Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

EKSPLORASI PENGARUH DESAIN BANGUNAN TERHADAP KESEJAHTERAAN MENTAL DAN PENANGGULANGAN DEPRESI Ramadhan, Rizqi; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27452

Abstract

This research delves into the significant role of architectural design in advancing mental well-being and its potential to address depression. In the midst of an era filled with pressure and stress, understanding the interconnection between the physical environment and mental health becomes increasingly vital. The research aims to identify architectural design principles that positively impact individual psychological aspects, encompassing elements such as natural lighting, spatial arrangement, access to nature, and art integration. The findings of this research indicate that architecturally responsive design to psychological needs has the potential to be a key factor in addressing the challenges of depression. By providing an environment that supports mental recovery, architectural design can play a crucial role in enhancing the overall well-being of society. The practical implications of this research provide impetus for architects, urban planners, and policymakers to create built spaces that are not only visually appealing but also contribute to individual psychological well-being. In summary, this research emphasizes that incorporating the dimension of mental well-being into built environment design has a significant positive impact in creating a holistically healthier society. Keywords: Architecture; Depression; Mental disorders; Mental recovery Abstrak Penelitian ini menyelidiki peran yang signifikan dari desain arsitektur dalam memajukan kesejahteraan mental dan potensinya untuk mengatasi depresi. Di tengah-tengah era yang dipenuhi tekanan dan stres, pemahaman akan keterkaitan antara lingkungan fisik dan kesehatan mental menjadi semakin penting. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi prinsip-prinsip desain arsitektur yang memiliki dampak positif pada aspek psikologis individu, mencakup elemen-elemen seperti pencahayaan alami, pengaturan ruang, akses ke alam, dan integrasi seni. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa desain arsitektur yang responsif terhadap kebutuhan psikologis memiliki potensi menjadi faktor kunci dalam menghadapi tantangan depresi. Dengan menyediakan lingkungan yang mendukung pemulihan mental, desain arsitektur dapat berperan penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara keseluruhan. Implikasi praktis dari penelitian ini memberikan dorongan kepada arsitek, perencana kota, dan pembuat kebijakan untuk menciptakan ruang binaan yang tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga berkontribusi pada kesejahteraan psikologis individu. Secara singkat, penelitian ini menegaskan bahwa memasukkan dimensi kesejahteraan mental dalam perancangan lingkungan binaan memiliki dampak positif signifikan untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat secara holistik.
RUANG KESEJAHTERAAN BERSAMA ANTARA MANUSIA-ANJING DALAM KONTEKS TERAPI PTSD Amanda, Vania; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27453

Abstract

The phenomenon of Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) in the film To be of Service is a documentary film about several military veterans with various physical and psychological injuries. This becomes an issue how this disorder not only affects themselves but also the people around them. This film also shows that the main character is often considered a strange and unstable person by the people around him. This problem reflects that the negative stigma towards PTSD sufferers greatly affects a person's psychological condition. Recent studies on dog therapy prove that interacting with dogs can reduce anxiety. The aim of this research is to create a space of shared well-being including social support, a sense of bonding, and feelings of trust that are built between PTSD sufferers and dogs. In an architectural context, this research is not just about physical design, but also includes creating holistic well-being by focusing on empathetic spaces for dogs and PTSD sufferers. This research uses descriptive research methods with a qualitative approach. In this case, architecture is about designing life and this research is an effort to design spaces that can strengthen the relationship between humans and dogs. Keywords: dog; ptsd; space Abstrak Fenomena Post Traumatic Stress Disorder (PTSD) dalam Film To be of Service merupakan film dokumenter kisah beberapa veteran militer dengan berbagai luka fisik dan psikologis. Hal ini menjadi sebuah isu bagaimana gangguan ini tidak hanya mempengaruhi diri mereka sendiri tetapi juga orang-orang di sekitarnya. Film ini juga menunjukan bahwa karakter utama sering dianggap sebagai orang yang aneh dan tidak stabil oleh orang-orang di sekitarnya. Masalah ini mencerminkan bahwa stigma negatif terhadap penderita PTSD sangat mempengaruhi kondisi psikologis seseorang. Adanya studi terbaru mengenai dog therapy membuktikan bahwa berinteraksi dengan anjing dapat menurunkan kecemasan.  Tujuan riset ini adalah untuk membentuk ruang kesejahteraan bersama termasuk dukungan sosial, rasa ikatan, dan perasaan kepercayaan yang terbangun antara penderita PTSD dan anjing. Dalam konteks arsitektur, penelitian ini bukan hanya sekedar desain fisik, tetapi juga mencakup penciptaan kesejahteraan yang menyeluruh dengan memfokuskan ruang empati bagi anjing dan penderita PTSD. Penelitian ini menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam hal ini, arsitektur adalah tentang merancang kehidupan dan riset ini menjadi upaya untuk merancang ruang yang dapat mempererat hubungan manusia dan anjing.
GALANGAN VOC: MENGHIDUPKAN KEMBALI CITRA HISTORIS PESISIR MELALUI SPATIAL ADAPTIVE REUSE Christoper, Raymond; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30926

