Buana, Dana Riksa
National Research Tomsk State University, Russia & Universitas Mercu Buana Jakarta

Published : 10 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 10 Documents
Search

Cultural Differences In Communication Styles Between Russian And Chinese: As Predictors Of Critical Incidents Pratiwi, Regina navira; Buana, Dana Riksa
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (276.087 KB)

Abstract

Terdapat 16000 mahasiswa Tionghoa yang belajar di Rusia per tahun yang mengalami berbagai kesulitan karena perbedaan budaya Rusia dan Tionghoa. dan membangun asimilator budaya bagi mahasiswa Cina yang belajar di Rusia. Ada lima tahap konstruksi asimilator budaya: pemilihan situasi konflik, konstruksi insiden kritis, pemilihan atribusi, konstruksi “atribusi yang salah”, konstruksi asimilator budaya. Tahap pertama pengembangan asimilator budaya, analisis literatur, telah dilakukan yang mengungkapkan 10 perbedaan antara gaya komunikasi Rusia dan Cina yang dapat memprediksi insiden kritis. 10 perbedaan ini harus digunakan dalam menyusun panduan wawancara untuk mengkonfirmasi apakah insiden kritis yang ditentukan secara teoritis dapat terjadi dalam kehidupan nyata.
Bagaimana ISIS Dapat Muncul dari Agama yang Memiliki Ajaran Menjadi Rahmat Bagi Seluruh Alam? Dana Riksa Buana
ADALAH Vol 4, No 2 (2020): Keadilan Sosial & Politik
Publisher : UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1466.517 KB) | DOI: 10.15408/adalah.v4i2.15266

Abstract

Abstract:A religious community in a religious context will find it easier to blame other religious communities because it is different in interpreting the concept of God. This is based on the existence of an excessive sense of ownership of groups that are consciously or not involved in it. This situation is used by ISIS to search for the masses by selling religious similarities, the same boat and the same harmony. In this article the author wants to analyze the background of the cause of the emergence of the ISIS movement from a religion that teaches mercy to all nature namely Islam. There is a wrong understanding of the accepted doctrine, so that it makes it extreme and then becomes a group of ISIS who aspire to form an Islamic state on Iran and Syria.Keywords: ISIS, Terorisme, IslamAbstrak:Seseorang umat beragama dalam konteks beragama akan lebih mudah untuk menyalahkan umat beragama lainnya karena berbeda dalam memaknai konsep ke-Tuhanan. Hal inilah didasarkan adanya rasa kepemilikan yang berlebihan terhadap kelompok yang secara sadar ataupun tidak terlibat didalamnya. Situasi inilah yang dimanfaatkan ISIS untuk mencari massa dengan menjual kesamaan agama, senasib, dan sepenanggungan. Dalam artikel ini Penulis ingin menganalisis latar belakang penyebab timbulnya gerakan ISIS dari sebuah agama yang mengajarkan rahmat bagi seluruh alam yaitu Islam. Adanya pemahaman yang salah dari doktrin yang diterima, sehingga menjadikannya ekstrim dan kemudian menjadi kelompok ISIS yang bercita-cita membentuk sebuah negara Islam di atas tanah Iran dan Syiria.Kata Kunci: ISIS, Terorisme, Islam 
Understanding Violent Religious Behavior in Indonesia; From the Concept to the Prevention Dana Riksa Buana; Oleg Valeryevich Lukyanov
Jurnal Cita Hukum Vol 8, No 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.15003

