Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search

Tradisi Arak-Arakan Si Muntu dan Strategi Pengembangannya dalam Perspektif Kepariwisataan di Sumatera Barat Saaduddin Saaduddin; Sherli Novalinda; Dede Pramayoza; Fresti Yuliza
Laga-Laga : Jurnal Seni Pertunjukan Vol 9, No 1 (2023): Laga-Laga: Jurnal Seni Pertunjukan
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/lg.v9i1.424

Abstract

Penelitian ini mengambil objek tradisi arak-arakan Si Muntu yang terdapat di Sumatera Barat. Tradisi Arak-arakan Si Muntu umumnya merupakan sebagai sarana kolektif masyarakat yang merupakan bagian dari alek Nagari atau upacara adat.Tradisi Arak-arakan Si Muntu memiliki potensi yang begitu besar dalam pengembangannya. Penelitian ini bertujuan menemukan dan memetakan potensi tradisi arak-arakan Si Muntu dalam perspektif kepariwisataan berkelanjutan. Menggunakan analisis secara deskriptif dari data-data kepustakaan yang didapatkan, maka dapat digambarkan potensi pemetaan tersebut yang memiliki relasi terhadap ekosistem industri kreatif. Antaralain, tradisi arak-arakan Si Muntu memiliki potensi sebagai pengembangan pariwisata, penghasil sumber ekonomi, dan memiliki peluang dalam pengembangan industry kreatif.
Pengembangan Seni Pertunjukan untuk Pembangunan Nagari Pariwisata: Studi Kasus Festival Pasa Harau Yuliza, Fresti; Hafid, Fauziah Sri Andria; Emely, Bamy
Journal of Tourism Sciences, Technology and Industry Vol 3, No 1 (2024): JTSTI-Journal of Tourism Science, Technology and Industry
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jtsti.v3i1.4412

Abstract

This article is intended to describe the development of performing arts in the tourism industry, with the material object of study being the Pasa Harau Festival in the Harau Valley, 50 Kota Regency, West Sumatra. Using the involved observation method and descriptive analysis approach, this paper describes the following: background; process; and the results of the development of performing arts for tourism purposes in that location. Research shows that tourism development in Nagari Harau is the basis for nagari development in general, because tourism is the greatest potential it has. The development of performing arts is an effort to complement the existing tourist attractions, namely natural beauty. This need then brought together various stakeholders who were then institutionalized into the Harau Valley Community and the Bintang Harau Learning Studio. The forms of performing arts development that are carried out produce works in the form of creative dances and popular musical art performances. These various works are displayed in two designed programs. Musical works are displayed through a program called Haraukustik; while contemporary performing arts are accommodated in a program called Harau Performing Arts (HarPa).
Pengembangan Tari Tradisional Sebagai Tari Kreasi untuk Atraksi Pariwisata Budaya Yuliza, Fresti
Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni Vol 8, No 1 (2024): Bercadik: Jurnal Pengkajian dan Penciptaan Seni
Publisher : Institut Seni Indonesia Padang Panjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/bcdk.v8i1.3799

Abstract

Artikel ini membahas mengenai pengembangan tari tradisional sebagai bahan dalam pengembangan tari kreasi baru dengan tujuan akhir sebagai atraksi pariwisata budaya. Tujuannya untuk merekomendasikan formula pengembangan tari kreasi dalam dunia pariwisata budaya, yang dewasa ini lazim dinamakan sebagai tari wisata atau pariwisata tari. Penelitian dilakukan dengan metode penelitian kualitatif dengan data data utama dari berbagai referensi menggunakan metode studi literatur, yang dibandingkan data temuan lapangan yang didapatkan melalui metode diskusi kelompok terpumpun (FGD). Penelitian berangkat dari teori seni pariwisata RM Soedarsono (1999). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengembangan tari kreasi sebagai atraksi pariwisata dapat dilakukan dengan memperhatikan unsur-unsur koreografi dengan beberapa penyesuaian yang menyesuaikan dengan kebutuhan atraksi pariwisata antara lain berupa gerak, musik, kostum yang relatif lebih ringan jika dibandingkan dengan tari kreasi pada umumnya, apalagi jika dibandingkan dengan unsur-unsur tari tradisional.
Analisis Peran Bahasa Asing dalam Profesi Pemandu Wisata di Era Globalisasi Hafid, Fauziah Sri Andria; Alvira, Idea; Yuliza, Fresti
Journal of Tourism Sciences, Technology and Industry Vol 4, No 1 (2025): JTSTI-Journal of Tourism Science, Technology and Industry
Publisher : Institut Seni Indonesia Padangpanjang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26887/jtsti.v4i1.5604