Abstract

Modernization plays a crucial role in spreading trends and dynamic needs. A location inability to adapt with modernity can result in degradation leading to placelessness, including historic buildings. Galangan VOC is known as one of the historic building on the coast of Jakarta. Since it’s establishment, the VOC Shipyard has undergone several program changes, from shipyards to restaurants. However, due to accessibility issues and program lagging behind to modern needs, the building has become bankrupt and abandoned.  These factors make accessibility and program adaptability the main causes of placelessness. The research approach uses qualitative descriptive and phenomenological methods with a spatial adaptive reuse as design approach, which is adaptive and changeable, while still reusing existing. The research findings indicate that the restaurant is not suitable for modern needs and context, and expansion of the area towads Tongkol Street has the potential to be attractor and main access to heritage site. Therefore, the research findings suggest the need for programs that align with modern needs and context, with the main entrance facing the cultural heritage site. These programs include the Shipyard program, aimed at reviving and preserving the coastal character, and the Modernity program, as a response of adaptivity to  trendy and modern program needs, while still considering the local community. Keywords: adaptive; connector; modernity; reuse; shipyard Abstrak Modernisasi memiliki peran krusial dalam penyebaran tren dan kebutuhan dinamis. Ketidakmampuan suatu lokasi untuk beradaptasi terhadap modernisasi dapat mengakibatkan degradasi yang mengarah pada placeless, tak terkecuali pada bangunan bersejarah. Galangan VOC dikenal sebagai salah satu bangunan bersejarah di pesisir Jakarta. Sejak berdiri, Galangan VOC telah mengalami sejumlah perubahan program, mulai dari perkapalan hingga restoran. Namun, sebagai akibat dari masalah aksesibilitas, serta ketertinggalan program pada kebutuhan modern membuat bangunan ini bangkrut dan akhirnya ditinggalkan. Faktor tersebut menjadikan aksesibilitas dan ketidakmampuan adaptasi program sebagai permasalahan utama penyebab placeless place pada Galangan VOC. Pendekatan penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif dan fenomenologi dengan pendekatan desain yaitu spatial adaptive reuse yang adaptif dan dapat berubah sesuai kebutuhan, serta tetap menggunakan kembali bangunan eksisting. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program restoran kurang sesuai dengan kebutuhan modern dan konteks, serta perluasan area menuju jalan tongkol berpotensi sebagai attractor dan akses utama menuju cagar budaya. Sehingga, temuan penelitian berupa kebutuhan program yang selaras dengan kebutuhan modern dan konteks, serta akses masuk utama akan berseberangan dengan cagar budaya. Program tersebut yaitu program Shipyard, dalam mengangkat, menghidupkan, dan menjaga karakter pesisir kembali, serta program Modernity sebagai respon terhadap kebutuhan program yang adaptif terhadap tren dan modern, dengan tetap mengacu pada komunitas sekitar.
PUSAT REKREASI ANTARGENERASI SEBAGAI SOLUSI UNTUK MENGHIDUPKAN KEMBALI KAWASAN KAMPUNG VIETNAM DI JAKARTA TIMUR Goethe, Keren Happuch; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30927