Abstract

AbstractOne of the social issues that are developing rapidly in Indonesia today is violent religious behavior. Several terms are used to describe such behavior as fundamentalism, radicalism, extremism, or terrorism. The government and the authorities are trying to prevent and eradicate this problem, but it will not be effective if the four concepts above are still used ambiguously by the mass media and scientific journals. Therefore, this article will explain these constructs elaborately so that the eradication of violent religious behavior can be done accurately. The method for this research uses a normative juridical method that examines references or secondary data as a basis for the analysis by searching the literature relating to the problem under study. The results and discussion of the research explain that extremism and radicalism are the seeds of the birth of criminal acts of terrorism, while fundamentalism is how an individual feels belonging to a religion and thus considers that his belief is the most right faith and ready to defend it. Besides, this paper will also analyze what factors are the causes of extreme religious actions, as well as how to handle them psychologically (internally) and interventions from government and society (external).Keywords: Violent Religious Behavior; Fundamentalism; Religious Identity, Spirituality AbstrakSalah satu masalah sosial yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah perilaku agama yang penuh kekerasan. Beberapa istilah digunakan untuk menggambarkan perilaku seperti fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme, atau terorisme. Pemerintah dan pihak berwenang berusaha mencegah dan memberantas masalah ini, tetapi itu tidak akan efektif jika keempat konsep di atas masih digunakan secara ambigu oleh media massa dan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan konstruksi tersebut secara rumit sehingga pemberantasan perilaku keagamaan yang keras dapat dilakukan secara akurat. Metode penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang meneliti referensi atau data sekunder sebagai dasar analisis dengan mencari literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hasil dan diskusi penelitian menjelaskan bahwa ekstremisme dan radikalisme adalah benih kelahiran tindak pidana terorisme, sementara fundamentalisme adalah bagaimana seorang individu merasa menjadi bagian dari sebuah agama dan dengan demikian mencerminkan bahwa keyakinannya adalah keyakinan yang paling benar dan siap untuk mempertahankan Itu. Selain itu, makalah ini juga akan menganalisis faktor-faktor apa yang menjadi penyebab tindakan keagamaan yang ekstrem, serta bagaimana menanganinya secara psikologis (internal) dan intervensi dari pemerintah dan masyarakat (eksternal).Kata kunci: Perilaku Agama yang Penuh Kekerasan; Fundamentalisme; Identitas Agama, Spiritualitas  АннотацияОдной из социальных проблем, которая быстро развивается в Индонезии в настоящее время, является насильственное религиозное поведение. Несколько терминов используются для описания такого поведения: фундаментализм, радикализм, экстремизм или терроризм. Правительство и органы власти пытаются предотвратить и искоренить эту проблему. Однако, попытка не будет эффективной, если четыре вышеуказанные концепции все ещё будут двусмысленно использоваться средствами массовой информации и научными журналами. Таким образом, эта статья подробно объяснит эти конструкции, так что искоренение насильственного религиозного поведения может быть сделано в точности. Метод данного исследования является нормативным юридическим, который рассматривает ссылки или вторичные данные в качестве основы для анализа путем поиска литературы, относящейся к изучаемой проблеме. Результаты и обсуждение исследования объясняют, что экстремизм и радикализм являются семенами рождения преступных террористических актов, в то время как фундаментализм - это то, как человек чувствует принадлежность к религии и, таким образом, считает что его вера является самой правильной и готов защищать её. Кроме того, в этой статье будет проанализировано, какие факторы являются причинами экстремальных религиозных действий, а также как справиться с ними психологически (внутренне) и с помощью вмешательства со стороны правительства и общества (внешне).Ключевые слова: насильственного религиозного, Индонезии
Analisis Perilaku Masyarakat Indonesia dalam Menghadapi Pandemi Virus Corona (Covid-19) dan Kiat Menjaga Kesejahteraan Jiwa Dana Riksa Buana
SALAM: Jurnal Sosial dan Budaya Syar-i Vol 7, No 1 (2020)
Publisher : Faculty of Sharia and Law UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/sjsbs.v7i3.15082

