Claim Missing Document
Check
Articles

Found 18 Documents
Search

Fear Of Missing Out Dengan Konformitas Pada Generasi Z Iklimah, Maulida; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v1i2.9927

Abstract

The rapid development of technology affects Gen Z to communicate between individuals. This technological explosion gave rise to the phenomenon of fear of missing out, the fear of losing moments so that behavior emerged to continue to monitor, making individuals anxious when they were left behind. Especially when individuals are influenced by conformity in the form of pressure from their group to always be connected with what is happening on social media. This study aims to determine the relationship between fear of missing out and conformity in the z generation. The subjects used in this study were individuals aged 19-23 years involving 98 respondents. Sampling using non-probability sampling technique by accidental sampling by spreading Google form. The instrument used is the fear of missing out scale according to Przybylski's theory (2013) and the conformity scale according to Sears' theory (2004). The analysis technique used is the product moment with a result of 0.926 with a significance of p = 0.000 <0.01. The research measurement to see the reliability of the instrument uses the Cronbach’s alpha coefficient which when analyzing requires the help of SPSS 25.0 software for Windows. The results obtained show that the proposed hypothesis is accepted, the higher the fear of missing out, the higher the conformity. Vice versa, the higher the fear of missing out, the higher the conformity of generation z individuals. Perkembangan teknologi yang pesat mempengaruhi gen z berkomunikasi antar individu. Ledakan teknologi ini memunculkan fenomena fear of missing out ketakutan akan kehilangan momen sehingga muncul perilaku untuk terus memantau sehingga membuat individu gelisah ketika tertinggal. Terutama ketika individu mendapat pengaruh konformitas berupa tekanan dari kelompoknya agar selalu terhubung dengan yang sedang terjadi di media sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara fear of missing out dengan konformitas pada generasi z. Subjek yang digunakan pada penelitian ini individu dengan usia 19-23 tahun melibatkan 98 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik non probability sampling secara accidental sampling dengan menyebar google form. Instrumen yang digunakan adalah skala fear of missing out sesuai dengan teori Przybylski (2013) dan skala konformitas sesuai dengan teori Sears (2004). Teknik analisis yang digunakan adalah product moment dengan hasil 0,926 dengan signifikansi p = 0,000 < 0,01. Pengukuran penelitian untuk melihat reliabilitas instrumen menggunakan koefisien cronbach alpha yang ketika analisis membutuhkan bantuan software SPSS 25.0 for Windows. Hasil yang didapat menunjukkan hipotesis yang diajukan diterima, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas. Begitu juga sebaliknya, semakin tinggi fear of missing out maka semakin tinggi konformitas pada individu generasi z.
Psychological Well-being pada Remaja : Bagaimana Peranan Kecenderungan Kecanduan Media Sosial? Saraswati, Diva Adyana; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10411

Abstract

Adolescence is an important stage in a person's life that includes emotional development, physical development, as well as mental and social development. Someone who has difficulty controlling their use of social media. This can lead to various problems, including psychological problems. For adolescents, the high level of use of social networks will have negative consequences. This study aims to determine whether there is a relationship between social media addiction and psychological well-being in late adolescence. This research is a correlational research. The subjects in this study were 144 late adolescents. Hypothesis testing was carried out using the product moment test technique. The results of this study indicate a positive relationship between the tendency of social media addiction to psychological well-being. It can be said that social media can improve psychological well-being of adolescents. It is also not said that adolescents experience a tendency to social media addiction because they do not use social media as a top priority, and use more than 5 hours a day. Keywords: 1) Social Media; 2) Psychologicall Well-being; 3) Teenager. Masa remaja merupakan tahapan penting pada kehidupan seorang yang mencakup perkembangan emosional, perkembangan fisik, dan juga mental, serta sosial. Seseorang yang mengalami kesulitan untuk mengendalikan penggunaan media sosial. Hal ini dapat menyebabkan berbagai masalah, termasuk masalah psikologis. Bagi remaja, tingginya tingkat penggunaan jejaring sosial akan memberikan akibat akibat negative. Penelitian ini mempunyai tujuan untuk mengetahui apakah ada hubungan antara kecanduan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being pada usia remaja akhir. Penelitian ini adalah penelitian korelasional. Subjek dalam penelitian ini sebanyak 144 remaja akhir. Pengujian hipotesis yang dilakukan menggunakan teknik uji product moment. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya hubungan yang positif antara kecenderungan kecanduan media sosial terhadap psychological well-being. Hal ini dapat dikatakan media sosial dapat meningkatkan psychological well-being remaja. Hal ini juga tidak dikatakan remaja mengalami kecenderungan kecanduan media sosial karena tidak menggunakan media sosial sebagai prioritas utama, dan menggunakan lebih dari 5 jam dalam sehari. Kata kunci: 1) Media Sosial; 2) Psychological well-being; 3) Remaja.
Kecenderungan kecanduan media sosial : Adakah peran self-disclosure dan interpersonal trust ? Ardiansyah, Ghama Ilham; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10470