Abstract

The increasing population growth in East Jakarta is in line with the phenomenon of environmental degradation in Vietnamese villages. As the age of the population increases, their health condition decreases, because the needs received by the population are not appropriate. Vietnam Village itself is one of the long-neglected areas that has a history of being a place of refuge for Vietnamese citizens during the war with America in 1977. In 1980, the government began building a nursing home in this village, but the residents of the nursing home in this village had to be moved due to flooding in 2002. Until now, the condition of Vietnam Village is still abandoned, and there are no residents living in it. The research method used in this writing is a descriptive and qualitative method by analyzing existing data, observing, and conducting documentation studies. Through the application of elements to improve a person's quality of life both physically, socially, and emotionally, it is hoped that we can create a program with facilities that can support the health of users. This is in the form of a recreation center that can improve the quality of life for both children and the elderly. Where various generations can carry out activities or activities to improve health and quality of life. So that seniors remain active and feel needed, while children and adults can learn respect and tolerance, as well as other useful skills. Keywords: health; intergenerational; recreation; vietnamese village Abstrak Peningkatan pertumbuhan penduduk yang terjadi di Jakarta Timur selaras dengan fenomena degradasi lingkungan pada Kampung Vietnam. Dimana semakin tinggi usia penduduk, kondisi kesehatannya semakin menurun, hal ini dikarenakan kebutuhan yang diterima oleh penduduk tidak sesuai. Kampung Vietnam sendiri merupakan salah satu wilayah yang sudah lama terbengkalai yang memiliki sejarah tempat pengungsian bagi warga Vietnam ketika terjadi perang dengan negara Amerika pada tahun 1977. Dan pada tahun 1980, pemerintah mulai membangun panti jompo di kampung ini, namun penghuni panti jompo di kampung ini terpaksa dipindahkan karena adanya banjir pada tahun 2002. Hingga saat ini, kondisi Kampung Vietnam masih terbengkalai, dan tidak ada penghuni yang tinggal didalamnya. Metode riset yang digunakan dalam penulisan ini merupakan metode deskriptif dan kualitatif dengan melakukan analisis terhadap data yang ada, observasi, dan melakukan studi dokumentasi. Melalui penerapan elemen dalam meningkatkan kualitas hidup seseorang baik secara fisik, sosial, maupun emosional, diharapkan dapat menciptakan suatu program dengan fasilitas yang dapat mendukung kesehatan bagi para pengguna. Hal ini berupa pusat rekreasi yang dapat meningkatkan kualitas hidup baik dari anak-anak hingga lansia. Dimana berbagai macam generasi dapat melakukan kegiatan atau aktivitas untuk meningkatkan kesehatan dan kualitas hidup. sehingga para lansia tetap aktif dan merasa dibutuhkan, sementara anak-anak dan orang dewasa dapat belajar rasa hormat dan toleransi, serta keterampilan lain yang bermanfaat.
REKONSTRUKSI SUAKA MARGASATWA MUARA ANGKE: INTEGRASI LINGKUNGAN DALAM PENGEMBANGAN SEBAGAI PUSAT PENELITIAN DAN PARIWISATA EKOLOGI Kaspriyo, Muhammad Vicko; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30928