Abstract

This study explores the significance of foreign language proficiency in enhancing the professionalism of tour guides in the era of globalization. Mastery of foreign languages—particularly English—is a fundamental skill required to establish effective communication with international tourists, improve service quality, and enhance the competitiveness of tourism destinations. This research adopts a qualitative descriptive approach through literature review based on relevant academic sources. The findings indicate that language proficiency not only facilitates interaction but also plays a vital role in shaping tourists’ positive perceptions of destinations and enriching their overall experience. Nevertheless, several challenges remain, including limited access to continuous training, regional disparities in human resource development, and insufficient intercultural communication skills. Consequently, structured and collaborative strategies are necessary—particularly those involving government, educational institutions, and tourism stakeholders—to develop foreign language competencies. Integrating cultural understanding and digital technology into training is recommended as a solution to the challenges posed by globalization in the tourism sector.
Management Strategy of Padang Old Town as a Heritage Tourist Attraction Suci Ramadani; Fresti Yuliza
Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 23 No. 3 (2025): Jurnal Dialektika: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Pengurus Pusat Perkumpulan Ilmuwan Administrasi Negara Indonesia (PIANI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63309/dialektika.v23i3.826

Abstract

Kota Tua Padang holds great potential as a cultural heritage tourism destination, with its colonial history, distinctive architecture, and Minangkabau cultural narrative. However, the development of this area still faces challenges such as building damage, ownership issues, and limited infrastructure. This study aims to analyze the current management of Kota Tua Padang as a cultural heritage tourism destination, identify obstacles to implementing development strategies, and provide recommendations based on field findings. The research method used a qualitative descriptive approach, with primary data obtained through field observations and semi-structured interviews with managers, government officials, business actors, and local residents, as well as secondary data from official documents, journals, and related literature. This study is based on Steiner's Strategic Management Theory (1979) because the focus of the research is on the analysis of management strategies, implementation, and evaluation of the development of Kota Tua Padang as a cultural heritage tourism destination. The results show that government strategies through physical revitalization programs, creative economy activation, and the pentahelix approach have improved the area's aesthetics. However, gaps remain with actual conditions on the ground, such as lack of long-term maintenance, obstacles to building ownership, irregular spatial planning, limited infrastructure, low community participation, limited funding, and destination competition. The study concludes that the development strategy for Kota Tua Padang is reactive and visionary, with significant potential for a sustainable tourism ecosystem. However, it requires intensified synergy between policymakers, the community, and business actors. This includes revitalization, strengthening, resolving ownership issues, improving infrastructure, raising public awareness, pentahelix collaboration, managing funds, and distinguishing from competition to support collaborative and history-oriented development. This research contributes to the management of urban cultural heritage by the government, business actors, and academics.
Analisis Pengaruh Perilaku Wisatawan Generasi Z Dalam Pengambilan Keputusan Berkunjung Ke Kota Pariaman Zulfika Putra; Fresti Yuliza
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1369

