Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pengabdian Kepada Masyarakat melalui Pelatihan Pemandu Wisata Budaya di Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi Hardianti, Hardianti; Utami, Meidy Putri; Syafaruddin, Syafaruddin
IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 3 (2024): IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/iptek.v3i3.64565

Abstract

Abstrak. Pelatihan pemandu wisata budaya di Kecamatan Binongko, Kabupaten Wakatobi, merupakan salah satu kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pemuda-pemudi lokal dalam mengelola dan mempromosikan potensi wisata budaya setempat. Program ini mencakup pelatihan teori dan praktik, serta evaluasi yang menyeluruh untuk memastikan para peserta siap menjadi pemandu wisata yang kompeten. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan dan keterampilan peserta. Selain itu, dampak positif lain yang diharapkan adanya peningkatan jumlah kunjungan wisatawan dan pendapatan masyarakat setempat. Pelatihan ini berhasil memberikan bekal yang dibutuhkan oleh pemuda-pemudi Wakatobi untuk mempromosikan dan mengelola potensi wisata budaya di Kabupaten Wakatobi. Kata Kunci: Pelatihan pemandu wisata, wisata budaya, pemberdayaan masyarakat, pengabdian kepada masyarakat.
POTENSI SARAMBU MARURUN SEBAGAI DAYA TARIK WISATA ALTERNATIF DI TORAJA UTARA Hardianti, Hardianti; Utami, Meidy Putri; Jumawan, Faris
Tulisan Ilmiah Pariwisata (TULIP) Vol 7, No 2: DESEMBER 2024
Publisher : Program Studi S1 Pariwisata, Universitas Muhammadiyah Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31314/tulip.7.2.96-100.2024

Abstract

This study aims to explore the potential and problems of Sarambu Marurun tourist attraction in Awan Rantekarua District, North Toraja, South Sulawesi, to identify appropriate development strategies. The method used is a qualitative approach, through field observations, in-depth interviews with stakeholders, and documentation. The data was analyzed based on the concept of Attractions, Accessibility, and Amenities (3A). The results of the study show that Sarambu Marurun has great potential as a tourist destination with a unique natural attraction in the form of a two-tiered waterfall, but its management is still minimal. The available facilities are limited, accessibility to the location is inadequate, and the promotion of this attraction is not optimal. This study recommends improving infrastructure such as improving road access, adding supporting facilities, and developing ecotourism concepts that involve the participation of local communities that have been made in the form of site signs or travel patterns that are expected to provide a development concept that in the future can increase tourist visits while preserving the environment and local culture, making Sarambu Marurun an alternative tourist destination in Toraja North.
Pendampingan Masyarakat dalam Tata Kelola Gazebo untuk menarik minat Kunjungan ke Tanjung Bayang, Kota Makassar Hardianti, Hardianti; Utami, Meidy Putri
IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat Vol 3, No 2 (2023): IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : IPTEK: Jurnal Hasil Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/iptek.v3i2.59015

Abstract

Abstrak. Pandemi Covid-19 telah mengguncang industri pariwisata secara global. Untuk memulihkan industri ini, pendekatan kemitraan melalui teori Pentahelix menjadi relevan. Pentahelix melibatkan pemerintah, masyarakat, pihak swasta, akademisi, dan media dalam mempercepat pemulihan pariwisata. Pada masa pemulihan pasca Covid-19, persaingan antar destinasi meningkat, mendorong kerjasama semua pihak. Pengelolaan destinasi yang berkualitas, berkelanjutan, dan berdaya saing adalah kunci. Akademisi memiliki peran penting dalam pengembangan pariwisata berkelanjutan, dengan konsep dan penelitian mereka sebagai panduan bagi pemerintah dan bisnis. Kolaborasi antara pengelola destinasi dan akademisi dapat menghasilkan solusi inovatif. Pengabdian dilakukan di Tanjung Bayang, Kota Makassar, untuk memberikan pendampingan pada pemilik gazebo. Konsep tata kelola gazebo yang lebih estetis, aman, dan sesuai pedoman diusulkan. Tahap program mencakup perencanaan, sosialisasi, pemilihan lokasi percontohan, pelaksanaan, dan evaluasi. Hasilnya adalah peningkatan kunjungan ke Tanjung Bayang dan kesadaran pemilik usaha tentang pentingnya tata kelola yang baik. Pendampingan ini diharapkan menjadi contoh bagi destinasi lain untuk meningkatkan ekonomi masyarakat setempat dan mempromosikan pariwisata yang berkelanjutan. Pelajaran dari kegiatan ini adalah pentingnya tahapan proses yang hati-hati dan kerja sama antara semua pihak terlibat dalam mencapai tujuan pariwisata yang sukses. Saran termasuk mempertahankan dan menyebarluaskan konsep tata kelola yang baik kepada pemilik gazebo lainnya. Kata kunci: Pendampingan Masyarakat, Tata Kelola Desain Berkelanjutan Minat Kunjungan Wisatawan, Pelayanan Masyarakat, Pendampingan untuk Pembangunan Berkelanjutan
Pisang Epe Sebagai Representasi Identitas Kuliner Lokal: Kajian Gastronomi terhadap Daya Tarik Wisata Kota Makassar Utami, Meidy Putri; Prambudi, Yogi; Nasrullah; Hardianti
Jurnal Pariwisata Indonesia Vol 21 No 2 (2025): JURNAL PARIWISATA INDONESIA
Publisher : Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines Pisang Epe, a traditional grilled banana snack from Makassar, as a representation of local culinary identity and as a key attraction within the city’s emerging gastronomic tourism. Using a qualitative case study design, data were collected through participant observation at Pantai Losari, in-depth interviews with vendors and tourists, and analysis of promotional materials and social media content. The analysis explores how historical–geographical, gastronomic, and socio-cultural dimensions are articulated through this food. Findings show that Pisang Epe embodies coastal agrarian heritage while being strongly anchored to Pantai Losari, creating a distinctive sense of place for residents and visitors. Its simple but specific preparation techniques and sensory characteristics construct an authentic culinary identity that differentiates it from other banana-based products, even as contemporary toppings are introduced to meet changing tourist preferences. The study also reveals that consumption of Pisang Epe functions as a social ritual that mediates interaction between locals and tourists, enhances memorable tourism experiences, and supports the livelihoods of micro and small enterprises. Overall, Pisang Epe contributes to strengthening Makassar’s city branding as a gastronomic destination and demonstrates how everyday street food can be strategically leveraged in culturally grounded and sustainable culinary tourism development.