Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Pesan Instan Muslimah Kelas Menengah Baru: Studi Identitas Islam di Group Whatsapp “Islam” Ridho, Subkhi
MAARIF Vol 13 No 1 (2018): Islam dan Media: Kontestasi Ideologi di Era Revolusi Digital
Publisher : MAARIF Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (512.752 KB) | DOI: 10.47651/mrf.v13i1.15

Abstract

Di Era posmodern, masyarakat memproduksi ribuan pesan dalam jumlah yang sangat besar. Peningkatan tersebut terjadi akibat keberadaan internet yang jangkauannya hingga ke berbagai wilayah. Tulisan ini melakukan observasi mengenai wacana di tiga grup WhatsApp jamaah pengajian yaitu Pengajian Medina, Pengajian Safina, dan Pengajian al-Hijrah yang anggota-anggotanya berasal dari kelompok perempuan kelas menengah Muslim di kota Yogyakarta. Rata-rata anggota jamaah pengajian ini merupakan representasi dari perempuan kelas menengah Muslim yang kuat secara ekonomi dan kalangan terpelajar. Tulisan ini mengelaborasi pandangan mereka dan praktik mereka sebagai Muslim kota di media WhatssApp. Selain itu juga berusaha memahami konstelasi pandangan perempuan kelas menengah Muslim kota kaitannya dengan serangkaian demonstrasi yang menggunakan identitas Islam, seperti Aksi Bela Islam 411, dan 212.
National Strategic Projects that are not Strategic for Small Communities: a Critical Discourse Analysis on Tempo.co and Kompas.com Said, Muh Abiyan Alif; Ridho, Subkhi
Jurnal Communio : Jurnal Jurusan Ilmu Komunikasi Vol 14 No 1 (2025): January
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/jikom.v14i1.9606

Abstract

This research aims to elucidate the media's involvement in reporting on Wadas over environmental issues that transpired in 2022. Case studies were performed on the internet platforms Tempo.co and Kompas.com, which covered the significant progress of the project and the opposition from the local population. The methodology for gathering primary data is executed by documentation and observation, categorized into video and textual formats. Concurrently, secondary data encompasses books, journals, and additional sources. Sample acquisition with purposive sampling. Data analysis employing Critical Discourse Analysis via textual practice, discursive practice, and social practices. The CDA analysis indicates that the government's policy is unfavorable to the Wadas community. According to the practice text, Tempo.co's reportage generally favors the oppressed, whereas Kompas.com maintains a neutral stance with formal diction, overtly aligning with one party. Discursive practice generates Tempo.co and Kompas.com, both emphasizing the impact of institutional frameworks and social dynamics on the creation and dissemination of texts. The Wadas conflict affects the economic, political, ecological, cultural, and social factors on a broad scale. Thus, it shows the government's failure to realize the third principle of the 1945 Constitution, which is to bring welfare to all Indonesian people, by causing unrest and turmoil in the local community with policymakers.
Communication Management of the Waste Management Movement in Cokrodiningratan Village, Yogyakarta City Year 2023 Efendi, Ghaidza Annisa Putri; Ridho, Subkhi; Irfanudin, Fahmi
International Journal of Science and Society Vol 7 No 4 (2025): International Journal of Science and Society (IJSOC)
Publisher : GoAcademica Research & Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54783/ijsoc.v7i4.1540

Abstract

Garbage is a major problem in Yogyakarta City. Cokrodiningratan Village has a waste management program that involves the community. Effective communication management is the key to the success of the program. This study aims to analyze communication management in the waste management movement in Cokrodiningratan Village, Yogyakarta City, in 2023. Using a qualitative approach, this study explores strategies, policies, and implementation of communication used by related parties in managing waste at the village level. Through in-depth interviews with stakeholders as well as direct observation, this study explores the role of communication in raising public awareness and participation in the waste management movement. There are several communication channels used: such as Regular meetings: socialization, and education to the community about waste management. Social media: dissemination of information and announcements related to waste management programs. Banners and posters: visual information media to increase public awareness. Effective communication management is the key to the success of the waste management movement in Cokrodiningratan Village. Efforts are needed to improve the quality of communication and build active community participation in protecting the environment. The results of this study are expected to provide deep insight into the importance of effective communication management in supporting the success of waste management programs at the local level. This research shows that communication management in the waste management movement in Cokrodiningratan Village is quite good.
Tiktok Social Media and Democracy: A Study on Generation Z in Australia Indonesia Youth Association (AIYA) Yogyakarta Setyanti, Wulan Yanis; Ridho, Subkhi; Irfanudin, Fahmi
Eduvest - Journal of Universal Studies Vol. 4 No. 12 (2024): Journal Eduvest - Journal of Universal Studies
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/eduvest.v4i12.50109

Abstract

This study examines the political awareness and perceptions of Generation Z members of the Australia-Indonesia Youth Association (AIYA) Yogyakarta through TikTok. It focuses on the phenomenon of Gen Z, often seen as politically indifferent, whose awareness is influenced by political content on TikTok. Using a qualitative approach, data were collected through in-depth interviews exploring cross-cultural political perceptions among Indonesian and Australian AIYA members. The study found that TikTok effectively serves as a platform for political campaigns, increasing political awareness among Gen Z. Members access political content, engage in discussions, and form opinions on issues like political campaigns and religious tolerance, highlighting the platform’s role in reshaping political communication in the digital era. TikTok’s algorithm tailors content to resonate with Gen Z’s digital-native traits, fostering selective and critical engagement as they seek, verify, and analyze information. Australian AIYA members view Indonesia's political campaign system as reflective of unique social and cultural dynamics. Religious tolerance, a key human rights issue, emerges as essential in assessing a country's democratic quality. Thus, Gen Z’s political awareness transcends Fear of Missing Out (FOMO), reflecting active involvement and individual responsibility in political consciousness.
Kultus Otoritas dan Resistensi dalam Representasi Keagamaan Film Bidaah: Kajian Media sebagai Ritual dalam Komunikasi Islam Najmiah, Farhanah; Ridho, Subkhi
Jurnal Perspektif Vol 9 No 2 (2025): Jurnal Perspektif
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/jp.v9i2.393

