Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH GEOMORFOLOGI TERHADAP POLA DISTRIBUSI UNSUR NIKEL DAN BESI PADA ENDAPAN NIKEL LATERIT DI KABUPATEN BUTON TENGAH-SULAWESI TENGGARA Hasria Hasria; Suryawan Asfar; La Ode Ngkoimani; Ali Okto; Rio Irhan Mais Cendra Jaya; Risal Sepdiansar
Geosapta Vol 7, No 2 (2021): Juli 2021
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jg.v7i2.10716

Abstract

Penelitian ini terletak di Pulau Kabaena yakni di Desa Wulu Kecamatan Talaga Raya Kabupaten Buton Tengah Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuan dari penelitian ini untuk mengindentifikasi pengaruh geomorfologi terhadap pola distribusi kandungan unsur nikel dan besi pada endapan nikel laterit. Metode penelitian terdiri dari studi pustaka; pengamatan geomorfologi dan pengambilan sampel yang representatif; analisis laboratorium menggunakan X–Ray Flourenscense (XRF); serta analisis data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata pola distribusi kandungan unsur nikel dan besi mengalami peningkatan pada geomorfologi perbukitan tinggi dengan kemiringan agak curam di zona limonit dan saprolit. Hal ini diinterpretasikan karena terdapatnya rekahan-rekahan pada geomorfologi tersebut sehingga memudahkan masuknya air sehingga proses pelapukan/laterisasi yang terjadi akan meningkat. Adapun kandungan unsur nikel mengalami pengkayaan (enrichment) di zona saprolit sedangkan unsur Fe mengalami pengkayaan di zona limonit. Hal ini disebabkan karena  unsur Ni merupakan unsur yang mempunyai mobilitas yang tinggi (mobile) sehingga selama proses pelapukan/laterisasi, akan tertransportasi ke arah bawah permukaan dan terkonsentrasi pada bagian bawah yakni zona saprolit, sedangkan unsur Fe merupakan unsur yang immobile yang tidak mudah bergerak ke arah bawah sehingga terkonsentrasi pada bagian atas yakni zona limonit.
Studi fasies dan diagenesis batuan karbonat Formasi Rumu Daerah Kumbewaha dan Sekitarnya, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara Nopri Asharun; Harisma Harisma; Erzam Salahuddin Hasan; Hasria Hasria; Erwin Anshari; Rio Irham Cendrajaya
OPHIOLITE : Jurnal Geologi Terapan Vol 2, No 1 (2020): OPHIOLITE
Publisher : Program Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (952.146 KB) | DOI: 10.56099/ophiolite.v2i1.19584

Abstract

Daerah penelitian terletak di Desa Kumbewaha, Kecamatan Siontapina, Kabupaten Buton, Provinsi Sulawesi Tenggara. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan jenis fasies, proses diagenesis, serta lingkungan diagenesis batuan karbonat Formasi Rumu menggunakan metode petrografi. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, fasies yang berkembang pada Formasi Rumu yaitu fasies packstone dan fasies wakcestone dengan tiga zonasi pengendapan berupa zona laut dangkal, zona peralihan, dan zona laut dalam. Proses diagenesis yang terjadi  pada daerah penelitian Formasi Rumu adalah micritisasi microbial, kompaksi, pelarutan dan sementasi, sedangkan untuk lingkungan diagenesis yang berkembang yaitu marine phreatic, burial enviroment, meteoric phreatic, dan meteoric vadose.
Pengaruh Kemiringan Lereng Terhadap Ketebalan Endapan Nikel Laterit Daerah Tobimeita, Kecamatan Langgikima, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara Hasria, Hasria; Resmin, Masrandi; Okto, Ali; Masri, Masri; Arisona, Arisona; Al Firman, Al Firman; Harisma, Harisma; Jaya, Rio Irham Mais Cendra; Septiana, Sara; Sawaludin, Sawaludin; Salihin, La Ode M. Iradat
Jurnal Geosains dan Teknologi Vol 6, No 3 (2023): November 2023
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jgt.6.3.2023.174-185

