasi bahaya, risiko, kerentanan dan dampak bencana yang ada di lingkungan sekitar, 3) memiliki informasi, pengetahuan dan kemampuan untuk merespon kejadian bencana, 4) bertindak tepat guna untuk mencegah kehilangan/kerugian atau kerusakan harta benda, 5) mengembangkan kemampuan untuk mempertahankan diri sendiri selama bencana.
PENGARUH PEMBERIAN TERAPI BERMAIN TERHADAP PEMBELAJARAN MITIGASI BENCANA PADA ANAK AUTIS BERBASIS DISASTER NURSING COMPETENCY Fika Nur Indriasari; Linda Widyarani; Prima Daniyati Kusuma
MEDIA ILMU KESEHATAN Vol 7 No 3 (2018): Media Ilmu Kesehatan
Publisher : Universitas Jenderal Achmad Yani Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30989/mik.v7i3.242

Abstract

Background: A powerful earthquake in Yogyakarta, causing major damage and many deaths. Children with autism are more vulnerable and have a greater risk of earthquake because they are have an intellectual, social and verbal disability to safe life independently. Objective: This research discussed the influence of play therapy on learning of disaster mitigation for children with autism. Method: This research used qualitative descriptive design and consider a sample of 30 children with autism in SLB N Pembina Yogyakarta. Play therapy in this research use drawing and coloring methods, also watching video about disaster preparedness. Results: Play therapy could effectively be applied as earthquake mitigation lesson to children with autism in SLB N Pembina Yogyakarta. Before interventions, there were 2 children (7%) able to draw on actions when an earthquake occurred, and increased to 19 children (63,33%) after interventions. Conclusion: Play therapy could be effectively applied to children with autism as earthquake disaster mitigation showed by an increase of children’s drawing and coloring ability on actions when an earthquake occurred for as much as 56,33%. Keyword: Children with autism, mitigation ability, play therapy
Pendidikan Kesehatan Menstrual Hygiene Genitalia Pada Remaja Tunagrahita Prima Daniyati Kusuma
JURNAL KREATIVITAS PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT (PKM) Volume 4 Nomor 2 April 2021
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v4i2.3661

Abstract

 ABSTRAK Perdarahan yang terjadi saat menstruasi pada uterus menyebabkan rentannya seseorang terkena infeksi. Menstrual hygiene yang buruk dapat mengakibatkan infeksi alat reproduksi. Infeksi ini akan mempunyai dampak yang buruk terhadap kesehatan terutama dalam hal fertilitas seperti kemandulan. Remaja tunagrahita juga sama seperti remaja normal lainnya, seharusnya mereka memahami berbagai proses perubahan yang terjadi dalam dirinya. Namun, keterbatasan kemampuan berpikir dan kurang informasi membuat mereka sulit untuk memahami berbagai proses perubahan yang terjadi dalam diri mereka. Remaja tunagrahita pada umumnya kekurangan sumber informasi yang berhubungan dengan perkembangan seks, seperti vulva hygiene saat menstruasi. Hal tersebut dapat menyebabkan remaja tidak mengetahui cara menstrual hygiene yang baik dan benar. Tujuan diberikannya pendidikan kesehatan untuk meningkatkan pengetahuan remaja tunagrahita tentang menstrual hygiene. Kegiatan yang dilakukan berupa pendidikan kesehatan menggunakan booklet. Terdapat peningkatan pengetahuan tentang menstrual hygiene pada remaja tunagrahita. Kata Kunci: menstruasi, menstrual hygiene, remaja, tunagrahita  ABSTRACT Bleeding that occurs during menstruation in the uterus makes a person susceptible to infection. Poor menstrual hygiene can lead to infection of the reproductive organs. This infection will have a negative impact on health, especially in terms of fertility such as infertility. Mentally retarded adolescents are also the same as other normal teenagers, they should understand the various processes of change that occur in them. However, limited thinking skills and lack of information make it difficult for them to understand the various processes of change that occur within them. Mentally retarded adolescents generally lack sources of information related to sexual development, such as vulva hygiene during menstruation. This can cause adolescents not knowing how to properly and correctly menstrual hygiene. The purpose of providing health education was to increase the knowledge of mentally retarded adolescents about menstrual hygiene. Activities carried out in the form of health education using booklets. There was an increase in knowledge about menstrual hygiene in mentally retarded adolescents. Key words: menstruation, menstrual hygiene, adolescents, mental retardation 
DUKUNGAN IBU DALAM MENSTRUAL HYGIENE PADA REMAJA TUNAGRAHITA Prima Daniyati Kusuma
Jurnal Keperawatan dan Kesehatan Vol 12 No 2 (2021): Jurnal Keperawatan dan Kesehatan (JKK)
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Keperawatan Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (199.043 KB) | DOI: 10.54630/jk2.v12i2.148