Abstract

AbstractBeginning in 2020, humanity throughout the world was shaken by the Corona Virus pandemic (Covid-19) which caused panic everywhere. Thousands of people were infected and thousands more died. For in Indonesia, the government has given appeals to the community in overcoming this epidemic to be effective and efficient. But in reality, there are still many Indonesian people who do not heed this appeal. Therefore, this study aims to analyze why some people bring up these behaviors, and how to overcome them. The research method used by this research is the study of literature with a descriptive analysis approach. The results show that the behavior displayed by people who do not comply with government appeals is based on cognitive biases. In addition to analyzing the behavior of Indonesian people and how to handle it, this article also presents tips for maintaining mental well-being in a positive psychological approach.Keywords: Pandemic; Covid-19; Cognitive Bias; Mental Welfare  AbstrakAwal tahun 2020 ini umat manusia di seluruh dunia digoncang dengan pandemi Virus Corona (Covid-19) yang membuat kepanikan dimana-mana. Ratusan ribu manusia terinfeksi dan ribuan lainnya meninggal dunia. Untuk di Indonesia sendiri pemerintah telah memberikan himbauan-himbauan kepada masyarakat dalam mengatasi wabah ini agar berjalan efektif dan efisien. Tetapi pada kenyataannya masih banyak masyarakat Indonesia yang tidak mengindahkan himbauan ini. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menganalisa mengapa sebagian masyarakat memunculkan perilaku tersebut, dan bagaimana cara mengatasinya. Metode penelitian yang digunakan oleh penelitian ini adalah studi kepustakaan dengan pendekatan deskriptif analisis. Hasil menunjukan bahwa perilaku yang ditampilkan oleh orang yang tidak mematuhi himbauan pemerintah didasari oleh bias kognitif. Selain menganalisa perilaku masyarakat Indonesia dan cara menanganinya, maka artikel ini juga memaparkan kiat-kiat menjaga kesejahteraan jiwa dalam pendekatan psikologi positif.Kata Kunci: Pandemi; Covid-19; Bias Kognitif; Kesejahteraan Jiwa
Динамика религиозного экстремизма в России в богословских, правовых и психологических подходах к социальной и личностной; Dynamics of Religious Extremism In Russia In Theological, Legal and Psychological Approaches to Social and Personal Amy Maulana; Dana Riksa Buana; Abdulaev Ibragimgadzhi Magomedovich
Jurnal Cita Hukum Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v10i2.27803

Abstract

After the collapse of the Soviet Union in the post-Soviet era, a spiritual vacuum was formed in the conditions of deterioration of the political and economic situation. In the North Caucasus region, during the formation of the Russian state, it was quickly filled with religion: Wahhabism emerged, spread and increasingly declared itself religious extremism. Several terrorist attacks have occurred not only in the North Caucasus, but also in several Russian cities. This article describes the dynamics of religious extremism in Russia from the point of view of the theological, legal and psychological approach to social and personal. With regard to the soft approach, Russia can implement programs of deradicalization and counter-radicalization. In this regard, Russia may create a National Agency for Combating Terrorism and launch a deradicalization project and create a Deradicalization Center for convicted terrorists. Efforts to prevent the development of religious extremism in Russia are being undertaken not only with a legal approach, but also with a theological approach, since it is connected with Islamic concepts.
Динамика религиозного экстремизма в России в богословских, правовых и психологических подходах к социальной и личностной; Dynamics of Religious Extremism In Russia In Theological, Legal and Psychological Approaches to Social and Personal Amy Maulana; Dana Riksa Buana; Abdulaev Ibragimgadzhi Magomedovich
Jurnal Cita Hukum Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v10i2.27803

Abstract

After the collapse of the Soviet Union in the post-Soviet era, a spiritual vacuum was formed in the conditions of deterioration of the political and economic situation. In the North Caucasus region, during the formation of the Russian state, it was quickly filled with religion: Wahhabism emerged, spread and increasingly declared itself religious extremism. Several terrorist attacks have occurred not only in the North Caucasus, but also in several Russian cities. This article describes the dynamics of religious extremism in Russia from the point of view of the theological, legal and psychological approach to social and personal. With regard to the soft approach, Russia can implement programs of deradicalization and counter-radicalization. In this regard, Russia may create a National Agency for Combating Terrorism and launch a deradicalization project and create a Deradicalization Center for convicted terrorists. Efforts to prevent the development of religious extremism in Russia are being undertaken not only with a legal approach, but also with a theological approach, since it is connected with Islamic concepts.
Cultural Differences In Communication Styles Between Russian And Chinese: As Predictors Of Critical Incidents Pratiwi, Regina navira; Buana, Dana Riksa
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 6 No. 1 (2022): 2022
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v6i1.3066