Abstract

Penelitian ini terletak di wilayah Tobimeita, Kabupaten Konawe Utara, Provinsi Sulawesi Tenggara yang secara litologi tersusun atas batuan ultramafik yang menjadi host endapan nikel laterit. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi ketebalan endapan nikel laterit berdasarkan kondisi morfologi pada daerah penelitian. Ketebalan endapan nikel laterit dilakukan dengan menggunakan analisis geokimia XRF (X- Ray Flourescence sedangkan kemiringan lereng menggunakan analisis morfometri dan morfografi. Hasilnya, bahwa morfologi pada daerah penelitian terdiri dari morfologi perbukitan dengan kemiringan lereng datar, agak landai, landai, agak curam dan curam. Wilayah pada kemiringan lereng agak landai dan landai menghasilkan ketebalan endapan laterit relatif tebal disebabkan oleh air yang berada di atas permukaan yang bergerak perlahan sehingga air akan mempunyai kesempatan melakukan penetrasi lebih dalam hingga ke bawah permukaan sehingga menyebabkan pelapukan menjadi intensif. Adapun pada kemiringan lereng agak curam dan curam memiliki ketebalan endapan laterit yang tipis. Ketebalan endapan nikel laterit pada lereng agak landai dan landai pada zona limonit dan saprolit yaitu 10 – 13 m dengan kadar Ni pada zona limonit sebesar 1,99% dan zona saprolit 2,13%. Adapun ketebalan endapan nikel laterit pada kemiringan lereng agak curam dan curam yakni 0 – 2 m dengan kandungan Ni pada zona limonit 1,01 % dan 1,46 % pada zona saprolit.
Petrochemistry of Ultramafic Rock in Baula - Pomalaa Ophiolite Complex, Southeast Sulawesi, Indonesia Cendrajaya, Rio Irhan Mais; Juarsan, Laode Ihksan; Masri; Rubaiyn, Al; Syahrul; Neni; Ramadani, Suci; Hasria
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 9 No. 1 (2024): JGEET Vol 09 No 01 : March (2024)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2024.9.1.14491

Abstract

Baula and Pomalaa Ophiolitic Complexes are part of East Sulawesi Ophiolite (ESO). The ultramafic rocks in the Baula and Pomalaa Ophiolite Complex mainly is peridotite and consist of harzburgite, lherzolite and olivine websterite, mostly serpentinized. Chemical and petrological research has focused on minerals, such as olivine, pyroxene, and spinel. This study examines the tectonic setting and temperature of ultramafic rock formation. Twelve ultramafic rock samples were examined using geothermometers made of pyroxene, petrographic examination, and coexisting olivine and spinel analyses. SEM and petrographic analysis of pyroxene lamellae and mylonite-ultramylonite structures allowed for the measurement of the geothermometer of ultramafic rocks. Using SEM-EDS, the coexistence of olivine and spinel was analyzed to determine the type of ultramafic tectonic setting. In the coexistence of olivine and spinel, olivine and spinel oxide compounds as tectonic setting markers in the form of Fo and Cr# values. Ultramafic rocks have different temperature levels, based on pyroxene thermometer, and the first one starts at a high temperature of 1000-1200ºC. It is characterized by thin, elongated augite lamellae. Instead, large lamellae characterize augite at medium temperatures (800–1000ºC). Irregular, anhedral, and broader forms of enstatite lamellae are typical of low temperatures (500–800ºC). Different generations of exsolution lamellae indicate that magma cooling was gradual. The distribution of #Fo ranged from 0.87 to 0.92, and Cr# values ranged from 0.13-0.19. According to coexisting olivine and spinel analysis. On the Olivine-Spinel Mantle Array (OSMA), the Fo and Cr# plot indicates that the peridotites tectonic setting was from the ocean floor and the magmatism was from MORB (Mid Oceanic Ridge Basalt). The Al2O3 vs. TiO2 pattern in spinel lherzolite also similar with Ampana and Kabaena peridotites magmatism.
Studi paragenesis serpentin pada batuan utramafik Kompleks Ofiolit Daerah Baula dan Pomalaa, Sulawesi Tenggara Masri; Irhan Mais Cendra Jaya, Rio; Ihksan Juarsan, Laode; Razak Haraty, Syamsul; Pramadana, Reza; Hasria
Jurnal Geologi dan Sumberdaya Mineral Vol. 25 No. 2 (2024): JURNAL GEOLOGI DAN SUMBERDAYA MINERAL
Publisher : Pusat Survei Geologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33332/jgsm.geologi.v25i2.761

