Social media is identified as a double-edged medium: it can facilitate constructive interfaith interaction, yet also foster misinformation that undermines harmony. This study examines the impact of Fear of Missing Out (FOMO) and digital anxiety on adolescents, with attention to their effects on mental health, spiritual life and interfaith harmony. Using a qualitative narrative exegesis of Luke 12:22–34, the research highlights theological insights on divine providence as a spiritual resource for addressing anxiety, while examining interfaith perspectives on digital-era challenges. The findings show that Luke 12:22–34 offers adolescents meaningful guidance in coping with digital pressures, emphasizing trust, contentment and release from worry. The study underscores that interfaith dialogue is vital for strengthening solidarity amid digital complexities and that collaborative approaches across religious traditions provide more inclusive and sustainable frameworks for addressing adolescent anxiety than single-tradition responses. The study proposes three practical interventions: interfaith digital literacy programs rooted in shared values, interfaith youth dialogue groups focusing on FOMO and digital wellness, and collaborative anti-misinformation initiatives. These strategies demonstrate how theological reflection combined with interfaith cooperation can equip adolescents to manage digital anxiety while promoting tolerance, inclusivity, and interreligious harmony in contemporary society. AbstrakMedia sosial adalah medium bermata dua: di satu sisi dapat memfasilitasi interaksi lintas iman yang konstruktif, namun di sisi lain juga dapat menyebarkan misinformasi yang merusak keharmonisan. Studi ini meneliti dampak Fear of Missing Out (FOMO) dan kecemasan digital pada remaja, dengan perhatian khusus pada pengaruhnya terhadap kesehatan mental, kehidupan spiritual, dan harmoni antaragama. Dengan menggunakan metode eksegesis naratif kualitatif terhadap Lukas 12:22–34, penelitian ini menyoroti wawasan teologis tentang pemeliharaan ilahi sebagai sumber daya spiritual untuk mengatasi kecemasan, sekaligus mengkaji perspektif lintas iman terhadap tantangan era digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Lukas 12:22–34 menawarkan panduan bermakna bagi remaja dalam menghadapi tekanan digital, dengan menekankan sikap percaya, merasa cukup, dan melepaskan kekhawatiran. Studi ini menegaskan bahwa dialog lintas iman sangat penting untuk memperkuat solidaritas di tengah kompleksitas digital, serta bahwa pendekatan kolaboratif antartradisi agama memberikan kerangka kerja yang lebih inklusif dan berkelanjutan dalam menangani kecemasan remaja dibandingkan respons dari satu tradisi saja. Penelitian ini mengusulkan tiga intervensi praktis: program literasi digital lintas iman yang berakar pada nilai-nilai bersama, kelompok dialog remaja lintas iman yang berfokus pada FOMO dan kesehatan digital, serta inisiatif kolaboratif untuk melawan misinformasi. Strategi-strategi ini menunjukkan bahwa refleksi teologis yang dipadukan dengan kerja sama lintas iman dapat membekali remaja untuk mengelola kecemasan digital sekaligus memajukan toleransi, inklusivitas, dan harmoni antaragama dalam masyarakat kontemporer.