Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EFEK PENEMBAKAN LASERPUNKTUR PADA TITIK OVA BEBEK MOJOSARI JANTAN TERHADAP JUMLAH SEL SERTOLI DAN LEYDIG Adikara, Yuanara Augusta Rahmat; Utama, Suzanita; Yudaniayanti, Ira Sari; R.T.S Adikara, R.T.S Adikara; Samik, Abdul; Hestianah, Eka Pramyrtha
Ovozoa: Journal of Animal Reproduction Vol. 7 No. 2 (2018): Ovozoa: Journal of Animal Reproduction
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (730.317 KB) | DOI: 10.20473/ovz.v7i2.2018.109-113

Abstract

Demand for eggs and duck meat lately increased along with the increasing interest of the community to consume eggs and duck meat. Due to that reason researcher try to find the best way to enhance the reproductive ability of livestock., which is in this research by laserpuncture shot. This research used 3 treatments: the control group, first treatment with laserpuncture shot dose of 0.2 J, second treatment with laserpuncture shot dose of 0.4 J. Data was analyzed with ANOVA and further test by Duncan Multiple Range Test. Research result proved that Laserpuncture shot with dose of 0.2 J and 0.4 J decrease the number of sertoli and leydig cells.
Analisis Perubahan Hematologi, Ureum dan Kreatin pada Kucing Domestik yang Menjalani Kastrasi dengan Anastesi Kombinasi Ketamin-Xylazin dan Ketamin-Acepromazine Abdurrahman, Farid; Kristanto, Dwi; Adikara, Yuanara Augusta Rahmat; Indasari, Elly Nur; Prasetyo, Dodik
Jurnal Veteriner dan Biomedis Vol. 4 No. 1 (2026): Maret
Publisher : Sekolah Kedokteran Hewan dan Biomedis

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jvetbiomed.4.1.15-20.

Abstract

Kastrasi merupakan prosedur bedah umum pada kucing jantan untuk menghilangkan kemampuan reproduksi dan menekan perilaku seperti spraying dan agresivitas. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas dan keamanan dua kombinasi anestesi, Ketamin–Acepromazin (K1) dan Ketamin–Xylazin (K2), pada prosedur kastrasi terbuka melalui insisi skrotal. Kombinasi anestesi dipilih berdasarkan durasi kerja, efek analgesia, dan kestabilan fisiologis selama tindakan singkat (±15–30 menit). Evaluasi dilakukan melalui skor ASA serta analisis hematologi (RBC, HB, HCT, WBC, PLT) dan biokimia (urea, kreatinin) sebelum dan 24 jam setelah anestesi. Semua subjek berada dalam kategori ASA 1 dan 2, menandakan risiko anestesi rendah. Pada baseline, Kelompok K2 memiliki nilai RBC, HB, dan HCT lebih tinggi secara signifikan dibanding K1, namun tidak ada perbedaan antar kelompok setelah 24 jam. Penurunan kreatinin pada K1 mengindikasikan pemulihan fungsi ginjal, sedangkan urea sedikit lebih tinggi dari referensi tetapi tetap normal. Kedua kombinasi anestesi menunjukkan kestabilan fisiologis tanpa komplikasi serius. Kombinasi Ketamin–Xylazin memberikan sedasi dan analgesia lebih kuat dengan respons hematologi adaptif terhadap stres. Penelitian ini mendukung penggunaan kedua kombinasi anestesi untuk kastrasi kucing sehat, serta menekankan pentingnya pemantauan fisiologis dan biokimia guna menjamin keselamatan hewan.