Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Scratch Area Effect in Coating to Protection Current Needing in ICCP System for AISI 1045 Steel in Sea Water Environment Dewanti Dewanti; Tubagus Noor Rohmannudin; Sigit Tri Wicaksono
IPTEK Journal of Proceedings Series Vol 1, No 1 (2014): International Seminar on Applied Technology, Science, and Arts (APTECS) 2013
Publisher : Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23546026.y2014i1.288

Abstract

Every metal always going back to its oxide form. Steel which are oxidized having lower quality than steel which are not. Oxidizing steel will going faster if it is placed in corrosive environment. Sea water is one of the environment that support the oxidizing process. Coats are using to protect the steel in sea water. But sometimes there is some failure in coating process so the coat will have scratch damage area. The objective of this experiment is to know how much current needed to protect AISI 1045 steel which have been coated with polyethylene and given scratch area with shape variations, in sea water environment. This experiments is the continuation from the past experiences which is using sacrifice anode, on the other hand, this experiences using Impressed Current Cathodic Protection. Data which are taken from this experiment is the differentiation of potential that measured with electrode reference Cu/CuSO4, and the current measured by avometer. With ICCP system, we know that the corrosion rate in rectangular-shape scratch is faster than circle-shape scratch, and the larger the area of scratch, the larger current needed to protect the coated steel.
Teknologi Pembuatan Pakan Konsentrat Sapi Potong Sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) Berbasis Limbah Pertanian Siti Zullaikah; Bambang Pramujati; Endry Nugroho Prasetyo; Sigit Tri Wicaksono; Hikmatun Nikmah; Haryanto; Afifatul Jannah; Adian Galihditya Sinarto Wardhana; Adidoyo Prakoso; Ahmad Mujiburrosyid; Amri Maulana; Enrique Gianfranco; Hamdan Ihsan; Indra Cahya Widagda; Mayongga Heriz Febrada; Mohamad Emaldi Wilhan Ariawan; Muhamad Irfaid Darojat; Muhammad Majid Alifan; Muhammad Rizky Sanjaya; Mukhlis Solehuddin; Risfanali Raja
Sewagati Vol 6 No 5 (2022)
Publisher : Pusat Publikasi ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1597.706 KB) | DOI: 10.12962/j26139960.v6i5.398

Abstract

Limbah jagung dan padi merupakan limbah pertanian yang banyak ditemukan di Desa Bluri, Kec. Solokuro, Kab. Lamongan, Prov. Jawa Timur. Desa Bluri adalah salah satu desa binaan Direktorat Riset, Teknologi, dan Pengabdian Kepada Masyarakat (DRTPM), Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) yang juga memiliki potensi dibidang peternakan khususnya penggemukan sapi yang sampai saat ini masih dikelola secara tradisional. Ketersediaan dan harga pakan menjadi permasalahan utama pada proses penggemukan sapi. Mengingat pakan hijauan akan sulit diperoleh pada musim kemarau, dan pakan yang hanya mengandalkan pada limbah pertanian yang ada mempunyai kualitas (kandungan nutrisi) yang belum memenuhi mutu pakan untuk penggemukan sapi. Oleh karena itu, untuk memenuhi pakan ternak sapi yang secara kualitas dan kuantitas memenuhi kebutuhan yang diperlukan, pada kegiatan abmas berbasis produk sebelumnya telah dilakukan pembuatan pakan ternak setara konsentrat sapi potong dari limbah pertanian setempat secara fermentasi aerob sehingga proses yang ditawarkan lebih murah, mudah, ramah lingkungan dan berkelanjutan. Pakan ternak yang diperoleh dapat dianggap sebagai konsentrat sapi potong penggemukan karena secara nutrisi sesuai dengan SNI 3148-2:2017 yaitu kadar air 12,83% (maks. 14%), kadar protein kasar 16,12% (min. 13%), dan kadar lemak kasar 0,96% (maks. 7%). Namun kadar abu dan TDN yaitu 14,62% dan 57,51%, masih diatas kadar abu dan TDN yang disyaratkan yaitu maks. 12% dan min 68%. Sehingga abmas berbasis produk yang dilakukan bertujuan memperbaiki kulitas pakan melalui penurunan kadar abu dan menaikkan kadar TDN dengan cara (1) modifikasi bahan pakan, (2) modifikasi biakan mikroba dengan menambahkan bakteri/jamur yang mampu mengurai bahan-bahan lignoselulosa, dan (3) memperlama waktu fermentasi. Dengan modifikasi bahan, biakan mikroba dan memperlama waktu fermentasi maka kadar protein kasar meningkat tajam menjadi 23,92% (C2/M2/7 hari fermentasi), kadar abu sedikit naik menjadi 9,52% (C3/M3/7 hari fermentasi), demikian juga TDN menjadi 66,07% (C3/M2/7 hari fermentasi). Uji coba pakan di lapangan menunjukkan kenaikan berat rata-rata sapi perhari yang masih memberikan keuntungan kepada para peternak. Sehingga penggunaan pakan ternak dari limbah pertanian dengan fermentasi aerob menggunakan biakan mikroba dari ITS dapat menjadi solusi para peternak di Desa Bluri yang hingga saat ini belum ada yang berhasil karena mahalnya biaya pakan.