Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HUBUNGAN HbA1c DENGAN CRP PADA PENDERITA DIABETES MELITUS TIPE-2 DENGAN OBESITAS DAN TANPA OBESITAS Permatasari, Narulita Dyah; Rachmawati, Banundari; Riansari, Anugrah; Limijadi, Edward Kurnia Setiawan
Journal of Nutrition College Vol 9, No 4 (2020): Oktober
Publisher : Departemen Ilmu Gizi, Fakultas Kedokteran, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jnc.v9i4.29011

Abstract

Latar belakang: Diabetes melitus merupakan penyakit inflamasi kronis yang ditandai dengan peningkatan kadar glukosa plasma. Kadar glukosa plasma yang tinggi dalam jangka waktu lama (hiperglikemia kronik), menstimulasi peningkatan kadar C-reactive protein (CRP). Penderita DMT2 dengan obesitas kemungkinan memiliki kadar CRP yang lebih tinggi karena penumpukan sel adiposa juga dapat memicu reaksi inflamasi di dalam tubuh. Mengetahui hubungan antara obesitas, DMT2, dan kadar CRP sangat diperlukan untuk tujuan klinis serta mencegah terjadinya komplikasi penyakit.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan antara kadar HbA1c dan CRP pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas dan tanpa obesitasMetode: Penelitian observasional analitik dengan pendekatan belah lintang dilakukan di Rumah Sakit Nasional Diponegoro dan beberapa klinik pratama di Semarang pada Mei-Juli 2020. Subjek penelitian adalah 30 penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas dan 30 penderita diabetes melitus tipe 2 tanpa obesitas usia 35-60 tahun Pengukuran kadar HbA1c dan CRP dilakukan menggunakan alat ichroma metode fluorescence immunoassay (FIA). Analisis statistik untuk menguji normalitas data menggunakan Shapiro wilk test, Independent t test dilakukan untuk mengetahui perbedaan rerata karakteristik antara kelompok obesitas dan non-obesitas, dan Spearman Rank digunakan untuk melihat korelasi antara HbA1c dengan kadar CRP.Hasil:  Tidak ada korelasi antara kadar HbA1c dengan CRP pada penderita diabetes melitus tipe 2 dengan obesitas p = 0.420, r = 0,153 dan tanpa obesitas yaitu p= 0,182, r = 0,250.Simpulan: Kadar CRP yang terjadi pada pasien diabetes mellitus tipe 2 dimana inflamasi berjalan kronis tidak dipengaruhi oleh tingginya HbA1c baik pada kondisi obesitas maupun tidak obesitas.
Pemeriksaan Kesehatan, Skrining Faktor Risiko serta Edukasi Kesehatan Warga Pra-lansia dan Lansia Dewi, Dian Puspita; Nugraheni, Arwinda; Afifah, Diana Nur; Hastuti, Yuni Dwi; Rustanti, Ninik; Riansari, Anugrah
Jurnal Pengabdian Masyarakat Kedokteran Vol 5, No 1 (2026): January
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Islam Sultan Agung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30659/abdimasku.5.1.1-14

Abstract

Penuaan membuat golongan lansia rentan terkena penyakit degeneratif seperti hipertensi, diabetes melitus, sakit sendi dan dislipidemia. Penyakit tersebut dapat menimbulkan komplikasi seperti stroke apabila tidak segera ditangani. Selain proses penuaan, faktor-faktor lain seperti pola konsumsi makanan dan aktivitas fisik juga mempengaruhi. Ketidakseimbangan antara energi yang dihasilkan dari konsumsi makanan dengan energi yang dikeluarkan (aktivitas fisik) mengakibatkan kondisi status gizi yang buruk. Status gizi yang buruk ini juga mempengaruhi penyakit dan komplikasi yang dapat muncul pada lansia. Penapisan untuk kondisi dan penyakit tersebut perlu dilakukan sedini mungkin pada golongan pra-lansia dan lansia. Pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk memberikan pemeriksaan kesehatan gratis, skrining faktor risiko dan memberikan edukasi kesehatan pada warga pra-lansia dan lansia. Kegiatan penapisan dilakukan dengan menyelenggarakan pengabdian masyarakat di kelurahan Pudakpayung. Warga pra-lansia dan lansia diukur tinggi badan dan berat badannya, tekanan darah, serta kadar gula darah, asam urat dan kolesterol. Warga juga mengisi informasi aktivitas olahraga. Selain itu, diberikan juga edukasi kesehatan kepada warga yang berpartisipasi. Sebanyak 60 warga pra-lansia (48,3%) dan lansia (51,7%) berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian ini. Hasil pemeriksaan partisipan menunjukkan prevalensi yang tinggi pada obesitas (55%), hipertensi (46,7%) dan kadar kolesterol tinggi (70%). Warga antusias mengikuti kegiatan edukasi kesehatan yang ditunjukkan dengan aktif berdiskusi terkait topik yang diberikan. Hanya 25 warga yang telah cukup melakukan aktivitas fisik. Perlu adanya kegiatan pengabdian berkesinambungan yang dapat memfasilitasi warga untuk peningkatan durasi aktivitas fisik yang dibutuhkan untuk menjaga kebugaran dan kesehatan warga pra-lansia dan lansia. Selain itu, juga dibutuhkan edukasi mengenai asupan gizi seimbang pada pra-lansia dan lansia.