Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

STUDI PERENCANAAN INFRASTRUKTUR DAN UTILITAS DI PULAU PANGGANG, KEPULAUAN SERIBU, DKI JAKARTA Kesuma, Meyriana; Leman, Sunaryo; Tjung, Liong Ju; Nurmawaddah, Nurmawaddah
Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Bakti Masyarakat Indonesia
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1199.896 KB) | DOI: 10.24912/jbmi.v2i1.4341

Abstract

Pulau Panggang merupakan salah satu Pulau hunian terpadat di wilayah Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu,DKI Jakarta dimana saat ini pulau tersebut terus mengalami penurunan kualitas lingkungan akibat tingginyakepadatan penduduk yang mencapai 354 jiwa per Ha. Pada kegiatan pengabdian yang dilakukan sebelumnya adalahmemberikan usulan alternatif pengembangan kawasan hunian di Pulau Panggang yang mempertimbangkanpertambahan jumlah hunian yang diperlukan selama 20 tahun yang akan datang. Melalui studi sebelumnya, diketahuibahwa penyediaan kawasan hunian perlu diseleraskan dengan penyediaan infrastruktur dan utilitas yang dapatmendukung kegiatan masyarakat sehari-hari. Karena terletak di kepulauan, penyediaan infrastruktur dan utilitas diPulau Panggang menjadi sulit dan dan terbatas. Sehingga pemahaman mengenai pembangunan infrastruktur yangdapat diaplikasikan di pulau menjadi penting, dan pengetahuan tentang utilitas dasar (air bersih, sampah, listrik, dandrainase) menjadi menjadi penting yang dikaitkan dengan kemajuan teknologi di bidang tersebut. Sehingga studiperencanaan infrastruktur dan utilitas di Pulau Panggang memerlukan studi yang mendalam dan komprehensif sertamemerlukan partisipasi dari masyarakat serta berbagai pihak yang terlibat dalam pengembangan Pulau Seribu.
STUDI PERKEMBANGAN PROPERTI PERUMAHAN GRAHA RAYA BINTARO TANGERANG SELATAN Yudi, Christopher Hans Putraning; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27506

Abstract

Graha Raya Bintaro, established in 1997 with a land area of 350 hectares and having developed 2/3 of the total land, is the primary focus of this study titled "Study on the Development of Residential Properties in Graha Raya Bintaro, South Tangerang." The background of the development of this area involves direct field surveys and interviews with the development management to obtain primary data, while secondary data is gathered from literature and open information portals. The research problem formulation focuses on a profound understanding of the development of residential properties in the region. The research methodology includes direct field surveys and interviews with the development management to obtain primary data, while secondary data is collected from literature and open information portals. The research objective is to analyze trends in the development of residential properties, considering factors such as strategic location and quality public facilities. The importance of the location is further reinforced by the plan to develop Phase 3 of the MRT, which will connect Tangerang to Jakarta, starting in August 2024. One of the MRT Phase 3 stations is planned to be built in the vicinity of the study area, approximately 3 kilometers from the study location. In addition to the MRT, there are also plans for additional connecting transportation to assist the community in accessing existing MRT stations. The research findings are expected to provide a holistic view for developers, stakeholders, and prospective buyers in addressing the changing dynamics of the residential property market in Graha Raya Bintaro. Keywords:  growth; houses;  property Abstrak Graha Raya Bintaro, didirikan pada tahun 1997 dengan luas lahan mencapai 350 hektar dan telah membangun 2/3 dari total lahan, menjadi fokus utama studi ini berjudul "Studi Perkembangan Properti Perumahan Graha Raya Bintaro, Tangerang Selatan." Latar belakang pengembangan kawasan ini melibatkan survei langsung ke lapangan dan wawancara dengan manajemen pengembang untuk mendapatkan data primer, sementara data sekunder dikumpulkan dari literatur dan portal informasi terbuka. Rumusan masalah penelitian ini berfokus pada pemahaman mendalam tentang perkembangan properti perumahan di kawasan tersebut. Metode penelitian melibatkan survei langsung ke lapangan dan wawancara dengan manajemen pengembang untuk mendapatkan data primer, sementara data sekunder dikumpulkan dari literatur dan portal informasi terbuka. Tujuan penelitian adalah menganalisis tren perkembangan properti perumahan, dengan mempertimbangkan faktor-faktor seperti lokasi yang strategis dan fasilitas umum berkualitas. Pentingnya lokasi semakin diperkuat dengan rencana pembangunan MRT Fase 3 yang akan menghubungkan Tangerang dengan Jakarta, dimulai pada Agustus 2024. Salah satu stasiun MRT Fase 3 direncanakan akan dibangun di kawasan dekat lokasi studi, sekitar 3 kilometer dari lokasi studi. Selain MRT, juga direncanakan akan ada transportasi penghubung tambahan yang membantu masyarakat mengakses stasiun MRT yang ada. Hasil penelitian diharapkan memberikan pandangan holistik bagi pengembang, pemangku kepentingan, dan calon pembeli dalam menghadapi perubahan dinamika pasar properti perumahan di Graha Raya Bintaro.
FAKTOR – FAKTOR LOKASI YANG MEMPENGARUHI HARGA JUAL RUMAH DI KECAMATAN SAWANGAN KOTA DEPOK Setia, Nadia Vinieta; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27509

