Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

GAMBARAN PENGETAHUAN DAN SIKAP TERHADAP KONTRASEPSI DAN KEHAMILAN YANG TIDAK DIINGINKAN (KTD) 2017 kadarsih, mitra
Journal Of Midwifery Vol 5 No 1 (2017)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.376 KB) | DOI: 10.37676/jm.v5i1.567

Abstract

Indonesia menunjukkan perbaikan yang lamban dalam mengurangi kebutuhan yang tidak terpenuhi dari tahun 1991 sampai 2012 yang 17% dikurangi menjadi 11,4%, namun dari pada itu meningkat menjadi 14,87% pada tahun 2014. Kebutuhan yang tidak terpenuhi adalah salah satu penyebab kehamilan yang tidak diinginkan yang menyebabkan aborsi yang tidak aman. Berdasarkan penelitian dari 9 kota di tahun 2004, kebutuhan yang tidak terpenuhi adalah 39%, dan 67% di antaranya meminta aborsi. Selain itu, data PKBI menunjukkan bahwa dari tahun 2000-2014 ada 23 wanita per hari yang memiliki kehamilan yang tidak diinginkan dan meminta aborsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan dan sikap terhadap KB, kontrasepsi, dan upaya mencegah kehamilan yang tidak diinginkan antara masyarakat dan bidan. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan eksploratori, yang berada di 3 kota berbeda yaitu Indramayu, Tangerang, dan Serang. Itu dilakukan pada Maret-Juli 2016 dengan 38 informan berusia 15-59 tahun. Data dikumpulkan dari wawancara dan dokumentasi studi. Informannya adalah 9 orang married dan unmarried; 11 married dan 9 unmarried women. 4 pria dan 2 wanita mengatakan mereka telah melakukan hubungan seksual dan 5 pria lainnya dan 7 wanita mengatakan tidak pernah. 45% wanita yang belum menikah dan 55% orang yang tidak menikah mengatakan bahwa mereka sudah melakukan hubungan seksual. 56% wanita dan 44% mengatakan bahwa mereka menikah karena kehamilan yang tidak diinginkan. Pengetahuan dan sikap terhadap FP dan Kontrasepsi: Kebanyakan bidan mengatakan "FP dan Kontrasepsi hanya untuk pasangan perkawinan", namun masyarakat mengatakan "FP dan kontrasepsi adalah untuk semua, pasangan married dan unmarried". Komunitas mengatakan bahwa "perempuan dengan kegagalan kontrasepsi diperbolehkan melakukan aborsi"; Mereka juga mengatakan bahwa "aborsi biasanya menggunakan metode tradisional seperti pergi ke paraji (TBA) dan makan nanas". Sebaliknya, semua Bidan mengatakan bahwa "semua wanita yang hamil karena kegagalan alat kontrasepsi tidak boleh melakukan aborsi, dan mempercayai wanita untuk melanjutkan kehamilan"; Apalagi mereka mengatakan bahwa "mereka tidak tahu tentang kontrasepsi darurat" Sebagian besar masyarakat mengatakan bahwa "kehamilan yang membahayakan kehidupan perempuan dan perkosaan lebih baik melakukan aborsi", ada yang mengatakan "lanjutkan kehamilan karena itu kehendak Tuhan, itu melanggar hukum dan dosa besar karena membunuh bayi". Semua bidan mengatakan "kehamilan yang membahayakan kehidupan perempuan dan kasus perkosaan tidak boleh melakukan aborsi, wanita petualang untuk melanjutkan kehamilan, aborsi adalah dosa dan lagi hukumnya; kehamilan berisiko tinggi hanyalah prediksi manusia dan itu bisa salah". Komunitas lebih terbuka terhadap FP dan akses kontrasepsi untuk semua orang, dan setuju untuk kasus pemerkosaan dan kehamilan berisiko tinggi. Sebaliknya, bidan menolak akses kontrasepsi untuk semua dan aborsi dengan alasan apapun. Apalagi bidan tidak mengetahui tentang alat kontrasepsi darurat yang menunjukkan kurangnya pengetahuan sebagai penyedia layanan kesehatan. Berdasarkan fakta ini, bidan yang berperan besar dalam masyarakat tidak cukup kompeten untuk mencegah kehamilan dan mendukung hak perempuan dengan kondisi parah terhadap layanan aborsi yang aman. Apalagi bidan tidak tahu bahwa di bawah peraturan pemerintah no. 61, aborsi diperbolehkan untuk kasus perkosaan dan alasan berisiko tinggi / darurat yang membahayakan kehidupan perempuan.
HUBUNGAN    PENGETAHUAN   DAN    MOTIVASI   IBU DENGAN PEMBERIAN KOMPRES HANGAT PADA BALITA FEBRIS DI BPM YETTI PURNAMA, S.ST., M.KEB KOTA BENGKULU Situmorang, Ronalen Br.; Umami, Desi Aulia; Kadarsih, Mitra
Journal Of Midwifery Vol 8 No 1 (2020)
Publisher : UNIVED PRESS, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (138.597 KB) | DOI: 10.37676/jm.v8i1.1043

