Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pandangan Wahbah Zuhaili Tentang Ayat-Ayat Homoseksual Dalam Tafsir Al-Munir (Analisis Qs. Al-A’raf Ayat 80-84) Royana, Agam; Utari, Sri; Mutmainnah, Mutmainnah
Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT) Vol 3 No 2 (2023): Indonesian Journal of Education Research and Technology (IJERT)
Publisher : LPPM Universitas Nahdlatul Ulama Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel penelitian ini mengupas fenomena homoseksual yang marak terjadi di Indonesia. Bahkan banyak dari para pelaku homoseksual tersebut sudah sangat terang-terangan mempublikasikan dan mengekspos kegiatan mereka, tidak sedikit dari kaum muslimin yang terjerumus kedalam perbuatan homoseksual. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya memahami ajaran agama dan menyimpang dari aqidah yang benar. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap pendapat Wahbah Zuhaili tentang homoseksual dalam al-Qur’an. Peneltian ini menggunakan metode analisis isi (content analysis) dan library research untuk mengungkapkan pendapat para mufasir tentang homoseksual. Sumber data primer yang digunakan dalam tulisan ini adalah tafsir al-Munir karya Wahbah Zuhaili, sedangkan sumber data sekunder yang digunakan adalah tafsir al-Misbah karya M. Quraisy Shihab, tafsir Fi Zhilalil Qur’an karya Sayyid Quthb, dan tafsir al-Maraghi karya Musthafa al-Maraghi, serta buku dan jurnal yang berkaitan dengan penelitian ini. Kesimpulan yang di hasilkan dari penelitian ini adalah homoseksual menurut pendapat para mufasir sepertiWahbah Zuhaili dalam tafsir al-Munir yaitu, homoseksual merupakan perbuatan keji, perbuatan yang berlebih-lebihan dan melampaui batas.M. Quraish Syihab berpendapat homoseksual adalah perbuatan keji, penyimpangan yang tidak dibenarkan dalam keadaan apapun, kemudian Sayyid Quthb dalam tafsirnya berpendapat bahwa homoseksual merupakan sebuah penyimpangan dan kerusakan fitrah. Selain itu Musthafa al-Maraghi dalam tafsirnya juga berpendapat bahwa homoseksual merupakan suatu penyimpangan fitrah dan suatu kebodohan.
Mihita La Ua Uatto as a Normative Moral Order: Converging Customary Law and Islamic Penal Law Haq, Islamul; Rasna, Rasna; Resi, Resi; Maslahul Adi, Habib Maulana; Royana, Agam
De Jure: Jurnal Hukum dan Syari'ah Vol 18, No 1 (2026)
Publisher : Shariah Faculty UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18860/j-fsh.v18i1.40543

Abstract

This study examines the philosophy, social function, and contemporary implementation of the Iha customary caning law known as Mihita La Ua Uatto, which is grounded in the local philosophical adage, “where there is balance, there is peace.” The research seeks to: (1) analyse the role of this customary sanction in preserving social and spiritual order within the Iha community amid contemporary legal and social transformation; and (2) explore the convergence between its restorative values and the foundational principles of Islamic Penal Law (Hukum Pidana Islam), particularly al-Ta’dīb (moral education) and al-‘Adālah (justice). This study employs a qualitative socio-legal approach through field interviews with customary leaders, religious figures, and community members, supported by an examination of customary records, local narratives, and relevant legal literature. The findings reveal that Mihita La Ua Uatto derives its authority not merely from coercive punishment, but from collective moral legitimacy, ritual symbolism, and communal participation that reinforce social harmony and accountability. The study further formulates the concept of al-ʿUqūbah al-Jamāʿiyyah al-Mutakāmilah (Integrated Collective Punishment Theory), which emphasises that sanctions become socially effective when embedded within collective ethical consciousness and restorative objectives. This research demonstrates that customary law operates as a living normative order capable of contributing to the harmonisation of local wisdom, Islamic legal values, and national legal development. Keywords: customary law; mihita la ua uatto; Islamic law.