Abstract

Based on the official decision of the Minister of Forestry of the Republic of Indonesia, as stated in Decree Number 097/Kpts-II/1988 on February 29, 1988, the Muara Angke Wildlife Sanctuary (SMMA), previously recognized as a nature reserve, has now been developed into a Conservation Area covering 25.02 hectares in the mangrove forests of North Jakarta. Although initially an intact wildlife sanctuary, the Muara Angke area has experienced significant pressure and damage, resulting in degradation of half of the nature reserve's area. Additionally, the Muara Angke Wildlife Sanctuary faces other challenges, such as a low number of visitors due to poorly maintained infrastructure and a lack of human resources to sustain the area's condition. The reconstruction efforts of the Muara Angke Wildlife Sanctuary involve a series of important steps. Improving the area's infrastructure and building an attractive entrance are necessary to increase visitor appeal. The main focus of this reconstruction is enhancing the quality of the refuge and developing research facilities to monitor the wildlife inhabiting the area. The Muara Angke Wildlife Sanctuary can become an ecotourism center that benefits environmental education, local economic growth, nature conservation, and tourism. The reconstruction process must be carried out sustainably to prevent ecosystem damage. The research methods used include observations in the style of Christopher Alexander and content-based data analysis. The results show that the reconstruction of the Wildlife Sanctuary is not only conservative but also an educational effort and community engagement in collective awareness of the importance of biodiversity conservation. Keywords: degradation, ecology, facilities, research, reconstruction Abstrak Berdasarkan keputusan resmi Menteri Kehutanan Republik Indonesia yang tercantum dalam Surat Keputusan Nomor 097/Kpts-II/1988 pada tanggal 29 Februari 1988, Suaka Margasatwa Muara Angke (SMMA), yang sebelumnya diakui sebagai cagar alam, kini telah berkembang menjadi Kawasan Konservasi seluas 25,02 hektar di wilayah hutan mangrove di Jakarta Utara. Meskipun awalnya merupakan suaka alam yang utuh, Kawasan Muara Angke mengalami tekanan signifikan dan kerusakan yang menyebabkan setengah dari luas cagar alam tersebut mengalami degradasi. Selain itu, Kawasan Margasatwa Muara Angke juga menghadapi tantangan lain, seperti minimnya jumlah pengunjung akibat kondisi infrastruktur yang kurang terjaga dan kekurangan sumber daya manusia untuk menjaga keberlanjutan kawasan ini. Upaya rekonstruksi Suaka Margasatwa Muara Angke melibatkan serangkaian langkah penting. Perbaikan infrastruktur kawasan dan pembangunan pintu masuk yang menarik diperlukan untuk meningkatkan daya tarik pengunjung. Fokus utama rekonstruksi ini adalah peningkatan kualitas pengungsian dan pembangunan fasilitas penelitian untuk memonitor perkembangan satwa liar yang mendiami kawasan ini. Suaka Margasatwa Angke dapat menjadi pusat pariwisata ekologi yang menguntungkan pendidikan lingkungan, pertumbuhan ekonomi lokal, pelestarian alam, dan pariwisata. Proses rekonstruksi harus dilakukan secara berkelanjutan untuk menghindari kerusakan ekosistem. Metode penelitian yang digunakan melibatkan observasi ala Christopher Alexander dan analisis data berbasis konten. Hasilnya menunjukkan bahwa rekonstruksi Suaka Margasatwa tidak hanya bersifat konservatif, tetapi juga sebagai upaya edukasi dan keterlibatan masyarakat dalam kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga keanekaragaman hayati.
HUNIAN VERTIKAL EKOLOGIS TERJANGKAU DI MANGGARAI: SOLUSI KOTA PADAT YANG BERKELANJUTAN Ferdinand, Priscillia Angel Ruth Meyoki; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35609

