Maria Claudia Wahyu Trihastuti
Program Studi Bimbingan Dan Konseling, Fakultas Pendidikan Dan Bahasa Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya Jakarta

Published : 9 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

SIKAP SISWA SMA TERHADAP PROFESI GURU Maria Claudia Wahyu Trihastuti; Clara Ika Sari Budhayanti; Francine Avanti Samino; Paulina Chandrasari Kusuma; V. M. Nilawati Hadisantosa
Psiko-Edukasi Vol 19, No 1 (2021): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sikap terhadap profesi guru adalah evaluasi positif atau negatif secara kognitif, afeksi, dan psikomotorik terhadap profesi guru yang terkait kompetensi guru (pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial) dan kompensasi serta penghargaan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui sikap siswa SMA dan SMK di Jabodetabek terhadap profesi guru. Jenis penelitian adalah penelitian kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian terdiri dari 50 siswa sebagai sampel ujicoba dan 414 siswa sebagai sampel penelitian dari lima sekolah swasta di Jakarta. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang dikembangkan berdasarkan komponen dan karakteristik sikap yang dikaitkan dengan kompetensi guru serta kompensasi dan penghargaan. Berdasarkan hasil ujicoba diketahui bahwa dari 50 pernyataan, terdapat 43 pernyataan valid dengan koefisien realibilitas instrumen sebesar 0,956. Data penelitian diolah dengan menggunakan statistik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian, diketahui bahwa terdapat 92 siswa (22%) memiliki sikap yang sangat positif terhadap profesi guru, 259 (63%) siswa memiliki sikap positif, 58 (14%) siswa memiliki sikap cukup positif, 5 (1%) siswa memiliki sikap kurang positif, dan tidak ada siswa yang memiliki sikap negatif terhadap profesi guru. Indikator yang dinilai positif oleh siswa yaitu indikator gaji guru yang memadai dan indikator profesi guru dihargai masyarakat. Indikator yang terkait dengan kompetensi kepribadian yang dinilai positif adalah kepribadian utuh, seperti kebiasaan guru berpakaian rapi dan sopan. Kompetensi sosial guru yang dinilai positif adalah kemampuan guru dalam mempengaruhi siswa untuk berubah ke arah yang baik namun guru dinilai kurang mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa. Kompetensi profesional guru yan dinilai positif antara lain terkait dengan penguasaan materi yang diajarkan namun guru dinilai kurang mampu mengembangkan pengetahuan yang telah dimilikinya. Kompetensi pedagogik guru cenderung dinilai kurang positif oleh siswa, antara lain guru dinilai kurang tegas, belum mampu mengajar sesuai dengan gaya belajar dan karakteristik siswa, kurang menguasai keterampilan mengajar, serta kurang mampu menyampaikan materi dengan menarik dan kreatif.Saran diberikan kepada kepala sekolah, guru, dan kepala program studi Fakultas Pendidikan dan Bahasa Unika Atma Jaya: (1) Kepala sekolah hendaknya menyusun program pengembangan sumber daya guru terutama yang terkait dengan peningkatan kompetensi pedagogik. Pembinaan kompetensi pedagogik guru hendaknya dilakukan secara kontinu dan berkelanjutan agar pelaksanaan proses pembelajaran lebih efektif dan guru lebih kreatif dalam menggunakan metode pembelajaran; (2) Guru diharapkan secara terus menerus mengembangkan keilmuan yang telah dimiliki sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan; dan (3) Kepala program studi beserta tim penyusun kurikulum hendaknya memperkaya kurikulum dengan menambah bobot mata kuliah yang terkait keterampilan mengajar calon pendidik.
PERSEPSI GURU TERHADAP PENDIDIKAN SEKSUALPADA ANAK USIA DINI Maria Claudia Wahyu Trihastuti; Yohanna Claudia Dian Ariani