Abstract

Abstract This research aims to determine the relationship between self-disclosure and interpersonal trust and social media addiction in generation z. Addiction to social media makes users think about online activities even though they are offline, making social life unconducive. This research used quantitative methods involving a population of 1,440 high school students in Sukodono sub-district, Sidoarjo. The subjects of this research consisted of 271 teenage high school students aged 15-19 years, who were selected using purposive sampling. Data were collected using a Likert scale, with instruments using Griffiths' (2000) social media addiction scale, DeVito's (2011) self-disclosure theory scale and Rotternberg's (2010) interpersonal trust scale. Multiple linear regression analysis shows that there is a simultaneous relationship between self-disclosure and interpersonal trust and the tendency to become addicted to social media. Keywords: Tendency to be addicted to social media; self-disclosure; interpersonal trust Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara self-dsiclosure dan interpersonal trust dengan kecandaun media sosial pada generasi z. Kecanduan media sosial menjadikan penggunanya memikirkan aktivitas online meskipun sedang ofline, kehidupan sosial menjadi tidak kondusif. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan populasi sebanyak 1.440 siswa-siswi sma di kecamatan Sukodono, Sidoarjo. Subjek penelitian ini terdiri dari 271 remaja siswa-siswi sma berusia 15-19 tahun, yang dipilih secara purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan skala likert, dengan instrument menggunakan skala kecanduan media sosial teori Griffiths (2000), skala self-disclosure teori DeVito (2011) dan skala interpersonal trust teori Rotternberg (2010). Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan simultan antara self disclosure dan interpersonal trust dengan kecenderungan kecanduan media sosial. Kata kunci: Kecenderungan kecanduan media sosial; self disclosure; interpersonal trust
Kecemasan sosial dewasa awal: Adakah peran kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction ? Aslamiyah, Farikha; Santi, Dyan Evita; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 1 (2024): Maret
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i1.10471

Abstract

Abstract This research aims to determine the relationship between social media addiction tendencies and body dissatisfaction with social anxiety in early adulthood. Social anxiety refers to the behavior of withdrawing from social environments, referring to nervous behavior when meeting other people. This research used quantitative methods involving a population of 81,790 students who were studying at tertiary institutions in Sukolilo District involving 12 universities. The research subjects consisted of 271 early adult students, aged 18-25 years, who were selected by accidental sampling. Data were collected using a Likert scale, with instruments using the social anxiety scale of La Greca & Lopez theory, the social media addiction tendency scale of Griffiths theory, and the body dissatisfaction scale of Rosen & Reiter theory. Multiple linear regression analysis shows that there is a simultaneous relationship between social media addiction tendencies and body dissatisfaction with social anxiety. Partially, a positive relationship was found between the tendency to be addicted to social media and social anxiety, as well as body dissatisfaction and social anxiety. Keywords: Social anxiety; social media addiction tendencies; body dissatisfaction Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya hubungan antara kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction dengan kecemasan sosial pada dewasa awal. Kecemasan sosial merujuk pada perilaku menarik diri dari lingkungan sosial, merujuk pada perilaku gugup bertemu orang lain. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan melibatkan populasi sebanyak 81.790 mahasiswa yang sedang menempuh perguruan tinggi di Kecamatan Sukolilo dengan melibatkan 12 Universitas. Subjek penelitian terdiri dari 271 mahasiswa dewasa awal, berusia 18-25 tahun, yang dipilih secara accidental sampling. Pengumpulan data menggunakan skala likert, dengan instrument menggunakan skala kecemasan sosial teori La Greca & Lopez, skala kecenderungan kecanduan media sosial teori Griffith, dan skala body dissatisfaction teori Rosen & Reiter. Analisis regresi linear berganda menunjukkan bahwa terdapat hubungan simultan antara kecenderungan kecanduan media sosial dan body dissatisfaction dengan kecemasan sosial. Secara parsial, ditemukan hubungan positif antara kecenderungan kecanduan media sosial dan kecemasan sosial, serta body dissatisfaction dengan kecemasan sosial. Kata kunci: Kecemasan sosial; kecenderungan kecanduan media sosial;body dissatisfaction
Peer attachment: Kunci mengurangi perilaku agresif pada anak sekolah dasar Muna, Hanifa Wafiqul; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 03 (2024): September
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i03.11449

