Sipahutar, Roy Charly H. P.
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Kurios

Ibadah dan keadilan sosial: Interpretasi sosio-historis Amos 8:4-8 bagi hidup bergereja Sipahutar, Roy Charly H. P.
KURIOS (Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen) Vol 7, No 1: April 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v7i1.193

Abstract

This paper is an attempt to explore the deepest message of Amos 8:4-8 with the socio-historical interpretation approach. Progress and prosperity that occurred in northern Israel in the 8th century BC gave birth to religious euphoria. The euphoria can be seen from the crowded places of worship visited by people to offer praise and sacrifice. But unfortunately, religious life has no impact at all on their social life, greed and oppression occur here and there. This is the background to the criticism of the prophet found in Amos 8: 4-8. The socio-historical interpretation approach used in this study is a tool to explore the meaning of the text by investigating the social context of the community when the text was written. The results of the interpretation explain that the middle and upper classes form an economic system that harms the lower classes, namely small farmers and urbanites. Worship is useless if it does not give rise to social care for others. Abstrak Tulisan ini adalah suatu upaya menggali pesan terdalam teks Amos 8:4-8. Kemajuan dan kemakmuran yang terjadi di Israel Utara pada abad 8 sM melahirkan euforia keagamaan. Euforia itu tampak dengan ramainya tempat-tempat peribadatan yang dikunjungi umat untuk menyampaikan pujian dan korban. Tetapi sayangnya kehidupan beragama tersebut tidak berdampak sama sekali bagi kehidupan sosial mereka, ketamakan serta penindasan terjadi di sana-sini. Hal inilah yang menjadi latar belakang kecaman nabi yang terdapat pada Amos 8:4-8. Interpretasi sosio-historis yang digunakan dalam penelitian ini adalah alat untuk menggali makna teks dengan menyelidiki konteks sosial masyarakat saat teks dituliskan. Hasil penafsiran menjelaskan bahwa kalangan menengah dan atas membentuk sistem perekonomian yang merugikan kalangan bawah yaitu petani kecil dan kaum urban. Ibadah menjadi sia-sia belaka bila tidak melahirkan sikap kepedulian sosial terhadap sesamanya.
Ekofeminisme Batak Toba: Pembacaan lintas tekstual Kejadian 1 dan kosmologi si Boru Deang Parujar Sipahutar, Roy Charly H. P.; Tampubolon, Rinto; Pasaribu, Andar Gunawan
KURIOS Vol. 9 No. 3: Desember 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Pelita Bangsa, Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30995/kur.v9i3.569

Abstract

Ecofeminism positions women and nature as having a strong passion so that the suffering experienced by nature as a result of global multi-systems is also women's suffering. Efforts to achieve gender and ecological justice are usually carried out by Western feminists who focus on liberal, radical, and socialist models of feminism, which do not always seem to be relevant to contexts in other parts of the world, especially Indonesia. Related to this, this research aims to construct contextual ecofeminist ideas for Batak Toba women in Tapanuli whose nature is being injured. This research uses a cross-textual hermeneutic approach to dialogue Genesis 1 with the cosmological myth Si Boru Deang Parujar. The results of constructive dialogue show no hierarchical domination between men, women, and nature. The order of creation is only realized when humans and nature can live in harmony and harmony. Batak Toba women are the "owners" of the land and the mothers of all creatures living there.AbstrakEkofeminisme memosisikan perempuan dan alam memiliki keterikatan yang kuat, sehingga penderitaan yang dialami oleh alam akibat multi-sistem global merupakan penderitaan perempuan juga. Upaya untuk mendapatkan keadilan gender dan ekologi biasanya dilakukan kaum feminisme Barat berkutat dengan model feminisme liberal, radikal, dan sosialis tampaknya tidak selalu mengena dengan konteks di belahan dunia lain, khususnya Indonesia. Terkait dengan hal tersebut maka tujuan penelitian ini adalah mengonstruksi gagasan ekofeminis yang kontekstual bagi perempuan Batak Toba di Tapanuli yang alamnya sedang terluka. Penelitian ini menggunakan pendekatan hermeneutika lintas tekstual untuk mendialogkan Kejadian 1 dengan mite kosmologi Si Boru Deang Parujar. Hasil dialog konstruktif menunjukkan bahwa tidak ada dominasi hirearkis antara laki-laki, perempuan, dan alam. Keteraturan ciptaan hanya terwujud ketika manusia dan alam dapat hidup selaras dan harmoni. Perempuan Batak Toba adalah “pemilik” tanah dan ibu dari segala makhluk yang hidup di atas tanah.