Abstract

Sawangan is one of the districts with the lowest population density in the city of Depok. The rapid development in Sawangan is attributed to numerous residential areas constructed by renowned developers such as Sinarmas Land and Ciputra Group. Residential property prices in this location also experience annual increases. Despite being quite distant from the city center, reaching the nearest MRT station from Sawangan takes approximately 45 minutes by motorcycle. This research aims to determine how location factors influence the sale prices of houses in the Sawangan district based on these issues. The study involves multiple regression analysis and quantitative analysis. Using SPSS test results, it is indicated that location significantly affects the selling prices of residences in Sawangan. This is evident from the positive correlation observed in the sale prices of properties in Sawangan, Depok, where the positive constant value (a) of 52498.678 indicates a positive correlation between independent variables and property sale prices. Furthermore, the dominant location factor affecting house prices in Sawangan is the accessibility to public transportation, with a regression coefficient value of -3252.669, indicating that for every 1  km increase in the public transportation variable, the property sale price decreases by -3252.669, assuming other variables remain constant. Keywords:  location factors, sawangan district; selling prices Abstrak Sawangan merupakan salah satu kecamatan yang memiliki angka kepadatan penduduk terendah di Kota Depok. Perkembangan pesat di Kecamatan Sawangan tak lepas dari banyaknya kawasan pemukiman yang dibangun oleh pengembang ternama seperti Sinar Mas Land dan Ciputra Group. Harga jual hunian di lokasi ini juga mengalami kenaikan setiap tahunnya. Kawasan ini sebenarnya terletak cukup jauh dari pusat kota. Melihat kondisi eksisting saat ini, untuk mencapai stasiun MRT terdekat dari Kecamatan Sawangan saja memakan waktu kurang lebih 45 menit dengan menggunakan sepeda motor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana faktor lokasi mempengaruhi harga jual perumahan di kawasan Kecamatan Sawangan berdasarkan permasalahan tersebut. Penelitian ini mencakup analisis regresi berganda serta analisis kuantitatif. Dengan menggunakan hasil uji SPSS, ditunjukkan bahwa lokasi berpengaruh terhadap harga jual hunian. Hal ini dibuktikan dari hasil yang positif seiring dengan harga jual perumahan di Kecamatan Sawangan, Kota Depok dimana nilai konstanta (a) positif sebesar 52498,678 menunjukkan korelasi positif antara variabel independen dan harga jual properti. Kemudian untuk faktor-faktor lokasi sendiri yang tergolong dominan mempengaruhi harga jual rumah di Kecamatan Sawangan adalah keterjangkauan dengan transportasi umum dengan nilai koefisien regresi sebesar -3252,669 yang berarti jika variabel transportasi umum mengalami kenaikan 1 Km, maka sebaliknya variabel harga jual akan mengalami penurunan sebesar -3252,669. Dengan asumsi bahwa variabel lainnya dianggap konstan.
ANALISIS KONDISI FASILITAS DAN TINGKAT PELAYANAN PASCA RENOVASI STASIUN JATINEGARA Paulsone, Yosef Mariano Amando; Bella, Priyendiswara Agustina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27510