Abstract

Abstract This study aims to determine the relationship between peer attachment and aggressive behavior in elementary school children. Aggressive behavior refers to an individual's response or reaction to their environment that hurts other individuals. Aggressive behavior is characterized by behaviors that individuals do that hurt other individuals in verbal and non-verbal forms. This study used 92 subjects with age variations of 9-11 years old who are elementary school students. Data collection was conducted at school using a questionnaire in the form of a guttman scale, using measurement instruments consisting of The Aggression Questionnaire and Inventory of Parent and Peer Attachment (IPPA). Spearman's Rho analysis shows that Aggressive Behaviour and Peer Attachment have a negative linear association. That is, the stronger the peer relationship, the less aggressive the behaviour of elementary school students. Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kelekatan teman sebaya dengan perilaku agresif pada anak sekolah dasar. Perilaku agresif merupakan respon atau reaksi individu terhadap lingkungannya yang menyakiti individu lain. Perilaku agresif ditandai dengan perilaku yang dilakukan individu yang menyakiti individu lain dalam bentuk verbal maupun non verbal. Penelitian ini menggunakan 92 subjek dengan variasi usia 9-11 tahun yang merupakan siswa sekolah dasar. Pengumpulan data dilakukan di sekolah dengan menggunakan kuesioner dalam bentuk skala guttman, dengan menggunakan alat ukur yang terdiri dari Kuesioner Agresi dan Inventori Kelekatan Orangtua dan Teman Sebaya (IPPA). Analisis menggunakan Spearman's Rho yang menunjukkan adanya hubungan negatif dan linier antara Perilaku Agresif dengan Peer Attachment. Artinya, semakin tinggi Peer Attachment, maka semakin rendah perilaku agresif anak sekolah dasar.
Self-Compassion dan Kepribadian Introvert: Potret Kecemasan Sosial pada Remaja Nurinasari, Sofines Ulsy; Noviekayati, IGAA; Ananta, Aliffia
JIWA: Jurnal Psikologi Indonesia Vol 2 No 04 (2024): Desember
Publisher : Faculty of Psychology Universitas 17 Agustus 1945 Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30996/jiwa.v2i04.12585

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Self-compassion dan kepribadian Introvert dengan kecemasan sosial pada remaja. Kecemasan Sosial merupakan suatu kondisi dimana individu merasakan ketakutan secara berlebihan ketika berada pada situasi sosial. Individu yang mengalaminya sering khawatir tentang tanggapan orang lain terhadap dirinya, seperti takut diejek atau dikritik. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan teknik pengambilan sampel accidental sampling pada 384 responden. Teknik analisis data yang digunakan pada penelitian ini adalah Spearman’s Rho. Berdasarkan hasil analisis data yang telah dilakukan menunjukkan hubungan negatif antara Self-compassion dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi self-compassion semakin rendah kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Berdasarkan hasil analisis data yang dilakukan pada menunjukkan adanya hubungan positif antara kepribadian introvert dengan kecemasan sosial. Artinya semakin tinggi kepribadian introvert remaja semakin tinggi kecemasan sosial, begitupun sebaliknya. Hal ini mengindikasikan bahwa individu dengan kepribadian introvert cenderung memiliki tingkat kecemasan sosial yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan wawasan baru bahwa kepribadian Introvert dapat menjadi faktor risiko untuk kecemasan sosial, terutama jika individu tersebut merasa tidak nyaman dalam situasi sosial tertentu.
Behavioral Activation Therapy to Reduce Withdrawal Behavior In Schizophrenia Patients Larasati, Nurul Afifah; Ananta, Aliffia
Journal of Scientific Research, Education, and Technology (JSRET) Vol. 4 No. 3 (2025): Vol. 4 No. 3 2025
Publisher : Kirana Publisher (KNPub)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58526/jsret.v4i3.850

