Imran Sinaga, Ali
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Urgensi dan Perjuangan Pendidik Dalam Perspektif Islam Fauziah Harahap, Elza; Hady, Arkana; Fitria Harahap, Hilyati; Rahmasari, Rahmasari; Imran Sinaga, Ali
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 1 (2025): Februari-Mei 2025
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i1.643

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pentingnya pendidikan dan perjuangan seorang pendidik dalam sudut pandang Islam, dengan pendekatan kualitatif berbasis studi pustaka. Sumber data meliputi Al-Qur'an, Hadis, serta literatur akademis terkait, yang dianalisis secara kontekstual untuk mengeksplorasi nilai-nilai pendidikan Islam. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendidikan memainkan peran utama dalam membentuk individu yang berakhlak, berpengetahuan, dan bermoral. Guru, sebagai tokoh kunci dalam pendidikan, tidak hanya berfungsi sebagai penyampai ilmu tetapi juga bertanggung jawab membangun karakter peserta didik melalui pendekatan menyeluruh yang mencakup aspek intelektual, emosional, dan keterampilan. Pembelajaran dari kisah Nabi Adam AS, Nabi Muhammad SAW, serta interaksi antara Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS memberikan panduan penting dalam pendidikan. Nabi Adam AS mencontohkan peran manusia sebagai khalifah melalui proses pengajaran kepada malaikat. Nabi Muhammad SAW menjadi model dalam pengajaran efektif yang berbasis nilai-nilai etis. Selain itu, kisah Nabi Musa AS dan Nabi Khidir AS menggarisbawahi pentingnya semangat belajar, sikap hormat, serta tanggung jawab dalam menyebarkan ilmu. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan untuk menyampaikan pengetahuan, tetapi juga menciptakan individu yang berkarakter kuat dan membawa perubahan positif dalam masyarakat.
Bahasa Dalam Perspektif Al-Qur’an Ningrum, Ainan; Angreiny, Hasnah; Ramadhan Tanjung, Fadly; Khairunnisa Lubis, Aulia; Imran Sinaga, Ali
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 4 No. 2 (2024): Vol. 4 No. 2 Juli-Desember 2024
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v4i2.644

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tentang bahasa dalam perspektif Al-Qur’an untuk menyingkap hakikat bahasa dari perspektif al-Qur’an. Penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dengan menggali sebanyak mungkin informasi dari Al-Qur’an dan pendapat para pakar linguistik dalam mengkaji tentang bahasa. Dalam pengumpulan data, penulis melakukan pembacaan terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung tentang pengertian bahasa, asal-usul bahasa serta istilah laga dan lisan dengan berbagai d erivasinya. Dalam menganalisis data, penulis melakukan studi terhadap konteks Alquran yang membahas tentang definisi bahasa, asal-usul bahasa dan tentang penggunaan kedua term yaitu laga dan lisan dengan berbagai turunannya, untuk menemukan konsep yang berhubungan dengan bahasa dalam pengertian ilmiah. Hasil penelitian menunjukk an bahwa bahasa merupakan media komunikasi yang digunakan antara anggota masyarakat yang terdiri lambang bunyi yang dikeluarkan oleh alat ucap manusia. Al-Qur’an telah menjelaskan asal-usul bahasa manusia berasal dari Allah sang pencipta dengan mengajarkan kepada Adam a.s dan menciptakan perangkat bahasa yang ada pada manusia. Dan tidak ditemukan penggunaan istilah al -lugah dalam Al-Qur’an, tetapi hanya menggunakan akar-akar kata yang dipandang sebagai asal-usul istilah al -lugah, yaitu: al - laga, al -lagw, dan al -lagiyah. Semua istilah ini mengacu pada makna negatif. Namun demikian, dijumpai dalam satu ayat yang menggunakan akar kata tersebut yang mengisyaratkan kepada salah satu unsur bahasa, yakni bunyi. Berbeda dengan istilah al - lisan, konteks Alquran mengisyaratkan beberapa makna yang berkaitan dengan bahasa dalam pengerti an ilmiah. Makna-makna tersebut berkisar pada makna: sarana mengungkapkan pendapat, pikiran, dan perasaan. A dapula kalanya mengandung makna bahasa, alat produksi bahasa, berbicara tak beraturan, dan ucapan-ucapan yang baik.
Posisi Manusia di Hadapan Ilmu Menurut Hadis: Refleksi atas Tantangan Pendidikan di Era Distraksi Digital Khairani, Ridha; Indah Sari, Devi; Abdul Ghani, Farhan; Fadhli Azmi , Muhammad; Imran Sinaga, Ali
MUDABBIR Journal Research and Education Studies Vol. 5 No. 2 (2025): Vol. 5 No. 2 Juli-Desember 2025
Publisher : Perkumpulan Manajer Pendidikan Islam Indonesia (PERMAPENDIS) Prov. Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/mudabbir.v5i2.2233

Abstract

Disrupsi teknologi dan munculnya fenomena distraksi digital yang meluas telah menciptakan tantangan yang mendalam bagi ekosistem pendidikan kontemporer. Studi ini bertujuan untuk melakukan refleksi ulang terhadap kedudukan fundamental manusia dalam menghadapi ilmu pengetahuan (intelektual dan spiritual) melalui kacamata ajaran Hadis Nabi Muhammad SAW. Secara konsisten, Hadis menempatkan manusia sebagai entitas yang secara esensial terikat pada kewajiban untuk mencari dan mengamalkan ilmu (talab al-'ilm), bahkan menganugerahkan gelar terhormat sebagai ahli waris para nabi kepada ulama. Temuan utama dari analisis tekstual ini menunjukkan bahwa nilai inti dari proses edukasi dalam Islam berpusat pada pencapaian ketakwaan dan ketundukan batin (khashyah) kepada Sang Pencipta, suatu dimensi yang jauh melampaui sekadar proses akumulasi dan transfer data semata. Prinsip ini sangat vital untuk menyeimbangkan kecenderungan pendidikan modern yang rentan tereduksi menjadi hanya data-literacy di tengah gemuruh informasi digital. Kajian ini menyoroti peran sentral dari konsep Hadis tentang ilmu yang bermanfaat ('ilm nafi'). Konsep ini menyediakan kerangka kerja etis dan epistemologis yang dibutuhkan untuk mengarahkan fokus baik pendidik maupun peserta didik. Dengan berpegangan pada 'ilm nafi', upaya pendidikan dapat secara strategis menjauhi segala bentuk distraksi dan informasi tidak produktif yang ditawarkan oleh lingkungan digital, sekaligus menegaskan pentingnya internalisasi nilai-nilai moral (adab) sebagai hasil akhir dari pembelajaran. Pada akhirnya, refleksi Hadis ini menegaskan perlunya reorientasi filosofis dalam pendidikan untuk membentuk pribadi yang paripurna (insan kamil) yang memiliki kontrol diri, kecerdasan digital, dan integritas moral yang kokoh sebagai respons terhadap fragmentasi perhatian di era digital.