Abstract

Land use in Jakarta has undergone significant transformation due to rapid population growth and urbanization. One of the most extensive land conversions has occurred in green open spaces, which have been turned into residential and commercial areas. As a result, Jakarta faces a range of problems, including reduced water catchment areas, traffic congestion, and environmental degradation caused by biodiversity loss and rising carbon emissions. The Biodiverse Habitat concept is proposed as a regenerative strategy in response to ecological degradation and urban density. It adopts the principles of Transit-Oriented Development (TOD), with a focus on integrating green spaces, promoting ecological sustainability, and optimizing land use within a unified system, which is also designed to provide affordable housing in strategic locations with access to public transit. Many affordable housing options in Jakarta are located far from public transportation access, leading to mobility inequality and a lower quality of life for low-income communities. Through vertical zoning, the design combines ecological and residential functions within the same site. Green open spaces and water catchment areas are placed at ground level, serving as urban parks, public spaces, and habitats for local flora and fauna. Above these, vertical housing and commercial areas are constructed to accommodate dense urban living more efficiently. By placing affordable housing within walkable distance to major transit hubs, the concept promotes more equitable accessibility and reduces reliance on private vehicles. This concept also applies principles of ecological architecture through natural rainwater absorption systems and the use of renewable energy. Implementing the Biodiverse Habitat offers Jakarta the opportunity to move toward more sustainable urban development. In addition to improving residents' quality of life, this approach restores the ecological function of land and supports environmental balance within the dense urban landscape. Manggarai has been selected as the project site due to its characteristics as one of Jakarta’s most densely populated areas, its strategic location, and the presence of major transportation hubs such as train and bus stations—making it highly suitable for TOD-based development. The existing conditions, marked by limited green space and declining function, further emphasize Manggarai’s relevance for an intervention that integrates housing, ecology, and mobility within a cohesive design strategy. Keywords: affordable; ecology;  housing;  vertical Abstrak Fungsi lahan di Jakarta mengalami transformasi yang signifikan akibat pertumbuhan populasi dan urbanisasi yang pesat. Salah satu bentuk konversi besar-besaran terjadi pada ruang terbuka hijau yang beralih menjadi kawasan permukiman dan komersial. Akibatnya, Jakarta menghadapi berbagai permasalahan, termasuk berkurangnya area resapan air, kemacetan lalu lintas, serta penurunan kualitas lingkungan akibat hilangnya biodiversitas dan meningkatnya emisi karbon. Konsep Biodiverse Habitat diajukan sebagai strategi regeneratif untuk merespons degradasi ekologis dan tingginya kepadatan kota. Konsep ini mengangkat prinsip Transit-Oriented Development (TOD) dengan penekanan pada integrasi ruang hijau, keberlanjutan ekologi, dan optimalisasi fungsi lahan dalam satu sistem terpadu yang juga dirancang untuk menghadirkan hunian terjangkau di lokasi strategis berbasis transportasi publik. Hunian terjangkau yang tersedia di Jakarta tidak memiliki akses langsung dengan transportasi publik, sehingga menimbulkan ketimpangan dalam mobilitas dan kualitas hidup masyarakat.  Pendekatan desain dilakukan dengan mengombinasikan fungsi ekologis dan fungsi hunian pada satu area lahan melalui sistem zonasi vertikal. Ruang terbuka hijau dan kawasan resapan air dirancang berada di lantai dasar sebagai taman kota, ruang publik, serta habitat bagi flora dan fauna lokal. Sementara itu, hunian vertikal dan area komersial dibangun di lapisan atasnya untuk menjawab kebutuhan hunian padat secara efisien. Hadirnya hunian terjangkau dalam jarak tempuh berjalan kaki menuju moda transportasi, konsep ini mendorong aksesibilitas yang lebih merata dan mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi. Konsep ini juga menerapkan prinsip ecology architecture melalui sistem penyerapan air hujan alami dan pemanfaatan energi terbarukan. Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, pendekatan ini juga mengembalikan fungsi ekologis lahan serta menciptakan keseimbangan lingkungan di tengah lanskap urban yang padat. Kawasan Manggarai dipilih sebagai lokasi penerapan karena memiliki karakteristik sebagai salah satu wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi, lokasi strategis, serta keberadaan simpul transportasi utama seperti stasiun dan halte yang menjadikannya sangat potensial untuk pengembangan berbasis TOD. Kondisi eksisting yang mengalami penurunan fungsi dan minim ruang hijau juga menjadikan Manggarai relevan untuk intervensi konsep yang menggabungkan hunian yang efisien, ekologis, dengan mobilitas tinggi.
KAMPUNG TUMBUH DAN PENGOLAHAN LIMBAH KERANG HIJAU: MENATA ULANG KAWASAN PESISIR KAMPUNG KERANG IJO Taneli, Edmund Samuel; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35610

