Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Perancangan Produk Boneka Pada Unit Usaha Kecil Untuk Meningkatkan Kemandirian Dengan Metode LP - Simpleks Miftahul Imtihan
TEKNOSAINS : Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika Vol 7 No 1 (2020): Teknosains : Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika
Publisher : LPPMPK- Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/tekno.v7i1.1

Abstract

Usaha Kecil merupakan bentuk usaha dengan modal dan tingkat kesulitan dalam membangun usahanya tidak sesulit usaha menengah maupun usaha dengan skala besar. Adapun Usaha kecil yang dimaksud adalah proses produksi kerajinan boneka. Usaha kerajinan boneka tersebut dilakukan oleh para pelaku usaha kecil dimulai dari proses pemilihan bahan baku boneka, model boneka yangdiproduksi, proses penjahitan dan finishing boneka, serta model penjualan boneka ke tangan konsumen langsung. Permasalahan yang dihadapi oleh pelaku usaha kecil kerajinan boneka adalah sumber dana yang sangat terbatas untuk melakukan perputaran usaha, tenaga kerja yang bersifat harian lepas dan sangat minim, persaingan harga jual boneka ke tangan konsumen, serta penerapan modelproduksi yang relatif konvensional. Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah agar mampu merancang produksi boneka secara optimal sehingga pelaku usaha kecil mampu meningkatkan kapasitas produksi dan mampu meningkatkan kemandirian melalui pendekatan model LP-Simpleks. Hasil penelitian dengan metode LP-Simplek menunjukkan bahwa kombinasi produksi pada tiga varian terdiri atas Produksi Bantal Leher (X) adalah 28 buah, produksi Bantal Sandaran Mobil (Y) adalah 28 buah, serta Produksi Bantal Bulat (Z) adalah 13 buah. Dengan kombinasi tersebut akan mampu memperoleh profit kurang lebih Rp. 204.607.200,00 dalam setiap bulannya. Artinya dengan menerapkan model LP-Simpleks pelaku usaha kecil memproduksi berdasarkan jumlah produk denganmemperhatikan total biaya dengan hasil yang optimal pada masing-masing variannya, sehingga ketika model ini dikembangkan maka akan mampu meningkatkan kemandirian ekonomi yang berdaulat bagi pelaku usaha kecil, tenaga kerja, dan akan mampu menopang perekonomian masing-masing elemen yang menghasilkan kemandirian ekonomi yang berdaya saing.
PERANCANGAN BALANCED SCORECARD DAN PENJABARAN AKTIVITAS PROGRAM KERJA STUDY CASE DI PERUSAHAAN FMCG Ruslan Supriyadi; Miftahul Imtihan; M Ali Pahmi
TEKNOSAINS : Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika Vol 8 No 1 (2021): TEKNOSAINS: Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika
Publisher : LPPMPK- Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/tekno.v8i1.75

Abstract

Pandemi Covid-19 yang terjadi mulai pada akhir tahun 2019 dan terus berlanjut pada tahun 2020 menjadi pandemi global berdampak besar terhadap ekonomi dunia. Namun bagi beberapa industri khususnya terkait kebutuhan dasar hidup manusia seperti pangan dan Fast Moving Consumer Goods hal ini menjadi momen peningkatan market share yang tidak diprediksi. Dalam menyikapi hal tersebut strategic management dibutuhkan untuk penyelarasan ulang antara pandangan seluruh anggota organisasi secara terpadu dan terarah, yang dapat dipahami oleh seluruh organisasi, baik para eksekutif maupun sampai pada individu. Untuk menerjemahkan strategi maka alat atau metode yang mudah dibuat untuk melakukan pengukuran dan evaluasi kinerja yang efektif dan efisien adalah metode Balanced Scorecard. Pada penelitian ini kami mengambil studi kasus di PT.X yang bergerak di bidang Fast Moving Consumer Goods dan mengajukan framework model BSC berdasarkan strategi yang telah disepakati oleh stakeholder untuk kemudian yang diturunkan kedalam program kerja Result Oriented Indicators dengan konsep master improvement model. Pada perumusan empat factor BSC yaitu faktor learning and growth, internal process, customer, dan financial dimana masing–masing faktor menunjukan penerjemahan perspektif yang berbeda terhadap pandangan outcome strategi perusahaan. Namun dengan melakukan rancangan BSC yang ditambah dengan master improvement model akhirnya rancangan menghasilkan 10 Result Oriented Program yang akan menjadi program kerja perusahaan selama 5 tahun ke depan.
USULAN PERBAIKAN MELALUI PENERAPAN TOTAL PRODUCTIVE MAINTENANCE DENGAN METODE OEE PADA MESIN TWIN SCREW EXTRUDER PVC DI PT. XYZ T Budi Agung; Miftahul Imtihan; Suwaryo Nugroho
TEKNOSAINS : Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika Vol 8 No 1 (2021): TEKNOSAINS: Jurnal Sains, Teknologi dan Informatika
Publisher : LPPMPK- Universitas Muhammadiyah Cileungsi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37373/tekno.v8i1.78

Abstract

Perawatan pada esensinya untuk mengurangi atau meminimalisir kerusakan pada mesin atau  peralatan, yang berakibat pada penurunan hasil produksi. Keberlangsungan produktivitas proses produksi dapat ditentukan dengan indikator tingkat OEE. PT. XYZ sebuah perusahaan manufaktur yang menggunakan mesin twin screw extruder. Berdasarkan temuan di lapangan, bahwa selama proses produksi 12 bulan mesin ini seringkali mengalami isu terkait six big losses sehingga mengurangi tingkat availability, performance dan quality. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan usulan perbaikan pemeliharaan mesin secara preventif dan berkala sehingga kerusakan mesin mampu meminimalisir secara optimal. Metode yang diterapkan dalam mencapai target yaitu dengan menerapkan TPM (Total productive maintenance) melalui pendekatan metode OEE (Overall equipment effectiveness) dan analisis fishbone. Temuan dari data-data produksi ditemukan banyaknya isu terkait quality dan rework, dengan temuan defect rata-rata 12%, tingkat scrap rata-rata 2% dan tingkat rework rata-rata 6%. Dari hasil analisis perhitungan nilai rata-rata OEE pada mesin twin screw extruder PVC di PT. XYZ adalah 63.10% yang berarti masih jauh dari standar world class 85%, dengan deviasi sekitar (21.90%). Hal ini mengindikasikan masih adanya ruang improvement dan perbaikan yang harus dilakukan. Sedangkan dari indikator utama yang berpengaruh terhadap nilai OEE adalah equipment failure dengan kisaran 2502.50 jam, dan dari hasil diskusi terhadap analisis fishbone disimpulkan bahwa aspek metode merupakan yang paling berperan terhadap equipment failure tersebut perlunya beberapa usulan perbaikan guna memperbaiki tingkat OEE.