Abstract

Background: The role of parents is very influential in determining how the health of children in the future. Mothers may take on a larger role than fathers, especially in daughter development, due to gender similarities and past experiences. As with the problem of menstruation, it is certain that the mother has more experience than the father. The first menstruation usually occurs in the age range of 10-16 years or in early adolescence in the middle of puberty before entering the reproductive period. Objective: To determine the description of maternal support for mentally retarded adolescents in dealing with menstruation. Method: This research uses descriptive analytical research method, which is a research method conducted to create an objective picture or description of a situation. The sample in this study were mothers with mentally retarded adolescent children. The sampling technique used is total sampling. Results: Emotional support for menstrual hygiene in mentally retarded children is in the good category of 50% and 50% sufficient. Apprecition support for menstrual hygiene in mentally retarded children is in the sufficient category (57.1%). Instrumental support for menstrual hygiene in mentally retarded children is in the sufficient category (85.7%). Informational support for menstrual hygiene in mentally retarded children is in the sufficient category (71.4%). Conclusion: The aspects contained in the social support of menstrual hygiene from the mother, namely informational support, appreciation support, instrumental support, and emotional support play a significant role in influencing menstrual hygiene behavior. Keywords: maternal support, menstrual hygiene, mental retardation
Patient Health Questionnaire-9 (PHQ-9) Efektif Untuk Mendeteksi Risiko Depresi Postpartum Prima Daniyati Kusuma; Carla Raymondalexas Marchira; Shinta Prawitasari
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 5 No 3 (2018): SEPTEMBER 2018
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35842/jkry.v5i3.266

Abstract

Bentuk yang paling ringan dari depresi postpartum seringkali tidak dikenali karena dianggap normal. Oleh karena itu, skrining sangatlah dianjurkan kepada ibu dengan gejala depresi pada masa postpartum. Pemeriksaan skrining dapat dibantu dengan skala penilaian psikiatrik Patient Health Questionnaire 9 (PHQ-9). Tujuan penelitian ini adalah menganalisis efektivitas PHQ-9 terhadap EPDS untuk mendeteksi risiko depresi postpartum. Jenis penelitian non eksperimental dengan rancangan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah ibu postpartum. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling, sebanyak 100 responden. Instrumen penelitian menggunakan kuesioner PHQ-9 dan EPDS. Analisis data menggunakan screening test Thorner-Remain berupa tabulasi 2x2. Jumlah penderita depresi postpartum melalui pemeriksaan PHQ-9 sebanyak 66% sedangkan melalui EPDS sebanyak 51%. PHQ-9 dan EPDS memiliki perbedaan rentang skoring dalam mengklasifikasikan depresi. PHQ-9 memiliki nilai sensitivias yang tinggi (76,47%) dan memiliki nilai spesifisitas yang rendah (44,90%) dibandingkan dengan pemeriksaan EPDS. Berdasarkan hasil tersebut, PHQ-9 efektif untuk mendeteksi depresi postpartum dengan sensitivitas yang tinggi. Kesimpulan penelitian ini adalah PHQ-9 dan EPDS efektif dalam mendeteksi depresi postpartum. PHQ-9 efektif dalam mendeteksi depresi postpartum ringan sedangkan EPDS efektif dalam mendeteksi depresi postpartum berat.
Edutainment Flashcards Sebagai Media Peningkatan Keterampilan Pre Menstruasi Pada Remaja Berkebutuhan Khusus: Edutainment Flashcards As A Media To Improve Pre Menstrual Skills In Youth With Special Needs Prima Daniyati Kusuma; Fika Nur Indriasari
Jukeshum: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2023): Edisi Juli 2023
Publisher : Universitas Haji Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51771/jukeshum.v3i2.586