Abstract

This study was based on observations of a male patient with schizophrenia who was staying in a mental hospital. The patient displayed withdrawn behavior and tended to avoid interacting with other patients in the ward. If left untreated, this pattern of behavior could interfere with the patient’s recovery, as he showed no interest in doing anything except lying in bed and staying in the corner of the room. The purpose of this study was to reduce the patient’s withdrawn behavior by increasing his involvement in daily structured activities. This research applied an experimental approach using a single-subject design. Data were collected by observing the patient’s participation in scheduled therapeutic activities. A behavior monitoring sheet was used to compare the subject’s behavior before and after the intervention. The results showed that Behavioral Activation Therapy (BAT) was quite effective. After the intervention, the patient began engaging in more activities, which contributed to a noticeable reduction in his withdrawn behavior.
Body Dissatisfaction Pada Wanita Masa Emerging Adulthood: Bagaimana Peranan Social Comparison dan Perfeksionisme Ananta, Aliffia; Suhadianto, Suhadianto
Psikostudia : Jurnal Psikologi Vol 11, No 4 (2022): Volume 11, Issue 4, Desember 2022
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikostudia.v11i4.8853

Abstract

Women in emerging adulthood experience a variety of physical and psychological changes and developmental tasks. The existence of various exposures to the mass media, environment, and family makes women compare themselves with others and socially. Doing social comparisons and perfectionism has the risk of making individuals experience body dissatisfaction. This study aims to determine the relationship between social comparison and perfectionism with body dissatisfaction. The participants of this study were 350 women in emerging adulthood who were taken using Conveniance Sampling. This research instrument was adapted from the Iowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (α=0.909), Frost Multidimensional Perfectionism Scale (α=0.857), and body dissatisfaction scale (α=0.911) compiled by researchers based on the theory of Rosen & Reiter (1995). The data analysis technique in this study used multiple regression with the JASP program. Simultaneously, social comparison and perfectionism had a very significant directional correlation with body dissatisfaction (F=56,412; p<0.01). The effective contribution of the two variables is 24.5%. Partially, there is a very significant negative correlation between social comparison and body dissatisfaction (t=-6.097; p<0.01) and a very significant positive correlation between perfectionism and body dissatisfaction (t=6.782; p<0.01).Wanita pada masa emerging adulthood mengalami berbagai perubahan fisik dan psikologis serta tugas perkembangan. Adanya berbagai paparan dengan media masa, lingkungan, dan keluarga membuat wanita membandingkan dirinya sendiri dengan orang lain dan secara sosial. Melakukan perbandingan sosial dan perfeksionisme memiliki resiko membuat individu mengalami body dissatisfaction. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara social comparison dan perfeksionisme dengan body dissatisfaction. Partisipan penelitian ini adalah 350 wanita pada masa emerging adulthood diambil menggunakan Conveniance Sampling. Instrumen penelitian ini mengadaptasi dari skala the Lowa-Netherlands Comparison Orientation Measure (α=0,909), Frost Multidimensional Perfectionism Scale (α=0,857), dan skala body dissatisfaction (α=0,911) yang disusun peneliti berdasarkan teori Rosen & Reiter (1995). Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan regresi ganda dengan program JASP. Secara simultan social comparison dan perfeksionisme memiliki hubungan berarah yang sangat signifikan dengan body dissatisfaction (F=56,412; p<0,01). Sumbangan efektif kedua variabel adalah 24,5%. Secara parsial dapat diketahui ada hubungan negatif yang sangat signifikan antara social comparison dengan body dissatisfaction (t=-6,097; p<0,01) dan hubungan positif yang sangat signifikan antara Perfeksionisme dengan body dissatisfaction (t=6,782; p<0,01).