Abstract

Film sebagai media komunikasi tidak hanya menyampaikan pesan hiburan, tetapi juga menjadi ruang ritual budaya yang membentuk cara masyarakat memahami realitas, termasuk praktik keagamaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana film Bidaah merepresentasikan wacana keagamaan dan berkontribusi dalam pembentukan identitas kolektif Muslim Malaysia melalui simbol, narasi, dan praktik komunikasi Islam yang dikonstruksi secara sinematik. Pendekatan kualitatif digunakan dengan metode Analisis Wacana Kritis model Norman Fairclough yang memfokuskan pada tiga dimensi analisis: teks, praktik diskursif, dan praktik sosial. Teori Media sebagai Ritual dari James W. Carey digunakan sebagai landasan konseptual untuk memahami fungsi film sebagai medium pemaknaan kolektif. Data diperoleh melalui observasi film, dokumentasi transkrip dialog, dan analisis simbol visual.Hasil penelitian menunjukkan adanya dua kutub wacana yang dihadirkan dalam film, yaitu kelompok pemurni yang cenderung otoriter serta kelompok muda yang lebih kritis dan reflektif. Ritual keagamaan dalam film digunakan sebagai metafora atas dominasi simbolik yang dapat menimbulkan penyimpangan pemahaman agama apabila tidak berlandaskan nilai-nilai Islam yang substantif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa sinema berperan signifikan sebagai media refleksi kritis serta penguatan literasi keagamaan dalam konteks sosial-keagamaan kontemporer
Negosiasi Identitas Kedaerahan dalam Podcast Sebagai Praktik Komunikasi Antarbudaya Qur'ani, Aqila; Ridho, Subkhi
Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi Vol. 18 No. 1 (2026): Komuniti : Jurnal Komunikasi dan Teknologi Informasi, Maret 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/komuniti.v18i1.16408

Abstract

Keberagaman budaya di Indonesia membentuk dinamika komunikasi antarbudaya yang semakin kompleks, terutama dalam ruang media baru seperti podcast. Dominasi kedaerahan Indonesia barat, puluhan tahun muncul dalam berbagai program media konvensional; radio, koran, televisi, bahkan di media baru. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik negosiasi identitas kedaerahan dalam media baru, yaitu podcast Titik Kumpul, dengan fokus pada penyesuaian logat dan gaya komunikasi yang dilakukan oleh host minoritas terhadap kelompok mayoritas. Menggunakan pendekatan kualitatif, data diperoleh melalui observasi non-partisipan, dokumentasi audio-visual, dan transkripsi verbatim dua episode podcast yang dipilih secara purposif. Analisis dilakukan dengan mengintegrasikan tiga teori: Identity Negotiation Theory dari Stella Ting-Toomey, konsep cultural identity Stuart Hall, dan teori dramaturgi Presentation of Self Erving Goffman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penyesuaian linguistik yang dilakukan host minoritas berfungsi sebagai strategi negosiasi identitas untuk memperoleh penerimaan sosial, menjaga keharmonisan interaksi, dan meminimalisasi jarak kultural. Identitas kedaerahan tidak tampil sebagai sesuatu yang statis, melainkan bersifat cair, performatif, dan dinegosiasikan secara situasional di ruang publik digital. Penelitian ini menegaskan bahwa podcast berperan sebagai ruang kultural alternatif yang memungkinkan pertemuan, percampuran, dan representasi ulang identitas kedaerahan secara inklusif. Temuan ini berkontribusi pada pengembangan kajian komunikasi antarbudaya dan media baru dalam konteks masyarakat multikultural Indonesia. Cultural diversity in Indonesia shapes increasingly complex dynamics of intercultural communication, especially in new media spaces like podcasts. The dominance of Western Indonesian regions has persisted for decades across various conventional media: radio, newspaper, television, and even in new media. This study aims to analyze the practice of regional identity negotiation in new media, specifically in the podcast Titik Kumpul, focusing on the adaptation of the minority host’s accent and communication style toward the majority group. Using a qualitative approach, data were obtained through non-participant observation, audio-visual documentation, and verbatim transcription of two purposefully selected podcast episodes. The analysis integrated three theories: Stella Ting-Toomey’s Identity Negotiation Theory, Stuart Hall’s Concept of Cultural Identity, and Erving Goffman’s Dramaturgical Theory of the Presentation of Self. The research findings indicate that the linguistic adjustments made by the minority host serve as a strategy for negotiating identity to gain social acceptance, maintain interactional harmony, and minimize cultural distance. Regional identity does not appear static but rather fluid, performative, and situationally negotiated in digital public space. This research confirms that podcasts serve as an alternative cultural space that allows for inclusive encounters, mixing, and re-representation of regional identities. This finding contributes to the development of intercultural communication and new media studies in Indonesia’s multicultural society.