Abstract

Latar belakang: Setiap remaja pada umumnya akan mengalami masa pubertas. Pubertas pada remaja berkebutuhan khusus sebenarnya sama dengan remaja pada umumnya, yaitu ditandai dengan adanya perubahan fisik, hormon, dan juga psikologis. Namun, pada beberapa remaja berkebutuhan khusus yang mengalami kesulitan dalam berkomunikasi, perubahan mood akan terjadi lebih dahsyat. Remaja berkebutuhan khusus perempuan yang sudah mulai memasuki usia pra pubertas perlu mendapatkan bimbingan keterampilan pra menstruasi secepatnya. Hal tersebut merupakan kebutuhan yang mendesak dan segera diperlukan remaja dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu metode yang tepat dalam memberikan edukasi keterampilan pra menstruasi sangat diperlukan. Metode flashcards merupakan metode pembelajaran dimana guru atau fasilitator menggunakan media berupa kartu bergambar untuk menerangkan materi sehingga membuat proses belajar lebih aktif dan lebih menguatkan pemahaman konsep materi. Pada dasarnya, metode ini mengubah informasi yang diterima dalam ingatan jangka pendek menjadi ingatan jangka panjang. Tujuan: meningkatkan keterampilan pre menstruasi remaja berkebutuhan khusus. Metode: Kegiatan ini dilaksanakan dengan edukasi, demonstrasi dan pengamatan langsung. Pengamatan dilakukan dengan lembar checklist 10 keterampilan mandiri. Peserta kegiatan adalah 30 remaja berkebutuhan khusus yang terdiri dari autis, down syndrome, dan tunagrahita. Tahapan dalam kegiatan ini meliputi tahap persiapan, pelaksanaan dan evaluasi. Hasil: Terdapat perubahan skor keterampilan peserta kegiatan. Presentase remaja autis dengan keterampilan kurang sebanyak 100% mengalami peningkatan menjadi 33% memiliki keterampilan baik. Presentase remaja down syndrome dengan keterampilan kurang 30%, cukup 20%, dan baik 50% mengalami perubahan menajdi 80% baik, dan 20% kurang. Sedangkan pada remaja tunagrahita tidak mengalami perubahan presentase keterampilan. Kesimpulan: Ada implikasi positif pendidikan kesehatan dengan media flashcards terhadap praktik keterampilan pre menstruasi pada remaja berkebutuhan khusus.
Parenting Sex Education Sebagai Anticipatory Guidance Pada Anak Dengan Down Syndrome : Parenting Sex Education Sebagai Anticipatory Guidance Pada Anak Dengan Down Syndrome Fika Nur Indriasari; Prima Daniyati Kusuma
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 6 No. 1 (2023): Agustus
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v6i1.1947

Abstract

Abstrak. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman orang tua terhadap perkembangan seksual pada anak berkebutuhan khusus serta meningkatkan komunikasi yang efektif dalam memberikan edukasi seksual kepada anak dengan down syndrome. Metode dalam kegiatan ini adalah ceramah interaktif sebanyak 32 peserta. Peserta kegiatan adalah wali siswa yang memiliki anak dengan down syndrome. Sebelum diberikan edukasi, peserta diberikan soal pre test dan sesudah diberikan edukasi, peserta diberikan soal post test. Hasil dari kegiatan ini menunjukkan nilai p-value 0,004 artinya ada perbedaan yang signifikan tingkat pengetahuan peserta sebelum dan sesudah diberikan edukasi tentang pentingnya memberikan sex education pada anak dengan down syndrome. Pengetahuan peserta kegiatan mengalami peningkatan sebesar 46,9%. Simpulan dari kegiatan ini adalah kegiatan pengabdian dengan menggunakan metode ceramah interaktif dapat mendorong terwujudnya active learning dan diperlukan untuk memotivasi dalam belajar. Hal ini ditunjukkan dengan antusiasme dari peserta kegiatan. Kegiatan ini memberikan implikasi bahwa orang tua terutama yang memiliki anak berkebutuhan khusus seperti down syndrome memiliki kesadaran akan pentingnya memberikan edukasi seksual terhadap anaknya. Abstract This activity aims to increase parents' knowledge and understanding of sexual development in children with special needs and to improve effective communication in providing sexual education to children with Down syndrome. The method used is interactive lectures on 32 participants. The activity participants are the guardians of students who have children with Down syndrome. Participants were given a questionnaire before and after being given education. This activity showed the result that there was a p-value of 0.004, which means that there was a significant difference in the level of knowledge of the participants before and after being given education about the importance of giving sex education to children with Down syndrome. The participants' knowledge increased by 46.9%. The conclusion is that sexual education using the interactive lecture method can encourage active learning and is needed to motivate learning. The activity participants looked enthusiastic about participating in the parenting class. This activity implies that parents who have children with Down syndrome are aware of the importance of providing sexual education to their children.
Optimalisasi Penggunaan Masker pada Penerapan Pembelajaran Hibrid di Sekolah Luar Biasa Prima Daniyati Kusuma
Jurnal Abdimas Kesehatan (JAK) Vol 4, No 2 (2022): Juni
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Baiturrahim Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36565/jak.v4i2.319