Abstract

Terdapat 16000 mahasiswa Tionghoa yang belajar di Rusia per tahun yang mengalami berbagai kesulitan karena perbedaan budaya Rusia dan Tionghoa. dan membangun asimilator budaya bagi mahasiswa Cina yang belajar di Rusia. Ada lima tahap konstruksi asimilator budaya: pemilihan situasi konflik, konstruksi insiden kritis, pemilihan atribusi, konstruksi “atribusi yang salah”, konstruksi asimilator budaya. Tahap pertama pengembangan asimilator budaya, analisis literatur, telah dilakukan yang mengungkapkan 10 perbedaan antara gaya komunikasi Rusia dan Cina yang dapat memprediksi insiden kritis. 10 perbedaan ini harus digunakan dalam menyusun panduan wawancara untuk mengkonfirmasi apakah insiden kritis yang ditentukan secara teoritis dapat terjadi dalam kehidupan nyata.
Understanding Violent Religious Behavior in Indonesia; From the Concept to the Prevention Buana, Dana Riksa; Lukyanov, Oleg Valeryevich
Jurnal Cita Hukum Vol. 8 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v8i1.15003

Abstract

AbstractOne of the social issues that are developing rapidly in Indonesia today is violent religious behavior. Several terms are used to describe such behavior as fundamentalism, radicalism, extremism, or terrorism. The government and the authorities are trying to prevent and eradicate this problem, but it will not be effective if the four concepts above are still used ambiguously by the mass media and scientific journals. Therefore, this article will explain these constructs elaborately so that the eradication of violent religious behavior can be done accurately. The method for this research uses a normative juridical method that examines references or secondary data as a basis for the analysis by searching the literature relating to the problem under study. The results and discussion of the research explain that extremism and radicalism are the seeds of the birth of criminal acts of terrorism, while fundamentalism is how an individual feels belonging to a religion and thus considers that his belief is the most right faith and ready to defend it. Besides, this paper will also analyze what factors are the causes of extreme religious actions, as well as how to handle them psychologically (internally) and interventions from government and society (external).Keywords: Violent Religious Behavior; Fundamentalism; Religious Identity, Spirituality AbstrakSalah satu masalah sosial yang berkembang pesat di Indonesia saat ini adalah perilaku agama yang penuh kekerasan. Beberapa istilah digunakan untuk menggambarkan perilaku seperti fundamentalisme, radikalisme, ekstremisme, atau terorisme. Pemerintah dan pihak berwenang berusaha mencegah dan memberantas masalah ini, tetapi itu tidak akan efektif jika keempat konsep di atas masih digunakan secara ambigu oleh media massa dan jurnal ilmiah. Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan konstruksi tersebut secara rumit sehingga pemberantasan perilaku keagamaan yang keras dapat dilakukan secara akurat. Metode penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif yang meneliti referensi atau data sekunder sebagai dasar analisis dengan mencari literatur yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Hasil dan diskusi penelitian menjelaskan bahwa ekstremisme dan radikalisme adalah benih kelahiran tindak pidana terorisme, sementara fundamentalisme adalah bagaimana seorang individu merasa menjadi bagian dari sebuah agama dan dengan demikian mencerminkan bahwa keyakinannya adalah keyakinan yang paling benar dan siap untuk mempertahankan Itu. Selain itu, makalah ini juga akan menganalisis faktor-faktor apa yang menjadi penyebab tindakan keagamaan yang ekstrem, serta bagaimana menanganinya secara psikologis (internal) dan intervensi dari pemerintah dan masyarakat (eksternal).Kata kunci: Perilaku Agama yang Penuh Kekerasan; Fundamentalisme; Identitas Agama, Spiritualitas  АннотацияОдной из социальных проблем, которая быстро развивается в Индонезии в настоящее время, является насильственное религиозное поведение. Несколько терминов используются для описания такого поведения: фундаментализм, радикализм, экстремизм или терроризм. Правительство и органы власти пытаются предотвратить и искоренить эту проблему. Однако, попытка не будет эффективной, если четыре вышеуказанные концепции все ещё будут двусмысленно использоваться средствами массовой информации и научными журналами. Таким образом, эта статья подробно объяснит эти конструкции, так что искоренение насильственного религиозного поведения может быть сделано в точности. Метод данного исследования является нормативным юридическим, который рассматривает ссылки или вторичные данные в качестве основы для анализа путем поиска литературы, относящейся к изучаемой проблеме. Результаты и обсуждение исследования объясняют, что экстремизм и радикализм являются семенами рождения преступных террористических актов, в то время как фундаментализм - это то, как человек чувствует принадлежность к религии и, таким образом, считает что его вера является самой правильной и готов защищать её. Кроме того, в этой статье будет проанализировано, какие факторы являются причинами экстремальных религиозных действий, а также как справиться с ними психологически (внутренне) и с помощью вмешательства со стороны правительства и общества (внешне).Ключевые слова: насильственного религиозного, Индонезии
Динамика религиозного экстремизма в России в богословских, правовых и психологических подходах к социальной и личностной; Dynamics of Religious Extremism In Russia In Theological, Legal and Psychological Approaches to Social and Personal Maulana, Amy; Buana, Dana Riksa; Magomedovich, Abdulaev Ibragimgadzhi
Jurnal Cita Hukum Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Syariah dan Hukum, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jch.v10i2.27803