Abstract

Kota Pariaman merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Provinsi Sumatera Barat yang memiliki potensi wisata alam, budaya, dan kuliner sehingga mampu menarik minat wisatawan. Seiring dengan perkembangan teknologi digital, Generasi Z muncul sebagai kelompok wisatawan yang memiliki karakteristik khas dalam mencari informasi dan menentukan destinasi wisata. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh perilaku wisatawan Generasi Z terhadap keputusan berkunjung ke Kota Pariaman serta mengidentifikasi aspek perilaku yang paling dominan dalam proses pengambilan keputusan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan asosiatif. Sampel penelitian berjumlah 100 wisatawan Generasi Z yang pernah berkunjung ke Kota Pariaman. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan analisis regresi linear sederhana dengan bantuan IBM SPSS Statistics 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perilaku wisatawan Generasi Z berpengaruh positif dan signifikan terhadap keputusan berkunjung ke Kota Pariaman dengan nilai koefisien regresi sebesar 0,682 dan nilai signifikansi 0,000 (<0,05). Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,257 menunjukkan bahwa perilaku wisatawan Generasi Z memberikan kontribusi sebesar 25,7% terhadap keputusan berkunjung, sedangkan 74,3% sisanya dipengaruhi oleh faktor-faktor lain di luar penelitian. Selain itu, aspek perilaku yang paling dominan dalam memengaruhi keputusan berkunjung adalah minat mencari informasi wisata dan pengaruh media sosial. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa perilaku wisatawan Generasi Z berperan penting dalam memengaruhi keputusan berkunjung ke Kota Pariaman, sehingga hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi masukan bagi pemerintah daerah dan pengelola destinasi dalam menyusun strategi pemasaran berbasis digital yang sesuai dengan karakteristik wisatawan Generasi Z.
Analisis Motivasi Push And Pull Pengunjung Konser K-Pop Sebagai Pariwisata Event Di Dki Jakarta Cleo Amalia Nurrahma; Fresti Yuliza
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1371

Abstract

Perkembangan konser K-Pop sebagai bagian dari event tourism di DKI Jakarta telah mendorong meningkatnya mobilitas pengunjung yang melakukan perjalanan untuk menghadiri pertunjukan, namun faktor-faktor motivasi yang melatarbelakangi keputusan tersebut masih belum banyak dikaji. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor pendorong (push) dan faktor penarik (pull) yang memotivasi pengunjung menghadiri konser K-Pop sebagai pariwisata event di DKI Jakarta. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner kepada 100 responden yang pernah atau sedang menghadiri konser K-Pop di Indonesia Arena dan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD, dengan teknik accidental sampling. Analisis data menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi, persentase, dan nilai rata-rata. Hasil penelitian menunjukkan bahwa motivasi push memperoleh nilai rata-rata 3,56 (85,27%) dengan kategori sangat tinggi, sedangkan motivasi pull memperoleh nilai rata-rata 3,38 (83,60%) dengan kategori sangat tinggi. aktor push yang paling tinngi adalah pelarian dari rutinitas (escape) dan hiburan, sedangkan faktor pull yang paling tinggi adalah kualitas venue dan atmosfer konser. Penelitian ini menyimpulkan bahwa motivasi internal lebih dominan dibandingkan motivasi eksternal dalam mendorong pengunjung menghadiri konser K-Pop. Temuan ini memberikan implikasi bagi pemerintah, penyelenggara event, dan pelaku industri pariwisata dalam merancang strategi pengembangan event tourism yang lebih sesuai dengan karakteristik motivasi pengunjung.
Strategi Pengelolaan Wisata Edukatif Berbasis Sejarah di Museum Rumah Kelahiran Bung Hatta Bukittinggi Tiara Annisa; Fresti Yuliza
Jurnal Pariwisata Tawangmangu Vol 4 No 1 (2026): March 2026
Publisher : Institut Teknologi dan Bisnis Kristen Bukit Pengharapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61696/juparita.v4i1.943