Abstract

Serpentinisasi merupakan proses hidrasi pada batuan ultramafik yang mengubah komposisi mineral primer. Pembentukan mineral serpentin pada batuan ultramafik dapat menunjukkan proses pengalihtempatan dan karakteristik profil nikel laterit yang dapat dihasilkan. Studi paragenesis mineral serpentin telah dilakukan pada batuan ultramafik kompleks ofiolit daerah baula – pomalaa. Studi paragenesis mencakup kebutuhan jenis mineral serpentin dan asosiasi mineral ubahan lain yang hadir. Tekstur dan struktur khas pada serpentin juga dianalisis menggunakan analisis petrografi pada 10 sampel sayatan tipis. Daerah penelitian tersusun atas harzburgite dan lherzolite terserpentinisasi dengan kandungan serpentin berkisar antara 22%-62%. Serpentin yang hadir berupa lizardit, antigorite, dan krisotil bersama mineral ubahan lain seperti talk, klorit, magnesit, dan hematit. Tekstur pseudomorph dan mesh rim pada olivine menunjukkan ciri serpentinisasi bertemperatur tinggi diikuti tekstur bastit pada ortopiroksen. Hadirnya berbagai tipe serpentin vena yang didominasi oleh krisotil dan magnesit disertai struktur tikungan ketegaran menunjukkan proses serpentinisasi terbentuk oleh pengaruh deformasi. Kehadiran hematit, magnesit, dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. Tekstur pseudomorph dan mesh rim pada olivine menunjukkan ciri serpentinisasi bertemperatur tinggi diikuti tekstur bastit pada ortopiroksen. Hadirnya berbagai tipe serpentin vena yang didominasi oleh krisotil dan magnesit disertai struktur tikungan ketegaran menunjukkan proses serpentinisasi terbentuk oleh pengaruh deformasi. Kehadiran hematit, magnesit, dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. Tekstur pseudomorph dan mesh rim pada olivine menunjukkan ciri serpentinisasi bertemperatur tinggi diikuti tekstur bastit pada ortopiroksen. Hadirnya berbagai tipe serpentin vena yang didominasi oleh krisotil dan magnesit disertai struktur tikungan ketegaran menunjukkan proses serpentinisasi terbentuk oleh pengaruh deformasi. Kehadiran hematit, magnesit, dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. Hadirnya berbagai tipe serpentin vena yang didominasi oleh krisotil dan magnesit disertai struktur tikungan ketegaran menunjukkan proses serpentinisasi terbentuk oleh pengaruh deformasi. Kehadiran hematit, magnesit, dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. Hadirnya berbagai tipe serpentin vena yang didominasi oleh krisotil dan magnesit disertai struktur tikungan ketegaran menunjukkan proses serpentinisasi terbentuk oleh pengaruh deformasi. Kehadiran hematit, magnesit, dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. dan granular lizardit disertai kehadiran vein tipe 3 menunjukkan proses awal pelapukan ultramafik. Pada sayatan juga menunjukkan subproses hidrasi dan rekristalisasi serpentin yang menunjukkan tipe serpentinisasi retrograde. Kehadiran tipe mineral serpentin, tekstur, struktur, dan tipe berbagai vein serpentin dapat digunakan untuk interpretasi paragenesis dan derajat serpentinisasi pada batuan ultramafik di daerah penelitian. Kata Kunci : Serpentinisasi, lerzolit, granular lizardit, ultramafik, retrograde, Kolaka
Potensi Likuifaksi Di Kabupaten Konawe Utara Sulawesi Tenggara Berdasarkan Metode Susceptibility Rating Factors (SRF) Cendra Jaya, Rio Irhan Mais; Deniyatno
OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan Vol 6 No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophi.v6i1.p11-18

Abstract

The liquefaction disaster that occurred in Palu, Central Sulawesi, was caused by a 7.5 SR. The movement of the Palu-Koro Fault triggered the earthquake which was then followed by liquefaction. North Konawe Regency, Southeast Sulawesi, is crossed by the Lawanopo Fault which is a continuation of the Palu-Koro Fault, so that North Konawe Regency has the potential for liquefaction. BMKG seismic data records that >90% of earthquake events in North Konawe are triggered by movements of the Lawanopo Fault. This research focuses on the potential for liquefaction that can be triggered by earthquake activity in North Konawe Regency. Susceptibility Rating Factor (SRF) method is used by calculating the liquefaction susceptibility index (ISL) based on historical parameters, geological data, soil texture and composition, and hydrogeological data. North Konawe Regency has 5% areas with high liquefaction potential, 2% medium potential, 6% low potential, and 87% very low potential. Areas with high potential (5%) and medium potential (2%) are densely populated areas because they are located in the center of the capital city of North Konawe Regency. This area is a basin formed due to the activity of the Lawanopo Fault.
Kajian Produktivitas Alat Gali dan Alat Muat pada Penambangan Bijih Nikel Laterit Daerah Kabaena Barat Kabupaten Bombana Sulawesi tenggara Syahrul, Syahrul; Syamsiah, Nur; Kumalasari, Rizki; Jaya, Rio Irhan Mais Cendra
Mining Science And Technology Journal Vol 2 No 3 (2023): Mining Science and Technology Journal
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54297/minetech-journal.v2i3.545