Abstract

After the collapse of the Soviet Union in the post-Soviet era, a spiritual vacuum was formed in the conditions of deterioration of the political and economic situation. In the North Caucasus region, during the formation of the Russian state, it was quickly filled with religion: Wahhabism emerged, spread and increasingly declared itself religious extremism. Several terrorist attacks have occurred not only in the North Caucasus, but also in several Russian cities. This article describes the dynamics of religious extremism in Russia from the point of view of the theological, legal and psychological approach to social and personal. With regard to the soft approach, Russia can implement programs of deradicalization and counter-radicalization. In this regard, Russia may create a National Agency for Combating Terrorism and launch a deradicalization project and create a Deradicalization Center for convicted terrorists. Efforts to prevent the development of religious extremism in Russia are being undertaken not only with a legal approach, but also with a theological approach, since it is connected with Islamic concepts.
Korelasi Penggunaan Media Sosial dengan Kesehatan Mental melalui Exploratory Data Analysis Rahma, Intan Dwi; Kurnia Gusti Ayu; Buana, Dana Riksa
Techno.Com Vol. 24 No. 4 (2025): November 2025
Publisher : LPPM Universitas Dian Nuswantoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62411/tc.v24i4.15024

Abstract

Media sosial telah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, namun penggunaannya yang tidak terkendali dapat memengaruhi kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara durasi dan pola penggunaan media sosial dengan kesehatan mental pengguna usia 18–35 tahun. Metode yang digunakan adalah Exploratory Data Analysis (EDA) terhadap data 281 responden yang diperoleh melalui survei daring, dengan fokus pada durasi penggunaan, jenis platform, konten yang dikonsumsi, respons emosional pasca-penggunaan, pengalaman cyberbullying, serta karakteristik demografis. Hasil menunjukkan bahwa mayoritas responden menggunakan media sosial 6–9 jam per hari, namun korelasi antara durasi dan tekanan mental hanya negatif lemah (r = –0,24). Dampak psikologis lebih banyak dipengaruhi oleh kualitas pengalaman digital, terutama karakteristik platform, jenis konten, dan pengalaman cyberbullying. TikTok memiliki korelasi negatif terbesar (r = –0,25), sedangkan pengguna yang mengalami cyberbullying menunjukkan tekanan mental lebih tinggi. Secara demografis, Millennial dan perempuan menunjukkan tingkat tekanan mental lebih tinggi dibandingkan Gen-Z dan laki-laki. Kesimpulannya, media sosial cenderung memperkuat kondisi psikologis yang telah dimiliki pengguna, sehingga strategi digital well-being perlu difokuskan pada keamanan interaksi dan regulasi emosi daripada pembatasan durasi penggunaan. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar untuk penggunaan media sosial yang lebih sehat dan bijak. Kata kunci: Exploratory Data Analysis; kesehatan mental; media sosial; visualisasi data