Abstract

A train station is a train operating facility or a place where trains stop regularly for boarding and disembarking passengers and loading and unloading goods. In general, each station has a main building that provides additional services such as ticket sales, supporting facilities, and waiting rooms and platforms prepared for travel routes. Based on Government Regul4tion of the Republic of Indonesia Number 56 of 2009, stations are places where trains depart and stop with integration between the train line network and other train line networks as well as with other modes of transportation carried out at the station. Based on Law of the Republic of Indonesia Number 27 of 2007 article 35, a train station functons as a place where train dep4rt or stop to s3rve passengers on and off, loading and unloading goods, and/or for train operation purposes. Stations for passengers getting on and off are at least equipped with facilities. Jatinegara Station is a grade A station and is a transit station that connects 3 lines, namely Pasar Senen Station, Manggarai Station, and the train line to Cikarang /Bekasi. Every day Jatinegara Station is passed by hundreds of trains so it is quite busy because many trains come. and went to pick up and drop off the passengers. Facilities at the station must be met for the comfort of KRL users, therefore facilities and infrastructure are needed at a station. After the renovation of Jatinegara Station, several improvements such as physical buildings and supporting facilities have been completed with several additional facilities. Keywords: Jatinegara Station function; Jatinegara Station renovation; train station Abstrak Stasiun kereta api merupakan sarana atau fasilitas untuk kereta api berhenti dengan teratur, juga sebagai tempat untuk turun naik penumpang serta bongkar muat barang. Pada umumnya setiap stasiun memiliki bentuk fisik bangunan utama yang di dalamnya disediakan layanan seperti penjualan tiket, fasilitas penunjang, dan ruang tunggu serta peron yang disiapkan untuk rute perjalanan. Berdasarkan PP Republik Indonesia Nomor 56 Tahun 2009 stasiun merupakan tempat pemberangkatan dan pemberhentian kereta api dengan keterpaduan antar jaringan jalur kereta api dengan jaringan jalur kereta api lain serta dengan moda transportasi lain yang dilakukan di stasiun. Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 Tahun 2007 pasal 35 Stasiun Kereta Api berfungsi sebagai tempat kereta api berangkat atau berhenti untuk melayani naik turun penumpang, bongkar buat barang, dan/atau keperluan operasi kereta api. Stasiun untuk keperluan naik turun penumpang sekurang-kurangnya dilengkapi fasilitas. Stasiun Jatinegara merupakan stasiun dengan grade A sebagai stasiun transit dari 3 jalur, yaitu Stasiun Pasar Senen, Stasiun Manggarai, dan jalur kereta arah ke Cikarang/Bekasi. Setiap harinya Stasiun Jatinegara dilewati oleh ratusan kereta api sehingga cukup sibuk karena banyak kereta yang datang dan pergi untuk menjemput serta mengantar para penumpang. Fasilitas dalam stasiun harus terpenuhi guna kenyamanan para pengguna KRL. Oleh karena itu diperlukan fasilitas baik sarana maupun prasarana pada suatu stasiun. Pasca renovasi Stasiun Jatinegara beberapa peningkatan seperti bangunan fisik dan fasilitas penunjang sudah terselesaikan dengan beberapa penambahan fasilitas.
PENGELOLAAN POS BLOC DALAM MEMANFAATKAN BANGUNAN BERSEJARAH MELALUI KONSEP ADAPTIVE REUSE Lego, Viando Insan Niscaya; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27512