Abstract

Rendahnya kesehatan orang tua, terutama ibu dan anak bukan hanya karena sosial ekonominya yang rendah, tetapi sering juga disebabkan karena orang tua, atau ibu tidak mengetahui bagaimana cara memelihara kesehatannya dan kesehatan anaknya, misalnya saat balita demam ibu tidak melakukan kompres hangat pada balitanya. Surveilans Departemen Kesehatan RI, frekuensi kejadian demam di frekuensi menjadi 15,4 per 10.000 penduduk. Dari survey berbagai rumah sakit di Indonesia dari tahun 1981 sampai dengan 1986 memperlihatkan peningkatan jumlah penderita sekitar 35,8%. Tujuan penelitian mengetahui hubungan pengetahuan dan motivasi ibu dengan pemberian kompres hangat pada balita febris di bpm yetti purnama, s.st., m.keb Kota Bengkulu. Metode penelitian ini jenis penelitian Kuantitatif Non Eksperimental dengan menggunakan pendekatan studi korelasi (cross sectional). Sampel pada penelitian ini diambil secara accidental sampling pada bulan Februari tahun 2019 yang berjumlah 35 Balita. Hasil penelitian penulis Terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan ibu dengan pemberian kompres hangat. Dimana nilai P-value 0.01 < 0.05. Terdapat hubungan yang signifikan antara Motivasi ibu dengan pemberian kompres hangat. Dimana nilai P-value 0.028 < 0.05.Saran, perlu dilakukan upaya peningkatan sosialisasi dan cara penyampaian informasi yang efektif dan berkesinambungan oleh petugas puskesmas.
Gerakan Mandiri Senam Hamil Untuk Kebugaran dan Daya Tahan Tubuh pada Ibu Hamil di Era Pandemi Covid-19 Rahmawati, Diyah Tepi; Syafrie, Ice Rakizah; Iswari, Indra; Kadarsih, Mitra; Ekaguspita, Dwi
Jurnal PADAMU NEGERI (Pengabdian pada Masyarakat Bidang Eksakta) Vol. 2 No. 1 (2021)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muda (PDM) Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2035.127 KB) | DOI: 10.37638/padamunegeri.v2i1.525

Abstract

Sebagian besar kasus COVID-19 yang ditemukan pada wanita hamil adalah tergolong kasus ringan, adanya transmisi vertikal yang rendah dibuktikan dari hasil tes sampel ibu dan bayi, minimnya kasus spontaneous abortus, kelahiran bayi prematur, kematian bayi, serta gangguan perkembangan. ASI dari ibu hamil positif COVID-19 juga cukup aman diberikan pada bayi dikarenakan kasus positif asam nukleat SARS-CoV-2 sangat minim ditemukan. Senam  hamil  dapat  diambil  manfaatnya untuk    perawatan    tubuh    serta    mengurangi timbulnya  berbagai  gangguan  akibat  perubahan postur  tubuh.  Latihan  senam  hamil  tidak  dapat dikatakan  sempurna  bila  pelaksanaannya  tidak disusun  secara  teratur  dan  intensif  (Rahmawati, Rosyidah&  Marharani,2016) Tujuan dan manfaat senam hamil adalah: Menjaga kondisi otototot dan persendian., Pendahuluan Perubahan fisiologis yang terjadi selama kehamilan, mempunyai dampak yang bersifat patologis bagi wanita hamil. Tim pengabdian masyarakat dari FIKes Unived mengadakan kegiatan pemberdayaan masyarakat berupa kegiatan tentang, pengaruh pemberian senam hamil terhadap tingkat kecemasan dan kualitas tidur pada ibu hamil di Praktik Mandiri Bidan Zaihana Muharamah priyono, S.S.T. Metode yang digunakan dalam pengabdian kali ini adalah demonstrasi dan mengajarkan praktik langsung Gerakan-gerakan senam hamil dengan tetap mematuhi protocol Kesehatan. Dengan diadakan nya kegiatan pelatihan ” Gerakan Mandiri Senam Hamil Untuk Kebugaran dan Daya Tahan Tubuh pada Ibu Hamil di Era Pandemi Covid-19 diharapkan mampu meningkatkan kesehatan, kebugaran, dan daya tahan tubuh ibu dan janin sehingga tercapainya kehamilan dan persalinan yang nyaman dan aman di tengah-tengah wabah covid-19.  Kata Kunci :  Ibu Hamil, Senam Hamil, Pandemi Covid-19, Daya Tahan Tubuh
Health and Counseling Service of Reproductive Health “I am Empowered Over my Body” Suhaid, Dewi Novitasari; Aningsih, Baharika Suci Dwi; Dini, Kusuma; Kadarsih, Mitra; Purbo, Yoshepine Beni
AMK : Abdi Masyarakat UIKA Vol. 3 No. 4 (2024): DESEMBER
Publisher : Universitas Ibn Khaldun