Abstract

Covid-19 cases in children are a matter of concern. Children are one of the most vulnerable groups to be infected with Covid-19. Children with special needs with comorbidities, have a higher risk when they are exposed to Covid-19. The high mortality rate of Covid-19 in children in Indonesia can be caused because the child has a history of comorbidities and then contracted Covid-19. In addition, services for handling pediatric patients in a number of health facilities are still not optimal. A number of schools in various regions in Indonesia have started to organize limited face-to-face learning, namely using hybrid learning methods. Responding to this, the school must prepare and ensure the creation of a safe learning environment for children when they have to come to school, one way is by using masks properly and correctly. This community service activity was carried out at the SLB N Pembina Yogyakarta. The service method uses lecture, discussion and demonstration methods. The results achieved are the implementation of health counseling activities, the manufacture of pocket book media, and an increase in students' knowledge about how to use masks properly and correctly.
Edukasi Pencegahan “Heat Stroke” Pada Komunitas Pengemudi Becak Saat Menjalani Ibadah Puasa di Yogyakarta Fika Nur Indriasari; Prima Daniyati Kusuma
ABDI: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat Vol 7 No 3 (2025): Abdi: Jurnal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat
Publisher : Labor Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu Sosial, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/abdi.v7i3.1335

Abstract

Heat stroke adalah kondisi serius yang terjadi ketika tubuh tidak dapat mengatur suhu internal akibat paparan panas yang berlebihan. Pengemudi becak, terutama di wilayah tropis seperti Indonesia, sangat rentan terhadap heat stroke karena aktivitas mereka yang dilakukan di luar ruangan dan membutuhkan tenaga fisik yang besar. Kondisi ini memberikan resiko yang besar untuk tidak terpenuhinya kebutuhan hidrasi secara optimal, sehingga ibadah puasa pun beresiko tidak tuntas dijalankan. Oleh karena itu perlu adanya pemberian edukasi terhadap pencegahan heat stroke selama puasa sehingga mereka tetap dapat menjalankan ibadah puasa. Tujuan kegiatan pengabdian ini adalah memberikan edukasi kepada pengemudi becak tentang hidrasi dan pencegahan heat stroke selama puasa. Metode yang digunakan dalam pengabdian ini adalah ceramah interaktif dengan menggunakan media audiovisual berupa slide powerpoint dan video. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 6 Maret 2024 menjelang bulan Ramadhan. Peserta kegiatan adalah pengemudi becak di wilayah kelurahan Giwangan, Yogyakarta. Hasil dari kegiatan menunjukkan terdapat peningkatan pengetahuan peserta kegiatan sebanyak 45% dan termasuk dalam kategori baik. Kegiatan yang serupa berfokus pada edukasi pencegahan heat stroke secara khusus dikaitkan dengan praktik ibadah puasa di bulan Ramadan, serta ditujukan pada komunitas pengemudi becak sebagai kelompok pekerja informal dengan paparan risiko panas tinggi, selama ini jarang tersentuh intervensi kesehatan preventif. Kegiatan ini memberikan implikasi bahwa para pengemudi becak tetap wajib menjalankan ibadah puasa namun harus memperhatikan kesehatan diri sehingga tetap bugar menjalankan aktivitas saat bekerja.