Abstract

Kampung Kerang Ijo, located in the coastal area of Muara Angke, North Jakarta, is a traditional fishing settlement currently facing severe environmental and social crises. Issues such as land subsidence reaching 25 cm per year, water pollution, tidal flooding, and mangrove degradation significantly affect the residents’ quality of life. Additionally, poor infrastructure and spatial segregation further marginalize the community from equitable and sustainable urban development. This study aims to formulate a regenerative architectural strategy that responds to these intertwined challenges through the concepts of incremental kampung development and green mussel waste management. The research applies a qualitative descriptive method involving field observations, in-depth interviews with residents, and spatial-ecological analysis. The findings indicate that modular stilt housing with incremental growth potential effectively addresses the need for flexible living space while remaining adaptive to tidal and ground subsidence threats. Simultaneously, green mussel shell waste—previously considered environmental burden—shows potential as building material and organic fertilizer. These two strategies are integrated into a site plan that links domestic life, productive infrastructure, and restored mangrove zones. This regenerative design approach not only enhances ecological resilience and local economies but also promotes community ownership of space. Ultimately, it offers a replicable model for sustainable coastal housing that is culturally contextual and ecologically restorative. Keywords: coastal; green mussel waste; growing kampung; regenerative; stilt housing Abstrak Kampung Kerang Ijo, yang terletak di kawasan pesisir Muara Angke, Jakarta Utara, merupakan kawasan permukiman nelayan tradisional yang saat ini menghadapi krisis lingkungan dan sosial. Penurunan tanah yang mencapai 25 cm per tahun, pencemaran air, banjir rob, dan degradasi hutan mangrove menjadi ancaman terhadap kualitas hidup masyarakat.  Ditambah dengan buruknya infrastruktur dan segregasi spasial, kampung Kerang Ijo semakin terpinggirkan dari sistem perencanaan kota yang adil dan berkelanjutan di Jakarta. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi arsitektur regeneratif yang dapat merespons kompleksitas berbagai persoalan tersebut melalui pendekatan kampung tumbuh dan pengolahan limbah kerang hijau. Metode penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan teknik observasi lapangan, wawancara mendalam dengan warga, serta analisis spasial dan ekologis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa konsep rumah panggung modular dengan prinsip rumah tumbuh mampu menyesuaikan diri dengan kebutuhan ruang yang dinamis, sekaligus adaptif terhadap ancaman banjir rob dan penurunan tanah. Di sisi lain, limbah cangkang kerang yang selama ini mencemari lingkungan kampung ternyata memiliki potensi ekonomi dan daur ulang sebagai bahan bangunan dan pupuk organik. Kedua strategi ini diintegrasikan dalam rancangan kawasan yang menghubungkan ruang hidup, sistem produksi, dan zona restorasi mangrove. Pendekatan regeneratif ini diharapkan menjadi sebuah model perumahan pesisir yang tangguh, berkelanjutan, dan kontekstual dengan budaya serta ekologi lokal.
RUANG SEHAT DI TENGAH POLUSI: PENERAPAN PURIFIKASI UDARA BERBASIS AIR PADA COMMUNITY HUB DI CAKUNG Haryono, Bryan; Gandha, Maria Veronica
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35611

Abstract

Air pollution is one of the most critical environmental challenges faced by the city of Jakarta, with significant impacts on public health, the economy, and overall quality of life. The largest emissions originate from the transportation sector, followed by industrial activities, construction, and open burning. Vulnerable groups such as children, the elderly, and individuals with respiratory illnesses—especially those living near major roads and industrial zones—are the most affected. This research aims to formulate regenerative architectural design strategies with the goal of creating healthy living environments in response to air pollution. The main focus is directed toward the use of water-based air purification systems as an active solution integrated into building and public space design. The methods used include literature studies, field observations, mapping of high-pollution areas, and design analysis based on air filtration technologies and green open spaces. Expected outcomes include the identification of spatial characteristics of affected areas, the development of architectural design prototypes that function as an air purification media, and contextual design guidelines for dense urban areas in Jakarta. These findings are expected to contribute concretely to addressing the air pollution crisis through the strategic role of architecture in improving the quality of the urban environment. Keywords: air pollution; air purification; health; regenerative Abstrak Polusi udara merupakan salah satu tantangan lingkungan paling kritis yang dihadapi kota Jakarta, dengan dampak signifikan terhadap kesehatan masyarakat, ekonomi, dan kualitas hidup. Emisi terbesar berasal dari sektor transportasi, diikuti oleh aktivitas industri, konstruksi, dan pembakaran terbuka. Kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, serta penderita penyakit pernapasan, terutama yang tinggal di dekat jalan utama dan kawasan industri, menjadi yang paling terdampak. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi desain arsitektur regeneratif dengan target menciptakan ruang hidup yang sehat terhadap polusi udara. Fokus utama diarahkan pada pemanfaatan sistem purifikasi udara berbasis air sebagai solusi aktif yang terintegrasi dalam desain bangunan dan ruang publik. Metode yang digunakan mencakup studi literatur, observasi lapangan, pemetaan kawasan dengan tingkat polusi tinggi, serta analisis desain berbasis teknologi penyaring udara dan ruang terbuka hijau. Hasil yang diharapkan meliputi identifikasi karakter spasial wilayah terdampak, pengembangan prototipe desain arsitektur yang berfungsi sebagai media purifikasi udara, serta panduan desain kontekstual untuk wilayah urban padat di Jakarta. Temuan ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata dalam merespons krisis polusi udara melalui peran strategis arsitektur dalam peningkatan kualitas lingkungan perkotaan.