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/amk.v3i4.2617

Abstract

Reproductive health is a crucial aspect of improving the quality of life, especially for women of reproductive age. However, knowledge about reproductive health, including early detection of breast and cervical cancer, remains low in many communities. Limited access to reproductive health services, particularly in remote and economically disadvantaged areas, exacerbates this issue. This community service program aimed to enhance public awareness and provide direct health services through the Reproductive Health Service and Counseling under the theme "I Am Empowered Over My Body." This initiative included essential health screenings such as blood pressure measurement, BMI calculation, cholesterol, uric acid, and glucose level tests, along with reproductive health counseling and early detection services for breast and cervical cancer through SADARI (Breast Self-Examination) and IVA (Visual Inspection with Acetic Acid) tests. The program was conducted on September 29, 2024, at STIK Sint Carolus Graduate Building, Jakarta, in collaboration with Ipas Indonesia, Jakarta Feminist, and Doctors Without Stigma. A total of 81 participants attended, with 38 undergoing basic health screenings, 9 receiving reproductive health counseling, and 34 participating in SADARI and IVA test. The results showed that 97.05% of IVA screening participants had normal results, while 2.74% tested positive and were referred for further examination. Awareness of breast cancer detection through SADARI was significantly improved, and all participants could repeat the procedure independently. Additionally, among participants in basic health screenings, 11.53% were identified with mild hypertension, 40.54% had high uric acid levels, and 77.78% had glucose levels exceeding the normal range, indicating a need for continuous health monitoring and intervention. This program successfully enhanced participants’ knowledge of reproductive health and increased access to essential screening services. Future initiatives should focus on sustaining these efforts through continuous education, destigmatization of reproductive health examinations, and strengthening community-based healthcare support.
FACTORS RELATED SUCCESFUL SKIN TO SKIN ON FIRST HOUR AFTER BIRTH Suhaid, Dewi Novitasari; Kadarsih, Mitra; Dini, Kusuma
HEARTY Vol 12 No 4 (2024): DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v12i4.19321

Abstract

Skin-to-skin contact (SSC) is a crucial step in early breastfeeding initiation, contributing to the success of exclusive breastfeeding and neonatal adaptation. However, its implementation still faces various challenges. This study aims to analyze factors associated with the timely implementation of SSC within the first hour after birth. A retrospective observational design was employed using medical record data from a hospital in Jakarta between January and December 2022. A total of 56 mothers were selected through simple random sampling. Data analysis was conducted using the chi-square test to examine the relationship between delivery method, maternal age, and education level with SSC implementation. The results showed significant associations between SSC and delivery method (p = 0.006), maternal age (p = 0.034), and education level (p = 0.008). Mothers who underwent cesarean section were more likely to receive SSC within the first hour compared to those with vaginal delivery. Additionally, mothers within the non-risk age category and those with a basic education level were more likely to implement SSC on time. In conclusion, SSC implementation is influenced by maternal and delivery-related factors, emphasizing the need for increased awareness among healthcare professionals to promote optimal SSC practices.
ASSOCIATION BETWEEN INFANT SEX AND BIRTH WEIGHT WITH STUNTING Suhaid, Dewi Novitasari; Kadarsih, Mitra; Dini, Kusuma; Anggraeni, Lina Dewi; Wardani, Dyah Woro Kartiko Kusumo
HEARTY Vol 13 No 3 (2025): JUNI
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Ibn Khaldun, Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/hearty.v13i3.21180

Abstract

Stunting remains a pressing global health issue, particularly in low- and middle-income countries, where early-life risk factors significantly influence growth trajectories. Among these, infant sex and birth weight are frequently examined as predictors of impaired linear growth. This study aimed to analyze the association between infant sex and birth weight with the incidence of stunting among children aged 6–59 months. A cross-sectional study was conducted involving 127 children aged 6–59 months from “x” village at north sumatera. Stunting was defined according to the World Health Organization growth standards (height-for-age z-score < -2 SD). Independent variables included infant sex (male or female) and birth weight categorized as low birth weight (LBW < 2,500 g) or normal (2,500 – 4,000 g). Chi-square tests were used to assess associations, with statistical significance set at p < 0,05. The prevalence of stunting in the study population was 34,6%. Birth weight demonstrated a statistically significant association with stunting (p = 0,048). Among children with low birth weight, 66,7% were stunted compared to 22,3% among those with normal birth weight. In contrast, infant sex was not significantly associated with stunting (p = 0,094), although a higher proportion of male children (43,6%) were stunted compared to females (27,8%). Low birth weight is significantly associated with an increased risk of stunting in early childhood. Infant sex was not a statistically significant factor in this study. These findings highlight the critical need for antenatal interventions targeting maternal nutrition to prevent low birth weight and reduce the risk of stunting.