This Author published in this journals
All Journal Amerta
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

KOTA RENTANG, SUMATRA UTARA: JALUR PERDAGANGAN PANTAI TIMUR SUMATRA Harkantiningsih, Naniek; Wibisono, Sonny C.
AMERTA Vol. 30 No. 1 (2012)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak. Kota Rentang adalah sebuah situs baru yang ditemukan di kawasan Muara Belawan, Medan pada tahun 2008. Dalam artikel ini akan dipresentasikan bukti-bukti arkeologi yang ditemukan melalui kegiatan ekskavasi. Dalam konteks kawasan Muara Belawan penemuan situs Kota Rentang ini menjadi penting artinya, karena di kawasan ini pula pernah ditemukan situs yang cukup dikenal yaitu Kota Cina. Sebuah situs permukiman di daerah rawa pantai yang mengandung temuan keramik dari masa Song-Yuan, dan situs lain Paya pasir tempat ditemukan bangkai kapal kuno. Analisis keramik menjadi kunci penting menelusuri situs-situs perdagangan di Muara Belawan, kapan Kota Rentang mulai berperan dalam jaringan perdagangan. Studi ini juga dilakukan perbandingkan variabilitas dan kronologi keramik antara Situs Kota Rentang dan Situs Kota Cina yang terletak dalam satu sistem jaringan sungai pesisir-pedalaman. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih baik tentang pertumbuhan pusat-pusat kota pantai yang berperan dalam jaringan perdagangan regional abad 12 – 16 di pantai timur Sumatra bagian utara khsusunya di kawasan Muara Belawan. Kata kunci: Kota Rentang, perdagangan, keramik Abstract. Kota Rentang, North Sumatra: Trade Route on the East Coast of Sumatra. KotaRentang is a new site, which was discovered in Muara/Belawan (Belawan Estuary) area, Medan,in 2008. In this article will be presented archaeological evidences found during excavations. In thecontext of Muara Belawan area, the discovery of this site is important because in this area there isalso a quite famous site, which is Kota Cina, a habitation site that contains Song-Yuan ceramics, andPaya Pasir, where there is an old shipwreck. Ceramics analysis is the important device in retracingtrade sites in Muara Belawan and finding out when Kota Rentang was first involve in trade network.In this study comparisons are also made between the variability and chronology of ceramics from thesites of Kota Rentang, which are located in a network of coastal-interior river system. It is hoped thatresults of this study will provide better understanding about the emergence of centers of coastal cities,which were involved in regional trade network during 12th – 16th centuries AD along the east coastof the northern part of Sumatra, particularly Muara Belawan area. Keywords: Kota Rentang, trade, ceramics
IRIGASI TIRTAYASA : TEKNIK PENGELOLAAN AIR KESULTANAN BANTEN PADA ABAD KE-17 M Wibisono, Sonny C.
AMERTA Vol. 31 No. 1 (2013)
Publisher : Penerbit BRIN (BRIN Publishing)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstrak: Tulisan ini menyajikan hasil penelitian arkeologi yang mengungkap sisi agraris dariKesultanan Banten, berdasarkan peninggalan irigasi dari abad ke 17. Tercatat dalam sejarah bahwasebuah rekayasa dilakukan untuk membangun tata air dalam skala besar untuk pertanian intensifdi pesisir Banten. Pembangunan itu diprakarsai Sultan Ageng yang bergelar Tirtayasa. Melaluipendekatan excavasi bukti-bukti jejak hidro-arkeologi ditemukan kembali, tersebar di antara SungaiCiujung, Sungai Cidurian dan Sungai Cipasilihan. Ragam peninggalan antara lain berupa bekaskanal-kanal, tanggul buatan, jembatan, pintu air, dan bangunan pengontrol air. Pendekatan adaptasimanusia dan lingkungan digunakan untuk menjelaskan kemampuan teknik membangun tata air, yangmerupakan tindakan dan konsekuensi dari upaya mengatasi problem situasi lingkungan setempat, dan menyatukannya dalam sebuah sistem besar. Rekayasa teknologi hidrolika ini, diselenggarakan untuk mendukung kebutuhan pangan. Bukti-bukti itu, menunjukan ketangguhan rekayasa pengelolaan tataair, pada masa itu.Kata Kunci: Kesultanan Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Teknologi, Pertanian, Irigasi. Abstract. Irrigation of Tirtayasa: Water Management Technique of the Sultanate of Banten in the17th century. This paper presents the results of archaeological research that revealed the agriculturalsideview of the Sultanate of Banten, based on the findings of the irrigation features of the 17th century.It has been recorded in history that an engineering done to build a water management system in alarge scale for intensive agricultural purposes in the coastal region of Banten. The opening of theagricultural land was initiated by Sultan Ageng also known epithet of honor as Tirtayasa. Varietyof finding features include former canals, artificial embankments, bridges, water gates and watercontrol building. Human adaptation and environmental approaches used to describe the ability ofthe technology to build the water system, which is an actions and consequences of efforts to solveproblems of the local environmental situation, then put it together in a large system. The hydraulicsengineering, held in support of food security. All the evidence, showing toughness engineered watermanagement system, at that timeKeywords: Sultanate of Banten, Sultan Ageng Tirtayasa, Technology, Agriculture, Irrigation.