Psiko-Edukasi Vol 11, No 2 (2013): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan kasus Kejahatan Seksual pada Anak (KSA)di Indonesia semakin memprihatinkan. Angka kasus KSA dari tahun ke tahun meningkat. Kasus KSA ini kini sudah mulai menyerang anak-anak TK maupun SD. Pada tahun 2014 ini dari laporan kekerasan pada anak yang ditangani komisi perlindungan anak 58 % adalah kasus KSA. Kejadian KSA tidak saja di rumah tetapi di sekolah. Sebagai lembaga pendidikan yang menghasasilkan guru-guru untuk tingkat TK, SD, SMP, dan SLTA kami tergugah untuk terlibat aktif mencegah kejahatan ini. Salah satu tindakan untuk mencegah terjadinya KSA adalah diberikan pengetahuan mengenai tubuhku milikku pada anak usia dini yang merupakan kelompok paling rentan akan KSA. Dengan pemberian pengetahuan sejak dini ini diharapkan anak-anak mampu menjaga tubuhnya dari KSA. Penelitian dilakukan terhadap 30 orang guru dari dua TK berbasis agama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 30 guru (100%) memiliki persepsi yang sangat positif mengenai pendidikan seksualitas siswa usia TK. Guru menilai bahwa orangtua merupakan pihak yang paling bertanggungjawab terhadap pengajaran pendidikan seksualitas bagi anak usia dini. Hasil penelitin juga menunjukkan bahwa topik mengenai anggota tubuh manusia merupakan topik yang penting diberikan kepada siswa TK melalui metode pembelajaran berceritera.
FAKTOR-FAKTOR KEPERCAYAAN DIRI DUA SISWA KELAS VII SMP KATOLIK RICCI II BINTARO Rifa Safika; Maria Claudia Wahyu Trihastuti
Psiko-Edukasi Vol 18, No 1 (2020): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Faktor-faktor kepercayaan diri adalah faktor internal dan eksternal yang menyebabkan kepercayaan diri siswa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Teknik pengumpulan data penelitian menggunakan wawancara. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui faktor kepercayaan diri dua siswa Kelas VII SMP Katolik Ricci II Bintaro dan memberikan rekomendasi penanganan konseling individual bagi kedua siswa.Berdasarkan hasil wawancara diketahui bahwa faktor penyebab hambatan kepercayaan diri DT dan RT didominasi oleh faktor internal. Faktor internal yang paling dominan pada DT adalah pengalaman hidup. Faktor penyebab hambatan kepercayaan diri RT adalah faktor internal yang terkait dengan kondisi fisik. Rekomendasi penanganan kepada DT dan RT berupa konseling individual dengan pendekatan REBT. Rekomendasi konseling individual bagi DT bertujuan agar DT mampu menerima pengalaman kurang menyenangkan masa lalu dan meningkatkan kompetensi diri di berbagai bidang. Sedangkan tujuan konseling bagi RT diarahkan pada keberanian untuk mencoba berelasi dengan orang lain dengan mengatasi penilaian negatif terhadap diri menjadi lebih positif. Saran kepada Guru BK agar melaksanakan konseling individual kepada DT dan RT berdasarkan rekomendasi yang diberikan peneliti. Guru Wali Kelas hendaknya memberikan kesempatan bagi DT dan RT untuk terlibat dalam kegiatan organisasi sekolah.
KARAKTERISTIK PENYESUAIAN SOSIAL DI SEKOLAH PARA SISWA SMA STELLA MARIS BSD Theresia Riri Rusdianeri; Maria Claudia Wahyu Trihastuti
Psiko-Edukasi Vol 18, No 2 (2020): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penyesuaian sosial di sekolah adalah kemampuan siswa dalam menanggapi orang lain di lingkungan sekolah yang meliputi indikator penyesuaian siswa terhadap peraturan, teman sekolah, guru, tugas, kegiatan sekolah, serta peran dan tanggung jawab di kelas. Penelitian ini termasuk jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan skala penilaian. Berdasarkan hasil uji coba instrumen penyesuaian sosial kepada 41 siswa sebagai sampel uji coba, diperoleh 44 pernyataan valid dengan koefisien reliabilitas instrumen sebesar 0,949.Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 83 siswa, sebanyak 57 siswa (70%) memiliki kemampuan penyesuaian sosial pada kategori tinggi dan sebanyak 26 siswa (30%) memiliki kemampuan penyesuaian sosial pada kategori sedang. Tiga indikator yang paling dominan dialami siswa yaitu indikator penyesuaian terhadap guru, peraturan, dan teman sekolah. Indikator penyesuaian terhadap tugas sekolah memiliki rata-rata skor yang sama dengan rata-rata total, sedangkan dua indikator lain yaitu penyesuaian terhadap kegiatan sekolah dan peran atau tanggung jawab di kelas memiliki rata-rata di bawah rata-rata total.  Kerja sama antara guru BK, wakil kepala sekolah bidang kesiswaan, wali kelas, dan guru bidang studi diperlukan dalam rangka meningkatkan keterlibatan siswa dalam kegiataan keorganisasian baik di kelas maupun di lingungan sekolah.
