Bin Rusli, Almunauwar
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Partisipasi Pendidikan Wahdah Islamiyah Dalam Sistem Demokratisasi Masyarakat Muslim Indonesia Fauzi, Ahmad; Bin Rusli, Almunauwar
The Teacher of Civilization : Islamic Education Journal Vol 5, No 2 (2024): Volume 5 No. 2 September 2024
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jpai.v5i2.3204

Abstract

Artikel ini membahas salah satu fenomena revivalisme Islam di Indonesia  yang ditandai dengan kehadiran organisasi Wahdah Islamiyah (WI). Dengan menggunakan studi kepustakaan berdasarkan analisis wacana kritis dan analisis gerakan sosial, maka kajian ini ingin menunjukkan tiga temuan penting. Pertama, Wahdah Islamiyah  resmi berdiri pada 19 Februari 1998 di Makassar, Sulawesi Selatan yang mendasarkan pemahaman dan amaliyahnya pada Al Qur’an dan As Sunnah serta As Salaf Ash-Shalih. Kedua, Wahdah Islamiyah mengembangkan teknik digital Salafism (salafisme digital) untuk menciptakan, mengatur sekaligus menyebarluaskan pendidikan revivalisme Islam di seluruh daerah di Indonesia. Mereka juga bekerjasama dengan Stasiun Radio dan Televisi Rodja yang berdiri sejak 2005. Ketiga, strategi pendidikan Wahdah Islamiyah berhasil melakukan migrasi busana dari masker menjadi cadar dikalangan Muslimah lokal di Sulawesi Utara saat masa covid-19. Sebagai kesimpulan, Wahdah Islamiyah sedang memanfaatkan konstitusi untuk memasukkan sistem syariat Islam ke dalam sistem Pendidikan lokal maupun nasional secara demokratis.Kata Kunci : Wahdah Islamiyah, Salafisme, Pendidikan, Negara, Demokrasi
Partisipasi Pendidikan Wahdah Islamiyah Dalam Sistem Demokratisasi Masyarakat Muslim Indonesia Fauzi, Ahmad; Bin Rusli, Almunauwar
The Teacher of Civilization : Islamic Education Journal Vol 5, No 2 (2024): Volume 5 No. 2 September 2024
Publisher : IAIN Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/jpai.v5i2.3204

Abstract

Artikel ini membahas salah satu fenomena revivalisme Islam di Indonesia  yang ditandai dengan kehadiran organisasi Wahdah Islamiyah (WI). Dengan menggunakan studi kepustakaan berdasarkan analisis wacana kritis dan analisis gerakan sosial, maka kajian ini ingin menunjukkan tiga temuan penting. Pertama, Wahdah Islamiyah  resmi berdiri pada 19 Februari 1998 di Makassar, Sulawesi Selatan yang mendasarkan pemahaman dan amaliyahnya pada Al Qur’an dan As Sunnah serta As Salaf Ash-Shalih. Kedua, Wahdah Islamiyah mengembangkan teknik digital Salafism (salafisme digital) untuk menciptakan, mengatur sekaligus menyebarluaskan pendidikan revivalisme Islam di seluruh daerah di Indonesia. Mereka juga bekerjasama dengan Stasiun Radio dan Televisi Rodja yang berdiri sejak 2005. Ketiga, strategi pendidikan Wahdah Islamiyah berhasil melakukan migrasi busana dari masker menjadi cadar dikalangan Muslimah lokal di Sulawesi Utara saat masa covid-19. Sebagai kesimpulan, Wahdah Islamiyah sedang memanfaatkan konstitusi untuk memasukkan sistem syariat Islam ke dalam sistem Pendidikan lokal maupun nasional secara demokratis.Kata Kunci : Wahdah Islamiyah, Salafisme, Pendidikan, Negara, Demokrasi
Kiai, Seks Dan Relasi Kuasa Pesantren Indonesia (Studi Kasus Jawa Timur) Bin Rusli, Almunauwar; Fauzi, Ahmad Fauzi
Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam Vol. 35 No. 1 (2026): Empirisma: Jurnal Pemikiran dan Kebudayaan Islam
Publisher : Prodi Studi Agama-agama Fakultas Ushuluddin dan Dakwah IAIN Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/empirisma.v35i1.3521

Abstract

The abuse of religious authority occurring in several Islamic boarding schools (pesantren) in East Java has been widely reported by various mass media outlets; however, it has received insufficient in-depth analysis from academics. Consequently, the phenomenon of sexual violence rooted in the power relations of the Kiai (religious leader) has never been seriously addressed by the government. It should be emphasized that this research does not intend to make generalizations and focuses solely on case studies of five problematic pesantren.Using the Systematic Literature Review (SLR) method, critical discourse analysis and sociology of knowledge approach, several key points were identified.  First, the weakness of government oversight and the strengthening doctrine of mystical logic serve as the dominant factors explaining the immense power held by the Kiai within pesantren institutions. Second, in response to this crisis, a wave of resistance has emerged from various elements of civil society. This manifests through two primary channels. (1)  Internal channels: survivors among the female students (santriwati) have engaged in peer-to-peer communication, self-isolation for protection, and strategic collaborations with lawyers and prosecutor, NGOs, and the mass media to voice the truth (2) External channels: residents of East Java have demanded firm state action, including the implementation of chemical castration, the revocation of operational licenses for problematic pesantren, and curriculum reform aimed at dismantling patriarchy and violence. These conclusions demonstrate that sexual violence in pesantren is not merely a matter of individual morality; it is a systemic issue that necessitates legal intervention, rigorous state supervision, and the deconstruction of doctrines that undermine the human rights of female students