Abstract

Pos Bloc is a public space that has a commercial area inside which is located in Central Jakarata, before becoming Pos Bloc it used to be the Filateli Building where the post office was located during the Dutch colonial era, this Filateli Building also served philatelic services, until later this building was designated as a historical building and entered into part of the DKI Jakarta cultural heritage. Over time the Filateli Building then changed functions and experienced the unproductivity of a historic building. Until PT Ruang Kreatif Pos which is a private company in collaboration with PT Pos Indonesia by converting the Filateli Building into a productive building again with the use of the Adaptive Reuse concept. According to Austin (1988) adaptive reuse is an alternative to protecting and preserving historic buildings with steps to convert them to benefit the community and the area itself. That way unproductive historic buildings can be reused and see how utility management efforts in using the adaptive reuse concept. After the development through the adaptive reuse concept, Filateli Building is again productive and well utilized. The results of this study aim to determine the results of the use of the adaptive reuse concept on historic buildings and see what changes and what does not change from the Filateli Building when using Adaptive reuse, this study also looks at how successful the use of the adaptive reuse concept on historic buildings, success is seen from all indicators of the Filateli Building which has changed into Pos Bloc. Keywords: adaptive reuse; commercial; management; Pos Bloc Abstrak Pos Bloc merupakan sebuah ruang publik yang terdapat area komersial didalamnya yang berada di Jakarata Pusat, sebelum menjadi Pos Bloc dulunya adalah Gedung Filateli tempat kantor pos pada zaman penjajahan Belanda, Gedung Filateli ini juga melayani pelayanan filateli, sampai kemudian bangunan ini ditetapkan sebagai bangunan sejarah dan masuk kedalam bagian dari cagar budaya DKI Jakarta. Seiring waktu Gedung Filateli kemudian berganti-ganti fungsi dan mengalami ketidakproduktifan sebuah bangunan bersejarah. Hingga PT Ruang Kreatif Pos yang merupakan perusahaan swasta berkerja sama dengan PT Pos Indonesia dengan mengalihfungsikan Gedung Filateli tersebut menjadi produktif kembali dengan penggunaan konsep adaptive reuse. Menurut Austin (1988), adaptive reuse merupakan alternatif untuk melindungi dan menjaga bangunan bersejarah dengan langkah mengalihfungsikan yang bermanfaat bagi masyarakat dan kawasan itu sendiri. Dengan begitu bangunan-bangunan bersejarah yang tidak produktif dapat dimanfaatkan kembali dan melihat bagaimana upaya pengelolaan utilitas dalam menggunakan konsep adaptive reuse. Setelah dilakukannya pengembangan melalui konsep adaptive reuse, Gedung Filateli kembali produktif dan termanfaatkan dengan baik. Hasil studi ini bertujuan untuk mengetahui hasil dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah dan melihat perubahan apa saja dan yang tidak berubah dari Gedung Filateli tersebut saat penggunaan adaptive reuse, studi ini juga melihat bagaimana keberhasilan dari penggunaan konsep adaptive reuse terhadap bangunan bersejarah, keberhasilan dilihat dari segala indikator terhadap Gedung Filateli yang telah beruabah menjadi Pos Bloc.
STUDI TINGKAT KEPUASAN TERHADAP FASILITAS PEJALAN KAKI DI LOW EMISSION ZONE KOTA TUA Wiyono, Winston; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27513

Abstract

Jakarta Old Town is a cultural heritage area that has a long history with several revitalizations and has become a destination for local and foreign tourists. There are many cities around the world that have combined walkability with tourist destinations that prioritize pedestrians, a good level of walkability can increase comfort and safety for pedestrians using pedestrian facilities. However, there has been little research done in terms of the pedestrian expectations and satisfaction that addresses walking-related indicators in the low-emission zone of Old Town, a cultural heritage area. The main objective of this study is to identify the expectations and satisfaction levels of visitors walking in the Old Town Low Emission Zone with questionnaire questions using the Likert scale method in the respondent's perspective section using indicators related to pedestrian facilities ranging from accessibility, connectivity, continuity, safety, facilities, social benefits, economic benefits, and environmental benefits. Data from this research was collected through observation, government agencies, and 90 questionnaires that have been distributed to visitors who have experienced walking in the study area, namely the Old Town Low Emission Zone. After the analysis, the results show that visitors or pedestrians in the Old Town Low Emission Zone are overall satisfied with the pedestrian facilities in the Old Town Low Emission Zone but there are several variables that need to be improved so that visitors can feel even more satisfied in the future. Keywords:  low emission zone; old town; pedestrian; satisfaction Abstrak Kota Tua Jakarta merupakan kawasan cagar budaya yang memiliki sejarah yang panjang dengan melewati beberapa kali revitalisasi dan sudah menjadi tujuan destinasi bagi wisatawan lokal maupun wisatawan luar negeri. Terdapat banyak kota-kota di dunia yang telah menggabungkan kemampuan berjalan kaki dengan tujuan wisata yang memprioritaskan pejalan Kaki. Tingkat kemampuan berjalan kaki yang baik dapat meningkatkan kenyamanan dan keamanan bagi pejalan kaki yang menggunakan fasilitas pejalan kaki. Meskipun demikian, tidak terdapat banyak penelitian yang dilakukan mengenai tingkat kepuasan pejalan kaki yang membahas indikator yang berhubungan dengan berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua, yang merupakan kawasan cagar budaya. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat kepuasan pengunjung yang berjalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua dengan pertanyaan kuesioner yang menggunakan Skala Likert pada bagian perspektif responden yang menggunakan indikator yang berhubungan dengan fasilitas pejalan kaki mulai dari aksesibilitas, konektivitas, kontinuitas, keamanan, fasilitas, manfaat sosial, manfaat ekonomi, dan manfaat lingkungan. Data dari penelitian ini dikumpulkan melalui observasi, instansi pemerintah, dan 90 kuesioner yang telah dibagikan kepada pengunjung yang sudah mengalami berjalan kaki di area studi yaitu Zona Rendah Emisi Kota Tua. Setelah dilakukan analisis, hasil menunjukkan bahwa pengunjung atau pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua secara keseluruhan sudah merasa puas terhadap fasilitas pejalan kaki di Zona Rendah Emisi Kota Tua akan tetapi terdapat beberapa variabel yang perlu ditingkatkan agar pengunjung dapat merasa lebih puas lagi kedepannya.
KAJIAN KARATERISTIK KORIDOR JALAN KEMANG RAYA SEBAGAI KORIDOR KOMERSIAL Hani, Eveline Alifah; Suryadjaja, Regina; Tjung, Liong Ju
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27514