Abstract

Kegiatan pertambangan pada nikel laterit akan dipengaruhi oleh alat gali dan alat muat yang digunakan. Jumlah alat dan efisiensi kerja dibutuhkan untuk memaksimalkan produktivitas dalam mencapai target produksi. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui jumlah produktivitas alat gali dan alat muat pada kegiatan penambangan. Penelitian ini dilakukan di PT. Timah Investasi Mineral [TIM] sebagai anak perusahaan yang terletak di daerah Kabaena Barat, Bombana. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis perbandingan hasil data produktivitas dari alat gali dan muat dengan pendekatan kuantitatif. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh produktivitas alat secara aktual dari alat gali dan muat dari penggunaan Excavator PC 210 masing-masing sebanyak 1 unit sebesar 43.920 ton/bulan dengan produktivitas 252,33 ton/jam, dan 26.820,3 ton/bulan serta produktivitas aktual sebesar 207,93 ton/jam. Faktor yang mempengaruhi produktivitas berdasarkan penelitian ini adalah efisiensi kerja alat, waktu edar (cycle time), dan waktu yang tidak efektif.
IDENTIFIKASI POTENSI MINERALISASI KROMIT DALAM LAPISAN BEDROCK NIKEL LATERIT DAERAH POMALAA, SULAWESI TENGGARA Syahrul, Syahrul; Jaya, Rio Irhan Mais Cendra; Kumalasari, Rizki
Prosiding Temu Profesi Tahunan PERHAPI 2023: PROSIDING TEMU PROFESI TAHUNAN PERHAPI
Publisher : PERHAPI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kompleks batuan ultramafik daerah Kolaka, Sulawesi Tenggara dikenal sebagai Lajur Ofiolit Sulawesi Tenggara (LOST). Kompleks Ultramafik ini dibagi menjadi 3 satuan batuan yaitu satuan Hazburgit, Lerzolit, dan Gabro. Nikel laterit hasil pelapukan batuan ultramafik ini telah banyak dilakukanpenambangan dengan kandungan kadar nikel dari kadar tinggi sampai rendah. Lapisan nikel laterit yang tidak termanfaatkan untuk ditambang biasanya di lapisan bawah atau lapisan bedrock. Lapisan inisangat penting untuk diidentifikasi mineralisasinya. Mineralisasi dan potensi pengembangan sumberdaya bijih selain nikel di laterit adalah mineral kromit. Mineral kromit di daerah Kolaka,khususnya daerah Pomalaa dan sekitarnya belum dilakukan kajian khusus dan potensi sebarannya.Penelitian ini akan memberikan informasi potensi kandungan kromit dan karakteristik endapannya. Selain itu, dapat menjadi sumber referensi dalam studi selanjutnya di daerah Pomalaa dan sekitarnya serta untuk perhitungan sumberdaya mineralnya. Analisis kromit dalam lapisan bedrock ini dilakukan dengan menggunakan analisis mineragrafi danpetrografi analisis. Sampel batuan diambil di daerah Sopura, Pomalaa. Hasil analisis petrografinya menunjukkan batuannya berjenis Harzburgit dan Serpentinit yang telah mengalami derajatserpentinisasi cukup kuat. Analisis sampel berdasarkan mineragrafi dan arah sebaran kromitnya bertambah besar dari arah barat-baratlaut. Karakteristik dari kromit di daerah ini adalah tipe podiform kromit, tipe kromit kelas II dengan ciri kromit non-kumulat, terkayakan secara tersebar/disseminatedsampai masif, terdeformasi kuat, batuan asal ultramafik jenis Harzburgit.Potensi mineralisasi kromit dari analisis tersebut di atas, menjadi peluang untuk beberapa perusahaan tambang di daerah Pomalaa dan sekitarnya untuk mengembangkan kromit sebagai bahan galian yang menguntungkan secara ekonomis. Analisis geokimia dan metode eksplorasi lainnya dapat dilakukan untuk analisis lebih dalam sehingga memberikan informasi sumberdaya dan cadangan yang akurat. Eksplorasi lanjutan dari penelitian ini diperlukan untuk memberikan informasi bagi penelitiselanjutnya dan juga pemerintah
Assessing the Carbon Sequestration Potential of Ultramafic Rocks in the Kolaka Ophiolite Complex, Southheastern Sulawesi: A Petrographic, Geochemical, and Mineralogical Study Syahrul; La Ode Dzakir; Riska; Rio Irhan Mais Cendra jaya; Masri
Journal of Geoscience, Engineering, Environment, and Technology Vol. 10 No. 1 (2025): JGEET Vol 10 No 01 : March (2025)
Publisher : UIR PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jgeet.2025.10.1.19484