Abstract

The Bung Hatta Birthplace Museum in Bukittinggi is one of the historical destinations with great potential for history-based educational tourism. As the birthplace of the proclaimer and the first Vice President of Indonesia, this museum keeps educational values about the struggle for independence and Bung Hatta's national thinking. This research aims to identify the potential, challenges, and educational tourism management strategies at the museum. This research starts from the theory of Eduwisata from Wearing and Neil, who view eduwisata as a tourism activity that is specifically designed to provide a learning experience or a real, authentic, and meaningful learning experience for tourists, which provides interaction between tourists and the social, cultural, and natural environment, or tourist attractions that are visited. The method used is qualitative, based on direct observation, interviews with managers and visitors, documentation studies, and library studies. The research results show that the museum has fulfilled its educational function, but its management and information delivery remain conventional, so it has not optimally attracted the younger generation. Recommended strategies include increased promotion, strengthening interaction-based educational programs, utilizing digital technologies such as audiovisual and Augmented Reality, and cooperation with educational institutions. The implementation of this strategy is expected to be able to make the museum a superior educational tourist destination that plays a role in preserving history and cultivating national values.
Analisis Event Pacu Jalur Sebagai Daya Tarik Wisata Budaya Di Kabupaten Kuantan Singingi Fitri Grefina Ananta; Fresti Yuliza
Menulis: Jurnal Penelitian Nusantara Vol. 2 No. 7 (2026): Menulis - Juli
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/menulis.v2i7.1436

Abstract

Event Pacu Jalur merupakan tradisi budaya masyarakat Kabupaten Kuantan Singingi yang telah berkembang menjadi salah satu atraksi wisata budaya unggulan di Provinsi Riau. Penelitian ini bertujuan menganalisis Event Pacu Jalur sebagai daya tarik wisata budaya serta mengidentifikasi faktor-faktor yang menjadikan event tersebut mampu menarik kunjungan wisatawan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan pengumpulan data melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri atas Kepala Dinas Pariwisata, ketua panitia penyelenggara, tokoh adat, pelaku UMKM, masyarakat, dan wisatawan. Analisis data dilakukan menggunakan model Miles dan Huberman melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik Event Pacu Jalur dibentuk oleh keunikan perlombaan perahu tradisional, nilai sejarah dan budaya yang masih terpelihara, atraksi pendukung yang beragam, tingginya partisipasi masyarakat, serta pengalaman positif wisatawan selama mengikuti festival. Selain berfungsi sebagai media pelestarian budaya lokal, Event Pacu Jalur juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kunjungan wisatawan, pertumbuhan aktivitas ekonomi masyarakat, dan penguatan citra Kabupaten Kuantan Singingi sebagai destinasi wisata budaya di Provinsi Riau.
Preserving Randai Through Tourism in West Sumatra: Opportunities, Challenges and Strategies Fresti Yuliza; Ayang Khairunnisa; Fadlul Rahman; Rahmad Ramadan
Jurnal Pariwisata Terapan Vol 10, No 2 (2026)
Publisher : Sekolah Vokasi, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpt.119194

Abstract

Randai is a traditional Minangkabau performing art that integrates dance, music, drama, and pencak silat, recognized as the only dramatic art form authentically belonging to the Minangkabau ethnic group. However, this art form faces serious threats due to declining public interest caused by urbanization, modernization, and globalization. This study aims to analyze how tourism can serve as a strategic instrument for preserving Randai in West Sumatra, while identifying the challenges and opportunities involved. The research employs a qualitative approach with descriptive analytical methods. Data were collected through observation, in-depth interviews, and documentation studies. Data analysis utilized by PESTLE (Political, Economic, Social, Technological, Legal, Environmental) framework and cultural thematic analysis. The findings reveal that tourism can effectively serve as a preservation instrument through cultural festivals, tourist attractions at destination areas, and community-based cultural tourism. The PESTLE analysis identified macro-environmental factors influencing preservation, including government policy support, creative economy potential, youth social dynamics, digital technology opportunities, regional legal frameworks, and environmental sustainability aspects. Four main themes emerged: commodification versus authenticity, regeneration and knowledge transfer, repertoire innovation based on local wisdom, and multi-stakeholder collaboration. The study recommends integrated policies that synergize cultural and tourism sectors, along with collaboration among government, universities, art communities, and indigenous communities.