KESEJAHTERAAN PSIKOLOGIS GURU SELAMA PEMBELAJARAN JARAK JAUH DALAM MASA PANDEMIK COVID-19 Maria Claudia Wahyu Trihastuti
Psiko-Edukasi Vol 19, No 2 (2021): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Teacher psychological well-being is the level of teacher satisfaction regarding the experience of carrying out a role as a teacher including a sense of optimism, a sense of being able to control life and self-determination, environmental mastery and self-efficacy, growth and meaningful activities during distance learning in the covid-19 pandemic. The purpose of this study was to obtain information about the level of psychological well-being of teachers and to obtain information about the most dominant and less dominant components of psychological well-being experienced by teachers during distance learning. This type of research is descriptive research with a survey research design through a rating scale instrument. The subjects were 91 teachers. The results showed that most of the teachers had a high and very high level of psychological well-being. The most dominant components are components of environmental mastery and self-efficacy as well as components of growth and meaningful activities. While the less dominant component is the sense of being able to control life and self-determination and the component of optimism.
Hubungan Antara Kedekatan Emosional Siswa Pada Orangtua dan Keberadaan Psikologis Siswa Maria Claudia Wahyu Trihastuti
Psiko-Edukasi Vol 12, No 1 (2014): Psiko Edukasi
Publisher : Universitas Katolik Indonesia Atma Jaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedekatan emosional pada orangtua adalah derajat perasaan aman yang dipersepsi siswa dalam berinteraksi dengan orangtua. Keberadaan psikologis siswa adalah tingkat kepuasan siswa mengenai pengalaman hidup, antara lain berkaitan dengan rasa optimis, rasa mampu mengontrol kehidupan dan penentuan nasib sendiri, penguasaan lingkungan dan kemanjuran diri (self efficacy), serta pertumbuhan dan kegiatan bermakna (growth dan meaningful pursuits). Penelitian ini merupakan survei denganmenggunakan skala penilaian.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komponen dismissing attachment style dan komponen secure attachment style adalah dua gaya kedekatan emosional pada orangtua yang banyak dialami oleh siswa. Pada variabel keberadaan psikologis, sebagian besar siswa memiliki tingkat keberadaan psikologis pada klasifikasi sedang. Komponen yang banyak dialami siswa pada penelitian ini adalah komponen optimis dan komponen self efficacy. Hasil analisis korelatifmenunjukkan bahwa terdapat korelasi negatif antara gaya fearful/avoidance attachment style dan keberadaan psikologis; korelasi negatif antara preoccupied attachment style dan keberadaan psikologis; dan korelasi negatif antara komponen dismissing attachment style dan keberadaan psikologis. Hubungan antara komponen secure attachment dan keberadaan psikologismenunjukkan hasil yang tidak signifikan.
Describing social stigma of disability’s family through circumplex model on film Trihastuti, Maria Claudia Wahyu; Marta, Rustono Farady; Panggabean, Hana; Fernandes, Maristela Julia
Jurnal Studi Komunikasi Vol. 6 No. 2 (2022)
Publisher : Faculty of Communications Science, Dr. Soetomo University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25139/jsk.v6i2.4871