Abstract

Climate change has prompted significant global interest in carbon sequestration technologies, particularly using geological formations. This study investigates the potential of ultramafic rocks from the Kolaka Ophiolite Complex in Southeast Sulawesi for carbon sequestration, focusing on the mineralogical, petrographic, and geochemical characteristics that enhance their reactivity with CO₂. The research involved petrographic and mineragraphic analyses of 15 peridotite samples, geochemical measurements via X-ray fluorescence (XRF), and mineral characterization using scanning electron microscopy (SEM). The results revealed that Kolaka's ultramafic rocks, particularly harzburgite and lherzolite, exhibit moderate to high serpentinization, which enhances their reactivity with CO₂. Key minerals such as olivine, pyroxene, and serpentine, rich in magnesium, calcium, and iron oxides, demonstrate significant potential for mineral carbonation. Secondary minerals like magnesite and brucite were identified as products of carbonation, reinforcing the rocks' ability to act as carbon sinks. The discussion highlights that serpentinized peridotites are more effective for carbon sequestration than unaltered ones due to increased mineral reactivity. The presence of magnesite and Cr-Fe-rich carbonates, alongside serpentine veins, indicates that fluid-rock interactions have promoted ongoing carbonation processes. The Kolaka ultramafic rocks, therefore, hold strong potential for long-term carbon storage, offering a promising solution for reducing atmospheric CO₂ levels
Assessing the environmental impact of Kolaka peridotites from nickel mining waste for geological carbon storage: Mineralogy, carbonation potential, and rock property changes Deniyatno, Deniyatno; Masri, Masri; Jaya, Rio Irhan Mais Cendra; Wahab, Wahab; Syahrul, Syahrul
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 12 No. 5 (2025)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2025.125.8899

Abstract

This study investigated the carbonation potential of peridotite from the Kolaka Ultramafic Complex in Sulawesi, Indonesia, for carbon capture and storage (CCS) applications. Peridotites, particularly those enriched in magnesium, are known for their high reactivity with CO?, forming stable mineral carbonates. However, the Kolaka region’s peridotites have not been thoroughly assessed for their carbonation prospects. This research addresses this gap by examining the petrology, geochemistry, and physical-magnetic properties of peridotite, focusing on its serpentinization and carbonation characteristics. An integrated approach applying petrographic analysis, X-ray fluorescence (XRF), X-ray diffraction (XRD), scanning electron microscopy (SEM), Schmidt hammer, and magnetic susceptibility tests, was used to determine the mineral composition, specifically the carbonation minerals, and the changes in the physical properties of the rocks during carbonation. The results showed that the peridotites, particularly serpentinized lherzolites, exhibit high carbonation potential characterized by the abundance of magnesium-rich olivine-pyroxene minerals. Carbonation reactions are characterized by the presence of magnesite and brucite, leading to significant changes in rock strength and magnetic susceptibility. Carbonation occurs by an advanced serpentinization process, which increased mineral reactivity and leads to reducing uniaxial compressive strength (UCS). Additionally, magnetic susceptibility exhibits positive correlation with serpentinization, accompanied by magnetite formation. These findings suggest that Kolaka's serpentinized peridotite, as mining waste, is a viable candidate for CO? storage. The ex-situ carbonation mechanism allows Kolaka's fine-grained peridotite to capture CO?, while also improving nickel ore recovery, minimizing dust, neutralizing acid mine drainage, and enhancing soil quality.