Abstract

Kemang Raya Street corridor located in Mampang Prapatan District, South Jakarta, is one of the main corridors that supports activities in the Mampang Prapatan area. This road corridor is one of the connecting accesses because there are commercial activities, residences and public facilities so that the role of the corridor is very important for the sustainability of activities there. Land use in this corridor is dominated by retail and restaurants, so commercial activities in this corridor are crowded with people for work or just sightseeing. However, based on the results of observations, there are several problems with the physical condition of the corridor that need to be improved for the sustainability of commercial activities in this corridor, problems that exist in the corridor include several pedestrian points that are less well maintained and disturbed by street vendors and parking, the absence of cycling lanes, limited parking spaces in several shops and lack of public open space. This research is to improve corridor conditions on  Kemang Raya Street based on the Commercial Corridor Strategy theory which consists of several characteristic factors that can be applied, namely (land use, mobility, parking, urban design and economic growth). Research uses an analysis method of qualitative descriptive, which will provide an explanation of the existing conditions of the Kemang Raya Street corridor and a comparative analysis that compares the characteristics of the existing conditions in this corridor. Keywords:  commercial; corridor; Kemang Raya Street Abstrak Koridor Jalan Kemang Raya berlokasi di Kecamatan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, yang mana merupakan salah satu koridor utama yang menopang kegiatan di kawasan Mampang Prapatan. Koridor jalan ini menjadi salah satu akses penghubung karena terdapat aktivitas komersial, hunian dan fasilitas umum sehingga peran koridor sangat penting untuk keberlangsung aktivitas disana. Penggunaan lahan di koridor ini didominasi jenis oleh retail dan restoran, sehingga kegiatan komersial di koridor ini ramai didatangi masyarakat untuk keperluan bekerja maupun sekedar jalan-jalan. Namun, berdasarkan hasil observasi, terdapat beberapa permasalahan pada kondisi fisik koridor yang perlu ditingkatkan untuk keberlangsungan aktivitas komersial di koridor ini, permasalahan yang ada pada koridor diantaranya beberapa titik pedestrian yang kurang terawat dan terganggu PKL dan parkir, tidak adanya jalur pesepeda, ruang parkir yang terbatas dibeberapa toko dan kurangnya ruang terbuka publik. Tujuan dari penelitian ini untuk meningkatkan kondisi koridor di Jalan Kemang Raya berdasarkan teori Commercial Corridor Strategy yang mana terdiri dari beberapa faktor karakteristik yang dapat diterapkan, yaitu (penggunaan lahan, mobilitas, parkir, urban design dan pertumbuhan ekonomi). Lalu penelitian menggunakan metode analisis jenis deskriptif kualitatif, dengan memberikan penjelasan tentang kondisi eksisting koridor Jalan Kemang Raya dan analisis komparatif yang membandingkan karateristik kondisi eksisting pada koridor ini menggunakan panduan Commercial Coridor Strategy, dan berdasarkan analisis dari panduan tersebut bahwa koridor Jalan Kemang Raya perlu dilakukan perbaikan di sejumlah titik pedestrian dan penambahan jalur pesepeda, penambahan lahan parkir, dan penambahan ruang untuk usaha informal PKL dan juga penambahan ruang terbuka publik di koridor Jalan Kemang Raya.