Abstract

The biographical film, Zero to Hero, shows the true story of Hong Kong sprinter So Wa Wai who won the 1996-2008 Paralympic Olympics. This study aims to identify signs to build meaning based on speech (words), images, images and sounds, words and gestures/body language, images and gestures/body language, images and objects, and words and objects. Identification of the mother's role in controlling the balance of the dimensions of cohesion, and flexibility through the application of effective communication with family members and the community is illustrated in this study. Dimensions of cohesion and flexibility that is based on Olson's Circumplex model describing family functions. Parenting interactions through the communication dimension of the mother figure play an important role in the Circumplex model. The analytical method used is Umberto Eco's semiotics which relies on the constructivism paradigm. The results showed that the Zero to Hero film contains three meaningful signs based on Olson's Circumplex model, namely signs in the form of speech, speech and body language, and speech and objects.
Parenting Self-Efficacy Ibu dalam Mengasuh Anak dengan Disabilitas Trihastuti, Maria Claudia Wahyu; Panggabean, Hana; Marta, Rustono Farady
INKLUSI Vol. 10 No. 1 (2023)
Publisher : PLD UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/ijds.100103

Abstract

Parenting self-efficacy ibu, tantangan dan peran lingkungan, disabilitas    This article focuses on the dynamic process of acceptance and motivation as well as essential factors in a mother’s parentingself-efficacy. Six participants are mothers of children (above 6 years old) with either one of the three types of ability: intellectual, sensory, or mental disability. The data are gathered through semi-structured interviews. The result of this study shows that the experienceof being reared by parents becomes a representative experience that adds to mothers’ knowledge and expertise in mothers’ reared task, in that mother’ rearing duty, shows motivation to increase the competency in fostering children with disability in many ways, among others are reading from mass media, consulting with a therapist, and communicating intensively with the teacher. Affiliate stigma experienced by mothers, evokes mothers to be more selective in choosing a social environment that supports the development of children with disability. Spirituality and social support become factors that play a role in mothers’ parenting-self efficacy. Artikel ini membahas dinamika proses penerimaan dan motivasi sebagai faktor yang berperan dalam parenting self-efficacy ibu. Enam responden yang terlibat dalam penelitian ini merupakan ibu dari anak dengan disabilitas (berusia di atas enam tahun) yang memiliki salah satu jenis dari tiga jenis disabilitas yakni intelektual, sensorik, dan mental. Teknik wawancara semi terstruktur digunakan sebagai teknik pengumpulan data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengalaman diasuh oleh orang tua menjadi pengalaman perwakilan yang menambah pengetahuan dan kemampuan ibu dalam tugas pengasuhan. Ibu menunjukkan motivasi untuk meningkatkan kompetensi dalam mengasuh anak dengan disabilitas melalui berbagai cara, antara lain membaca informasi dari media massa, berkonsultasi dengan terapis, dan berkomunikasi secara intensif dengan guru. Affiliate stigma yang dialami ibu menggugah ibu untuk lebih selektif dalam menentukan lingkungan sosial yang mendukung perkembangan anak disabilitas. Spiritualitas dan dukungan sosial menjadi faktor yang berperan dalam parenting self-efficacy ibu.
Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa: Kolaborasi untuk Pendidikan Berkualitas dan Kesehatan Masyarakat di Desa Ratnawati Susanto; Yuliati; Maria Claudia Wahyu Trihastuti; Noni Agustina; Yulhendri
International Journal of Community Service Learning Vol. 9 No. 4 (2025): November
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/ijcsl.v9i4.101364

Abstract

Pemberdayaan masyarakat merupakan proses yang dilakukan dalam upaya meningkatkan kemampuan setiap individu dan kelompok untuk mengelola dan memanfaatkan sumber daya yang tersedia untuk mencapai kesejahteraan. Program Pemberdayaan Masyarakat oleh Mahasiswa (PMM) di Desa bertujuan menerapkan 5 program prioritas, yang mencakup pendidikan berkualitas, perilaku belajar siswa, kesehatan dan gizi Masyarakat serta Manajemen Komunikasi Edukatif. Metode yang digunakan meliputi sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan dan evaluasi serta keberlanjutan program. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dengan rerata capaian sebesar 87% (kurang 75%) secara rerata dalam pelaksanaan PMM, dengan indikator-indikator yang mencakup kegiatan sosialisasi terlaksana 87%, capaian prioritas program 1, pendidikan berkualitas 87%, capaian program 2, pendampingan perilaku belajar (85%), capaian program 3, program kesehatan di sekolah 86%, capaian program 4, dan program kesehatan dan gizi warga 88%, dan capaian program 5 manajemen komunikasi edukatif sebesar 87%. Program PMM di Desa berhasil mencapai kelima program prioritas secara signifikan, yang mencakup Pendidikan Berkualitas, Pendampingan Perilaku Belajar, Program Kesehatan dan Gizi di Sekolah, Program Kesehatan dan Gizi Warga dan Manajemen Komunikasi Edukatif baik bagi mitra guru di SDN 02 dan TP PKK Desa.